Juna kini berada di kamar bersama Reres dan juga Ajeng yang kini tengah tertidur. Setelah pemeriksaan tadi hasilnya tak jauh berbeda dengan pemeriksaan kehamilan sebelumnya. Kandungan Reres lemah, iya harus banyak beristirahat. Hal itu tentu saja menyebabkan keinginan mereka untuk pulang ke Indonesia lebih cepat harus diurungkan. Reres tak bisa melalui perjalanan jauh.
Sebenarnya pemeriksaan tadi membuat Res menjadi murung. Hal ini karena tentu saja ia harus berada di Jerman sampai kondisinya benar-benar pulih. Belajar dari pengalaman melahirkan Ajeng. Ia biasanya benar-benar pulih setelah melahirkan. Dan hal ini terus menjadi beban pikirannya. Di sini tidak ada siapapun. Ajeng dan juga beres sama mempunyai sanak saudara. Meskipun hari ini mereka kedatangan Mami Disha, yang mengatakan akan dengan senang hati menjaga dan menemani. Disha bahkan membawa Rara untuk membantu mereka. Namun tetap saja bagi Reres ini terasa menyebalkan sekali.
Juna menatap sang istri, Reres masih terbangun seraya memeluk Ajeng yang tertidur di antara mereka berdua. "Bu, kamu jangan mikirin apa-apa ya? Pikirin aja gimana nanti kamu ngelahirin anak kita. Aku akan tetap selalu ada buat kamu. Jadi kamu nggak boleh merasa kesepian, sedih. Semua hal yang kamu rasain yang mengganggu pikiranmu harus kamu share ke aku."
Reres anggukan kepala, kemudian ia menatap ke arah suaminya. "Aku cuman takut harus tinggal di sini. Ini asing, aku takut enggak bisa menyesuaikan diri."
Juna membelai wajah Reres, dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Aku tau awalnya pasti akan sedikit sulit. Dan aku yakin meskipun ini asing kamu akan terbiasa. Karena kamu punya aku dan juga Ajeng yang kamu kenal. Lagian ada mami, Mami kan juga bilang kalau dia kan nemenin kita di sini."
Seperti biasanya, yang Juna takutkan adalah realis yang selalu saja berpikiran dengan berlebihan. Selalu memikirkan semua hal sampai terdetail. Hal-hal terkecil yang bahkan mungkin tak seharusnya menjadi beban. Seperti memang sudah menjadi kebiasaannya. Dan jelas Hal itu bisa mengganggu kesehatannya.
"Iya yah, Aku akan coba untuk nggak mikirin apapun dan lebih fokus ke bayi kita." Reres coba membuat Juna lebih tenang.
Juna kemudian mendekati sang istri. Sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Reres kemudian mengacu kening istrinya itu. "Aku sayang banget sama kamu Bu. Jangan sedih ya, jangan mikir apapun. Saat ini kondisi kamu yang paling penting." Juna kemudian merapikan selimut pada tubuh sang istri.
Setelahnya pria itu terus membelai kening Reres. Berharap dengan apa yang ia lakukan bisa membuat sang istri tertidur lebih cepat. Sejak sore tadi saat pulang dari rumah sakit, Reres belum juga beristirahat karena bertepatan dengan kedatangan Disha.
Malam itu dengan sabar Juna menemani Reres hingga sang istri terlelap. Dengan telaten ia mengusap-usap kening sang istri, sekali mengecup kening atau pipi Reres. Semakin hari dirinya semakin yakin bahwa keputusannya untuk menikahi Reres adalah sebuah keputusan yang tepat. Meskipun berawal dengan tanpa cinta dan perasaan. Kemudian berlangsung sampai hari ini dengan saling mencintai. Seperti sebuah anugerah yang diberikan Tuhan untuk Juna.
Setelah sang istri tertidur pria itu memutuskan untuk berjalan turun ke lantai bawah berniat untuk membuat secangkir kopi. Di ruang makan ada sang mami tiri. Tengah meneguk teh manis seraya membaca berita dari ponsel miliknya. Ia menoleh ketika menatap Juna yang kini berjalan turun kemudian menghampiri.
"Kok kamu belum tidur Jun?" tanya Disha.
"Belum Mi. Aku masih pengen ngopi. Agak pusing karena beres sedikit bad mood karena nggak bisa pulang ke Indonesia." Juna menjelaskan masalahnya. Pria itu kini sibuk membuat kopi dari coffee maker. Setelahnya ia menghampiri Disha kemudian duduk berhadapan dengan wanita itu.
Disha hela napas. Karena sejak tadi hal itu juga yang dikatakan oleh Reres. Kalau ia ingin cepat pulang ke Indonesia. Namun mau bagaimana lagi, dokter mengatakan kalau wanita itu harus beristirahat full karena kondisi kehamilannya.
"Iya kamu sabarin aja dulu dia ya. Lagian Mami ke sini bawa si Rara. Biarin dia tinggal di sini buat nemenin kalian sampai kondisi Reres bener-bener baik. Kalau Mami kan nggak bisa terus-terusan. Harus bolak-balik Indonesia karena kamu tahu di sana ada Lian dan Jani. Lagian sebulan lagi kan jadi mau nikah. Jadi mungkin Mami di sini cuman bisa dua minggu."
Juna mengerti sekali. Bahwa memang sebentar lagi akan ada banyak hal yang diurus menjelang pernikahan sang adik. "Dan sepertinya aku nggak bisa datang ke pernikahannya Jani. Tolong sampein permintaan maaf ku langsung ke dia ya Mi."
Disha megang tangan Juna, kemudian menepuk-nepuk perlahan sambil tersenyum. "Mami yakin Jani pasti ngerti. Lagian ini kan juga demi kesehatan istri kamu dan juga buat keponakannya dia. Sejak kehamilan pertama kan memang Reres lemah. Mami juga udah sempat mikir kalau kehamilan ketiga ini pasti sama juga. Apalagi umur kalian juga udah nggak muda lagi. Udah pasti kekuatan tubuh menurun. Kamu coba yakinin Reres. Bilang ke dia kalau ini semua demi anaknya. Ya supaya Reres nggak terus-terusan pengen pulang."
"Iya nanti juga akan bilang ke Reres. Benar-benar Terima kasih ya Mi. Karena mau susah nemenin di sini."
Juna benar-benar berterima kasih kepada sang Mami karena ia kini dengan senang hati dan sukarela mau menemaninya dan juga keluarga kecilnya. Rasanya kini sedikit lebih baik ketika melihat Disha berada di sini di lokasi yang asing bersama keluarga kecilnya. Juna juga bersyukur karena sang Mami tiri yang begitu menyayangi ia dan juga keluarganya. Terlepas dari apa yang terjadi sebelumnya dan juga penolakannya terhadap Reres dulu.
"Kalau Lian gimana Mi?" Juna bertanya kemudian ia berdiri karena kopi yang ia buat sudah selesai.
"Lian udah selesai skripsinya. Mami minta dia urusan. Antara jalannya ngurus perusahaan ayah. Soalnya kamu tahu kan Om kamu, kakaknya mami. Dia sama sekali nggak mau megang perusahaan. Mau fokus sama usahanya sendiri. Gimana Mami nggak pusing? Usia Mama yang segini tuh nggak udah nggak bisa lagi mobile sama perusahaan. Waktunya istirahat dan senang-senang sama Ayah kamu. Sibuk momong cucu dan ngajar-ngejar cucu di rumah," cicit Disha kemudian ia menyeruput teh miliknya.
Juna terkekeh Ia juga heran mengapa sang Om tak ingin memegang perusahaan. Setelah selesai mengaduk kopi dengan krim Juna kembali duduk. "Ya kan Om Ahbi dari dulu memang idealis banget. Sukanya sama hal-hal yang aneh. Dari dulu Udah kelihatan kok kalau Om Ahbi itu sama sekali nggak minat sama perusahaan."
Disha setuju dengan apa yang dikatakan oleh Juna. "Begitu setelah kamu pulang nanti atau dari jauh Kamu bisa bantuin Lian, buat belajar jadi CEO perusahaan yang baik. Mami udah lihat kinerja kamu di Karuna. Sekarang kamu harus bantuin Mami ajarin adik kamu. Kemarin dia sempat nolak. Ya tapi Mami bakal paksa."
"Pokoknya Mami tenang aja. Kalau memang Juna bisa bantu dari jauh. Juna pasti bantu."
Perbincangan malam itu jadi saksi betapa Juna dan Disha sekarang begitu akur dan akrab. Mereka terlihat saling menyayangi dan saling mengerti satu sama lain. Terlepas dari apa yang terjadi di antara keduanya selama ini.