Melahirkan

1270 Kata
Leon melajukan mobilnya masuk ke daerah perumahan rumah Bita. Tentu saja ia ingin ke sana untuk menghampiri wanita yang ia sukai, Zhi. Seperti biasa Zhi mengatakan bahwa ia tengah melakukan pemotretan di rumah sahabatnya itu karena Bita yang sudah hamil besar. Jadi tak mungkin Kiki berada jauh dari sang istri. Kiki bertekad untuk menjadi Ayah yang siaga bagi sang istri dan juga calon buah hati mereka. Namun belum sempat ia sampai di rumah Kiki, melihat mobil Zhi yang melaju dengan cepat. Kemudian mobil tersebut menyalakan lampu beberapa kali, sepertinya meminta Leon untuk mengikuti. Leon menghentikan mobilnya kemudian ia menghubungi Zhi. "Buruan ikutin mobil gue kita mau ke rumah sakit." "Mau ngapain ke rumah sakit? Kamu sakit?" Leon bertanya dengan cemas. Takut kalau Zhi sakit atau semacamnya. "Bukan ini Bita mau melahirkan. Buruan ikutin dari belakang. Ke rumah sakit ibu dan anak Kanita." Zhi meminta kemudian ia mematikan panggilan. Tentu saja Leon segera memutar Balik mobilnya dan segera mengejar mobil Zhi. Dan segera melajukan mobilnya untuk menuju lokasi yang tadi disebutkan oleh Zhi. Mobil milik Zhi, terlihat sedang berhenti menunggu giliran di pertigaan. Yang bisa melihat mobil itu, karena sedang cukup padat lalu lintas. Ia bisa mengejar mobil Zhi. Setelah berhasil melaju di jalan besar, kedua mobil tersebut segera menuju rumah sakit ibu dan anak. Di dalam mobil Leon cukup cemas juga. Karena ia mendengar suara Zhi yang cukup panik. Aku kalau sesuatu terjadi pada Bita. Leon segera memarkirkan mobilnya ketika tiba di rumah sakit. Dia segera masuk dan melihat Zhi kini menunggu di luar. Sementara di dalam ada Kiki dan juga sang ibu yang menemani Bita. Zhi terlihat cukup cemas, karena ini adalah pertama kalinya ia melihat seseorang akan melahirkan. Saat ini Gadis itu malah masih mengenakan pakaian yang ia kenakan untuk pemotretan tadi. Baju itu memiliki lengan pendek. Leon kemudian melepaskan jas yang ia kenakan, kemudian memakaikan ke tubuh Zhi. "Don't worry Jangan cemas." Leon mengatakan itu berusaha agar membuat Zhi tak lagi terlalu ketakutan atau cemas. Zhi menatap ke arah Leon kemudian mengangguk. "Tapi tadi Bita, kelihatan kesakitan banget. Takut banget." Zhi menggigiti ujung kuku ibu jarinya. Leon menggenggam tangan Zhi, kemudian menjauhkan dari mulut gadis itu. "Jangan suka gigitin kuku. Kuku kamu jadi rusak loh." Zhi kemudian menatap ke arah Leon. "Kenapa lo mendadak manis banget sama gue?" "Hehehe, kalau masalah manis dan ganteng sih emang udah dari dulu. Jadi nggak usah heran gitu." Leon membanggakan dirinya. Keduanya kemudian menunggu di luar. Zhi, terlihat sangat ketakutan karena tadi bisa berteriak cukup kencang saat masakan sakit di perutnya. Apalagi ketika sahabatnya itu mengatakan seperti ada sesuatu yang pecah di bawah bagian tubuhnya. Ibu dari sahabatnya itu memang mengatakan kalau itu adalah ketuban Tapi tetap saja mendengar teriakan dari Bita membuat ia cukup syok. Kemudian memikirkan Bagaimana rasa sakit yang kini tengah dialami oleh sahabatnya itu Setelah cukup lama menunggu akhirnya Kiki berjalan keluar. Ia kemudian duduk di samping Leon. "Kata dokter apa?" tanya Leon. "Baru pembukaan tiga." "Ini gue bisa masuk nggak sih?" Zhi bertanya. "Masuk aja tapi gue capek sama Bita marah-marah mulu." Kiki menjawab pertanyaan sahabatnya itu. Zhi menggelengkan kepalanya ia tahu bahwa sahabatnya itu memang sama emosionalnya dengan dirinya. "Katanya lo mau jadi Ayah siaga? Ayo masuk sama gue." Mendengar apa yang dikatakan oleh Zhi, membuat gigi kemudian segera berdiri dan berjalan kembali masuk. Mereka berjalan menghampiri Bita yang tengah merebahkan tubuh. Dan juga dia memejamkan matanya karena merasakan tubuhnya yang terasa lemas. "Kata dokter kebanyakan marah-marah jadi tenaganya habis." Kiki memberitahu dan Bita segera menatap suaminya itu dengan tatapan kesal "Itu karena kamu kan nggak ngerasain yang ngerasain sakitnya kan aku." Bita protes pada sang suami. Ia memang tak tahan dengan rasa sakit. Lalu merasakan kontraksi tadi membuat dia benar-benar kesakitan dan akhirnya berteriak-teriak dan marah-marah sendiri. Padahal tadi sang Mama sudah memberitahu untuk Dita supaya lebih tenang. Lebih baik mengatur nafas dan juga berusaha membuat tubuh rileks. Karena iya butuh tenaga kalau ingin melahirkan secara normal nanti. Namun yang terjadi adalah, Bita yang terus saja berteriak dan merasa kesal setiap kali terjadi kontraksi. "Lo itu butuh tenang dan save tenaga. Kalau memang mau lahir normal. Jadi nanti pas melahirkan tenaga lo tuh nggak habis. Karena butuh effort buat mengejan." Leon memberitahu Bita. "Tapi tadi kata dokter dia nggak bisa lahir normal." Kiki memberitahu pada Leon. Zhi dan Leon menatap ke arah Kiki bersamaan. Mereka penasaran alasan mengapa Bita tidak bisa melahirkan secara normal. Sementara itu di tempat tidurnya Bita menggeleng-gelengkan kepala meminta agar sang suami tidak memberitahu apa yang terjadi kepada Leon dan juga Zhi. Tentu saja hal itu semakin membuat Zhi merasa heran dan penasaran mengapa Bita melarang Kiki untuk memberitahunya. "Ada apaan sih Kenapa pada rahasia-rahasiaan sama gue?" "Diam kamu ya jangan ngomong apa-apa," ancam Bita pada sang suami. "Di bokongnya ada ambeien." Bukan Kiki yang menjawab tetapi ibu dari Bita. "Mama!" Mendengar apa yang dikatakan sang Ibu membuat Bita merengek merasa kesal. Sebenarnya rasa sakit yang ia alami sepertinya bukan hanya dari kontraksi yang terjadi. Tetapi juga karena ada ambeien yang cukup besar di bagian bawah tubuhnya. Sementara itu mendengar apa yang dikatakan oleh ibu dari Bita membuat Zhi dan Leon tertawa. Bukan bermaksud meledek tetapi hal ini benar-benar terdengar lucu. "Kok bisa sih?" Leon bertanya pada Kiki. "Sebelum mau melahirkan lo banyak makan apa Bita?" "Dua minggu terakhir dia makan bebek goreng terus. Pokoknya maunya makan pakai bebek, ya gue pikir nggak apa-apa tapi kayaknya ini gara-gara bebek goreng deh." Kiki memberitahu pada Leon makanan favorit sang istri sebelum ia akan melahirkan hari ini. Bita berdecak, merasa kini akhirnya telah dibongkar oleh sang suami dan juga sang ibu. "Terus aja ya kalian ngeledekin gue. Gue ini sedang merasakan sakit karena mau melahirkan." "Ya udah lo nikmatin aja kan udah dapat enaknya sekarang dapat sakitnya." Zhi berkata kemudian ia menjulurkan lidahnya kepada Bita. Bita menatap sahabatnya dengan tatapan sinis. "Sejak dekat sama Leon ada semakin kurang ajar sama saya ya." "Bukan karena Leon sih. Memang Anda aja yang sirik sama saya." Zhi berkata tak mau kalah dari Bita. Keduanya memang biasa terlibat dalam percekcokan seperti ini. Biasanya ada Tanya yang ikut mengganggu. Namun sahabatnya itu kini tengah berada di Surabaya dan tinggal bersama orang tuanya. Setelah perdebatan singkat itu mereka semua menunggu sampai Bita kemudian dipersiapkan untuk melakukan operasi sesar. Kiki sebenarnya sudah meminta Leon untuk mengantarkan Zhi kembali pulang. Tapi Gadis itu menolak karena ia penasaran dengan anak yang akan dilahirkan oleh sahabatnya. Apalagi ya tahu kalau anak dari Bita adalah perempuan. Belakangan ini semakin rindu dengan Ajeng. Dan ia tahu betul bahwa akan memiliki waktu yang sangat lama, sampai akhirnya bisa bertemu dengan keponakan kesayangannya itu. Mereka semua menunggu di depan ruang operasi. Sekitar 45 menit sampai akhirnya lampu menjadi hijau tanda operasi telah selesai. Seorang dokter perempuan berjalan keluar dengan senyum yang merekah. "Bapak Kiki suaminya?" tanya sang dokter. Kiki kemudian berdiri dan berjalan menghampiri dokter tersebut. "Saya saya suaminya." "Syukur persalinan berjalan dengan lancar. Anak bapak perempuan panjangnya 49cm dan beratnya 3,2 kilo." Berita baik disampaikan oleh sang dokter dan membuat semua merasakan syukur yang luar biasa. Gigi kemudian berjalan masuk ke dalam ruangan untuk segera mengadzani buah hatinya. Setelah selesai, bayi tersebut dibawa ke ruang bayi. Zhi, Leon dan mama Bita menunggu di luar sambil menatap ke jendela. Kemudian terlihat Kiki yang mengantarkan buah hatinya di depan pintu. Setelahnya pria itu berjalan keluar dan menghampiri yang lain. Terlihat mata Kiki yang berkaca-kaca. Merasa benar-benar terharu melihat buah hatinya bisa lahir ke dunia dengan selamat. Zhi sama terharunya, ia menangis. Dan Leon mengacak rambut gadis itu. "Cengeng kamu." Leon meledek. Zhi menatap Leon. "Biarin." "Untung aku sayang." "Dih! Diam anda mengganggu uforia banget," kata Zhi kesal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN