Lucky dan Reta

1019 Kata
Leon dan Reta saat ini tengah berada Di sebuah coffee shop. Letaknya tak terlalu jauh dari rumah sakit, mereka memang sering menghabiskan waktu di sana jika memiliki jam istirahat yang bersamaan. Menghabiskan waktu bersama dan mengobrol seperti ini belakangan memang jarang dilakukan oleh keduanya karena memang kesibukan Leon. "Gue lagi bingung nih cari kado buat bokap," ucap Reta kepada Leon. "Kasih aja jam atau kemeja." Leon menjawab sambil sibuk dengan ponsel di tangannya. "Kalau itu dia mah udah banyak," jawab Reya karena merasa jika memberikan sang ayah kemeja atau jam tangan akan sia-sia saja karena sudah memiliki cukup banyak. "Beliin mobil kalau gitu," jawab Leon asal. Banyak yang melirik kepada sahabatnya dan tersenyum jahil. Reta refleks memukul bahu Leon mengesalkan sekali meminta pendapat kepada sahabat yang satu itu. "Serius ya, gue itu nanya pendapat lo." Reta kesal karena Leon terkesan meremehkan. "Ih, bukan gitu Ta. Gue lagi chat sama karyawan kantor nih. Karena gue jadwal di rumah sakit gue enggak ke kantor. Ada urusan gue enggak bisa konsen," kata Leon menjelaskan pada sahabatnya itu Tentu saja Reta memahami kesibukan yang kini tengah di alami oleh sahabatnya. Sebenarnya kadang ia merasa kasihan juga pada Leon, tapi sikap sahabatnya yang menyebalkan membuat rasa kasihan yang ia rasakan menguap begitu saja. "Iya tahu yang super sibuk." Reta bercicit setelah mendengar apa yang dikatakan Leon. Leon terkekeh saat mendengar perkataan sahabatnya barusan. "BTW, Lo masih suka ketemu sama temen-temen kuliah dulu?" "Masih," jawab Reta sambil menunjuk Leon. Keduanya sama saja menyebalkannya. "Yang lain, selain gue. Arkan dan temen-temen?" "Jarang sih, gue juga udah out dari grup kampus." Reta menjawab sambil menyeruput minumannya. "Kenapa lo out?" "Males aja kalau pada saling sindir. Dokter itu harus ambil spesialis lah, apa lah." jawab Reta. "Ah, jadi ini masalah dokter umum yang tersindir? Gue aja sama kayak Lo. Enggak ada yang salah mau dokter umum atau spesial. Yang penting gimana dedikasi kita sama profesi Ta." Leon menjelaskan tak ingin sahabatnya itu jadi terlalu kesal. "Ya, tapi jangan mengkotak-kotakkan ini dan itu. Bahkan kesuksesan selalu dikaitkan dengan spesifikasi tertentu, males banget." Reta tak suka segala kesuksesan Tilak ukurnya adalah spesial, minimal kuliah ini dan itu. Dia lebih setuju dengan apa yang dikatakan Leon kalau kesuksesan sebenarnya adalah bagaimana kita bisa berdedikasi untuk pasien dan profesi. Itu yang menyebabkan Reya keluar dari grup atas aksi saling sindir satu sama lain. "Yang paling sukses ya gue lah, jadi CEO sama dokter. Hahahaha," kata Leon sombong. Reta segera mencubit bahu sahabatnya, menatap dengan kesal meski apa yang dikatakan Leon adalah benar. Tetap saja itu menyebalkan sekali apalagi jika mendengar tawa Leon yang meledak, terbahak-bahak seperti om om. "Sumpah ya dari dulu gue benci banget ketawa Lo kayak om om," kesal Reta ia memilih menyantap santapannya daripada bicara dengan Leon. Leon memang paling mengerti cara membuat sahabatnya itu tak lagi marah. Caranya adalah membuat Reta menjadi kesal dan marah-marah seperti saat ini. Dan itu memang yang sudah sejak dulu jadi kebiasaannya. Setelah perdebatan singkat kemudian keduanya sibuk makan siang. Setelah itu ada seseorang yang berjalan mendekati keduanya. Pria itu kemudian duduk di samping Leon. "Lucky bro!" sapa Leon kemudian ia ber-hifive ria dengan sahabatnya. Lucky juga mengajak Reta untuk bersalaman meski ia merasa sedikit malu karena tak terlalu dekat dengan gadis itu. Lucky datang karena Leon yang memintanya. Sahabatnya itu sama sekali tak tahu bahwa gadis yang ia sukai ada di sana bersama dengan Leon. Leon melirik ke arah Reta yang terlihat acuh dan masih saja sibuk dengan santap siangnya. "Ky, lu mau bantuin gua nggak jagain temen gue cari kado?" Mendengar pertanyaan saya membuat Reta menoleh. "Eh nggak usah nanti malah ngerepotin," kata Reta tak ingin merepotkan Lucky. Lucky terdiam ia menatap Leon yang kemudian mengedipkan satu matanya. Pria bertubuh bongsor itu tentu saja merasa terkejut karena ia dimintai tolong seperti itu. Tapi sampai beberapa saat Lucky masih terus saja terdiam sampai Leon menginjak kakinya. "Eh? Emang Reta mau kemana?" tanya Lucky. "Mau cari kado buat ayahnya." Leon yang menjawab. "Boleh, kok gue bisa anterin," jawab Lucky. Reta menggelengkan kepalanya kemudian berkata, "Beneran nggak usah kok gue nggak mau ngerepotin." "Lagian tuh mobilnya Reta rusak Ky. Gue yang nggak tega kalau sahabat gue harus pergi sendirian. Sekalian nanti gua nitip dia pas pulang ya. Kalian 'kan searah kalau gue masih harus ke kantor nanti." Leon berkata yang sebenarnya Ini adalah cara dilakukan Leon untuk mendekatkan keduanya. Reta melirik ke arah leon dengan tatapan tak suka. "Gue bisa naik mobil online kok." "Enggak apa-apa gue bisa anterin kok. Kan kita searah," kata Lucky yang jelas tak ingin kehilangan kesempatan. Leon kemudian mengambil ponselnya, berpura-pura mengangkat panggilan. Dan berjalan meninggalkan keduanya di restoran. "Mau kemana?" tanya Reta. "Ke kantor!" jawab Leon kemudian berlari menuju mobilnya. "Ky titip Reta!" "Siap!" Lucky kemudian mengacungkan ibu jarinya. Lucky dan Reta sama-sama baik keduanya pasti cocok sekali. Itu yang ada di dalam pikiran Leon. Dan ia memutuskan untuk akan bekerja keras menjodohkan keduanya. Karena ia tau kalau Reta akan cukup sulit ditaklukkan. Butuh kalau sebagai Lucky untuk menaklukkan hati seorang Mareta. Sementara itu gini Leon memutuskan untuk menghampiri Zhi. Setelah masuk ke dalam mobil ia mengambil ponsel dan menghubungi Zhi. Berapa hari ini keduanya tak bertemu karena kesibukan Leon. Tapi, tentu saja meskipun seperti itulah yang selalu memberikan perhatian lain seperti mengirimkan makanan dan juga rajin mengirimkan pesan. "Assalamualaikum cintah," sapa Leon. "Aish, om om. Waalaikumsalam." Sapa Zhi terdengar kesal sekali dengan sapaan Leon barusan. "Lo dimana?" tanya Leon. "Di rumah Bita, lagi foto-foto cantik." "Gue ke sana ya?" Tanya Leon meminta izin sebelum datang meskipun jika ia dilarang, ia akan tetap datang. "Hmm, kata Mama Bita jangan lupa bawa martabak." "Kalau Zhi mau apa?" tanya Leon menggoda sambil mulai menjalankan mobilnya. Zhi berdecak, terdengar kesal dengan pertanyaan Leon. "Mau Lo Enggak usah ke sini." "Oh, mana bisa. Gue kan kangen sama Lo. Seminggu enggak ketemu, emang Lo enggak kangen sama gue?" tanya Leon jelas sekali sedang membuat Zhi kesal dan itu nelas menggemaskan untuknya. "Enggak! Ngapain gue kangen sama Lo. Ih ngeselin!" "Serius lho, nanti nangis lagi." "Tau ah, males!" Zhi kemudian mematikan panggilan. Sementara itu Leon terkekeh sendiri mendengar jawaban yang diberikan oleh Zhi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN