Zha dan Devano

1278 Kata
Zha kini berada di butik miliknya. Butik yang ia dapatkan dari Biyan, mantan kekasih Juna. Awalnya, butik itu diberikan secara cuma-cuma untuk Zha. Namun, sang kakak mengatakan kalau Zha tetap harus mengganti uang tersebut. Zhi tak ingin ada masalah yang terjadi keesokan harinya. Jadi Zha sedikit memaksa agar Biyan mau untuk menerima uang cicilan dari laba yang ia dapatkan untuk biaya interior dan juga barang dagang yang ia dapatkan diawal. Meski awalnya enggan, tapi akhirnya Biyan mau menerima itu. Dan kini Zha telah membangun usaha butik dengan baik. Zha menjadikan sang kakak sebagai brand ambassador dari merk dagangnya. Meng-upload foto-foto Zhi yang mengenakan produknya. Dan itu cukup berhasil. Karena Zhi termasuk selebgram yang cukup banyak memiliki penggemar. Meski Zhi merasa konten yang ia buat sering kali tak bermanfaat. Siang itu Zha ditemani sang kekasih, Devano. Sudah dua tahun ini mereka menjalin hubungan. Sebelumnya, Zha menjalin hubungan dengan orang lain tyang jarak usianya beberapa tahun lebih tua. ia ingin menjalin hubungan yang serius dengan Zha, tapi Tedi dan Indah mengatakan kalau Zha tak boleh melangkahi sang kakak. Kemudian hubungan keduanya kandas. Kemudian dua tahun belakangan Zha menjalin hubungan kembali dengan Devano yang seusia dengannya. Keduanya tengah menikmati santap siang di ruang kerja Zha. Tadi kekasihnya itu datang dan membawakan sushi untuk kekasihnya. "Sayang, kamu udah bilang mama?" tanya Devano. Zha menatap kekasihnya, kemudian menatap dan menggelengkan kepalanya. "Pasti mama belum bolehin aku nikah." "Terus sampai kapan? Kamu udah dua puluh tujuh tahun. Nunggu kak Zhi sampai kapan sayang? Kamu kan tau aku juga beberapa bulan lagi mau di pindahin ke Semarang. Aku mau kita bisa nikah sebelum aku pindah kerja. Kita bisa nikah dan tinggal di sana sama-sama," kata Devano lagi sedikit memaksa Zha. Sebelumnya, Devano sudah mengatakan pada Zha kalau ia ingin bertemu dengan kedua orang tua kekasihnya itu untuk menemui kedua orang tua Zha dan mengatakan kalau dirinya berniat serius dan ingin menjadikan Zha sebagai istri. Hanya saja Zha melarang, ia tau dengan jelas kalau kedua orang tuanya kemungkinan akan menolak lagi. Mereka takut kalau Zhi tak bisa menikah karena dilangkahi sang adik. Mungkin itu terdengar bagai sebuah mitos. Hanya saja, tedi dan Indah benar-benar merasa takut untuk itu. Keduanya tak ingin Zhi menghabiskan hidupnya sendiri tanpa seseorang yang akan menemaninya. Namun, sepertinya mereka abai kalau Zha bukan lagi anak kecil. Kini Zha telah berusia dua puluh tujuh tahun dan rasanya sudah bisa memutuskan untuk menikah. "Gini deh, aku bilang mama besok? Apapun jawabannya minggu depan kamu ke rumah aku untuk bicara ke mama dan ayah?" tanya Zha. Devano menganggukan kepalanya setuju. "Aku setuju," sahut pria itu. "Lagian belakangan kakak lagi deket sama beberapa cowok. Mungkin mama akan sedikit luluh karena enggak terlalu takut kakak enggak akan nikah. Soalnya, udah ada bibit-bibit calon mantu. Gimana?" tanya Zha coba membuat kekasihnya itu lebih tenang. "Oke kalau gitu. Aku juga berdoa yang terbaiklah buat Kak Zhi. Supaya enggak jadi halangan buat hubungan kita." "Aamiin," ucap Zha. Tentu saja Zha juga mengharapkan hal yang sama untuk Zhi. Ia ingin sang kaka bisa menemui kebahagian dan juga pasangan yang bisa menjaganya dengan baik. Meskipun ia tau betul Zhi sanggup hidup sendiri dengan segala hal yang dimiliki. tatap saja seroang wanta membutuhkan sandaran untuk menyandarkan perasaannya yang sensitif. Sementara itu yang kini tengah dibicarakan tengah merebahkan tubuhnya di tempat tidur karena sedikit flu, ia harus beristirahat karena akan ke Surabaya lusa. Dan harus memastikan kondisi tubuhnya cukup baik untuk melakukan banyak kegiatan. Ponsel Zhi berdering, ia segera mengambil ponsel miliknya yang tergeletak di samping bantal. Melihat nama Juna di sana Zhi segera menerima panggilan. "Haluww bratha," sapa Zhi suara beratnya semakin terdengar berat karena flu yang sedang ia derita. "Hei sakit Lo?" tanya Juna. Zhi segera bangkit kemudian duduk di tempat tidurnya ia mengangguk padahal Juna tak ada di sana. "Lagi sedikit flu gue kenapa nih tumben nelpon?" "Gue mau ngasih tahu, kalau Reres hamil lagi. Lo bakal punya keponakan baru." Mendengar apa yang dikatakan sepupunya tentu saja membuat gadis itu merasa senang. "Ya ampun Alhamdulillah terus si Ajeng gimana?" "Ajeng seneng dan happy banget. Tadi juga udah hubungin Leon dan mami. Semua senang tapi kondisinya Reres agak down. Lo tahu kan gimana dia kalau hamil? pasti ngidamnya parah." "Terus sekarang Ajeng sama Reres di mana?" Zhi bertanya sebenarnya ia merasa cemas dengan keadaan Juna karena mau tak mau ia harus merawat istri dan anaknya sendirian. "Mereka lagi tidur di atas tadi gue juga udah tanya Leon. Besok rencananya mau periksa dan pindah tempat buat stay. Tadi gue udah hubungin temennya Leon yang bakal bantu semuanya." Juna menjelaskan kepada sepupunya berharap bahwa Zhi tak terlalu cemas dengan keadaannya. "Tapi lo tetap di sana sendiri kan? Jujur gue khawatir sih." "Lo nggak usah khawatir, Tante Disha langsung ke sini besok. Katanya dia juga mau bawa Mbak. Pokoknya grecep kalau masalah cucu. Apalagi lo tahu kan dia sayang banget sama Ajeng, dan udah cukup lama nggak ketemu sama Ajeng. Dia bilang ini kesempatan buat ketemu cucu. Gue juga kayaknya mau ambil beberapa job di sini. Feeling Gue bakal stay untuk beberapa bulan atau sampai Reres melahirkan nanti." "Kalau emang udah ter-planning dengan baik gue harap Reres dan kehamilannya akan sehat-sehat aja. Gue juga kangen banget sama Ajeng. Mungkin kalau kamu main ke sana beberapa bulan lagi sampai semua job selesai. Pokoknya Pak Juna lo harus kuat dan sehat. Juga ekstra sabar sampai Tante Disha datang." Zhi mencoba untuk menyemangati sepupunya. Karena ia tahu tak bisa membantu banyak. "Thank you. Gue juga bakal jagain anak dan istri gue dengan baik di sini. Doain gue ya, dan gua harap hubunganlah sama Leon juga bakal lancar." "Semangat ayah Juna. Nanti kalau aja udah bangun tidur lo video call gue ya? Gue kangen banget sama Ajeng." Zhi meminta kepada Juna. Karena ia sudah cukup lama tak melihat Ajeng dan itu membuat dia merasa kangen dengan anak itu. "Siap nanti kalau misalnya Ajeng bangun gue hubungin lo lagi. Ya udah ya salam buat tante sama Om. Nyampein kabar Ini buat mereka semoga bisa buat mereka senang. Karena lo kan belum bisa kasih cucu, hubungan Lo sama Leon belum jelas jadi—" panggilan dimatikan. Zhi mematikan panggilan dari Juna karena merasa kesal dengan sindiran sepupunya itu. Apalagi disangkut pautkan dengan Leon. Jelas sampai saat ini ia belum bisa memutuskan apakah harus menerima atau menolak Leon. Ia sudah terus menolak sang dokter tampan itu hanya saja Leon yang tetap bersikeras untuk mengejar dan mendapatkan hatinya. Zhi tahu kalau Leon memang keras kepala dan tak bisa diatur. Zhi segera bangkit dari tempat tidur. Kemudian ia berjalan turun. Dari tangga bisa terlihat sang ayah dan mama yang sedang sibuk menonton televisi siang. Zhi kemudian berjalan dengan cepat mendekat dan duduk di tengah-tengah diantara kedua orang tuanya. Tedi segera mengacak rambut putri sulungnya. "Udah enakkan?" tanya sama ayah karena merasa cemas dengan putrinya. Zhi anggukan kepala. "Udah jauh lebih enak setelah tadi nerima telepon dari Juna." Tedi dan indah menatap kepada si sulung dengan antusias. Tentu saja mendengar itu mereka curiga ada kabar baru yang belum mereka ketahui. "Juna telepon ngomong apa?" Indah bertanya penasaran. "Juna telepon ngabarin kalau Reres hamil lagi," jawab Zhi yang kini menjawab rasa penasaran kedua orang tuanya. "Alhamdulillah," Indah dan Tedi berseru bersamaan. "Tapi dia bilang isinya Reres seperti kehamilan sebelumnya lemah. Terus Juna juga bilang kalau Tante Disha udah rencana untuk ke sana secepatnya." "Syukurlah kalau gitu jadi ada yang nemenin Juna nggak sendirian ngerawat Reres," kata Indah. "Terus kamu sama Leon gimana?" Tanya Tedi tiba-tiba. Zhi menatap sang ayah dengan kesal kemudian mendesis. Gadis itu memilih untuk segera bangkit dari duduknya dan berjalan kembali ke kamar menghindari pertanyaan sang ayah yang menyangkut pautkan dirinya dengan Leon. "Zhi! Ayah tanya kok." "Mau tidur! Zhi pusing!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN