Sore hari waktu Indonesia, Juna menghubungi Mami Reina, Ia juga menghubungi Disha dan Jimmy yang terhubung panggilan video. Kebetulan saat ini di rumah ada juga Leon dan juga Yogi. Juna sengaja mengumpulkan semua agar bisa memberitahu secara bersamaan dan tak ada yang merasa didahulukan atau sebaliknya. Juna ingn memberitahu pada keluarganya tentang kehamilan sang istri.
Juna berharap, aga kabar ini bisa membuat kedua keluarga semakin dekat dan menambah keakraban keduanya.
"Ada apa Jun, kamu jangan bikin mami penasaran," Disha katakan itu karena penasaran dengan apa yang akan diberitahukan oleh Juna karena wajah Juna terlihat cemas dan Reres yang terlihat pucat.
"Iya lho kamu jangan buat Mami cemas. Ada apa?" tanya Reina yang yak kalah kesalnya dengan Disha.
"Gini, Juna mau ngomong sama mami dan mami. tapi, jangan kaget ya." Juna sengaja membuat situasi tegang agar efeknya bisa lebih mengejutkan.
"Apa Juna? Ya ampun kamu itu ya. ' Disha semakin kesal karena Juna yang seolah mengerjainya.
"Alhamdulillah, Reres hamil lagi."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Juna membuat semua sontak mengucapkan rasa syukur. Kedua keluarga benar-benar merasa bahagia dnegan kehadiran cucu baru dalam keluarga mereka. Apalagi Disha yang juga mengharapkan kehadiran cucu untuk menambah keseruan dalam kehidupan mereka.
Sementara itu mendengar kabar itu insting Leon sebagai dokter muncul. "Alhamdulillah, Mas itu nanti gue kasih tau dimana lo bisa ajak reres buat kontrol. Gue kenal ada dokter di sana temen gue dulu. Reres itu kan kalau hamil biasa ngidam parah. Sekarang gimana?" tanya Leon cemas.
Tentu saja hal ini bukan karena Leon masih belum menerima keputusan Reres dan Juna. Semua karena Leon khawatir dengan kakak iparnya dan memang ia sudah mengetahui kebiasaan Reres yang dapat dilihat dari kehamilan sebelumnya yang memiliki kandungan yang lemah.
"Iya gue ada rencana mau tanya lo masalah ini. Dimana dan gimana. Reres ngajak pulang terus." Juna mengeluh.
"Iya, mau di sana aja." Reres menimpali.
Leon hela napas, pali kesal kalau menghadapi pasien yang keras kepala seperti Reres. "Gini cek aja dulu ya. tanya dokter apa rekomendasikan Mas Juna dan Reres untuk balik ke Indonesia atau enggak. Kalau gue lihat riwayat Reres rasanya dokter bakal nyuruh stay," jelas Leon.
Bisa terlihat kalau Reres merasa kecewa dengan apa yang dikatakan oleh Leon. hanya saja Leon memang seperto itu ia blak-blakkan. Juna coba menenangkan reres dengan memeluk sang istri. Sementara bisa terlihat Ajeng sedang tertidur di sana.
"Paling enggak di sana sampai baik dan sehat, kuat juga kandungannya. Rutin cek di sana. sementara Mas Juna masukin Ajeng ke sekolah akselerasi. Biasa tiga bulan di sana. kalau tinggal lebih lama jadi Ajeng udah siap untuk sekolah." Leon jelaskan lagi dan mendapat cubitan di tangan dari reina.
Menurut Reina pemikiran leon terlalu jauh dan ia tau kalau Reres malah akan semakin cemas dengar apa yang dikatakan Leon. Leon menatap sang mami, meringis sambil mengusap-usap tangannya. Sementara Reina melotot kesal dengan mulut bawel Leon.
" Jangan maksa sayang. Mami bisa ke Jerman sering-sering nanti kalau memang kamu ngidam atau gimana." Reina buka suara. Ia coba membuat Reres tak lagi merasa cemas.
Disha terlihat anggukan kepalanya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Reina. "Mami bisa gantian sama mami Reina untuk jagain kamu di sana."
"Iya Mi," ucap Reres terdengar tersengal.
"Rehat Res, napasnya susah tuh. Selimutin Mas, dia kalau kedinginan gitu." Leon memerhatikan. Masih perhatian. Bagaimanapun nama Reres belum sepenuhnya hilang dari dalam hatinya. Ia akan tetap menyayangi Reres dengan cara yang berbeda.
"Yaudah, Juna matikan panggilannya ya. Doakan kesehatan Reres dan Juna juga Ajeng di sini." Ucap Juna yang segera diaminkan oleh semua yang ada di sana. "Assalamualaikum," ucap Juna kemudian mematikan panggilan.
Sementara kini Leon menatap sang mami yang terlihat benar-benar kesal. Bukan cuma Reina, tapi juga Yogi yang menatap dengan kesal.
"Kamu tau kalau Reres itu panikan orangnya, Malah kamu cecar begitu." Yogi berujar.
Reina anggukan kepalanya. "Kamu tuh bukannya ngayem-ngayem. Mami sebel banget sama kamu Leon."
"Leon cuma menyampaikan supaya Mas Juna ga segera putuskan buta pulang. tekanan darah rendah, hormon yang berantakan, imunitas rendah. Apa bagus melakukan perjalan? Leon tau Reres akan terus ngerajuk kalau enggak dituruti. Dia harus tau kondisinya sendiri Mi. Di sini posisinya Mas Juna sendiri. Mas Juna juga harus menyesuaikan diri dan itu enggak mudah. Leon cuma coba kasih tau Reres, supaya enggak menekan Mas Juna untuk balik. Resikonya gede banget. Yang posisinya paling terancam Reres," jelas Leon memberitahu alasannya terlalu cerewet tadi.
Reina dan Yogi anggukkan kepala mereka sebenarnya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Leon hanya saja mereka juga cemas dengan perasaan Reres saat ini. Yogi dan Reina senang, tapi disini lain keduanya juga cemas dengan keadaan Juna.
Leon melirik keduanya. "Jangan mikir mau ke Jerman dulu. Leon yakin Tante Disha sebentar lagi bikin kabar bakal ke Jerman. Inget Mbak Luna melahirkan bulan depan." Leon mengingatkan siapa tau sang mami lupa dengan itu.
"Iya mami lupa," ucap Reina terkejut. Ia lupa kalau si sulungnya juga tengah mengandung besar. Anak Luna dan Gio anak kembar jenis kelaminnya juga sudah diketahui laki-laki dan perempuan.
Posisi Luna juga akan repot sekali. Sementara Disha pasti lebih memiliki waktu yang lebih banyak. Dan reina harus tau prioritasnya saat ini. Meski ia juga ngin berada di samping Juna untuk memberikan semangat pada sulungnya itu.
"Iya, Leon benar Mi kamu tuh harus perhatian dulu ke Luna. Kasihan dia lho sendirian." Yogi memperingatkan.
"Iya Mas, aku juga inget kok.'' Reina coba menenangkan sang suami.
"Mami jangan cemas. Leon punya banyak teman di sana. Leon bisa minta tolong mereka buat cek kondisi Mas Juna dan Reres. Kalau masih seputar Jerman enggak perlu terlalu worry. Leon juga akan pantau meski cuma chat dan Vcal. Mami enggak perlu cemas." Leon kemudian segera berdiri.
"Mau keman kamu?" tanya Reina.
"Leon ngantuk Mi, mau tidur." Leon menjawab kemudian segera berjalan meninggalkan sang mami dan papi.
Reina menatap kepergian puteranya itu. Sudah dewasa sekali, dengan bahu lebar dan tubuh yang tinggi. Rasanya baru kemarin ia genggam tangan mungil Leon, baru kemarin ia melepaskan Leon melewati gerbang sekolah dan berlalu meninggalkan dirinya. Kini bungsunya telah tumbuh menjadi seorang dokter. Cucu kesayangan mendiang sang ibu. Andai Ratna bisa melihat Leon mengenakan pakaian dokter saat ini pasti akan bangga sekali dengan cucunya itu.
"Anak kita udah gede ya?" tanya Yogi.
"Iya Mas,' sahut Reina.
"Sebentar lagi, Leon juga akan meninggalkan rumah ini. membina rumah tangga. Meninggalkan kita. Saya beruntung karena Tuhan mengirimkan kamu untuk saya." Yogi kemudian menggenggam tangan Reina.