Testpack

1122 Kata
Patra kini tengah duduk di ruangan setelah melakukan rapat pagi ini. Tak banyak yang ia kerjakan karena sebagian besar telah di tangani Pak Drajat, kaki tangan sang ayah. Jika diibaratkan, Patra adalah boneka sang ayah yang hanya digunakan sebagai pengisi bangku kepemilikan yang kosong. Seperti siang ini ia hanya sibuk menandatangani laporan yang sebelumnya telah dibaca oleh kaki tangan sang ayah. pak Drajat duduk di kursi yang bersebrangan dengan Patra. Ia memerhatikan Patra sekaligus menjelaskan kekurangan dan kelebihan dari perusahaan yang kini bekerjasama dengan perusahaan mereka. "Jadi memang untuk perusahaan yang sampai saat ini masih bekerja sama dengan baik. Masih Karuna Textile. Mereka melakukan pembayaran dengan tepat waktu dan tak terlalu cerewet tentang estimasi keberangkatan. bago mereka yang utama itu barang yang dikirimkan bisa sampai dengan selamat. bahkan setelah saat ini pimpinan diganti Pak Leon, " jelas Drajat. Patra melirik sekilas setelah mendengar nama Leon disebutkan. "Leon?" "Betul mas. Pak Leon, beliau yang menghandle sepenuhnya perusahaan saat ini sampai nanti pak Juna kembali ke Indonesia." Di dalam pikirannya, Leon mungkin saja tak berbeda jauh dengan dirinya, Yang mengatur perusahaan dengan bantuan Juna atau orang lain. Apalagi usia Leon yang beberapa tahun lebih muda. Rasanya tak mungkin anak itu bisa menangani urusan perusahaan juga rumah sakit bersamaan. "Menurut Bapak leon itu bagaimana?" tanya Patra mulai mencari tahu informasi mengenai saingannya. "Saya pernah satu kali ketemu. Waktu rapat dan pak Yogi memperkenalkan anak bungsunya. Menurut saya dia itu humble dan yang paling penting memahami konsep perusahaannya sendiri." Drajat mejelaskan sekaligus berharap jika Patra tersindir dan kemudian semakin serius dengan perusahaan sang ayah. "ya, paling ada orang lain di belakang dia." Patra terdengar meremehkan. "Rasanya enggak Mas. Waktu saya coba bicara masalah saham dan juga tujuan bisnisnya apa. Pak Leon bisa mengungkapkan dengan gamblang. Pemikiran dia memang sedikit berbeda sama Pak Juna. Pak Leon ini terlihat diam tapi ada sisi arogan. Sepertinya memang dia ada ambisi di bisnis." Patra terdiam, rasanya ia kalah dalam banyak hal daripada Leon. Ya, tapi masalah hati tak ada yang tahu pikirnya. lagipula ia yang terlebih dulu mendekati Zhi dibandingkan Leon. Sisi manja sebagai anak tunggal masih begitu melekat pada diri Patra. *** Pagi ini Reres masih merebahkan diri di tempat tidur. Tubuhnya semakin tak enak belakangan, bahkan rencana untuk jalan-jalan dan menyenagnkan diri terpaksa ditunda karena Reres yang semakin lemah. Juna bersama Ajeng kini berada di lantai bawah. mereka telah pindah ke sebuah homestay dengan harga yang lebih murah. Ini juga atas saran Leon yang meminta teman kuliahnya untuk mencarikan Homestay yang lebih nyaman dan lokasinya strategis. Juna tengah menyiapkan sarapan unyuk Ajeng dan membuat teh manis hangat untuk sang istri. Ajeng duduk menunggu seraya menatap sang ayah. Juna mempersiapkan s**u hangat juga sereal. "Ayah ke kamar ibu dulu ya. Ajeng sarapan dulu. Nanti ayah turn lagi." "Oke ayah," sahut anak itu kini sibuk dengan sarapan miliknya. Cuaca dingin membuat Ajeng harus mengunakan pakaian tebal, ia terlihat begitu menggemaskan dnegan sebuah syal putih yang melilit di lehernya dan semakin menggemaskan karena pipi anak itu yang memerah karena dingin. Sementara Ajeng sibuk dengan santapannya. Juna berjalan ke atas menghampiri sang istri. Juna membuka pintu melihat Reres yang tertidur. Pria itu berjalan mendekat lalu duduk di samping Reres. ia memegang kening Reres, buat wanita itu menggeliat lalu membuka matanya. "Udah enakan belum Bu?" tanya Juna. Rere bangun dan menggelengkan kepala. Yang ia lakukan selanjutnya adalah memeluk Juna. "Jun, kayanya kamu harus beli testpack deh. Aku harusnya udah datang bulang. Ini udah telat dua bulan," Juna melepaskan peukan reres kemudian menatap sang istri. "Kamu hamil, hmm?" "Aku enggak tau cuma aku curiga hamil. Gimana dong?" Reres merasa sebagai perusak suasana kegiatan liburan mereka. "Gimana apanya? Jangan merasa gimana-gimana ya? Aku beli testpack ya sebentar, Kamu minum dulu tehnya. Oke?" Juna terlihat cemas sementara ada rona bahagia membayangkan kini sang istri kembali mengandung buah hati mereka. Semoga ini benar terjadi. Rere mengangguk, ia kemudian meneguk teh buatan sang suami. Sementara Juna berjalan menuju lemari pakaian memakai jaket, syal, intinya ia memastikan tak kedinginan. "Ajak Ajeng Yah, kesian dia." Juna menatap sang istri. "ENggak sama kamu aja Ajeng?" "Kasian dia pasti bosen. Sekalian beliin cemilan Yah." Juna mengerti ia anggukan kepala, kemudian kembali berjalan menghampiri istrinya dan mengecup kening Reres. "Aku jalan ya, tunggu sebentar. Kamu mau apa?" Reres menggelengkan kepala belakangan ia tak bisa makan apapun selain biskuit dan teh hangat. "kunci aja pintunya dari luar." "Okay, istirahat ya Bu," ucap Juna lembut lalu mengecup kening Reres. Kemudian ia membantu sang istri untuk rebah di tempat tidur kemudian menyelimutinya. Juna kemudian berjalan turun melihat Ajeng yang sedang meletakkan piring makannya ke tempat cucian piring. Anak itu telah selesai dengan santap paginya. "Ajeng mau ikut ayah?" tanya Juna sambil berjalan mendekati Ajeng. "Mau beli obat buat ibu. Sama kata ibu ayah suruh beliin Ajeng jajan." Mendengar kata-kata jajan membuat Ajeng tersenyum senang. Ia kemudian berlari mengambil jaket telah bulu miliknya, memakai sepatu boot, dan topi rajut tebal. setelahnya berjalan kembali menuju sang ayah. Juna sedikit merapikan pakaian buah hatinya. Keduanya kemudian berjalan untuk menuju sebuah mall yang jaraknya tak terlalu jauh dari tempat itu. Juna membeli Snack untuk Ajeng dan juga beberapa bahan masakan untuk rumah sementara mereka. Juna berbelanja bahan makanan juga membeli testpack beberapa buah. Supaya ia lebih yakin dengan hasilnya. Setelahnya Juna bersama Ajeng segera kembali ke rumah. Ajeng terlihat benar-benar senang karena mendapatkan banyak Snack dari sang ayah. Juna menggendong Ajeng yang tengab menyantap coklat miliknya menuju kamar. Saat ini Reres tengah duduk menunggu, seraya bermain dengan ponselnya. Juna berjalan mendekat lalu memberikan testpack pada sang istri. Reres bergegas ke kamar mandi untuk mengecek. "Ibu kenapa Yah?" "Ibu mau lihat sesuatu," jawab Juna yang tentu saja membuat buah hatinya penasaran. "Sesuatu apa Yah?" Tanya Ajeng lagi. "Kalau ibu hamil, mau punya adik lagi Ajeng seneng enggak?" Tatapan Ajeng membulat, matanya terbuka lebar, ia bahkan menghentikan kegiatan makannya kali ini. "Ibu mau punya adek?" "Doain ya, makannya ibu mau lihat dulu." Ajeng tersenyum lalu mengangguk. Ia kemudian mengangkat kedua tangannya dan berdoa. "Ya Allah semoga Ajeng punya adik." Juna begitu bahagia melihat Ajeng, sang ayah lalu mengecup pipi Ajeng. "Aamiin sayang." Juna dan Ajeng tak sabar keduanya berjalan menghampiri pintu kamar kecil dan menunggu di sana. Cukup lama, sampai pintu terbuka. Reres menatap Juna dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tak bisa menutupi kebahagiaan, jawabannya sudah jelas meski wanita itu belum menunjukkan hasilnya. Juna segera memeluk Reres. "Positif, Jun, positif." "Alhamdulillah." Juna ucapkan syukur. Ia lalu menggendong Ajeng ketiganya saling berpelukan. Ajeng mencium wajah ibunya. "Yee, Ajeng punya adik ya Bu?" Reres mengusap wajah Ajeng, lalu anggukan kepala. "Iya, Ajeng punya adik. Ajeng seneng?" Ajeng mengangguk. "Ajeng seneng sekali Bu." Kebahagiaan kali ini mereka dapatkan. Setelah masa-masa berat yang dilalui keduanya. Semoga kali ini semua akan baik-baik saja bagi keluarga kecil itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN