Malam di Bar
Reina melangkah keluar dari gedung kampusnya, merasakan terik matahari yang menyengat kulitnya. Langit biru tampak cerah, namun hatinya terasa berat. Di luar, suasana kota Metropolitan begitu hidup, dengan kendaraan yang berlalu-lalang dan orang-orang yang bergegas pergi ke tempat kerja. Reina menarik napas dalam-dalam, berusaha mengumpulkan semangatnya untuk menjalani hari yang panjang.
Usianya yang baru menginjak dua puluh tahun seharusnya menjadi masa-masa indah dalam hidupnya, tetapi keadaan keluarganya yang rumit membuat segalanya terasa berat. Setelah kematian ayahnya beberapa tahun lalu, ibunya, Ratna, menikah lagi dengan pria yang tidak dikenalnya. Dalam waktu singkat, Reina menemukan dirinya terperangkap dalam rutinitas yang melelahkan—kuliah di siang hari dan bekerja sebagai pelayan di sebuah bar terkenal di malam hari.
“Reina! Kau terlambat lagi!” Ratna berteriak ketika Reina memasuki rumah, mengabaikan tatapan tajam yang diberikan oleh kakak tirinya, Rina. Rumah itu terasa sempit dan pengap, dindingnya berwarna kusam dan sering dipenuhi dengan suara pertengkaran.
“Saya baru pulang dari kuliah, Ibu,” jawab Reina lemah, berusaha menahan amarah yang mulai menggelora. Rina yang sedang duduk di sofa dengan wajah angkuh hanya menyeringai.
“Apa alasanmu untuk tidak membantu kami di rumah?” tanya Ratna dengan nada menyindir. “Kami perlu uang untuk membayar tagihan listrik. Sudah berapa banyak yang kau dapatkan bulan ini?”
Reina menggigit bibirnya, merasa frustrasi. Uang yang didapatkan dari bekerja di bar bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga untuk membayar biaya kuliah dan kebutuhan ibunya. Namun, ia tidak pernah merasa dihargai atas pengorbanan itu.
“Saya akan pergi bekerja sebentar lagi,” Reina menjawab, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang. Namun, jawaban itu tampaknya tidak memuaskan ibu tirinya.
“Kalau saja kau tidak membuang-buang waktu untuk belajar, kita tidak akan dalam situasi sulit ini,” Ratna menjawab sinis, matanya menyala penuh amarah.
Reina menahan napas, berusaha tetap sabar. “Saya bekerja keras untuk masa depan saya. Saya tidak bisa mengabaikan kuliah saya,” ujarnya dengan suara lembut.
Kakak tirinya, Rina, mengalihkan perhatian dari ponselnya dan mencemooh. “Kau tahu, kalau kau mau melayani beberapa pria, kita bisa mendapatkan uang lebih banyak. Kenapa kau tidak melakukannya saja? Mungkin bisa membantumu untuk kuliah.”
“Berhentilah, Rina!” Reina mendengus, merasa marah. “Aku tidak akan melayani pria-pria itu. Aku punya harga diri.”
Setelah perdebatan yang tidak membuahkan hasil, Reina segera meninggalkan rumah, berharap untuk menghindari situasi yang semakin menekan. Dia tahu ibunya tidak akan pernah mengerti. Dia menyusuri jalanan kota, merasakan betapa beratnya beban hidup yang harus ia tanggung. Meskipun terik matahari menyengat, hati Reina terasa dingin dan kosong.
Sesampainya di bar, suasana ramai dan hiruk-pikuk langsung menyambutnya. Musik berdentum dari pengeras suara, dan tawa para pengunjung menciptakan suasana yang kontras dengan beban pikirannya. Bar tersebut penuh dengan pria-pria yang tertawa dan wanita-wanita yang melayani mereka dengan senyum manis, tetapi di dalam hati Reina, semua itu hanyalah topeng untuk menutupi kepedihan yang ia rasakan.
Reina mengganti pakaiannya menjadi seragam pelayan yang ketat. Dia berusaha tersenyum, meskipun hatinya terasa berat. Dia memulai tugasnya dengan melayani meja-meja, berharap malam ini tidak terlalu sulit. Namun, saat melayani pengunjung, dia tidak bisa mengabaikan perasaan tidak nyaman yang menggelayuti.
Saat itu, pandangannya tertuju pada seorang pria tampan yang duduk di meja VVIP. Kenzo, seorang CEO muda yang dikenal sebagai sosok dingin dan ambisius. Dia dikelilingi oleh teman-teman laki-lakinya yang tampak asyik berbincang. Saat matanya bertemu dengan Kenzo, jantung Reina berdegup kencang. Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pria tersebut. Kenzo memiliki aura percaya diri yang kuat, dan ada sesuatu yang membuatnya terlihat berbeda dari pria-pria lain di bar itu.
Saat Reina menyajikan minuman di meja sebelah, dia tidak bisa mendengar percakapan di meja Kenzo, tetapi dia merasakan ketegangan yang melingkupi mereka. Tiba-tiba, Kenzo mengangkat tangannya, menarik perhatian Reina.
"Pelayan!" teriak Kenzo, suaranya mengandung nada perintah yang tidak bisa diabaikan. Reina merasa jantungnya berdegup hebat. Dengan langkah ragu, dia mendekati meja tersebut. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
Kenzo menyandarkan tubuhnya ke kursi, matanya tajam menatap Reina. Senyuman nakal terukir di wajahnya, seolah mengisyaratkan bahwa dia tahu lebih banyak tentang Reina daripada yang dia inginkan untuk ditunjukkan. "Berapa banyak yang kau dapatkan untuk malam ini? Saya bersedia membayar lebih jika kau mau menemaniku minum."
Reina terkejut. Merasa tertekan oleh tawarannya, dia berusaha untuk tetap tenang. "Maaf, saya hanya bekerja sebagai pelayan. Saya tidak bisa melakukan itu."
"Aku tidak suka mendengar kata 'tidak'," jawab Kenzo, nada suaranya datar tetapi tegas. "Datanglah dan duduk di sampingku. Kita bisa bersenang-senang."
Reina merasa terjebak. Di satu sisi, tawarannya menggoda. Di sisi lain, dia tahu bahwa hidupnya tidak akan pernah sama jika dia terus menolak segala sesuatu yang ditawarkan. Momen ini seakan menguji prinsip-prinsipnya.
Saat dia berjuang dengan pikirannya, dia teringat akan keluarga dan tanggung jawab yang selalu menanti di rumah. Harapan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik seolah bertentangan dengan kenyataan hidupnya. Dengan jantung berdebar dan tangan gemetar, Reina menggelengkan kepala, menahan dirinya untuk tidak terjerumus ke dalam godaan itu.
"Maaf, Pak, saya tidak bisa..." Reina berusaha menjelaskan, tetapi kata-katanya terhenti saat melihat tatapan tajam Kenzo.
Kenzo mendekat, suaranya menjadi lebih lembut namun tetap menggoda. "Cobalah. Ini hanya satu malam. Kita bisa menikmati waktu bersama. Dan siapa tahu, kau mungkin akan menyukainya."
Reina merasa hatinya bergetar. Ketegangan antara mereka terasa nyata, dan saat itu, Reina menyadari bahwa kehidupannya yang monoton dan penuh tekanan mungkin saja bisa berubah. Dalam keheningan sejenak itu, dia merasakan tarikan antara keberanian dan ketakutan.
Dia tahu keputusan yang diambil malam ini akan mengubah segalanya.
Reina menahan napas saat Kenzo memperhatikannya. Mata pria itu tajam dan penuh misteri, seolah-olah dia bisa melihat jauh ke dalam jiwanya. Hatinya berdegup kencang, dan pikirannya berpacu antara rasa takut dan rasa penasaran. Dia ingin berlari menjauh, tetapi ada sesuatu dalam tatapan Kenzo yang membuatnya merasa terjebak dalam jaring yang tak terlihat.
“Kenapa kau begitu takut?” Kenzo bertanya, suaranya bergetar lembut di telinga Reina. “Apakah kau pikir aku akan memaksamu melakukan hal-hal yang kau tidak inginkan?”
Reina merasa terombang-ambing. Di satu sisi, dia ingin menegaskan prinsipnya dan tidak terjebak dalam tawaran yang tampaknya berbahaya. Namun, di sisi lain, ketidakpastian tentang masa depannya dan desakan dari keluarga membuatnya merasa seolah-olah segala sesuatu yang baik dalam hidupnya hilang.
“Saya… tidak takut, Pak,” jawab Reina dengan suara yang bergetar. Dia berusaha menyembunyikan ketidakpastian di dalam hatinya. “Saya hanya… tidak merasa nyaman dengan situasi ini.”
Kenzo menatapnya dengan tajam, seolah mencoba membaca pikirannya. “Kau tidak perlu merasa tidak nyaman. Kita bisa bersenang-senang. Aku tahu betul bagaimana membuatmu merasa nyaman.”
Reina menggigit bibirnya, menahan dorongan untuk menjawab. Kenzo terlihat seperti pria yang memiliki segalanya—kekayaan, kekuasaan, dan pesona. Namun, di balik semua itu, Reina merasa dia adalah orang yang ingin dilindungi. Dia teringat akan malam-malam ketika dia harus pulang larut malam setelah bekerja, khawatir dengan keselamatannya, dan bagaimana ibunya selalu memintanya untuk membawa pulang lebih banyak uang.
“Jangan berpikir seperti itu, Reina,” bisik hatinya. “Ini bukan jalan yang tepat.”
Namun, saat dia berbalik untuk pergi, Kenzo kembali memanggilnya. “Tunggu.”
Reina menoleh, merasa hati dan pikirannya berkonflik. Kenzo melanjutkan, “Aku tidak ingin kau pergi tanpa memberi kesempatan pada dirimu sendiri. Hidup ini terlalu singkat untuk menolak kesempatan. Sekali lagi, bagaimana kalau kita mencoba bersenang-senang untuk malam ini?”
Reina terdiam, kebimbangannya semakin menjadi. “Saya tidak tahu… saya sudah punya pacar,” ungkapnya, meskipun dalam hatinya, dia tahu pacarnya, Arman, tidak pernah memahami hidup yang ia jalani. Arman adalah pria yang baik, tetapi pandangannya tentang hidup terasa sangat berbeda. Dia tidak akan mengerti kenapa Reina harus bekerja keras untuk menafkahi keluarganya.
“Oh, jadi kau sudah memiliki pacar? Kenapa tidak bawa dia ke sini?” Kenzo menjawab dengan nada yang penuh tantangan. “Biarkan dia melihat siapa kau sebenarnya. Mungkin dia akan menyadari bahwa kau jauh lebih berharga daripada hanya sekadar pelayan.”
Reina berjuang melawan rasa penasarannya. Setiap detik terasa seolah mengalir lambat, dan seluruh ruangan menjadi gelap kecuali cahaya yang datang dari meja Kenzo. Dia merasa terperangkap dalam jaringnya sendiri, terancam oleh pesona dan kedalaman pria ini.
Dia mengalihkan pandangannya, mencoba meredakan gejolak perasaannya. Namun, saat dia melihat wajah Kenzo yang serius, dia tahu ada sesuatu yang berbeda tentang pria ini, sesuatu yang membuatnya merasa tidak hanya tertarik, tetapi juga tertekan.
“Baiklah, Pak Kenzo. Jika saya duduk dengan Anda, itu hanya untuk malam ini,” ucap Reina, suaranya mantap meskipun hatinya bergetar.
Senyuman mengembang di wajah Kenzo. “Itu adalah keputusan yang bijak, Reina. Kita akan bersenang-senang.”
Reina merasa ada bagian dari dirinya yang merasa bersalah, tetapi dia juga merasa lega. Dia tahu langkah ini bisa mengubah segalanya. Dengan langkah ragu, dia mendekati meja Kenzo dan duduk di sampingnya, berusaha mengabaikan detakan jantungnya yang semakin cepat.
Reina terdiam, merasakan keterhubungan yang aneh. “Saya akan menemani Anda, malam ini,” jawabnya pelan.
"Baguslah. Ayo duduk sini dan tuangkan minumanku."
Reina melakukan semua perintah Kenzo. Dalam pikirannya saat ini adalah mendapatkan bayaran yang mahal.
Namun, saat melihat jam di dinding bar, Reina merasa tertekan. “Saya harus pergi,” ungkapnya, merasakan rasa bersalah melanda hatinya. Dia tahu pacarnya, Arman, pasti sudah menunggunya. Meskipun pertemuan ini menyenangkan, dia tidak bisa mengabaikan tanggung jawabnya.
“Sebentar,” Kenzo menahan tangannya. “Satu gelas lagi. Mari kita rayakan kebebasan, jika hanya untuk malam ini.”
Reina terdiam, hatinya berperang antara kewajiban dan keinginan. Dia tahu jika dia melanjutkan, segalanya akan semakin rumit. Namun, tatapan Kenzo membuatnya merasa seolah dunia di sekelilingnya lenyap.
“Baiklah,” jawab Reina dengan suara pelan, merasakan ketidakpastian yang menyelimuti keputusannya.
Malam itu, Reina terjebak dalam pesona Kenzo, dan seiring gelas demi gelas terisi, dia merasakan penghalang dalam hidupnya mulai runtuh.