BAB 01
BAB 01
Namanya Rossalinda Sakura Geanovanto atau akrab disapa Ocha, ia merupakan putri tunggal dari pasangan Brandon Geanovanto dan Sonya Belovita Angelin. Terlahir sebagai anak tunggal dari keluarga yang kaya raya membuatnya terbiasa diperlakukan bak putri raja. Sejak dalam kandungan saja Ocha sudah sangat ... menyusahkan? Karena sejak saat mamanya tengah mengandung Ocha, permintaan ngidamnya aneh-aneh. Sejak dalam kandungan dia sudah terbiasa keras kepala, egois, dan manja karena segala sesuatunya yang dia inginkan harus terpenuhi.
Sejak dalam kandungan sampai detik ini, sang papa selalu memanjakan Ocha. Semua keinginan Ocha sebisa mungkin papanya penuhi, itu menjadikan Ocha memiliki prinsip harus bisa mendapatkan semua yang dia mau bagaimanapun caranya. Sifatnya merupakan turunan mutlak dari sang papa, makanya Ocha selalu mendapatkan dukungan penuh dari papanya ketika melakukan sesuatu.
“Ocha, ini hari pertama kamu masuk SMA loh, bangun!”
Sonya mengguncang-guncangkan tubuh putrinya, hari ini adalah hari pertama Ocha menjadi siswi SMA. Sonya tidak ingin anaknya sampai terlambat dihari pertamanya, sifat susah bangun saat pagi hari Ocha benar-benar turunan dari Brandon. Sonya harus ekstra sabar menghadapi suami dan anak yang sama-sama somplak?
“Lima menit lagi, Mah.” Ocha masih menutup matanya sambil mengeratkan pelukan pada bantal guling kesayangannya. Sementara itu Sonya hanya bisa menghela napasnya jengkel, dia paling malas kalau disuruh membangunkan suami dan anaknya yang benar-benar susah dibangunkan saat pagi hari, kecuali memang mereka sedang ada keinginan yang kuat untuk bangun pagi maka mereka akan bangun sendiri tanpa perlu dibangunkan.
“Ya, sudah, kalau kamu gak mau bangun, biar Leon Mama suruh berangkat duluan ke sekolah.” Untungnya Sonya punya jurus andalan dalam menghadapi anaknya, benar saja Ocha langsung bangun ketika dia menyebutkan nama Leon.
“Leon ke sini, Mah?” tanya Ocha antusias
“Buruan mandi sana!” Sonya hanya bisa memutar bola matanya malas saat melihat anaknya yang langsung antusias kala dirinya menyebut nama Leon. Padahal sejak tadi susah sekali dibangunkan, memang dasar bucin sejati batin Sonya.
Leon merupakan anak dari sahabat Sonya dan Brandon. Nama panjangnya Leonardo Artawira Xavender, dia adalah putra tunggal dari Arabella Swastika dan Liam Artawira Xavender. Ocha sudah mengenal Leon sejak kecil, bisa dibilang mereka tumbuh besar bersama. Mereka sejak kecil sudah sangat dekat karena orangtua keduanya bersahabat dan sering menghabiskan waktu bersama.
Ocha menyukai Leon sejak dirinya masih kecil, alasan pertama dia suka pada pria itu adalah karena wajahnya yang tampan. Tapi sayangnya sejak kecil Leon selalu bersikap dingin padanya, sebenarnya bukan hanya pada Ocha saja Leon bersikap dingin. Leon juga bersikap dingin pada semua orang, apalagi perempuan.
“Ocha mandi dulu!” Ocha langsung bangkit dari tempat tidurnya dan berlari menuju kamar mandi, Sonya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya kala melihat semangat membara yang muncul tiba-tiba dalam diri Ocha.
Kini Ocha sudah selesai mandi serta memakai seragam sekolah barunya, rambut panjangnya terurai indah dihiasi jepitan mahal berwarna gold dengan hiasan mutiara yang papanya belikan di Korea saat sedang dinas kerja di sana. Ocha mengenakan sepatu bertali berwarna hitam putih sesuai aturan sekolahnya, roknya tepat 5cm di bawah lutut. Layaknya menjadi siswi baru, Ocha sebisa mungkin mematuhi aturan berpakaian sesuai standar dari sekolah.
“Pagi Mah, Pah.” Ocha langsung berjalan ke ruang makan, di sana orangtuanya sudah menunggu dirinya untuk sarapan bersama. Ocha langsung duduk dikursinya, tapi matanya jelalatan seperti mencari sesuatu.
“Pagi Princess, anak Papa cantik banget!” Brandon memuji putrinya, dia merasa terharu karena ternyata waktu berjalan dengan sangat cepat, putri kecilnya yang dulu selalu dia timang-timang kini sudah beranjak remaja. Brandon berkaca-kaca saat melihat Ocha mengenakan seragam putih abu-abu untuk pertama kalinya.
“Makasih, Pah.” Ocha menjawabnya dengan santai, dia tidak peka kalau papanya tengah terharu sekaligus sedih.
“Padahal dulu kamu selalu Papa gendong ke mana-mana, Papa timang-timang kalau mau tidur, Papa bacakan dongeng sebelum tidur. Tapi melihat kamu sudah setinggi dan secantik ini, Papa jadi sedih. Kenapa waktu muternya kecepetan, ya? Padahal Papa masih pengin memanjakan tuan putri kecil kesayangannya Papa.” Brandon menyeka air matanya yang tanpa sadar sudah mengalir begitu saja.
“Papa jangan sedih dong, Ocha malah seneng kalau cepet besar. Soalnya kalau cepet besar, Ocha jadi bisa cepet nikah sama Leon.” Seketika suasana sedih berubah menjadi suasana yang menghadeuh karena perkataan Ocha.
“Uhuk ... uhuk ...” Brandon sampai tersedak karena perkataan frontal dari putrinya.
“Mah, Leon mana? Katanya dia dateng jemput Ocha.” Akhirnya Ocha bertanya setelah mencari sosok pria itu diseluruh sudut ruang makan, tapi ternyata tidak ada. Awalnya Ocha pikir Leon sedang pergi ke kamar mandi, tapi ternyata setelah cukup lama ditunggu, pria itu tidak datang-datang juga.
“Kapan Mama bilang Leon jemput kamu?” Sonya menatap Ocha dengan ekspresi yang pura-pura tidak tahu.
“Kan tadi Mama bilang kalau Ocha gak bangun-bangun, Mama bakalan suruh Leon berangkat duluan.” Ocha merasa kesal karena ternyata pagi ini dia sudah dibohongi oleh mamanya.
“Iya, tapi Mama gak bilang kalau dia ke sini, kan maksudnya Mama ngomong begitu, Mama mau ngomong sama Leonnya lewat ponsel.” Sonya bisa melihat raut wajah kesal putrinya, belum lagi sang suami yang tengah menahan tawa sambil bergeleng-geleng kepala melihat kelakuan istri dan anaknya dipagi hari.
“Pah, tuh liat mama bohongin Ocha!” kini Ocha mengadu pada papanya.
“Kapan Mama bohong? Coba deh bedain mana yang bohong dan mana yang enggak. Kan Mama gak bilang kalau Leon di sini, masalah nyuruh dia berangkat duluan kan bisa lewat ponsel.” Sonya tidak mau kalah pada anaknya.
“Ah, males. Ocha berangkat dulu deh.” Ocha bersiap-siap berdiri, padahal dia belum menghabiskan sarapannya.
“Ocha, duduk. Habiskan dulu sarapanmu, jangan mentang-mentang kamu sejak kecil berkecukupan jadi buang-buang makanan. Di luar sana masih banyak orang-orang yang mau makan saja susah. Kamu kan masih belum terlambat, jadi habiskan dulu makananmu.” Sonya langsung berhasil membuat Ocha duduk kembali untuk menghabiskan makanannya.
***
Ocha berangkat sekolah dengan diantarkan oleh papanya, mobil mewah papanya menjadi sorotan beberapa anak yang berada didekat gerbang.
“Ocha, semangat belajarnya, nanti pulangnya dijemput sama sopir.” Brandon menyemangati putrinya.
“Iya, Pah.” Ocha menyalami papanya untuk berpamitan masuk ke sekolah.
Mata Ocha langsung berbinar-binar saat melihat punggung dari pria yang dicintainya. Walau dari belakang, tapi Ocha bisa langsung mengenali bahwa pria dengan tas hitam dan jaket levis itu adalah Leon.
“Leon!” panggil Ocha antusias, dia langsung berlari mengejar Leon sehingga membuat papanya hanya bisa menghela napasnya ketika melihat tingkah agresif dari sang putri. Kegigigan tekad Ocha dalam mengejar Leon mengingatkan Brandon pada masalalunya saat mengejar Sonya.
“Selamat pagi, Leon!” Ocha menyapa Leon dengan penuh semangat, tidak lupa dia juga memberikan senyuman termanisnya yang seolah tidak pernah padam jika didekat Leon. Bisa dibilang Leon itu perapian dan Ocha adalah korek apinya, jadi saat Ocha dekat dengan Leon bagaikan ujung korek menyentuh api, hal itu langsung membuatnya terbakar.
“Hmm.” Leon membalas sapaan Ocha dengan sangat singkat, dingin, dan cuek seperti biasanya.
“Leon, baju kita samaan, berasa lagi kencan deh, jangan-jangan kita jodoh. Ocha seneng bisa satu sekolah lagi sama Leon, itu tandanya kita jodoh karena sejak dulu selalu satu sekolah.” Ocha mulai cerewet jika sudah berada didekat Leon.
“Maksud lo baju yang mana?” tanya Leon bingung
“Yang lagi kita pakai lah, yang ini.” Ocha memegang baju seragam yang dikenakannya.
“Lo b**o, ya? Lo gak bisa liat kalau ini baju seragam, semua murid di sini juga pakai baju yang sama kaya gini. Jadi maksud lo mereka semua berjodoh, gitu?” Leon selalu terpancing emosi jika sudah berdekatan dengan Ocha, sering kali dia sampai mengeluarkan kalimat yang lebih panjang dari biasanya. Ocha seolah menyulut ketenangan dalam dirinya, seakan membangkitkan alter ego dalam dirinya. Sering kali sisi lain dalam diri Leon muncul dengan sendirinya saat bersama dengan Ocha.
“Ya, gapapa kalau mereka jodoh, yang penting Ocha jodohnya sama Leon.” Ocha seolah tidak bisa memahami maksud perkataan Leon, hal itu membuat Leon menjitak kepala Ocha agar otaknya sedikit berfungsi dengan benar.
“Aww, sakit! Kok Leon jitak kepala Ocha? Duh Ocha kan jadi baper, soalnya difilm yang kemarin Ocha tonton ada adegan kaya gini. Leon ternyata romantis juga, yah!” Ocha malah kegirangan dengan perlakuan Leon, padahal bukan itu maksud Leon saat menjitak kepala Ocha.
“Terserah lo aja lah, Cha!” Leon yang kesal mempercepat langkahnya menuju kelas barunya meninggalkan Ocha.
“Leon, tunggu dong! Kok Ocha ditinggalin sih, untung sayang makanya Ocha kejar, tapi jangan tinggalin Ocha pas lagi sayang-sayangnya loh.” Ocha langsung berlari mengejar Leon yang langkahnya lebih cepat karna kaki Leon lebih panjang darinya.