Steak, teh, dan suasana yang membosankan.

1183 Kata
Anzhu mengambil pisau dan garpu yang ada disisi piring steaknya. Ujung jarinya mencengkeram gagang perak itu erat, lalu ia mengangkat pandangannya menatap Natan yang duduk tepat di seberangnya. Tatapan Anzhu dingin, menusuk, sama tajamnya dengan bilah pisau di tangannya. Perlahan sangat perlahan Anzhu mengangkat garpunya dan menunjuk ke arah Natan. Gerakannya tenang, nyaris anggun, namun sarat ancaman. Setelah itu, tanpa memutus kontak mata, Anzhu mengalihkan ujung garpu itu ke arah steak di piringnya. Dan srek.... Pisau Anzhu menghujam daging steak itu dengan kuat dan gerakan tangan yang kasar. Ia menekan, mengiris, lalu menusuknya kembali seakan-akan daging itu adalah musuh bebuyutannya. Gerakan itu jelas bukan sekadar memotong makanan. Itu pesan. Ancaman terang-terangan yang diberikan Anzhu pada Natan, gerakan itu seakan berkata "Jika kau macam-macam, kau akan bernasib sama dengan daging steak ini." seolah begitu isi pesan yang dikirim Anzhu pada Natan tanpa sepatah kata pun hanya sebuah gerakan. Begitu menyadari maksud di balik gerakan itu, Natan langsung terlonjak kaget. Refleks tangannya terangkat memegangi leher sendiri, seakan ingin memastikan lehernya masih utuh. Melihat cara Anzhu mengiris steak dengan penuh emosi, bulu kuduk Natan berdiri. “Gadis ini… sangat berbahaya,” batinnya waspada. Natan segera mengalihkan pandangan, pura-pura tak melihat apa pun, lalu mulai menikmati hidangan makan malamnya dengan sikap setenang mungkin. Dalam hati, Natan berjanji satu hal ia tidak akan memancing emosi gadis itu malam ini. Makan malam pun berakhir dengan suasana yang… aneh. Terlalu banyak ketegangan yang tak terucap, terlalu banyak pandangan saling mengintai antara Natan dan Anzhu, tali tidak bagi Tuan Jack dan Kakek Manuel serta kedua orang tua Anzhu, bagi mereka makan malam itu berlangsung sangat menyenangkan. Acara dilanjutkan dengan minum teh di taman belakang rumah dekat kolam renang Lampu-lampu taman menyala temaram, angin malam bertiup pelan, menciptakan suasana yang seharusnya santai. Namun bagi Anzhu, ini adalah siksaan lanjutan. “Anzhu, duduklah di samping Natan,” ujar Tuan Jack sambil tersenyum ramah. Kakek Manuel mengangguk setuju, seolah itu keputusan yang tak bisa ditawar. Anzhu menegang ingin menolak tapi tak bisa dan dengan berat hati sangat berat ia bangkit dari duduknya dan berpindah ke kursi di samping Natan. Wajahnya datar, namun hatinya bergejolak. Ia duduk menjaga jarak, tubuhnya condong menjauh seolah Natan membawa wabah menular. Acara teh pun dimulai. Tuan Jack dan Kakek Manuel larut dalam perbincangan nostalgia tentang masa muda, kerja keras membangun perusahaan, jatuh bangun bisnis, hingga rencana-rencana besar ke depan. Pembicaraan itu berlanjut ke ranah bisnis yang lebih serius. sementara Anzhu sudah bosan setengah mati. Ia menggeser duduknya, menyilangkan kaki, lalu mengayun-ayunkan kaki kanannya pelan. Awalnya pelan. Lama-lama semakin aktif, seolah ayunan itu satu-satunya hiburan yang ia miliki. Hingga Plak! Heels yang terpasang di kaki kanan Anzhu terlepas. Sepatu itu melayang bebas di udara, berputar satu kali sebelum akhirnya jatuh cukup jauh di atas rerumputan taman. “ASTAGA!” Anzhu terpekik kaget. Matanya membelalak, tubuhnya refleks berdiri setengah sebelum ia menyadari apa yang baru saja terjadi. Natan yang melihat kejadian itu spontan memalingkan wajah. Bibirnya bergetar, pundaknya naik turun. Ia hampir tertawa terbahak-bahak. Ekspresi kaget Anzhu terlalu konyol dan lucu untuk diabaikan. Kakek Manuel melotot tajam ke arah Anzhu. Nyonya Sisi dan Tuan Luis langsung terdiam. Wajah mereka kaku menahan malu. “Ha… ha… ha…” Anzhu tertawa canggung. Ia berdiri sepenuhnya, lalu nyengir kuda memamerkan deretan gigi putihnya yang rapih. “Ternyata… heelnya bisa melayang.” Ia lalu membungkuk sopan ke arah Tuan Jack. “Maaf, Tuan Jack." Ucapnya tanpa menunggu respons, Anzhu berlari kecil menghampiri sepatunya yang tergeletak tak berdaya di rerumputan. “Aaarrggh! Memalukan!” gerutunya pelan sambil memungut heels itu. Wajahnya memerah, panas rasanya hingga ke telinga. "Aku rasanya ingin menghilang saja." gumam Anzhu merasa menyesal akan tingkahnya. “Maafkan tingkah Anzhu, Tuan Jack,” ucap Nyonya Sisi cepat, tak enak hati. “Tidak apa-apa,” balas Tuan Jack santai. Lalu matanya tertuju pada Natan yang menunduk terlalu dalam karena berusaha menyembunyikan tawanya. “Natan?” panggil Tuan Jack. Natan segera mengangkat kepala, berusaha menghapus sisa tawa di wajahnya. “Iya, Pa.” jawabnya. “Sebaiknya kau ajak Anzhu jalan-jalan sebentar,” ujar Tuan Jack bijak. “Mungkin dia bosan berada di tengah orang tua seperti kami. Sekalian kalian bisa lebih saling mengenal.” Natan mengangguk. “Baik, Pa.” Ia bangkit dan berjalan mendekati Anzhu yang masih berjuang memasang kembali heelnya. Wajah gadis itu tampak seperti ingin menangis entah karena malu, kesal, atau keduanya. “Bagaimana aku bisa kembali duduk bersama mereka sekarang?” gumam Anzhu kesal pada diri sendiri. “Rasanya memalukan sekali.” “Tak perlu bergabung dengan mereka jika kau tak mau.” Suara itu membuat Anzhu tersentak. Ia menoleh dan mendapati Natan berdiri tak jauh darinya. Anzhu menghela napas malas. Ia memang tidak ingin bersama Natan… tapi kembali ke meja bersama orang tua jelas lebih buruk setelah insiden heels melayang tadi. “Papa memintaku mengajakmu jalan-jalan,” lanjut Natan. “Kebetulan ada hal yang ingin kubicarakan juga.” Tanpa pikir panjang, Anzhu mengikuti Natan berjalan. Beberapa langkah kemudian ia bertanya, “Apa yang ingin kau bicarakan?” Natan berhenti mendadak. Anzhu yang tidak melihat ke depan langsung menabrak punggung Natan dan hampir terjatuh ke belakang. “Kalau mau berhenti, setidaknya beri aba-aba!” bentak Anzhu kesal. “Kau yang menabrakku, kenapa kau yang marah?” balas Natan tenang. “Aku menabrakmu karena kau berhenti mendadak!” Sahut Anzhu tak mau kalah. “Makanya jalan pakai mata.” Natan tak kalah mendebatnya. “Di mana-mana jalan pakai kaki, bukan mata!” sahut Anzhu tak mau kalah. Ia mendengus lalu melengos. “Sudahlah. Cepat katakan apa yang ingin kau bicarakan.” Natan menatapnya sejenak, ekspresinya berubah lebih serius. “Ini tentang perjodohan kita.” Spontan Anzhu menoleh, menatap Natan dengan mata membesar. 'Perjodohan?” ulangnya pelan. “Iya,” jawab Natan mantap. “Aku ingin kita bicara jujur.” Anzhu menyilangkan tangan di d**a. “Kalau kau ingin memaksaku menerima perjodohan ini, lupakan saja.” “Bukan itu,” potong Natan cepat. “Aku juga tidak suka dipaksa.” Ucapan itu membuat Anzhu terdiam. “Aku ingin kita sepakat,” lanjut Natan. “Kita tidak saling mengenal, tidak saling menyukai. Jadi… bagaimana jika kita menjalani ini dengan cara kita sendiri?” “Kau maksud?” tanya Anzhu waspada. Natan menatapnya lurus. “Kita bekerja sama. Di depan keluarga, kita bersikap baik. Tapi selebihnya, kita tidak saling mengganggu.” Anzhu menyipitkan mata. “Kau serius?” “Sangat.” sahut Natan tanpa ragu. "Jadi kau ingin kita menerima perjodohan ini?" tanya Anzhu dan Natan mengangguk. "Kita tidak akan bisa menolak perjodohan ini karena Kakekmu dan Papaku mereka berdua sangat keras kepala jadi dari pada kita terus di desak hingga tidak bisa mengelak lebih baik menyerah lebih awal dan menerima perjodohan itu. Tapi selama pernikahan kita bertingkah seperti biasa saja yang mana tidak ada kewajiban suami istri di dalamnya." Lagi-lagi ucapan Natan terdengar masuk akal di pikiran Anzhu. "Lalu kapan kita akan bercerai?" Tanya Anzhu. "Setelah salah satu dari kita menemukan orang yang kita cintai dan ingin menikahi mereka." jawab Natan membuat Anzhu langsung menjulurkan tangannya sambil berkata "Baiklah, aku setuju." balas Anzhu dan begitulah masalah perjodohan itu diatasi oleh Anzhu dan juga Natan. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN