part 109

1240 Kata

“hari yang cukup panas.” Lula mendongakkan wajanya menatap hamparan langit yang membiru terang tanpa ada awan yang berseliweran sedikitpun diatas sana, keringat yang mulai membasahi keningnya dan tangan yang mulia menengadah didepan wajahnya seolah mampu menutupi silaunya matahari siang ini. Sedangkan tangan yang satunya dimasukkan kedalam saku celannya. Lula terus saja mendesah kesal menunggu Geval yang belum juga muncul menemuinya, setelah dia berpamitan untuk menemui kiennya sebentar, Geval belum juga Kembali dan yang lebih anehnya lagi, Lula memilih menunggu Geval dipinngir trotoar, bukannya masuk terlebih dahulu kedalam butiq baju pengantin. “labit! Bisakah kau turunkan hujan? Aku ingin merasakan dinginnya air hujan tanpa kepanasan.” Gumamnya sambil menahan senyumnya, ia merasa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN