Luzia kembali membuka matanya, gadis itu merasakan pusing yang luar biasa menyakiti kepalanya. Apa yang terjadi sekarang? Sudah berapa lama ia tertidur dan berada pada titik jenuh? Perlahan sebagian memori mulai tersusun rapi, ia ingat segalanya dan itu teramat sangat menyakitkan. Gadis itu kembali menangis, ia ingat bagaimana wajah pucat keempat saudaranya. Luzia memang belum menemui ibunya, Rebecca tidak memberi izin untuk dia masuk. Perlahan, Luzia mengangkat kepalanya, ia bisa melihat pantulan bayangannya di kaca. Untuk apa dia memiliki wajah yang begitu manis? Pria yang dicintainya sama sekali tidak melihatnya! Luzia bergegas turun dari ranjang, ia meraih ponsel yang tergeletak di atas meja lalu melemparkannya ke arah kaca. Suara gaduh terdengar, di susul dengan derap langkah

