Bab 2 - Awal Berat

1033 Kata
Pagi ini, Renjana merasa berat melangkahkan kakinya menuju kantor. Bagaimana tidak, dia beralih profesi dari tim editing menjadi sekretaris pribadi bosnya. Semua secara tiba-tiba, bahkan tak ada dalam rencananya sama sekali untuk menjadi sekretaris bosnya. Renjana menarik napas dalam-dalam sebelum memasuki lift. "Tenang, Jana. Ini semua demi cicilan," gumamnya menenangkan diri. Tak lama, gadis itu tiba di kantor. Terlihat Adi sudah menunggunya dengan senyum menyebalkan. "Sekretaris baru nih, kiw!" katanya dengan nada mengejek. "Lo emang hobi bikin orang sebel, ya?" kesalnya. Renjana yang kesal langsung melangkah menuju ruangan Abijana. Di depan pintu berlapis kaca, gadis itu mengetuk pelan. Suara tegas dari dalam mempersilahkannya untuk masuk. "Masuk!" Gadis itu kemudian mendorong pintu dan masuk dengan hati-hati. Abijana sepertinya sudah menunggunya di belakang meja, dengan wajah yang serius seperti biasa. "Pagi, Pak," sapa Jana. "Pagi. Duduk," jawab Abijana singkat. Jana pun duduk di kursi di depan meja bosnya. Tak lama kemudian, pria itu menyerahkan setumpuk dokumen tebal kepadanya. Kening gadis itu mengerut. "Apa ini, Pak?" "Ini dokumen yang perlu kamu pelajari. Saya ingin kamu menghapal semuanya. Mulai dari jadwal rapat saya, pertemuan, dan semua yang saya butuhkan. Karena kamu cukup tahu, saya tidak mau ada kendala apapun dalam pekerjaan saya," perintah Abijana tanpa basa-basi. Gadis itu mulai mengambil dokumen tebal di depannya, mengintip sedikit isinya. Gila! Dia harus menghapal semuanya? "Setengah jam lagi adalah jadwal saya bertemu dengan Putra." "Pak Putra teman Pak Abi?" Abijana mengangguk. "Saya akan kembali setelah jam makan siang. Dan, kamu harus sudah menghapal semuanya." "Se-semuanya, Pak?" "Ya. Kenapa, kamu keberatan?" Renjana meneguk salivanya. "Tidak, Pak. Saya akan berusaha," jawabnya akhirnya, meskipun hatinya masih berdebar-debar. Abijana menatapnya tajam, lalu berkata dengan nada ketus, "Kalau kamu ragu, kamu bisa mengundurkan diri dari sekarang." Renjana merasakan dadanya berdesir. Dia menggeleng, ini semua demi cicilan hutangnya. "Tidak, Pak. Saya tidak ragu. Saya akan menghapal semuanya," jawabnya tegas. Abijana menatapnya beberapa detik sebelum memutuskan kontak mata dengan gadis itu, "Baik. Saya harap kamu bisa cepat beradaptasi dengan posisi baru ini. Sekarang kamu bisa keluar." Renjana menelan salivanya dan mengangguk. "Baik, Pak. Terima kasih," jawabnya pelan sebelum berdiri dan melangkah keluar dari ruangan Abijana. Begitu pintu berlapis kaca tertutup di belakangnya, Renjana menghela napas panjang. "Anjir bos sialan!" gumamnya pelan sambil melangkah menuju mejanya. Dia menumpahkan kekesalannya dengan melangkah cepat dan keras, seolah setiap langkah adalah pelampiasan emosinya. "Siapa yang bisa hafal semua ini dalam waktu singkat?" keluhnya, melihat tumpukan dokumen ditangannya. "Gila, emangnya gue robot? Mana jadwalnya full lagi tiap hari. Gimana caranya gue bisa hapalin semuanya cepet?" gumamnya frustasi. Dia menumpahkan dokumen itu ke mejanya dengan sedikit kasar, lalu merosot ke kursinya. Adi yang kebetulan lewat dan mendengar Renjana menggerutu menghampirinya. "Kenapa lo, Jan? Kucel amat muka lo?" Renjana menghela napas panjang. "Biasa, bos nyuruh gue hafalin semua jadwal, pertemuan, dan dokumen ini sebelum dia balik dari makan siang. Kalau nggak bisa, katanya gue bisa ngundurin diri." Adi tertawa kecil. "Serius? Lo dikasih ultimatum gitu?" "Iya! Gila kan?" Renjana menatap Adi dengan wajah penuh frustrasi. Adi duduk di sebelah meja Renjana. "Tenang, Jan. Gue bantu lo." "Tumben lo baik. Biasanya kek dajal." "Sialan lo. Gue tau trik ini dari Mbak Ita. Dulu pas awal dia jadi sekretaris Pak Abi, dia sempet sharing ke gue, gimana dia cara betah lama sama Bos yang perfectionis itu." "Terus- terus gimana?" "Ya ini gue lagi jelasin Renjana. Astaga!" "Yaa maap hehe." Adi adalah karyawan yang lebih lama dibanding Renjana. Sama dengan Mbak Ita. Baru lah, setelah setahun Adi bekerja, Renjana masuk sebagai karyawan baru. Makanya, kenapa Adi tidak pernah sekesal Renjana. Karena dia sudah hapal betul Bosnya. "Oke gue coba! Thanks Di, lo emang terbaik!" "Oke, gue balik kerja dulu. Good luck, Jan!" ——— Dengan gusar kakinya melangkah. Setelah mengisi perutnya cukup kenyang, Renjana sudah berada di depan ruangan milik bosnya. Gadis itu mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam. "Masuk!" suara tegas Abijana terdengar dari dalam. Renjana membuka pintu dan masuk dengan hati-hati. Abijana sedang duduk dibelakang meja, menatap dokumen didepannya dengan serius. "Siang, Pak Abi," sapa Renjana, mencoba terdengar setenang mungkin. Abijana mengangkat wajahnya dan menatap Renjana dengan tajam. "Baik. Duduk," perintahnya singkat. Renjana duduk di kursi didepan meja Abijana, dengan hatinya yang berdebar-debar. Dia merasa seperti ujian lisan sewaktu sekolah dulu. Abijana mengambil tumpukan dokumen yang tadi diberikan kepada Renjana dan meletakkannya di meja. "Sekarang, mari kita lihat seberapa banyak yang sudah kamu hapal," katanya, mengambil salah satu dokumen. "Mulai dari jadwal rapat saya minggu ini. Coba sebutkan," lanjutnya. Renjana menarik napas dalam-dalam, mencoba mengingat semua yang telah dia pelajari dengan susah payah. "Senin, jam 9 pagi Bapak ada rapat dengan tim pemasaran. Jam 1 siang, pertemuan dengan klien dari perusahaan Cakragumilang. Jam 3 sore, jadwal Pak Abi untuk mereview laporan keuangan. Selasa, jam 10 pagi, rapat dengan tim keuangan. Jam 1 siang, makan siang dengan investor. Jam 4 sore, ada presentasi proyek baru dari tim desain. Rabu, jam 8 pagi, briefing dengan tim manajemen. Jam 12 siang, pertemuan dengan mitra bisnis. Jam 3 sore, kunjungan lapangan ke pabrik. Untuk kamis sampai jumat ada dinas luar kota. Sabtu dan minggu libur Pak." Abijana mengangguk sesekali, "Cukup baik," katanya akhirnya. "Namun, masih ada beberapa detail yang kamu lewatkan. Pastikan untuk memperhatikan hal-hal kecil juga, karena setiap detail itu penting." Renjana merasa sedikit lega mendengar komentar tersebut, dibayangannya dia akan kena amuk oleh Abijana, tapi ternyata tidak. "Baik, Pak. Saya akan lebih teliti lagi," jawabnya. Abijana menatapnya selama beberapa detik sebelum melanjutkan, "Saya harap kamu terus belajar dan berkembang. Posisi ini membutuhkan dedikasi yang tinggi. Jika ada yang tidak kamu mengerti, jangan ragu untuk bertanya." Renjana mengangguk. "Terima kasih, Pak. Saya akan berusaha sebaik mungkin." "Baik. Sekarang kamu bisa kembali ke meja kamu dan melanjutkan pekerjaan," kata Abijana, memberi isyarat bahwa pertemuan itu selesai. Renjana berdiri dan keluar dari ruangan dengan perasaan campur aduk. Ternyata metode yang Adi ajarkan kepadanya berhasil. Tidak sia - sia dia mendengarkan perkataan kutu kupret satu itu! "Di, gue berhasil!" katanya senang. Adi yang mendengar tersenyum tipis, "Kan gue bilang juga apa? Metode Mbak Ita ini tokcer deh. Lo tau sendiri, Mbak Ita jarang kena semprot Pak Abi kan?" Renjana mengangguk, "Iya juga. Pokoknya gue makasih sama lo, udah bantuin gue." "Minimal traktir gue kek," candanya. "b*****t, gajian belom udah dipalak."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN