bc

Sweet Home

book_age12+
1.2K
IKUTI
5.2K
BACA
dark
student
drama
tragedy
sweet
no-couple
heavy
serious
loser
school
like
intro-logo
Uraian

Dee adalah remaja berusia delapan belas tahun dengan kehidupan monoton. Yang ia tahu hanya rumah dan sekolah. Dunia sempit yang ingin dihancurkan olehnya. Dee ingin mengenal dunia luar lebih luas lagi. Keluar dari penjara yang diciptakan ibunya dan mencari sesuatu yang bisa ia sebut rumah yang nyaman.

Suatu hari, Dee mengenal seorang cowok yang baru pindah di depan rumahnya. Cowok yang usianya lima tahun lebih tua darinya. Ramah dan menyenangkan. Devano namanya. Dialah yang memperkenalkan dunia yang didambakan oleh Dee.

Lalu, bagaimana kisah mereka selanjutnya? Akankah Dee menemukan kebahagiaan yang utuh? Atau justru menyesal karena keluar dari tempat yang dianggap paling aman oleh ibunya?

Edit by Canva

Font : Brightwall, Canva Student Font

chap-preview
Pratinjau gratis
1 - Dee dan Dunianya
Jendela itu terbuka, memperlihatkan sesosok gadis di baliknya. Gadis itu sedang memandang langit sore yang begitu tenang. Dee, nama gadis itu. Berusia delapan belas tahun dan hobi sekali membaca buku. Suram, itu adalah definisi yang menggambarkan Dee. Tidak pandai bergaul, tidak mengerti trend terkini, dan tidak memiliki teman. Namun, di balik sifatnya yang seperti itu, Dee memiliki kebiasaan yang unik. Ia suka melihat langit biru di atas kepalanya, ia suka memerhatikan lalu lalang kendaraan memenuhi jalanan, ia juga suka saat kakinya menyentuh embun pagi hari, bahkan ... Ia suka melihat kerumunan orang yang ingin menyeberang jalan. Tidak hanya itu, Dee juga memiliki mimpi yang tidak biasa. Ia ingin keluar dari penjara yang diciptakan ibunya, kemudian menjelajahi dunia yang katanya begitu luas. Dee ingin tahu di mana para gadis berbelanja untuk memenuhi kebutuhan fashion-nya. Ia juga ingin pergi ke tempat nongkrong yang sering dibicarakan teman sekelasnya. Dan yang terpenting, Dee ingin sekali pergi ke tempat yang dipenuhi buku. Di mana saat dirinya memandang ke kanan dan kiri, yang ada hanyalah buku-buku yang sering dibelikan ibunya. Sayangnya, semua itu masih menjadi mimpi semata. Dee memilih menutup jendela kamarnya dan berlalu ke arah ranjang. Ia meraih buku terbuka yang tergeletak di atas kasurnya. Sambil membaca salah satu novel yang dibelikan ibunya, Dee memikirkan banyak hal lain di kepalanya. Dee, kalau sekolah udah bubar, pokoknya kamu harus langsung pulang. Kamu gak boleh ke mana-mana. Pokoknya jangan pernah tinggalin rumah dan jangan jadi anak nakal. Kamu mau apa? Biar ibu aja yang beliin. Dee mengembuskan napas lelah saat membayangkan bagaimana dirinya bisa lepas dari jerat ibunya? Apakah ia harus pergi diam-diam jika ingin menghilangkan rasa bosan? Atau kabur dari rumah untuk mencari kebahagiaan? Untuk opsi kedua mana mungkin bisa ia lakukan. Selama hidupnya, ibunya lah yang menghidupinya. Wanita itu bekerja keras sendirian setelah ayahnya meninggal. Dan entah bagaimana keadaannya jika ia pergi dari rumah. Alhasil, Dee tidak bisa fokus membaca buku. Ia memilih melempar buku itu kembali ke atas kasur dan berjalan keluar kamar. Di dapur, Dee membuka kulkas, ia melihat bagian dalam kulkas yang begitu penuh dengan segala macam kebutuhan. Ada buah-buahan, sayur-sayuran, telur, s**u kotak, jus kemasan, bahkan es krim. Ibunya selalu mengisi kulkas di rumahnya setiap satu minggu sekali agar jika dirinya mau makan apa, tinggal ambil saja. "Kira-kira yang enak masak apa, ya?" gumam Dee pada dirinya sendiri. Sekitar satu jam lagi, ibunya mungkin sudah pulang dari restoran tempatnya bekerja. Biasanya wanita itu akan membawa makanan untuknya agar dirinya tidak perlu masak, tapi untuk hari ini, Dee ingin memasak sesuatu untuk mengusir rasa bosan yang membelenggunya. *** Dee membuka pintu saat terdengar suara ketukan. Dita, ibunya, memasang senyum lebar meski wajahnya terlihat sangat lelah. Ia segera masuk saat Dee membuka pintu lebar-lebar. "Dee, hari ini ibu gak bawa makanan, kayanya nanti kita harus masak dulu buat makan malam." Wanita berusia empat puluh itu menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri. Memperlihatkan bahwa rasa pegal tengah menggelayutinya. Itulah salah satu alasan kenapa Dee tidak pernah bisa meninggalkan ibunya. Ia ingin pergi ke luar, ia ingin sesekali diizinkan untuk keluar rumah selain pergi ke sekolah, tapi ibunya terlalu baik untuk ditinggalkan, terlalu berjasa untuk dibantah. Wanita itu selalu percaya bahwa dirinya selalu ada di rumah, maka dari itu Dee tidak ingin membuat kepercayaan ibunya hancur. Setiap hari, ibunya selalu bekerja. Wanita itu jarang mengambil libur untuk sekadar menghabiskan waktu bersamanya. Kebutuhan hidup yang semakin tinggi membuat keadaan memaksanya bekerja lebih keras. Dan Dee, hanya bisa menjadi anak baik yang selalu mendengarkan perkataan ibunya. Jika ibunya saja tidak memiliki waktu untuk bersenang-senang, kenapa ia harus keberatan dan mengeluh? Saatnya nanti, ibunya pasti akan mengizinkan melihat dunia luar lebih bebas lagi. Tidak sekarang, tapi itu pasti. "Gak pa-pa kok, Bu. Kebetulan tadi aku sempet masak juga sebelum ibu pulang. Baru aja selesai beberapa saat lalu. Kita bisa makan sekarang." Dee mengulas senyum lebar. Ia tahu dirinya hanya perlu menunggu, menunggu agar ibunya mau sedikit membuka pintu hatinya dan membiarkan bebas menikmati hidup lebih baik lagi. Dita menoleh ke belakang, melihat putrinya yang ikut berhenti melangkah. "Ya udah, nanti kita makan sama-sama." Tangannya melepas tas yang tersampir di bahu kanannya, membuka resletingnya dan mengeluarkan dua buah novel dari sana. Sesederhana itu cara Dee menikmati hari-hari di dalam rumahnya. Ia terkadang bosan, ia terkadang ingin kabur saja, bahkan sesekali beranggapan bahwa dunia sungguh tidak adil padanya. Tapi di samping itu semua, Dita selalu bisa membuatnya menghargai waktu. Wanita itu sering membawakan buku baru, entah untuk sekadar mengisi waktu luang, atau menambah koleksi di rak bukunya. "Makasih, Bu." Dee mengulas senyum lebar. Ia meraih buku yang disodorkan oleh ibunya, "Ini kan lanjutan dari buku yang pernah ibu beliin minggu lalu." Trilogi Across The Universe miliknya lengkap sudah. Tiga karya Beth Revis akan mempercantik rak bukunya mulai sekarang. Dee tidak sabar membacanya sampai tuntas. Menjelajah jauh ke luar angkasa dan berhalusinasi dengan harapan konyol bahwa dirinya lah yang berada di posisi Amy si tokoh utama. Ibunya duduk di sofa yang berada di ruang tamu. Dee turut duduk di sampingnya. Memperhatikan dua novel barunya yang masih dilapisi plastik tipis transparan. "Itu ibu belinya online, karena akhir-akhir ini restoran lagi ramai pengunjung, jadi ibu gak sempet ke toko buku. Sebenernya udah pesen dari tiga hari yang lalu, tapi baru sampe hari ini," jelas Dita ikut memerhatikan Dee yang terus membolak-balik koleksi novel terbarunya. "Ibu tau, gak? Novel ini tuh seru banget." "Oh, ya? Coba ceritain ke ibu?" Dee menggeleng. "Aku baru tamatin seri pertamanya aja, jadi gak mau cerita dulu. Nanti kalau udah tamat tiga-tiganya, baru aku cerita ke ibu. Oke?" "Iya, Sayang," sahut Dita mengulurkan tangan untuk mengusap pipi putrinya. Dita sebenarnya bukanlah orang yang suka buku, bahkan sejak kecil ia jarang membaca buku. Usia remaja sampai beranjak dewasa, hari-harinya berantakan. Tapi untuk membuat putrinya betah berada di rumah, ia membelikan banyak novel dengan berbagai macam genre sebagai teman agar Dee tidak kesepian. Saat kecil, rak buku Dee dipenuhi dengan buku-buku dongeng dan komik anak-anak. Saat SMA, buku-buku seperti itu disumbangkan ke panti asuhan, dan Dee diperkenalkan dengan banyak novel sebagai ganti bacaan. Siapa sangka, hal itu berhasil mengusir rasa bosan yang kerap menghinggapi Dee. Buku-buku yang diberikan ibunya banyak membuatnya belajar dan selalu menanti buku baru yang akan dibawakan ibunya. Setelah lama diam, Dita teringat sesuatu. "Oh, iya, ibu denger rumah kosong di depan rumah kita bakal ada yang ngisi," katanya memberi tahu. Rumah yang dibicarakan ibunya adalah rumah yang berada di seberang rumah Dee. Rumah itu sudah kosong hampir empat tahunan. Pemiliknya pindah ke luar negeri. Meski begitu, setiap bulan selalu ada orang yang datang untuk membersihkan rumah tersebut agar tetap terurus, tidak mengherankan jika akhirnya ada yang berminat juga. "Ibu tau dari mana?" "Biasalah, tetangga kita." Dee hanya manggut-manggut saja. Ya, tidak masalah juga kalau memang benar rumah di seberang jalan akan dihuni. Itu lebih baik, daripada harus melihat bangunan kosong nan gelap setiap harinya. "Besok, mau ibu beliin buku baru lagi?" tanya Dita. "Tapi hari ini Ibu udah beli dua buku sekaligus." "Gak pa-pa. Mau buku karya siapa?" Sejenak, Dee mengingat film yang pernah ditontonnya. Film itu mengisahkan tentang kisah romansa antara manusia dan bangsa vampir. Setiap adegan yang disajikan begitu manis dan membekas di ingatan. Dee tidak tahu sudah berapa kali ia menamatkan film itu, tapi ia sama sekali tidak pernah bosan. "Series Twilight karya Stephenie Meyer," sahut Dee mantap. Menonton film yang menurut kita seru memang menyisakan ingatan manis tentang film itu. Sudah lama Dee ingin membaca kisah Bella Swan dan Edward Cullen, tapi buku yang selalu dibawa oleh ibunya selalu mengalihkan perhatiannya dari kisah menakjubkan itu. Tapi sekarang Dee yakin ia menginginkan menikmati setiap baris yang tertulis dalam novel tersebut. Menghayati setiap kalimat yang diucapkan oleh Edward Cullen versi novelnya. "Kita pernah nonton filmnya berulang kali, kan? Kamu gak bosen?" tanya ibunya. Mana mungkin bosan. Siapa pun yang pernah menyaksikan kisah cinta Bella dan Edward, mereka pasti akan terus terbawa perasaan begitu menontonnya lagi. Seperti Dee, ia tidak bosan, hanya saja rasa penasarannya membuncah begitu membayangkan bagaimana jika membaca kisahnya dalam versi novel? Pasti menyenangkan, bukan? "Enggak, pokoknya aku mau novel itu aja. Ibu belinya gak usah sekaligus, karena harganya pasti mahal. Sebulan sekali juga gak pa-pa." Dee mengangkat dua buku di tangannya, "lagi pula bacaanku masih banyak." "Oke." "Kalau gitu aku mau ke kamar dulu." Mendapat anggukan kepala dari ibunya, Dee segera bergegas. Langkahnya membawanya ke salah satu ruangan yang tidak lain adalah kamarnya. Gadis itu berjalan mendekati rak buku. Jemari lentiknya bergerak dari satu buku ke buku yang lain. Menikmati puluhan buku yang selalu disukainya. Menyentuh buku-buku itu, mencium aroma kertasnya, adalah hal yang sangat menyenangkan. Saat menemukan celah kosong, jemari Dee berhenti. Ia langsung memasukkan dua bukunya di sana. Memberikan rumah baru bagi buku barunya. Sejenak, Dee kepikiran tentang calon tetangga barunya. Ia menduga-duga akan bagaimana tetangganya itu. Apakah seusianya? Lebih muda, atau justru lebih tua? Laki-laki kah? Atau perempuan? Atau malah calon tetangganya itu bukanlah orang tua bagi seorang anak? Saat pikirannya disibukkan dengan berbagai macam kemungkinan, ia tanpa sadar melupakan bahwa bagaimana pun tetangga itu, ia tidak akan bisa mengenal dekat. Mungkin hanya ibunya yang bisa mengobrol dengan calon tetangga barunya. Itu pun mungkin akan sangat jarang melihat betapa sibuk ibunya itu. Sedangkan dirinya? Hanya bisa memerhatikan dari jendela. Menyadari bahwa yang selama ini sering di tatapnya dari luar jendela bukan lagi sebuah rumah kosong.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.4K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
67.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook