11 - Pulang

2122 Kata
Dunia sempit yang selama ini Dee kenal pada akhirnya dihancurkan oleh satu orang, yaitu Devano. Rumah yang selama ini Dee kira terlalu membosankan, akhirnya berwarna karena kehadiran Devano. Dee tidak lagi terbelenggu pada peraturan kecil yang dibuat oleh ibunya, sosok yang mengatakan bahwa tempat teraman di dunia adalah rumahnya. Dee yang selama hidupnya merasa terkekang, akhirnya bebas karena uluran tangan seseorang. Setelah diajak menonton film, Dee diajak makan di salah satu restoran oleh Devano. Devano sempat tertawa melihat Dee yang begitu keberatan dengan harga makanan yang ada di restoran tersebut, tapi yang menjelaskan bahwa memang segitu harganya. Selain kualitasnya terjamin tempatnya ke nyaman dan bersih sekali. Maklum, Dee biasanya hanya tinggal makan setiap lali ibunya membawa makanan dari restoran. Tidak pernah bertanya soal harga. Setelah puas bermain seharian, mereka memutuskan untuk pulang saja. Khawatir ibu Dee akan pulang lebih awal daripada mereka. "Besok-besok sebelum ke toko buku, aku saranin supaya kamu nyari dulu buku apa yang mau kamu beli biar di toko bukunya gak pusing kaya tadi," kata Devano. Dee mengangguk setuju. kepalanya pusing bukan main karena membaca banyak sekali bagian sampul belakang buku, tapi tidak ada satu pun yang berhasil menarik perhatiannya karena ia tidak memiliki gambaran yang lebih spesifik lagi. Keduanya sudah berada di dalam mobil dan akan segera pulang. Awalnya Devano menanyakan kepada Dee, apakah ada hal lain yang ingin dibelinya? Tapi Dee menggeleng dan dan ingin langsung pulang saja. "Aku biasanya ngikutin akun sosial media penerbit-penerbit terkenal. Karena biasanya mereka ngeposting bagian-bagian dari buku yang bakal diterbitin. Nah, kalau udah liat kayak gitu biasanya banyak yang bakalan tertarik dan aku pun salah satu orangnya. Mau gak mau kalau udah di spoiler kita bakal merasa tertarik aja gitu, apalagi kalau ceritanya menurut kita keren dan ada di genre yang biasa kita baca." "Bener juga. Aku kira pas udah ada di toko buku aku bakal pusing mau beli yang mana karena terlalu banyak dan mau borong semuanya, tapi ternyata pusing yang aku rasain bukan karena aku mau borong semuanya, tapi karena bingung buku apa yang harus aku beli. Penyebabnya karena aku emang gak nyari tau dulu sebelumnya." "Kadang aku juga pakai opsi lain kaya misalnya ngikutin penulis-penulis yang menurut aku keren, penulis yang aku suka gitu. Soalnya biasanya kalau udah jatuh cinta sama bukunya, kita bakal tertarik buat liat lagi karyanya yang lain. Makanya aku selalu ngikutin mereka supaya tau update terbaru dari karya mereka lainnya." Mendengar penuturan Devano, Dee menyesal. Kenapa dirinya tidak kepikiran? Padahal selama ini ia sering membuka sosial media dan menggulir-gulir layar beranda tanpa tahu ingin melakukan apa, kenapa tidak pernah melintas di dipikirannya untuk mencari tahu penulis-penulis terkenal yang menjadi favoritnya? "Astaga, aku berasa kudet banget!" sungut Dee pada dirinya sendiri. "Makanya kamu harus mulai banyak-banyak bergaul. Gak mungkin banget kalau di sekolah kamu gak ada orangnya punya satu hobi yang sama kaya kamu, walaupun gak banyak, aku yakin pasti ada orang yang hobi membaca dan ngumpulin novel." Ya, Dee tahu hal itu. Saat ke perpustakaan, memang selalu saja ada orang yang datang ke sana, entah sedang membaca buku atau meminjam buku. Buku-buku novel di sekolahnya bahkan laris sekali dipinjam. Itu menjadi bukti bahwa di sekolahnya banyak orang yang gemar membaca novel. Masalahnya hanya satu, Dee yang tidak tahu siapa saja mereka dan tidak berusaha mencari tahu. Namun, sekarang sudah tidak perlu lagi. Dee tidak peduli kalau dirinya tidak memiliki teman. Ada Devano di sisinya dan itu sudah lebih dari cukup. "Gak pa-pa, kok. Seperti yang pernah kamu bilang, aku gak masalah kalau emang gak punya teman dan gak bisa berinteraksi sama dunia luar, itu gak akan jadi masalah selama ada kamu di dekat aku." Devano menatapnya. Mengangguk mengiyakan. Meskipun ia sadar bahwa tidak selamanya Dee harus bergantung padanya. Tidak apa, untuk sekarang ini ia bersedia menjadi teman yang baik untuk gadis itu sambil menjelaskan pelan-pelan kalau Dee harus pergi ke dunia luar dan berinteraksi dengan orang lain selain dirinya. "Tapi tetep aja, aku gak mau dicap sebagai orang jahat. Lain kali kalau sempat, aku mau ngobrol sama mama kamu buat izin langsung sama dia." Sontak bola mata Dee membesar. "Izin? Izin apa?" tanyanya. "Selama ini 'kan aku selalu main ke rumah kamu. Hari ini bahkan aku ngajak kamu keluar. Walaupun kamu emang udah setuju, tapi tetep aja aku masih ngerasa gak enak sama ibu kamu." "Tapi kalau kamu bilang sama ibu aku, kita gak bakal dikasih buat ketemu lagi. Yang ada kamu malah bakal diusir mentah-mentah, dan gak diizinin main lagi ke rumahku," sahut Dee cemas. Kalau sampai Devano benar-benar melakukan hal itu, bukan tidak mungkin dunia Dee yang lebih berwarna saat bersama Devano akan hilang begitu saja. Dee akan kembali terpenjara di dalam rumahnya dan tidak akan ada orang yang mau menemaninya bercerita atau berani mengajaknya pergi ke luar. "Enggak sekarang, kok. Nanti kita bisa nyari waktu yang pas, soalnya mau kaya gimana pun yang kita lakuin sekarang itu gak baik, apalagi kalau terus-terusan ditutupi, 'kan?" Dee menggigit bibir bawahnya. Memang benar, tapi... Belum sempat Dee memprotes perkataan Devano, mobil sudah akan berbelok masuk ke kompleks perumahan. Devano menekan klakson mobil. Penjaga gerbang segera bergerak untuk membuka gerbang dan membiarkan mobil lewat. "Makasih, Pak," kata Devano. Pria itu hanya mengangguk sambil tersenyum. Segera kembali menutup gerbang ketika mobil Devano sudah lewat. "Tenang aja." Devano melanjutkan pembicaraannya yang sempat terhenti. Melajukan mobilnya melewati blok-blok perumahan. "Aku tau pasti berat banget buat kamu. Ibu kamu mungkin gak bakal suka sama aku, atau dia malah bakal marah banget kalau tau semuanya, tapi setidaknya bicara baik-baik walaupun ada resikonya itu lebih baik, daripada menutupi semua ini selamanya. Bukannya enak kalau kita bisa terus main, bebas ke mana aja, dan ibumu tau hal itu?" Jelas akan lebih menyenangkan dan tidak perlu takut akan ketahuan, tapi Dee tidak yakin ibunya bisa menerima begitu saja dan membiarkannya bebas, sementara selama ini wanita itu justru mengurungnya di dalam rumah. Namun, niat Devano sudah sangat baik. Cowok itu tidak ingin dirinya terjerumus lebih jauh dan mengabaikan ibunya sendiri. Dunia luar sangat menyenangkan dan Dee ingin ibunya mengerti bahwa tidak ada bahaya apa pun yang ia temui selama bersama Devano. Karena itulah Dee akhirnya memilih mengangguk. Setuju dengan Devano. "Nah, gitu, dong. Pokoknya kamu tenang aja, gini-gini aku itu pinter ngomong, lho. Aku jamin ibumu nanti bakal luluh kalau udah berhadapan sama aku, dan biarin kamu bebas keluar ke mana pun kamu mau." Percaya diri sekali. Dee menggeleng pelan. Ia ingin mempercayai hal itu, tapi di sisi lain ia sangat yakin seratus persen bahwa Devano tidak akan bisa membuat ibunya luluh semudah perkataannya. Dita, ibunya, adalah wanita baik-baik yang penyayang dan pengertian. Tapi di sisi lain, ibunya juga merupakan orang yang sangat disiplin. Dia tidak akan mentoleransi kesalahan yang sudah diperbuat. "Kenapa geleng-geleng kaya gitu? Kamu gak percaya sama omonganku?" tanya Devano. Sebelum menjawab, Dee menggeleng lagi. "Bukan gitu, kok. Maaf, aku gak ada maksud ngeraguin niat kamu." "Aku itu orangnya bisa dipercaya, kalau udah bicara, aku jamin nanti bakal terjadi." Alhasil Dee hanya mengiyakan saja. Membiarkan Devano berangan terlebih dahulu sebelum nantinya sadar segarang apa sosok ibunya saat sudah bertemu. "Ngomong-ngomong makasih buat bukunya. Makasih juga buat hari ini. Aku bahagia banget," ujar Dee tulus. "Jangan sungkan. Kamu bisa ngandelin aku kapan pun kamu mau. Lain kali kita jalan lagi, mau?" Tidak mungkin bukan kalau Dee tidak mengangguk? Mobil berhenti di depan rumah Devano. Yang pertama turun adalah Dee, disusul oleh Devano. Awalnya Dee kira Devano akan langsung masuk ke rumahnya, tapi ternyata cowok itu mengantarnya terlebih dulu sampai gerbang yang sebenarnya tidak perlu dilakukan. Keduanya berhenti di depan gerbang rumah Dee. Devano berbicara. "Hari ini seru banget. Aku suka banget liat gimana cerianya kamu pas lagi di luar tadi. Beda aja gitu. Bikin aku senyum-senyum sendiri liatnya. Rasanya usaha aku ngajak kamu keluar rumah langsung terbayar kontan begitu ngeliat betapa bahagianya kamu waktu di mall tadi," tuturnya. Dee merasakan pipinya memanas. Kebahagiaannya bertambah berkali lipat ketika mendengar Devano mengakui bahwa cowok itu diam-diam tersenyum ketika melihatnya bahagia. Dee tidak ingin berekspektasi terlalu tinggi, tapi jujur saja memang sangat menyenangkan pergi keluar bersama Devano. Dan ia ingin melakukan itu lagi nanti. Lalu, tiba-tiba Devano mengulurkan satu tangannya untuk menyentuh lengan Dee. Mengusapnya lembut. Sebelum sempat Dee bereaksi, telinganya sudah mendengar suara deru motor. Dan entah bagaimana itu membuat Dee menolehkan kepala. Membulatkan mata ketika melihat siapa yang duduk di boncengan. Buru-buru Dee menarik tangannya dan mundur menjauh dari Devano. Ia panik luar biasa menyadari bahwa tidak ada kesempatan untuknya dan Devano bersembunyi apalagi berlari karena motor yang dikendarai ibunya sudah semakin mendekat. Keduanya membatu ketika motor itu berhenti di depan rumah Dee. Dita turun dari motor. Segera membayar ojek online itu. Membiarkan sang sopir pergi sebelum akhirnya melangkah ke arah Dee dengan tatapan tajam. "Ada apa ini?" tanya Dita kepada Dee. "Gini, Tante—" Takut bahwa Devano mungkin akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, buru-buru Dee melangkah mendekati ibunya. "Jadi, tadi itu aku keluar buat beli sesuatu. Nah, kebetulan pas di dekat gerbang aku ketemu sama tetangga kita ini, jadi dia cuma nawarin buat pulang bareng. Itu aja, Bu." Dee berbohong. Tapi sayangnya Dita melihat plastik yang sedang dipegang oleh Dee. "Itu plastik apa?" tanyanya galak. Dee meneguk air liur. Kepalanya pusing bukan main. Tidak tahu harus menjawab apa. "Itu plastik dari saya. Saya beli kemarin. Isinya buku. Beberapa kali saya lihat anak Tante suka baca buku di teras depan, jadi saya sengaja beli beberapa buku sebagai salam perkenalan." Tatapan Dita segera berpindah ke arah Devano. Sungguh tidak menyukai senyuman yang terukir di bibir Devano. "Kamu gak usah sok baik gitu sama kami, karena kami sama sekali gak berniat berhubungan sama kamu ataupun sama keluarga kamu." Dita memperingati Devano. Ia lalu memandang Dee, mencekal tangan Dee kuat sampai membuat Dee mengaduh, kemudian menarik Dee kasar menuju gerbang. "Tante, tolong jangan kasar kayak gitu!" Perkataan Devano sukses membuat Dita menghentikan langkah untuk kembali menatap Devano. "Maksud kamu apa, ya?" tanya Dita. "Saya bilang tolong jangan kasar kayak gitu sama anak tante. Lagian anak Tante itu 'kan masih muda, nggak ada salahnya juga kalau kami berteman. Lagian kami juga tetangga. Jadi tolong jangan berbicara seolah-olah kami tidak boleh bertemu lagi dan sekali lagi, tolong jangan sekasar itu sama anak Tante." Dee melotot. Memohon kepada Devano lewat tatapannya agar Devano tidak berbicara terlalu banyak. Tapi luar biasanya, Devano malah mengabaikan hal itu. Bahkan dengan beraninya Devano malah maju mendekati Dita dan Dee. Tangan Dee yang bebas ditarik oleh Devano. Membawa Dee ke samping tubuhnya dengan paksa. "Anak tante bisa jalan sendiri, nggak perlu ditarik-tarik kayak apa yang Tante lakuin." Wajah Dita yang sejak awal melihat Devano sudah menunjukkan ketidaksukaan, kini bertambah murka melihat Devano yang dengan lancangnya menyentuh putri satu-satunya. "Dee! Balik ke sini!" perintah Dita, "ke sini ibu bilang!" Dee sudah hampir melangkah, tapi Devano malah maju ke depan tubuh Dee. Membuat Dee refleks mundur. Karena bagian aspal di depan gerbang rumah Dee tidak rata, pijakan Dee menjadi tidak seimbang, yang akhirnya malah mengakibatkan Dee jatuh terduduk dengan kedua telapak tangan yang menyentuh aspal terlebih dahulu. Dita dan Devano langsung bergerak cepat mendekati Dee. Ketika Devano ingin membantu, Dita mendorong tubuhnya. "Jauh-jauh dari anak saya!" perintahnya. Dita membantu Dee berdiri. Melotot marah ketika melihat kedua telapak tangan putrinya lecet karena terkena aspal. Buru-buru ia memandang Devano lagi dengan raut marah yang juga tidak melemah. "Maaf, Tante. Saya sama sekali gak bermaksud bikin anak tante sampai jatuh kayak gitu. Sumpah,saya cuma—" "Saya nggak peduli mau kamu tetangga saya, mau rumah kamu tepat di depan rumah saya, saya benar-benar gak peduli." Dita menunjuk Devano, "yang saya minta cuma satu, jauh-jauh dari anak saya!" Dee menyentuh lengan ibunya. Berusaha menenangkan ibunya. "Bu, gak perlu sampai marah kaya gitu. Lagian ini juga cuma kecelakaan kecil, dan dia juga cuma mau berhubungan baik sama kita sebagai tetangga." "Gak usah belain dia!" seru Dita segera menarik tangan Dee menuju gerbang. Ketika gerbang sudah terbuka, Dita meminta agar Dee masuk lebih dulu sementara dirinya masih ingin berhadapan dengan Devano. "Anak saya jadi terluka karena kamu! Jadi saya sangat minta tolong ke kamu, tolong jangan dekati keluarga saya atau nanti anak saya bisa terluka lebih parah lagi. Kembali aja ke kehidupan kamu dan jangan ngurusin kehidupan saya sama anak saya. Kami bahkan sama sekali gak mengganggu kamu, jadi saya harap kamu juga jangan mengganggu kami." "Tante, tolong dengerin saya." Lagi, Dita menunjuk Devano. "Cukup kali ini saya liat kamu sama anak saya. Nggak ada lain kali!" Ia segera berlalu dari sana. Menutup gerbang dan menyusul Dee yang sudah berada di halaman depan. Sungguh, Devano sama sekali tidak berniat untuk membuat keributan. Ia hanya tidak suka dari bagaimana cara ibu Dee menarik tangan Dee seperti tadi. Tapi apa yang ia lakukan justru tidak ada bedanya. Luka yang ia timbulkan pada kedua telapak tangan Dee memunculkan rasa bersalah yang teramat besar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN