6 - Pemandangan Luar Jendela

2092 Kata
Dee tersenyum saat melihat pintu kamar ibunya terbuka. Ibunya keluar tak lama setelah itu. Berjalan santai menuju meja makan di mana sudah ada putrinya yang duduk manis di salah satu kursi. Dita menarik salah satu kursi begitu sampai di meja makan. sengaja memilih kursi yang ada di seberang Dee agar bisa berbicara saling berhadapan dengan putrinya. Seolah sudah sangat paham dan sudah sangat biasa melihat ibunya yang nampak menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk mengusir pegal, Dee segera mengambil centong dan mengisi piring ibunya. hal biasa yang ia lakukan untuk meringankan rasa telah yang diderita ibunya. Tidak hanya itu, Dee juga mengambilkan lauk dan menuangkan air putih untuk ibunya. "Bu, gimana kerjaan Ibu hari ini?" tanya Dee memulai pembicaraan. Dita menarik piring yang ada di depannya agar lebih dekat. Mempermudahnya menikmati makan malam yang disajikan oleh Dee. "Kaya biasa. Selalu sibuk. Apalagi hari ini restoran rame banget," sahut Dita terlihat lelah. Terdengar helaan nafas berat setelah Dita mengatakan hal itu. Nampak jelas terlihat seberapa sibuk restoran hari ini tergambar di wajahnya. Dee tersenyum pedih melihat hal itu, karena selama ini tidak ada satu pun hal berarti yang pernah ia lakukan untuk ibunya. "Nanti kalau aku udah lulus biar aku aja yang gantiin Ibu kerja. Ibu bisa duduk manis aja di rumah dan nunggu uang bulanan dari aku." Dita tersenyum. setengah beban di punggungnya terasa lenyap begitu saja karena perkataan dari Dee. "Yang penting kamu harus lulus SMA dulu, lulus kuliah dulu, gapai cita-cita kamu dan gapai apa yang kamu mau. Intinya bahagiakan dulu diri kamu, baru setelah itu pikirkan ibu," ujarnya tenang. Bukankah selalu sesempurna itu sosok seorang ibu? mereka tidak pernah memikirkan selelah apa diri mereka, seberapa berat beban yang harus mereka tampung dan kebahagiaan apa yang ingin mereka raih. Satu hal yang terpenting bagi mereka adalah kebahagiaan anak-anak mereka. Sama seperti arti ibu lain yang ada di dunia ini. Dita pun demikian. meski selama hidupnya ia hanya mengurung Dee di dalam rumah tanpa membiarkan gadis itu keluar untuk bersenang-senang layaknya remaja sebayanya, tapi kasih sayangnya jauh lebih tak terhingga dibandingkan apa yang ia lakukan pada Dee. "Aku janji bakal hidup bahagia supaya bisa bahagiain Ibu juga secepatnya," kata Dee di tengah kunyahannya. Meski nyatanya, sebagai anak ia tentu tidak bisa bahagia saat melihat dirinya sendiri menderita. Iya akan mendahulukan kebahagiaan ibunya, kesejahteraan kehidupan ibunya sebagai bentuk kebahagiaan untuknya sendiri. Namun, karena ibunya memaksa dijadikan prioritas terakhir, Dee tidak masalah mengaku sudah bahagia asal bisa memulai hari untuk membahagiakan ibunya. Tidak sekarang, tapi ia berharap tidak lama lagi. "Kalau sekolah kamu gimana?" Dita mengalihkan pembicaraan. Dee mengendikkan bahunya acuh. "Kaya biasa aja. Aku cuma datang ke sekolah, belajar, istirahat di kantin dan setelahnya baca buku sebentar di perpustakaan, masuk kelas lagi sampai jam pulang dan akhirnya aku ada di rumah." Sontak saja Dita tergelak mendengar penuturan Dee yang begitu detail. Di tengah rasa lelahnya sehabis bekerja, cerita singkat seperti itu sangat membuanya terhibur. "Anak ibu emang kutu buku," sindir Dita. Dee cemberut. "Ya, mau gimana lagi. Buku itu benda yang paling setia sama aku." Dita tertawa lagi. kali ini bahkan sampai membuatnya tersedak dan terpaksa meneguk minum air putih yang sudah disediakan oleh Dee. "Oh, iya, Bu. Ibu udah beli buku yang aku pesan belum?" tanya Dee setelah beberapa saat diam. Dita menggeleng. "Ibu belum sempet pesan buku itu dan kayanya Minggu ini juga Ibu bakal sibuk dan gak bisa ke toko buku. Mungkin baru bisa dibeli dua Minggu ke depan," jelasnya membuat Dee semringah. Sungguh kebetulan yang sangat menguntungkan. Dee sangat bersyukur. Untung saja ibunya belum sempat membeli buku yang dia pesan, karena kalau beberapa tumpukan itu sudah berada di tangan ibunya, ia tidak tahu bagaimana cara menolak buku tersebut. Tolong jangan salah paham. Dee tidak bermaksud untuk menolak pemberian ibunya. Hanya saja, ketika ia menerima buku dari ibu buku-buku tersebut menghiasi rak buku di kamarnya, rasanya tidak mungkin kalau ia tidak membaca buku-buku tersebut. Lalu, bagaimana ia bisa bertemu dengan Devano untuk meminjam buku sebagai alasan? "Buat buku itu kayanya Ibu nggak perlu beli, deh." Kening Dita berkerut. Kunyahannya terhenti. Ia bertanya, "Kenapa? kok tiba-tiba?" Karena memang tidak biasanya Dee membatalkan pembelian buku yang sudah dipesannya. "Aku minta beliin Ibu karena di perpustakaan sekolahku series-nya gak lengkap. Waktu itu aku cuma liat satu dan itu bagian yang pertama aja. Tapi tadi waktu aku ke perpustakaan aku liat series Twilight lengkap di sana. dan waktu aku tanya sama petugas perpustakaan ternyata bukunya emang sering dipinjam karena populer banget. Jadi tadi aku pinjam semua bukunya sekaligus dan dibalikin bulan depan." "Bukannya kalau punya sendiri lebih puas? Kamu bisa baca berulang kali dan gak harus dikejar waktu pas baca. Bisa santai, terus rak bukumu jadi nambah koleksi, 'kan?" Ya, memang benar, tapi kalau begitu Dee tidak punya kesempatan untuk meminjam sesuatu milik Devano dan mencari alasan saat mengembalikannya hanya untuk bertemu dengan cowok itu. "Gak pa-pa, kalau ada kenapa harus beli? Nanti uangnya bisa dibeli untuk hal lain atau bisa juga buat beli judul buku yang lain. Iya 'kan?" Dita hanya mengangguk. Kalau putrinya bisa berpikir sampai sejauh itu berarti Dee sudah dewasa dan bisa memikirkan hal penting lainnya, ketimbang memenuhi keinginannya saja. "Nanti kalau mau beli judul yang lain bilang aja sama ibu." Dita menatap Dee, "ibu gak bisa beliin di Minggu ini, tapi mungkin minggu depan ibu bisa langsung cariin buku itu." "Iya, Bu," sahut Dee. Keduanya kembali meneruskan makan malam mereka. Menyantap nasi beserta lauk pauk tidak di atas piring mereka. Dee yang pertama menghabiskan makanannya dan meneguk air putih hingga tak tersisa. Dia menunggu ibunya sampai wanita itu juga selesai dengan makannya. Barulah setelahnya Dee membawa piring kotor dan gelas kotor ke dapur untuk langsung dicuci. Dita membantu dengan membawakan sisa makanan yang tidak habis dan menaruhnya di dapur pula. Setelah itu, ia menghampiri Dee saat Dee tengah mencuci piring. Karena hanya beberapa, kegiatan itu cepat selesai dan keduanya beralih untuk pergi ke ruang tamu. Duduk di sofa sambil menonton televisi. Ya, begitulah kegiatan keduanya setiap malam. Selesai makan mencuci piring dan merapikan sisa makanan di atas meja, lalu menghabiskan waktu menonton televisi sampai salah satunya mengantuk dan memutuskan untuk pergi ke kamar. Sebenarnya televisi hanyalah benda menyala yang ada di depan mereka. Tidak benar-benar ditonton sepenuhnya. Keduanya selalu mengobrol tentang banyak hal sampai melupakan acara apa yang ditonton. Seperti sekarang, saat Dita memulai pembicaraan. "Oh, iya, besok kayanya ibu bakal lembur, deh." Sontak Dee langsung menoleh ke arah ibunya. Bertanya, "Kenapa?" "Jadi ada salah satu karyawan ibu yang merekomendasikan restoran ibu ke temennya. Jadi temennya itu katanya mau ngadain acara makan-makan gitu buat ngerayain ulang tahun, dan karyawan ibu itu rekomendasiin buat makan di restoran ibu aja. Acaranya jam delapan malam dan mungkin bakal selesai satu sampai dua jam." Dee hanya mengulas senyum tipis. Tentu ia tidak begitu terkejut atau merasa tidak seharusnya ibunya melakukan hal itu. Sekretarisnya bisa saja menangani semuanya tanpa harus ibunya turun tangan langsung, tapi dia tahu bahwa ibunya tidak akan melakukan hal itu. Katanya, kalau sekretarisnya harus lembur, maka ia pun begitu. Itu sudah sering terjadi, dan Dee tidak begitu mempermasalahkan. "Asal jangan sampe gak pulang aja, oke?" Dita mengangguk. "Lagian 'kan minggu ini ibu juga belum ambil libur, seenggaknya kesibukannya bisa dikurangi supaya kesehatan Ibu juga nggak terganggu. Jangan terlalu sering turun tangan kalau karyawan Ibu bisa nanganin semuanya. Buat apa punya karyawan kalau akhirnya Ibu juga yang kerja." "Ya, ibu mana tega ninggalin karyawan Ibu lembur. Sebagai pemilik restoran, ibu harus bertanggung jawab sama kesehatan semua karyawan ibu. Jadi, kalau misalnya mereka harus lembur, ya, bosnya pun harus lembur. Itu sistem kerja yang adil menurut ibu." Dee mengembuskan napas berat. Ia bangga pada ibunya, tapi sejujurnya ia juga tidak tega melihat ibunya bekerja terlalu keras sendirian. Dulu saat ayahnya masih hidup, pria itu yang mengurus restoran dan ibunya hanya duduk manis di rumah sebagai seorang ibu. Meski tidak ingat sepenuhnya, tapi Dee tahu bahwa masa kecilnya dulu selalu ditemani oleh ibunya. Dan sekarang wanita itu bahkan terlalu sibuk untuk menemaninya di akhir pekan. "Tapi janji minggu depan Ibu harus harus ambil libur, biar bisa dengerin banyak ceritaku dan ngabisin waktu sama aku di rumah. Oke?" Mendengar itu Dita dibuat tergelak. "Emangnya ada novel baru yang mau kamu ceritain jalan cerita dan alurnya ke ibu?" Dee mengangguk semangat. "Ada, dong. Minggu depan pasti aku udah selesai baca novel pertama dari series Twilight," ujarnya berseri-seri. Bukan karena sedang membayangkan isi novelnya, tapi karena wajah Devano yang tiba-tiba muncul di dalam pikirannya. Esok. Karena tadi sore Devano tidak datang itu artinya besok cowok itu akan mengantarkan novelnya. Ahh, rasanya Dee jadi tidak sabar untuk segera terpejam dan bangun besok pagi untuk pergi ke sekolah, menjalani hari seperti biasa, dan berakhir menunggu sore di depan rumahnya. Membayangkan hal itu Dee jadi ingat lagi sosok Devano yang baru ditemuinya hari ini. Cowok itu menyenangkan, dewasa, dan sangat ramah. Mungkin satu-satunya cowok terbaik setelah ayahnya yang pernah ditemui Dee semasa hidupnya. Bukan karena Dee menganggap bahwa orang lain selain mereka berdua merupakan orang yang buruk, tentu tidak begitu. Hanya saja, Dee ingin mengatakan bahwa hanya mereka berdua yang mau menerimanya tanpa peduli seberapa suram hidupnya. "Ya, udah, Bu. Aku mau ke kamar aja, deh." Dee bangkit dari kursi. Dita menatapnya. "Kok tumben banget udah mau tidur aja." Ia melirik jam dinding di tembok yang berada tak jauh dari posisi televisi, "baru juga jam setengah delapan," sambungnya masih terheran-heran. "Enggak, aku ada tugas yang belum sempet dikerjain tadi sore, jadi harus dikerjain malam ini karena bakal dikumpul besok. Setelah tugasnya selesai baru aku tidur." Dita hanya manggut-manggut. "Nanti perlu Ibu bikinin camilan sama s**u gak?" tanyanya. "Gak usah, Bu. Ibu juga langsung istirahat aja, soalnya 'kan besok Ibu harus kerja." "Oke. Kamu jangan begadang, ya. Gak baik" "Siap, Bos." Dita memberi hormat. Ibunya terkekeh melihat itu. Tidak habis pikir dengan kelakuan putrinya. Dee tersenyum. Menunduk sebentar untuk mencium pipi ibunya sekilas. Wanita itu sempat mengusap surai panjangnya sebentar sebelum akhirnya mengangguk dan membiarkannya pergi menuju kamar. *** Dee tidak berbohong. Awalnya Ia memang ingin mengerjakan tugas dari gurunya yang harus dikumpulkan besok. Itu adalah niat utama yang seharusnya dilaksanakan, jika saja Dee tidak memilih membuka tirai jendela untuk mencari udara segar. Karena yang dilihatnya Dee di luar sana mampu membuat Dee melupakan niat utamanya untuk mengerjakan tugas. Di sana, di seberang jalan, Devano berjalan santai dengan tangan kiri menenteng plastik berwarna hitam. Melihat plastik yang dibawanya, sepertinya cowok itu baru saja pergi ke warung. Sebuah ponsel menempel di telinganya, menandakan bahwa dia sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon. Jalannya tenang sekali. Dee menyesal karena tidak membuka tirai jendelanya lebih awal dan melihat Devano berjalan lebih lama. Beberapa detik setelahnya, Devano sampai di depan gerbang rumahnya. Cowok itu tidak langsung masuk. Meski tidak jelas, nampaknya Devano tengah bertengkar dengan seseorang di ujung telepon sana. Terlihat sekali dari gestur tubuhnya yang seolah enggan berbicara dan ingin menutup telepon segera. Beberapa kali Devano terlihat memijat pangkal hidungnya, dan bergerak tidak karuan seolah sedang frustrasi. Dee tidak sadar bahwa dirinya terlalu penasaran dan sampai mendekatkan tubuhnya ke arah jendela meski sangat tahu bahwa ia tidak bisa mendengar pembicaraan Devano. Di tengah kegelapan malam dengan segala objek yang menghalangi pandangannya, Dee masih bisa menikmati wajah Devano. Bahkan dari kejauhan saja sosok itu masih terlihat begitu sempurna di mata Dee. "Dee, kamu ngapain?" Suara itu sontak membuat Dee terlonjak dan memutar tubuhnya untuk mencari sumber suara. Dita berdiri di depan pintu kamar Dee dengan raut bingung. Melihat putrinya yang tertegun di depan jendela seolah sedang memperhatikan sesuatu. "Ibu, kok masuk gak bilang-bilang, sih?" tanya Dee. "Tadi ibu udah ngetuk pintu, kok," sahut Dita. Sontak saja Dee mengerjap polos. Ia melihat lagi ke luar jendela, tapi Devano sudah tidak ada. Mungkin sudah masuk ke dalam rumahnya. Dee bertanya-tanya, apakah sehebat itu sosok Devano berhasil merebut atensinya? Sampai ia tidak sadar suara ketukan yang begitu dekat. "Kenapa, Bu?" tanya Dee. "Ibu mau nanya, Ibu mau bikin cokelat panas. Kamu mau?" Dee menggeleng. "Kita 'kan abis makan, Bu. Gak usah, deh. Ibu aja kalau mau bikin." Dita hanya mengangguk mengerti. Ia memutar tubuhnya untuk segera pergi, tapi teringat sesuatu ia melihat Dee lagi. "Ngomong-ngomong kamu lagi liatin apa di luar jendela? Serius banget?" tanyanya curiga. Dee dibuat kelabakan karena pertanyaan itu. jangan sampai ibunya tahu bahwa ia berhubungan dengan tetangga yang sudah diwanti-wanti oleh ibunya sendiri. Kalau sampai ibunya tahu, habis sudah dirinya. "Eh, enggak, kok. Aku cuma nyari udara segar aja." Kali ini Dee beruntung karena ibunya tidak bertanya lebih jauh dan memilih segera pergi. berdoa saja semoga keberuntungan terus berpihak padanya dan akan datang tidak hanya hari ini, tapi esok dan seterusnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN