Keadaan menjadi hening seketika setelah perkataan terakhir Yuuji. Tidak sedikit laki-laki mengatakan hal yang sama dalam beberapa kali pertemuan, bahkan cuma sekali pertemuan pun ada. Yang Asha pikirkan, Yuuji serius atau sekedar mempermainkannya.
"Tuan, berniat menghibur saya?" Asha bertanya dengan senyum di wajahnya. Ia tidak berharap apapun. Ia bukan orang yang mudah dibuat percaya.
"Saya tidak berniat menghibur."
"Aa, apa Tuan sedang latihan untuk melamar seseorang?" Asha tertawa kecil. "Harusnya Tuan bilang pada saya dulu. Saya jadi kaget tadi. Saya kira sungguhan. Hampir saja saya tertipu," lanjut Asha. Tawanya kali ini, lebih keras dari sebelumnya.
Yuuji memandang Asha dari samping. Di mata Yuuji, tawa itu hanya pengalihan saja. Yuuji menyadari, tidak mudah bagi Asha percaya pada orang lain. Apalagi orang yang baru ditemuinya beberapa kali.
Tanpa aba-aba, tidak tahan akan pengalihan tawa bercampur rasa sakit itu. Yuuji menarik Asha mendekat ke arahnya, dan mencium mulut yang tadi tertawa.
Asha terkesiap akan tindakan Yuuji, ia tidak bisa lepas. Berusaha berontak pun sia-sia. Belakang kepalanya di tekan dan pinggangnya didekap erat. Asha merasakan lain dari ciuman ini. Yuuji seolah mengatakan sesuatu. Asha pun memilih diam, mencoba menangkap apa yang Yuuji katakan. Dan ia menangis setelah tahu. Rasa sakit serta penderitaan yang sama.
Beberapa menit kemudian, Yuuji melepaskan ciumannya. Namun ia tidak menjauh dari Asha. "Saya ingin menikah dengan kamu, Asha."
"Tuan."
Yuuji menghapus air mata Asha. "Maafkan saya, Asha."
Yuuji kembali membawa Asha dalam tawanannya. Ia tawan bibir itu, sampai ia mendapat balasan. Beruntung, ada sebuah kendaraan yang menutupi mereka selama pembicaraan tadi. Sehingga apa yang mereka berdua lakukan, tidak menjadi tontonan orang lain.
Dirasa cukup, Yuuji sedikit menjauh dari Asha. Ia bersihkan bibir yang baru saja ia mainkan, seraya berkata, "saya serius, Asha."
"Saya takut dipermainkan, Tuan. Saya hanya perempuan miskin, saya tidak cantik, tubuh saya bahkan tidak ada bagus-bagusnya. Saya memiliki banyak kekurangan. Saya merasa tidak pantas untuk anda, Tuan?"
"Saya memilih kamu, Asha."
Asha menggelengkan kepalanya. "Atas dasar apa, Tuan? Anda kasihan sama saya? Saya memang menyedihkan, Tuan. Saya sudah biasa menghadapi apapun dalam hidup saya. Tuan tidak perlu mengasihani saya. Saya malah bersyukur bertemu orang baik seperti Tuan."
Yuuji meletakkan satu tangannya di atas kepala Asha. Ia usap lembut kepala itu, sampai Asha melihat kepadanya lagi.
"Saya cinta kamu, Asha."
Bersamaan dengan itu, Asha merasakan udara dingin menerpanya serasa hingga menusuk ke tulang.
"Percaya saya, Asha," tegas Yuuji sembari tersenyum lembut ke arah Asha. Senyum yang mampu membuat jantung Asha menjadi tidak tenang.
"Mari mencari bahagia bersama-sama, Asha."
"Tuan." Asha kembali meneteskan air matanya. Melihat sepasang mata itu, hati Asha terenyuh. Haru hinggap di dalam hatinya, ia merasa Yuuji mampu memberikan kebahagiaan tersebut.
"Tinggalkan semua rasa sakit kamu, pergilah bersama saya. Saya tidak berjanji membuat kamu tidak menangis selama bersama saya tetapi saya usahakan agar kamu tidak menangis."
"Saya tidak bisa selalu membuat kamu bahagia, karena saya juga butuh kebahagiaan itu. Dan kebahagiaan saya, ada kamu disisi saya, Asha."
Tumpah sudah air mata Asha, tidak dapat ia bendung lagi. Ia menjatuhkan diri pada laki-laki di sampingnya, ia peluk erat. Selalu, pelukan ini terasa hangat dan nyaman. Dari pertama bertemu hingga sekarang, tidak ada yang berubah. Malah semakin membuatnya tenang.
"Tuan, saya butuh orang yang bisa mengerti saya. Saya butuh orang yang bisa saya jadikan sandaran. Tolong jaga saya, jangan tinggalkan saya. Saya tidak mau sendirian di dunia ini. Saya ingin bahagia, Tuan."
Yuuji balas memeluk Asha sembari berbisik di telinga Asha, "akan saya lakukan, Asha. Terima kasih."
***
Asha mengucek matanya begitu mendengar sebuah alarm berbunyi. Ia mendudukkan dirinya dan mengambil ponsel di atas nakas. Nakas? tampak berbeda. Asha melihat sekeliling, ternyata memang bukan rumahnya.
Wajah Asha memerah, mengingat siapa pemilik tempat ini. Dan apa yang telah diperbuat semalam. Ajakan itu, benarkah? Asha serasa bermimpi. Jika ditanya, senangkah dirinya? Asha tidak munafik untuk berkata tidak. Ia sangat senang. Andai Yuuji tidak ditakdirkan untuknya, Asha tetap bersyukur Tuhan mempertemukan dirinya dan Tuannya itu.
"Asha." Suara panggilan dari luar agak mengejutkan Asha.
"Ya, Tuan!" seru Asha.
"Keluarlah."
Asha merapikan pakaian yang ia kenakan semalam. Setidaknya ia tidak mau terlihat berantakan di depan Yuuji.
"Makan sini," ujar Yuuji, saat ia melihat Asha berjalan ke arahnya. Jika dilihat baik-baik, sejujurnya keduanya masih tampak canggung.
"Baik, Tuan."
Asha duduk di depan Yuuji, ia melihat nasi goreng yang sudah tersaji. Senyumnya merekah usai melihat hiasan yang tersaji di piring. Telur mata sapi dengan sepasang mata dan bibir tersenyum ditambah tulisan dipinggiran piring yang dibaca,
tersenyumlah, Asha.
"Tuan, terima kasih." Asha menatap Yuuji dengan wajah berseri-seri. "Maaf, sudah merepotkan, Tuan. Harusnya saya yang memasak."
"Saya tidak merasa direpotkan. Makan."
Asha mengangguk kemudian menyantap hidangannya.
"Hari ini mau pergi lagi?"
Asha sejenak berhenti makan, ia ingat akan masalahnya yang belum selesai. Tadi malam bersama Tuannya, ia sudah melapor atas dugaan orang hilang usai 24 jam dari waktu kepergian sang kakak dari rumah. Meski begitu, selama kakaknya belum pulang atau ditemukan, tidak ada sama sekali perasaan lega.
"Saya mau melihat kondisi ibu saya dulu, Tuan."
"Biarkan saya ikut."
Asha terdiam, benarkah jika ia memutuskan membawa Tuannya bersamanya? Karena Tuannya sudah banyak menolong mencari kakaknya dari tadi malam. Asha pun mengiyakan permintaan Yuuji.
"Jika tidak merepotkan, Tuan."
Yuuji mengangguk kecil, ia beranjak dari duduknya dan berujar, "saya ganti dulu."
Asha memandang kepergian Yuuji. Si diam tampak hangat. Asha tersenyum dengan rona di pipi. Ia harus menyelesaikan makan dengan cepat sebelum Tuannya selesai berganti pakaian.
Karena Yuuji belum keluar dari kamar, padahal Asha sudah selesai makan dari lima menit yang lalu. Asha pun memilih membersihkan meja dan mencuci piring dulu, selagi ada waktu. Tapi, Asha dikejutkan dengan sebuah lipatan kertas di bawah piringnya.
Di atas kertas itu, bertuliskan namanya.
Untuk Asha.
Penasaran sekaligus deg-degan, Asha membuka kertas tersebut. Asha jelas tahu, si pemilik tulisan rapi ini. Lebih dari sekali, Asha telah mendapatkan hal yang sama juga.
Asha, keadaan ini telah berubah. Jangan lihat saya sebagai atasan kamu. Kamu bukan bawahan saya lagi. Lihat saya sebagai laki-laki yang sudah kamu miliki. Yang akan bersamamu dalam kondisi apapun. Apa yang saya lakukan untuk kamu bukanlah sesuatu yang merepotkan. Katakan apapun keinginan kamu, keluh kesah hati kamu pada saya, saya akan mendengarkan dan berusaha mewujudkan.
Asha saya bukan orang yang bisa bicara banyak. Menjadikan kamu asisten di apartemen saya bukanlah tujuan saya. Saya hanya ingin melihat kamu ada di sekitar saya. Saya harap kamu tidak berpikir macam-macam tentang saya.
Saya senang sudah bisa mengutarakan isi hati saya tadi malam. Tetapi saya lebih senang kamu bisa menerima saya. Asha, terima kasih.
Setelah ini, tolong peluk saya, saya malu. Saya mencintai kamu, Asha.
Asha tidak kuasa menahan tangis. Lagi-lagi ia menangis, cengeng sekali bukan? Ia tidak pernah merasakan dicintai seperti ini. Benar kata orang, dibalik kesedihan akan ada pelangi yang indah di sana.
"Asha."
Asha melempar senyum, lalu menghampiri Yuuji. Ia buka lebar kedua tangannya dan segera memeluk pria itu.
"Tuan, menggemaskan sekali."
Yuuji melakukan hal yang sama. Balas memeluk Asha.
"Cuma kamu, Asha."
Asha mengangguk dalam pelukan Yuuji, ia sudah memahami sikap Tuannya.
Tuhan, aku tidak mau kehilangan pria baik ini. Saya butuh dia di sisi saya. Tolong, jaga dia di setiap langkahnya. Terima kasih.