Sepuluh

1292 Kata
Berlari masuk ke dalam rumah, Asha mendapati Ibunya menangis di ruang tamu seorang diri. Asha tahu kekhawatiran sang Ibu karena ia juga merasakan hal yang sama. "Ibu," panggil Asha. "Kakakmu belum pulang, Asha. Di mana dia sekarang?" tanya Desi sambil menangis sesenggukan. "Asha tidak tahu Ibu. Asha yakin kakak akan pulang," hibur Asha, ia mencoba meyakini sesuatu yang berkebalikan dari yang hatinya yakini. Secuil harapan itu ada, ia ingin kakaknya segera pulang. Apa mungkin? semoga. "Kenapa dari awal ibu tidak jujur sama Asha? Kalau ibu jujur, Asha pasti akan mengejar kakak tadi malam." Asha menggenggam erat kedua tangan Desi. Ia duduk bersimpuh di lantai di bawah kursi yang Desi duduki. "Ibu tidak ingin membatasi kakakmu, Asha. Ibu ingin dia bahagia dengan jalan yang ditempuhnya sendiri. Apa kamu ingat, saat kakakmu masih duduk di bangku SMA? Dia tidak suka dikekang. Ibu hanya tidak mau dia pergi dari rumah." Asha ingat dulu, kakaknya yang tidak diizinkan pergi bermain bersama teman-temannya karena menurut ibunya teman-teman kakaknya itu bukan orang baik. Kakak marah, membanting semua barang dan mengancam akan pergi dari rumah. Ibu tidak mau kakak pergi, pada akhirnya mengizinkan. Namun, setelah kakak pulang, dia menangis memeluk sang ibu. Mengatakan bahwa teman-temannya jahat, meninggalkannya di tempat jauh seorang diri di tempat gelap. Beruntung, dia bertemu orang baik sehingga bisa mengantarkan pulang ke rumah. Sejak saat itu, kakaknya tidak pernah lagi keluar malam. Kakaknya memiliki trauma. Bermain bersama teman-teman pun sewajarnya. Tidak pernah pulang larut malam. Paling malam, pukul sepuluh. Kalau pun ada lembur di kantor, kakaknya selalu bersama teman kantornya yang paling dekat dengannya. Asha dengar teman dekat kakaknya telah mengundurkan diri, fokus menjadi ibu rumah tangga. Karena itu, Asha menjadi khawatir berlebihan. Takut sesuatu yang buruk terjadi. Asha tidak habis pikir, kakaknya berani pergi tadi malam. Pikiran negatif pun bermunculan dan selalu Asha tepis. Asha hanya mau kakaknya pulang tanpa kekurangan satu apapun. "Asha akan cari kakak, Bu," putus Asha. Ia tidak tega melihat ibunya seperti ini. Mata sembab karena terus-terusan menangis. "Tolong cari kakakmu, Asha. Ibu tidak bisa hidup tanpa kakakmu." Desi menggenggam erat tangan Asha. Ia memohon pada anaknya itu. "Asha pasti akan cari, Bu. Sekarang Ibu harus makan dulu. Ibu belum makan, bukan?" Asha membuka tas plastik di sampingnya. Sebelum pulang ia menyempatkan diri membeli makanan di warung. Asha tahu, ibunya belum makan. Ia tidak berencana memasak malam ini. Rencananya, setelah mengurus ibunya ia akan mencari kakaknya. "Ibu tidak lapar, Asha. Ibu mau kakakmu." "Tapi Ibu harus makan, Bu." "Tidak, mau. Cari kakakmu saja, Asha!" bentak Desy. "Kalau Ibu makan, Asha akan cari kakak." "Bilang saja kau tidak mau cari kakakmu! kau senang, 'kan kakakmu tidak pulang?" Mendapat tuduhan begitu oleh ibunya, Asha benar-benar tidak menyangka. "Tidak, Bu. Asha--" "Kau membenci kakakmu, Asha!" seru Desy dengan suara keras sembari menepis tangan Asha hingga makanan yang Asha pegang berhamburan jatuh ke lantai. "Cari kakakmu, jangan pulang sebelum kakakmu pulang!" Asha terduduk lemas, jantungnya berdegup kencang, ia menatap nanar makanan yang sudah tidak layak makan itu seraya bergumam sambil menangis. "Ibu ...." *** Usai membereskan makanan yang berserakan, Asha berniat membuangnya ke tempat sampah depan sekalian membuang sisa sampah di dapur. Lelah terlihat jelas di wajah Asha. Namun tidak menghentikannya melanjutkan pekerjaan di rumahnya sendiri. Asha menarik nafas kemudian menghembuskannya. Dari teras rumahnya, Asha mengusap peluh di dahinya. Tetapi sepasang mata Asha membulat, melihat seseorang berada di jalan umum depan rumahnya. Pria itu ada di sana. Berlari kecil seraya membawa tas kresek berisi sampah, Asha menghampiri seseorang di sana. "Tuan, kenapa anda ada di depan rumah saya?" tanya Asha tanpa basa-basi. "Asha akan pergi?" "Iya, Tuan." "Ke mana?" "Buang sampah, Tuan," jawab Asha sembari mengangkat tas kresek di depan Tuannya. Ya, pria yang Asha lihat adalah Yuuji. "Bau, Asha." "Maaf, Tuan. Saya akan membuangnya." Asha mengambil langkah lebar menuju tempat sampah di pinggir jalan. "Asha akan pergi?" Yuuji mengulang pertanyaan yang sama begitu Asha sudah berdiri di depannya lagi. "Iya, Tuan." "Ke mana?" "Saya akan mencari kakak saya," balas Asha, jujur. "Saya antar." "Tidak usah, Tuan. Saya bisa mencari kakak saya sendiri," tolak Asha. Ia tersenyum sungkan ke arah Yuuji. "Saya tunggu." Tidak menanggapi penolakan Asha, Yuuji malah masuk ke dalam mobil. Seperti katanya, dia akan menunggu Asha bersiap. Itulah makna dari dua kata Yuuji. Asha kembali menarik nafas, lalu berjalan lunglai masuk ke dalam rumah. Setidaknya ia akan ganti baju dan cuci muka. Asha sadar, usahanya akan sia-sia jika ia berusaha menolak keinginan Yuuji. Jujur, Asha kesal, tak enak hati. Sayangnya, ia tidak bisa berbuat apa-apa. "Tuan, saya permisi masuk," ujar Asha. Ia membuka pintu mobil Yuuji dan masuk ke sana. "Mencari ke mana?" Asha menggelengkan kepalanya. "Saya tidak tahu, Tuan." "Saya antar, katakan," balas Yuuji, seakan memaksa Asha menentukan tujuan. "Saya berniat menelusuri jalan saja, Tuan. Saya tidak pernah tahu tempat-tempat yang biasa kakak saya kunjungi." Yuuji pun mengendarai kendaraannya menelusuri jalanan ibu kota. Dari jalanan yang padat kendaraan sampai jalanan sepi yang bisa di lalui mobil pun Yuuji lewati. Mereka berdua keliling dalam diam hingga waktu menunjukkan pukul satu dini hari. "Kita berhenti." Yuuji terpaksa menghentikan kendaraannya setelah melihat wajah lelah sekaligus sedih dari raut Asha. "Saya akan membeli minum." Yuuji meninggalkan Asha sendiri di dalam mobil. Ia menyeberangi jalan menuju pedagang kaki lima dan membeli minuman isotonik juga air putih. Sementara Asha, memutuskan keluar mobil. Ia memilih duduk di kursi panjang di bawah pohon tak jauh dari kendaraan Yuuji berada. Dari posisinya, Asha dapat melihat Yuuji berjalan tenang menyeberangi jalan ke arahnya. Di mata Asha, Yuuji termasuk dalam kategori sempurna. Pria itu memiliki semua yang orang inginkan. Meski tidak tahu apa pekerjaan Yuuji, Asha tahu Yuuji memiliki pekerjaan yang bagus, terbukti dia mapan dan berkecukupan. Terlebih lagi, dari wajah tak berekspresi itu, Asha yakin tidak ada masalah yang terjadi dalam kehidupan Yuuji. Sebab, tidak ada yang berani melawan. Aura Yuuji terlihat mendominasi meski dilihat dari jauh. "Di luar dingin, Asha." Asha tersenyum lemah. "Saya memakai jaket, Tuan." Yuuji tidak berkata apa-apa lagi. Ia menyodorkan minuman berisotonik yang sudah dibuka tutupnya pada Asha. Asha pun menerimanya. "Saya bodoh ya, Tuan?" pandangan Asha menatap lurus jauh ke depan. Di mana ramai orang berjualan kaki lima di seberang sana. "Saya tidak berguna, saya tidak bisa apa-apa. Mungkin jika di dunia ini ada kompetisi orang bernasib paling buruk di dunia ini, mungkin saya akan menjadi pemenangnya," lanjut Asha. Tak ada senyum, yang ada hanya sorot mata sedih. "Atau saya tidak akan pernah menang. Nasib saya sudah dari awal buruk soalnya." Asha meminum lagi minumannya. "Sedari kecil saya tidak pernah mendapatkan apa yang kakak saya dapatkan. Jujur, saya iri, jauh dari lubuk hati saya, saya menginginkan juga. Tapi ibu selalu bilang, keuangan beliau terbatas. Hanya bisa membeli untuk satu orang. Dari saya kecil, saya selalu mendengar hal itu. Hingga saya remaja, saya sudah tidak pernah menginginkan apa-apa lagi." "Meski saya berkata begitu, saya sejujurnya punya keinginan lain. Tuan tahu apa itu?" Asha memandang Yuuji, Asha tidak berharap Yuuji menjawabnya. Karena Asha tahu, Yuuji tidak akan menjawab. "Saya hanya punya kakak dan ibu saya. Saya ingin mereka berdua bahagia. Walaupun terkadang saya mengeluh." Asha tertawa ringan. "Saya menyayangi keduanya. Saya tidak membenci mereka, bagaimana pun mereka memperlakukan saya. Saya tidak bisa jauh dari mereka, terutama ibu saya. Saya tidak bisa meninggalkan ibu saya seorang diri." Sejenak Asha menghentikan perkataannya. "Sayangnya, beberapa hari ini. Muncul keinginan lain dari diri saya. Sewajarnya manusia, saya sudah berada di titik lelah, Tuan." Seraya tersenyum lebar, dengan mata tak lepas menatap mata pria di sampingnya, Asha mengatakan keinginan lain darinya. "Saya juga ingin bahagia, Tuan." Bersamaan dengan itu, Yuuji meremas botol kosong di antara kedua tangannya. Angin membelai keduanya, udara dingin tak lagi terasa. Asha pun tak lagi berbicara. "Asha." "Ya, Tuan." "Bersikaplah egois." "Pikirkan dirimu." "Keluar dari rumah itu." Yuuji mengatakan tiga kalimat itu disertai jeda. "Dan menikahlah dengan saya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN