Asha tadi sudah menyiapkan sarapan untuk Tuannya Yuuji, kali ini ia tidak mengulang kesalahan seperti kemarin. Tuannya bahkan memuji hasil masakannya. Pujian yang cuma satu kata sih, hanya kata enak itu saja. Tapi sangat berarti bagi Asha.
Sekarang Asha sedang mengelap meja-meja dekat televisi. Tidak terlalu banyak debu, apartemen ini tampak bersih dari yang katanya tidak pernah dibersihkan.
Asha tidak sendirian di apartemen ini. Tuannya tadi setelah sarapan langsung masuk ke ruang kerja dan mengurung di sana. Dengan itu, Asha merasa sedikit kebebasan. Bekerja tanpa takut di pantau.
Di sisi lain perasaan gelisah terus saja mengusik hati Asha. Tadi pagi, saat ia pergi ke kamar kakaknya, ia tak mendapati kakaknya berada di sana. Ibunya hanya bilang agar membiarkan kakaknya dan yakin kakaknya akan pulang. Sang ibu bicara tanpa kepastian yang jelas. Tidak ada bukti telepon atau pesan dari kakaknya, yang memastikan jika kakaknya nanti akan pulang.
"Berhenti, Asha."
Asha terkejut mendapati suara baritone tepat di belakangnya. Ia sontak balik badan secara terburu-buru hingga kehilangan keseimbangan pada kedua kakinya. Beruntungnya, seseorang bisa menangkap dirinya sehingga ia tidak jadi terjatuh ke lantai.
"Asha baik-baik saja?"
Sadar dalam posisi yang tidak pantas, Asha mendorong orang yang sudah menolongnya menjauh.
"Maaf, Tuan. Anda mengagetkan saya."
"Asha melamun."
Asha tidak memiliki keberanian menatap Tuannya. Ia berusaha melihat ke mana pun asal tidak ke arah Yuuji.
"Berpikir apa?"
Asha suka mendengar suara Yuuji ketika menanyakan kondisinya. Terasa lembut, penuh perhatian dan menenangkan. Yuuji terlalu peka untuk ukuran seorang pria.
"Tidak ada, Tuan."
"Tidak boleh berbohong, Asha."
Asha sadar bahwa dirinya selalu merepotkan Yuuji. Ia tidak bermaksud berbohong, hanya saja tidak ingin merepotkan lebih banyak lagi.
"Saya tidak berbohong, Tuan."
Yuuji tidak menyukai ketidakterbukaan Asha pada dirinya lagi. Yuuji suka mendengar Asha menceritakan masalahnya. Karena bagi Yuuji, masalah Asha adalah masalahnya yang harus ia selesaikan. Yuuji mau Asha bahagia.
"Saya lapar."
"Aa, saya akan segera memasak, Tuan."
Asha berjalan meninggalkan Yuuji seraya melirik jam dinding. Di dalam hati, Asha merutuki dirinya sendiri. Ia tidak sadar telah melamun sampai jam makan siang tiba.
Asha tidak lagi menanyakan menu makan apa yang ingin dimakan Tuannya Yuuji. Tadi saat sampai di apartemen Yuuji, Asha sudah melihat sebuah buku catatan dengan namanya bersama lembaran kecil di sebelah buku tersebut yang bertuliskan,
menu hari ini, Asha.
Saat Asha membuka buku catatan tersebut, ada banyak yang tercatat di sana. Dari menu makan pagi hingga makan siang. Lengkap dengan bahan-bahan yang dibutuhkan dan cara membuatnya, tak terlewatkan waktunya serta takaran bumbu yang perlu dimasukkan.
"Maaf, membuat Anda menunggu, Tuan."
Menu makan siang yang sederhana, tidak terlalu untuk dibuat, sudah tersaji di depan Yuuji.
Begitu Yuuji melahapnya, ia kemudian mengangguk. Pertanda, sudah sesuai dengan seleranya.
"Kalau begitu, saya permisi membereskan dapur, Tuan."
Asha menyuci peralatan masak yang tadi sudah ia gunakan sekaligus membereskan bahan-bahan masakan. Di tengah aktifitasnya, Asha mendengar suara Yuuji memanggilnya.
"Asha," panggil Yuuji.
"Iya, Tuan," jawab Asha. Ia mengeringkan tangannya dengan lap lalu menghampiri Tuannya.
Yuuji memberikan selembar kertas yang sudah di lipat pada Asha. "Terima ini, Asha."
Setelah itu, Yuuji meninggalkan Asha dan masuk kembali ke ruang kerjanya.
Sepeninggal Yuuji, Asha membuka lipatan kertas tersebut. Asha tidak bisa tidak tersenyum melihat tulisan panjang di sana. Ia merasa dihargai meskipun dirinya hanya seorang asisten rumah tangga, bahasa kasarnya pembantu.
Jika lelah, Asha bisa menggunakan sebuah ruangan di sebelah kamar saya. Pintu yang bertuliskan nama Asha di sana. Kamar saya terlalu besar untuk saya sendiri. Saya membagi dua untuk Asha. Saya pekerjakan seseorang semalam. Saya harap Asha suka dan nyaman di sana.
Kini Asha tahu, Yuuji lebih suka menulis untuk menjelaskan sesuatu yang panjang. Pria yang unik.
Asha tidak sabar melihat ruangan yang sudah dipersiapkan untuknya. Ia bergegas ke sana. Di depan pintu bertuliskan namanya, Asha menertawai dirinya sendiri. Jelas-Jelas pintu ini ada dekat dengan pintu kamar yang ia masuki tadi pagi untuk ia bersihkan. Kok bisa ia tidak melihat? astaga, memikirkan kakaknya membuat konsentrasi hilang, beruntung pekerjaannya berjalan lancar.
"Terima kasih, Tuan Yuuji. Anda sangat baik," gumam Asha seraya membuka pintu.
Begitu membukanya, Asha seketika memandang takjub. Ruangannya tidak besar memang, tapi terasa nyaman. Ada kasur single, nakas kecil di sampingnya, karpet berbulu membentuk huruf L, televisi di atas dekat pintu, ber AC, dan hiasan daun melingkar di atas kepala ranjang. Asha sangat menyukainya.
"Asha suka?"
Asha mengangguk dengan mata berbinar.
"Syukurlah."
Asha mungkin terkejut mendapati Yuuji sudah berdiri di sebelahnya, namun tidak seterkejut tadi.
"Terima kasih, Tuan." Asha membungkukkan badannya sambil mengucapkan terima kasih. "Sejujurnya ini berlebihan bagi orang seperti saya. Tapi entah kenapa, saya senang, Tuan."
"Asha sudah tidak sedih lagi."
Raut senang di wajah Asha perlahan sirna. Ia kembali memikirkan sang kakak. Ia pun memiliki perasaan tidak enak pada Tuannya juga. Sudah tidak jujur, padahal Tuannya Yuuji terlihat mengkhawatirkannya.
"Sejujurnya, saya sedang memikirkan kakak saya, Tuan. Kakak saya pergi malam sekali dan sampai sekarang saya tidak tahu kakak saya sudah pulang atau belum. Saya takut terjadi apa-apa sama kakak saya, Tuan," jelas Asha, pada akhirnya ia memutuskan untuk jujur.
"Hubungi, Asha."
Asha memandang nanar Yuuji, sebelum menggelengkan kepalanya. "Saya tidak bisa menghubunginya, Tuan. Sa--"
"Asha bisa pakai," potong Yuuji sembari memberikan ponselnya pada Asha.
"Tuan ...," lirih Asha.
"Pakai saja."
Tentunya Asha tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Keterbatasan pulsa dan paket internet, menghalangi Asha tidak bisa menghubungi sang kakak.
"Terima kasih, Tuan."
Tidak tahu kata terima kasih ke berapa. Asha bersyukur memiliki majikan yang baik. Asha menerima ponsel dari tangan Yuuji. Ia pun menggunakannya setelah melihat nomor sang kakak dari ponselnya sendiri.
Asha meletakkan ponselnya di dekat telinga dan suara operator yang menjawabnya.
"Suara operator, Tuan," adu Asha pada Yuuji.
"Berikan ponsel Asha."
Yuuji mengambil ponsel Asha untuk menghubungkan dengan WiFi di apartemennya.
"Hubungi lewat aplikasi chat."
"Baik, Tuan."
Asha melakukan yang Yuuji suruh. Ia menelpon kakaknya melalui aplikasi chat dan sama, tidak ada kata berdering di layar. Itu berarti kakaknya tidak bisa dihubungi. Untuk memastikan lagi, Asha mengirim pesan chat. Setidaknya centang satu itu akan berganti centang dua jika sang kakak sudah aktif.
"Hasilnya tetap sama, Tuan. Boleh saya hubungi ibu saya?" tanya Asha meminta izin. Ia tidak enak menggunakan sambungan internet orang lain secara berlebihan.
"Ya."
Yuuji berdiri di depan Asha yang duduk di atas ranjang. Yuuji menatap wajah yang tampak gelisah dan khawatir itu dalam diam. Jujur ia tidak menyukainya.
"Kata ibu saya, kakak saya belum pulang, Tuan. Ibu saya sudah mendatangi tempat kerja kakak, ternyata kakak sudah tidak bekerja di sana. Teman-teman kakak pun tidak tahu kakak di mana."
Kegelisahan semakin mendera diri Asha, begitu mendengar suara tangis ibunya di telepon tadi. Ternyata, ibunya diam-diam mengkhawatirkan sang kakak.
Yuuji berjalan mendekati Asha, kemudian memeluk Asha.
"Dia akan baik-baik saja, Asha."
"I-iya, Tuan."
Tidak ingin mengecewakan Yuuji yang mencoba menghiburnya. Asha memilih mengiyakan, walaupun dalam hatinya menolak pernyataan itu.
Saya rasa kakak saya tidak baik-baik saja, Tuan.