Lina merebahkan diri di atas kasur. Hari ini ia berziarah ke makam teman baiknya, setelah itu berkeliling mall untuk menyegarkan pikiran, hari yang panjang bagi Lina dan cukup melelahkan.
Lina menatap langit-langit kamarnya dengan mata memicing, ia mengerucutkan bibirnya merasa sebal atas pertemuan tak menyenangkan di pemakaman tadi. Ia tidak menduga bertemu adik yang sangat dibencinya di sana. Dari banyaknya orang kenapa harus bertemu, seakan tidak ada waktu lain saja. Lina merasa dirinya terganggu.
Tak lama kemudian senyum Lina terukir. "Kalau dipikir-pikir tidak buruk juga," gumam Lina sambil meraih boneka kesukaannya untuk ia peluk. "Astaga, dia cowok idamanku sekali. Tampan, kaya, dan gagah lagi, sungguh sempurna," lanjutnya, tak berhenti tersenyum.
Namun, senyum itu sirna begitu mengingat seseorang di dekat laki-laki idamannya. "Beruntung sekali kau upik abu. Lihat saja, ketika aku mendapatkannya, aku akan menendangmu sejauh mungkin," ujar Lina. Ide-ide sudah bermunculan di otaknya supaya ia bisa mendapatkan laki-laki idamannya.
"Setidaknya, si upik abu akan berguna sebelum aku menendangnya."
Senyum di wajah Lina terlihat licik, seakan-akan mudah bagi dirinya mendapatkan laki-laki itu. "Aku akan mencari tahu segala tentang dia."
Lina bergegas mengambil ponsel, ia berencana mencari tahu daftar pengusaha muda di negara ini yang belum menikah. Menurutnya, laki-laki itu bagian dari laki-laki pebisnis. Cukup lama menelusuri, Lina tidak mendapatkan apapun yang ia ingin ketahui. Mulutnya hampir saja mengumpat sebelum sebuah panggilan dari nomor tidak dikenal masuk ke dalam ponselnya.
Biasanya, Lina tidak akan menjawab nomor-nomor asing yang menelponnya. Entah karena hari ini merasa aktifitasnya terganggu, Lina mengangkat panggilan tersebut.
"Halo!" serunya dengan nada tinggi.
"Anda Nona Lina Febriani?"
"Ya, benar. Kau siapa?!" Lina menjawab dengan tidak santai.
"Seseorang meminta saya menghubungi anda, Nona."
"Siapa? penting tidak? aku tidak butuh orang tidak penting menghubungiku, apalagi dia tidak memiliki masa depan yang bagus, iuh."
"Bukannya, anda sendiri yang minta dihubungi oleh majikan saya?"
Mendengar itu, sejenak Lina berpikir, selanjutnya mata Lina membeliak. "Dia majikan si upik abu juga, bukan?" tanya Lina, ia menebak bersamaan debar jantungnya yang menggila. Harap-harap cemas agar tebakannya benar. Karena hanya laki-laki itulah yang bertemu dengannya hari ini.
"Anda akan tahu nanti."
"Iya atau tidak?"
"Mungkin, Nona."
Sontak saja senyum Lina mengembang. Ia tidak menyangka akan dihubungi oleh laki-laki itu secepat ini, ya meskipun masih belum pasti sih. Tapi berpikir positif saja, sebab hanya laki-laki itu yang ia minta untuk menghubunginya tadi. Mungkin, 'kan, jawaban diantara iya dan tidak. Lagipula tidak ada laki-laki lain yang ia temui atau bertemu juga hari ini selain dia. Apakah ini namanya godaannya berhasil? Wah, senang sekali rasanya.
Lina sejenak berdehem, memperbaiki suaranya, lalu berkata, "ada perlu apa dia mencariku?"
"Pukul 12 malam saya akan menjemput anda, Nona." Jawaban langsung ke inti.
"Menjemput? Kita mau ke--"
Ucapan antusias Lina terhenti begitu panggilannya terputus.
"Halo ... Halo."
Lina melihat ponselnya, layarnya kembali ke semula. Panggilannya benar-benar diputus. Lina pun berinisiatif menelpon kembali nomor tersebut tetapi tak kunjung diangkat walau tersambung.
"Ah, kenapa tidak diangkat?" tanya Lina pada dirinya sendiri. Ia mengetuk-ngetukkan ponselnya di dagu. Berpikir mengenai apa yang harus ia lakukan sekarang.
"Sudahlah, aku hanya perlu menyiapkan diri sebelum dia menjemput ku nanti malam." Lina melempar bonekanya ke atas sembari berteriak kesenangan. "Aku happy! Semoga benar itu dia!"
Sikap Lina terbilang wajar, tidak ada perempuan yang tidak bahagia ketika laki-laki yang membuatnya tertarik tiba-tiba menghubunginya. Tidak terpikir lagi, bagaimana cara laki-laki itu mendapat nomor ponsel, alamat, kebenaran tentang laki-laki itu dan sebagainya. Logika seakan putus, yang ada hanya bahagia karena si dia. Benar begitu, ada yang sama? tolong mengaku saja.
Walaupun di kasus Lina kali ini, masih belum pasti pria incarannya yang akan ia temui nanti atau bukan. Tetapi Lina yakin, dia pria itu.
00.30 Wib.
Lina keluar dari rumah, senyumnya merekah saat melihat seseorang sedang menunggu di samping mobil. Kenapa? karena orang di sana tak kalah tampan dan berwibawa seperti orang yang ia temui tadi di pemakaman. Lina berasa putri yang dikelilingi pangeran-pangeran tampan.
"Kau tadi yang menelpon ku?"
"Iya, Nona."
"Siapa yang akan menemui ku?"
"Anda akan segera bertemu dengannya, Nona. Saya pastikan anda tidak akan menyesal ikut bersama saya."
"Baiklah."
Tidak banyak bertanya lagi, Lina langsung masuk ke dalam mobil yang telah dibukakan khusus untuk dirinya.
"Terima kasih," ucap Lina, yang dibalas anggukan oleh orang yang sedang menjemputnya ini.
"Sama-sama, Nona," balas orang tersebut. Ia kemudian memutari depan mobil untuk masuk mobil dan duduk di kursi pengemudi.
"Maaf, sudah membuatmu menunggu lama. Entah kenapa, aku punya firasat kalau dia yang ku temui tadi, ingin bertemu denganku. Jadi, aku harus berpenampilan bagus malam ini." Lina memecah keheningan dalam mobil. "Seharusnya kau tidak perlu menyembunyikannya, aku jadi penasaran. Tapi tau dia punya suruhan seperti ini pasti dia orang kaya. Ya, kalau tebakanku salah nanti setidaknya aku tidak akan kecewa."
"Anda tidak akan kecewa, Nona. Majikan saya orang baik dan suka bekerja keras."
"Benarkah?" Lina menyambut perkataan orang disebelahnya dengan antusias.
"Ya, Nona."
"Apakah dia tampan?"
"Jauh lebih tampan dari saya."
Lina mengibaskan jarinya. "Kau tidak usah merendah. Untuk ukuranmu kau sudah lumayan. Pekerjaanmu juga bagus, bekerja dengan orang kaya pasti gajinya tidak murah, 'kan? ya, meski tidak memiliki jabatan."
"Terima kasih, Nona. Saya merasa tersanjung atas pujian anda."
Menyilangkan kakinya, Lina bersandar santai di kursi penumpang. Ia tidak menyurutkan senyumnya sama sekali. Berlagak seakan perempuan elegan dan berkelas, Lina bangga dengan dirinya sendiri bisa berkata demikian. Menurutnya perkataannya tadi, membuatnya jauh lebih elegan. Sikap sempurna untuk malam ini.
"Jika dia lebih tampan darimu, baru berdiri di hadapannya pasti aku akan langsung pingsan," canda Lina.
"Nona bisa saja. Majikan saya tidak mungkin membuat Nona pingsan. Dia pasti akan memperlakukan Nona dengan lembut."
"Oh ya, aku jadi tambah penasaran dengan majikanmu. Kau terus saja memujinya."
"Saya tidak mau dipecat karena sengaja menjelekkan majikan saya, Nona. Majikan saya sangat sempurna, beliau orang yang saya kagumi."
Lina tak menanggapi lagi hal itu. Ia berusaha tenang di tengah debaran jantung yang menggila.
"Apa masih jauh?" tanya Lina saat tahu mobil yang ia naiki melaju di jalanan sepi dan gelap.
"Apakah Nona haus?"
"Haus?"
"Saya hanya menawari minum. Jika Nona tidak mau, tidak apa-apa. Dan ya, perjalanan kita masih jauh, majikan saya tidak suka keramaian, Nona."
"Baiklah, aku mengerti. Kau punya apa?"
"Jus Jeruk, Nona."
"Boleh."
Lina menerima minuman dalam botol berisi jus jeruk yang telah diambil dari belakang mobil. Ia pun meminumnya.
"Aku tidak mengerti, kenapa majikanmu meminta bertemu malam-malam begini?"
"Majikan saya orang sibuk, Nona. Dia hanya punya waktu di malam hari. Apa Nona mengantuk?"
Lina menepuk-nepuk kedua pipinya. "Tidak tahu, tiba-tiba mataku berat sekali. Padahal tadi sudah bersemangat."
"Anda boleh tidur, Nona. Nanti akan saya bangunkan jika sampai."
"Tolong ya, aku sudah tidak kuat."
Dan setelah itu, Lina benar-benar kehilangan kesadarannya.
"Bahkan sebelum bertemu majikan saya, anda sudah pingsan lebih dulu, Nona."
Pria itu menekan sesuatu di telinganya setelah melihat perempuan di sebelahnya benar-benar tidak sadarkan diri.
"Semua sudah sesuai rencana, Tuan."