Tujuh

1144 Kata
Dimulai sejak insiden di pemakaman sampai kembali lagi ke mobil Yuuji, Asha merasa canggung. Ia malu akan perbuatan kakaknya. Ingin meminta maaf atas perbuatan tersebut mewakili sang kakak tetapi kata-kata itu tidak bisa keluar dari mulutnya. Asha tahu Yuuji tidak banyak bicara, hanya saja aura tak biasa ini baru pertama kali ia melihat. Ada sedikit rasa takut sehingga segan untuk berbicara. "Saya lapar." Mendengar suara Yuuji, Asha tersentak kaget. Asha terkejut di tengah lamunannya. "Ma-mau makan a-apa, Tuan?" tanya Asha secara terbata-bata. "Libur setengah hari." Butuh waktu sepersekian detik bagi Asha memahami perkataan Yuuji, kemudian ia berujar, "Tidak apa, saya bisa memasak untuk Tuan." "Tidak." Penolakan Yuuji membuat raut wajah Asha berubah. Yang tadinya biasa saja, berubah sendu. Asha takut karena perbuatan sang Kakak tadi, Tuannya Yuuji tidak mau lagi mempekerjakan dirinya. "Sa-saya minta maaf, Tuan." Tekad ingin bekerja dan keberanian yang sudah terkumpul, Asha akhirnya mengucapkan hal yang ingin ia ucapkan sedari tadi. "Maafkan perlakuan tidak sopan kakak saya. Maafkan saya juga, Tuan. Di hari pertama saya bekerja saya telah mengacaukan semuanya. Pekerjaan yang tidak benar, tidak tahu diri meminta waktu libur, dan perbuatan kakak saya yang membuat Tuan marah. Saya sungguh-sungguh meminta maaf, Tuan." Yuuji tetap fokus menjalankan kendaraannya, ia hanya sekedar melirik Asha tanpa berniat menjawab dan Asha melihatnya. Asha semakin merasa buruk ketika menyadari ia tidak memiliki harapan lagi. Asha sering kali menyembunyikan tangisannya, tapi entah kenapa di depan majikannya, orang yang ia temui beberapa hari lalu, air matanya seakan tidak bisa lagi ditahan. Mengalir begitu saja tanpa dimau. "Jika Tuan memberi saya kesempatan, saya berjanji akan bekerja lebih baik dari hari ini. Saya tidak akan mengulangi lagi perbuatan hari ini. Tolong beri saya kesempatan, Tuan." "Berhenti." Asha tahu Yuuji tidak membentak atau mengucapkan kata-kata kasar padanya. Namun, perkataan Yuuji tetaplah menyakitkan bagi Asha. Di mana Asha semakin yakin, ia akan dikeluarkan di hari pertamanya bekerja. Betapa tidak beruntung nasibnya. "Berhenti menangis, Asha." "Tua--" "Saya mau pesan makan di sana." Yuuji menunjuk sebuah tempat melalui kaca depan mobil. Di mata Asha, tempat itu terlihat tidak asing. "Asha mau?" Asha tersenyum canggung, ia sadar telah salah paham kepada Tuannya. Pikirannya terlalu banyak berpikir buruk, ada sesuatu yang tidak enak saja, pikirannya sudah kemana-mana. "Tidak, Tuan." "Hmm." Meski Asha mengatakan tidak, nyatanya Yuuji juga membelikan makanan untuk Asha. Keduanya makan di dalam mobil disekitar area tersebut. "Asha tidak perlu minta maaf." "Hah?" Asha menatap Yuuji dengan terlihat jelas tanda tanya di wajahnya. "Tentang kakakmu." Asha menunduk sedih, ia menghentikan sejenak aktifitas makannya. "Ah ... saya merasa tidak enak pada anda, Tuan. Tuan sangat baik pada saya, tetapi dibalas perlakuan tidak sopan oleh orang terdekat saya." Tanpa mereka berdua sadari, dalam satu hari ini mereka saling memuji. Orang baik? pada dasarnya semua manusia di bumi ini baik. Hanya saja banyak sebab yang membuat kebaikan itu sendiri tak lagi ada. "Saya bukan orang baik, Asha." "Tidak," jawab Asha dengan cepat begitu melihat raut wajah Yuuji yang biasanya kaku berubah seakan merendahkan diri sendiri. "Tuan adalah penyelamat saya. Saya sangat bersyukur bisa bertemu Tuan hingga Tuhan mempermudah jalan saya di saat saya sendiri tidak tahu harus melakukan apa, harus kemana. Saya percaya, pertemuan kita sudah diatur oleh Tuhan. Jadi, tidak alasan bagi anda mengatakan diri anda bukanlah orang baik, Tuan. Karena sekecil apapun bantuan tangan anda, percayalah hal itu sangat berarti untuk mereka yang membutuhkan." "Asha terlalu banyak bicara." "Maafkan saya, Tuan!" merasa bersalah, Asha menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya, sedangkan Yuuji mengukir senyum tipis yang jarang ia perlihatkan. Selesai makan, Yuuji pun mengantarkan Asha pulang. Dan Asha melarang Yuuji mengantarkan dirinya sampai depan rumah. Alasannya, tentu saja karena tidak ingin dibicarakan aneh-aneh oleh orang lain. Setiba di rumah, Asha membuka pintu rumahnya, di sana mata Asha langsung saling bertatapan dengan sang ibu. "Ibu." "Asha sudah dapat kerja?" Asha menganggukkan kepalanya. "Sudah Ibu, Asha sudah mulai bekerja." "Baguslah," singkat si Ibu yang kemudian berbalik menjauhi Asha. Namun sebelum Ibunya menjauh, Asha bertanya sesuatu dan jawaban yang Ibunya berikan, melukai hati Asha. "Ibu berhutang lagi? untuk apa Ibu?" "Untuk kakakmu, Asha. Dia butuh uang, keperluannya banyak, mengertilah." Kenapa ia yang harus diminta mengerti? Asha tahu dibanding dirinya, gaji sang Kakak jauh lebih besar. Masa tidak cukup. Jika ia bisa mengungkapkan isi hatinya langsung, ia akan berkata bahwa dirinya juga punya kebutuhan. Ia juga ingin dimengerti. Kenapa seakan dirinya tulang punggung keluarga? padahal anak yang lainnya saja belum menikah. Dia juga punya kewajiban mengurus orang tua, beda lagi jika sudah menikah bahkan Asha sendiri tahu Kakaknya tidak pernah memberi kepada Ibunya. Tetapi kenapa ibu tidak marah? malah memanjakan Kakaknya. Berbanding terbalik sekali dengan dirinya. Lagi, Asha menangis dalam diamnya. Ia hanya bisa berdo'a dalam hati, agar selalu dikuatkan. Berharap Ibunya nanti juga memperhatikannya, setidaknya bisa peduli padanya. *** Asha mengucek mata, pukul setengah satu malam ia terbangun. Rasa haus mendera dirinya, Asha pun bangun dari tempat tidurnya menuju dapur untuk mengisi gelasnya yang sudah kosong. Semalam sebelum tidur, ia lupa mengisinya. Bersamaan dengan membuka pintu kamar, Asha mendengar suara pintu tertutup. Karena dari kamarnya bisa melihat pintu ruangan lain, Asha jadi bisa lihat pintu mana yang baru saja ditutup tadi. Ya, pintu depan. Penasaran, Asha berjalan menuju jendela dekat pintu. Ia ingin melihat siapa orang yang keluar malam-malam dari rumahnya. Siapa tahu saja maling? Asha tidak terpikirkan lagi mengenai barang yang kemungkinan hilang. Asha hanya ingin melihat orangnya. Ia sendiri pun melupakan rasa takutnya yang sempat singgah tadi. Begitu Asha menarik sedikit gorden jendela. Asha melihat sosok perempuan sedang membuka pagar rumah. Asha pandangi baik-baik sosok itu, dan Asha mengenalinya. Dia Kakaknya Lina. Hah, Asha merasa bersyukur bukan maling atau penjahat yang dilihatnya. Tadinya ia akan berteriak sekeras mungkin jika memang orang yang baru saja masuk rumahnya itu maling. Untungnya bukan, ia jadi hemat suara. Sayangnya, kelegaan Asha hanya sementara. Tidak tahu kenapa, muncul perasaan tidak enak dalam hatinya. Asha tidak melihat jelas orang yang pergi bersama Kakaknya. Asha tahu orang itu laki-laki. Ia tahu laki-laki itu membukakan pintu mobil untuk kakaknya. Yang tidak Asha habis pikir, kenapa Kakaknya mau-mau saja pergi selarut ini bersama laki-laki, dengan raut senang pula? Apa ini kebiasaan sang Kakak? Tidak membuang waktu lama, Asha mengetuk kamar ibunya. "Ibu-Ibu," panggil Asha agak tergesa-gesa. "Ibu, Asha mau bicara!" Tak lama terdengar sautan dan suara pintu terbuka. Desi berdiri di depan Asha dengan wajah mengantuknya. "Kenapa mengganggu Ibu, Asha?" "Ibu, apa kakak bilang akan pergi selarut ini?" Desi mengernyitkan dahinya, cukup lama juga Desi terdiam sebelum kemudian mengangguk. "Ya, kakakmu sudah bilang sama Ibu." "Ibu mengizinkannya?" "Ya, lagipula kakakmu tidak akan macam-macam. Ia pasti akan pulang." "Tapi dia lak--" "Sudahlah, Ibu mau tidur. Ibu capek, Asha. Jangan ganggu Ibu. Percaya saja sama Kakakmu. Dia tidak akan macam-macam. Lagipula kakakmu jarang pergi malam. Pasti ada perlunya dia. Sudah pergi sana!" Pintu kamar pun ditutup oleh Desi. Desi membiarkan Asha di luar dengan wajah gelisahnya. Asha mengkhawatirkan Lina. "Semoga Ibu benar, kakak akan baik-baik saja."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN