"Hei, Khai!" Sebuah panggilan membuat seorang gadis bernama Khaira Dahlia itu menoleh.
"Ada apa, Aidan?" Tanya Khaira. Ia sedikit menjauh dari obrolannya dengan teman-temannya yang lain.
"Aku boleh pinjam buku catatan mu? Kita sekelas matkul kedua, dan aku belum selesai mencatat dosen sudah menghapusnya." ucap Aidan dengan nada sedih.
"Oh tentu saja boleh, sebentar." Khaira mulai sibuk mencari buku di tas nya.
"Kalau bisa..." Perkataan Aidan terhenti. Membuat Khaira menatap lelaki itu.
"Bisa apa?"
"Kebetulan ini sudah masuk jam makan siang, kalau bisa kita lunch bersama bagaimana?" Tawar Aidan melanjutkan perkataannya.
"M...boleh." Jawab Khaira membuat Aidan senang bukan main bisa makan siang bersama dengan Khaira.
Bisa dikatakan, Aidan menyukai Khaira. Gadis cantik dengan lesung pipi dikedua pipinya itu sanggup membuat Aidan takluk pada sosok Khaira. Terlebih Khaira berbeda dengan gadis-gadis yang lainnya. Khaira merupakan sosok perempuan yang lemah lembut, sopan santun, murah senyum dan baik hati. Itu kenapa Aidan menyukainya.
"Ini buku ku." Aidan mengambil buku catatan dari tangan Khaira. Mereka lantas berjalan menuju Cafe terdekat di kampus.
"Aidan! Kau mau kemana?" Aidan menoleh dan menemukan Jordan yang merupakan adiknya. Mereka kembar namun tak seiras.
"Kami ingin makan siang." Jawab Aidan.
"Wow, bersama dengannya?" Jordan menunjuk Khaira. "Wanita yang....ewh." lanjut Jordan drngan nada jijiknya.
"Stop Jordan! Jangan menghinanya!" Tegas Aidan.
"Ops sorry my twin." Jordan menepuk santai bahu Aidan.
"Ini untuk mu, berikan juga pada wanita itu." Perempuan disamping Jordan yang bernama Andrea memberikan sebuah kartu undangan pada Aidan.
"Apa ini?" Tanya Aidan sembari memberikan kartu undangan pada Khaira.
"Kalian harus datang ke pesta ulang tahun ku nanti malam. Dan kau Khai, kau harus datang. Jika tidak, kau akan tahu akibatnya." ucap Andrea terselip nada ancaman pada Khaira.
"Ya, thanks. Kalau kami ingat, kami pasti datang. Ayo Khai." ucap Aidan kemudian menarik Khaira untuk pergi dari teman-teman adiknya.
"Wahh Aidan..." Aidan dan Khaira menghentikan langkah mereka saat mendengar suara itu. Selalu saja! Ada yang merusak langkah mereka. "Pacar baru mu?" Ledek seorang lelaki bernama Audrey.
"Salah, lebih tepatnya simpanan." Lelaki yang sedang fokus pada ponselnya menyahut dengan nada menjijikan. Namanya Nicholas Gallagher.
Khaira yang mendengar itu merasa sakit hati. Dengan berani, ia menatap Nicholas sinis. Merasa ditatap, Nicholas melirik Khaira kemudian mengeluarkan smirk.
"Aidan, lebih baik aku pulang saja. Lain kali kita lunch bersama." Ujar Khaira yang merasa muak dihadapan segerombolan para pentolan kampus yang bisanya hanya meledek kalau tidak berkelahi.
"Khai! Tapi--arghh! f**k you!" Aidan menunjukkan jari tengahnya pada gerombolan itu kemudian pergi. Ia sama sekali tak mau meladeni para pentolan yang merupakan biang masalah. Dan dirinya tidak ingim tersangkut dalam masalah.
_-_-_-_
08.25 PM
Khaira menaruh ponsel setelah menerima panggilan dari Aidan. Mereka membicarakan tentang party Andrea. Khaira memutuskan untuk tidak ikut, membuat Aidan juga tidak ikut. Malam ini, ia tidak ingin pergi kemana pun. Entah kenapa ia malas pergi kesana. Paling juga, birthday party disini tidak jauh dari kata alcohol party. Itu kenapa saat di negara orang, kita harus berhati-hati memilih teman. Bukan masalah pilih-pilih, cuma hanya ingin terhindar saja dari penyesalan. Terlebih culture anak muda di Amerika sangat jauh berbeda.
Atensinya beralih saat pintu diketuk seseorang. Khaira lantas bangkit untuk membukakan pintu.
Khaira nampak terkejut saat ada Andrea, dan Jordan dihadapannya. "E...ada apa?" Tanya Khaira.
Jordan bersedekap d**a. "Hei! Bisakah kau ingat kembali pesan Andrea siang tadi? Jangan pura-pura bodoh!" Ujar Jordan menatap Khaira sebal.
"Aku tidak mau datang. Maaf Andrea." Jawab Khaira.
"Maaf mu tidak diterima. Pakai ini, cepat!" Andrea menyodorkan paper bag pada Khaira.
"Ini apa?"
"Pakai cepat! Kami akan menunggu disini."
"I-iya." Khaira lantas masuk dan segera ganti pakaian.
Di luar, Jordan dan Andrea tertawa kemudian high five.
-Andrea's house.
Setelah turun dari mobil milik Jordan, Khaira menatap sebuah rumah yang besar dihiasi dengan lampu kelap-kelip. Tanpa banyak bicara mereka melangkah masuk. Setelah masuk, Khaira disambut dengan dentuman musik yang keras, lampu yang remang-remang, dan banyak sekali minuman berwarna yang tersusun rapih. Khaira mengucek matanya kemudian bergidik ngeri saat melihat dua pasang wanita dan pria sedang make out ditempat seramai ini. Menurutnya, ini bukan sekedar pesta ulangtahun melainkan club.
"Jordan, aku ingin keluar dari sini." Ujar Khaira sontak membuat Joran menahan lengan Khaira. Sedangkan Andrea, sedang mengambil minuman.
"Eh...mau kemana? Pestanya belum tuntas." Ujar Jordan.
"Tapi aku tidak ingin kesini. Aku ingin pulang." Ujar Khaira seraya melepaskan cekalan tangan Jordan.
"Tidak bisa! Kau sudah kesini jadi kau tidak boleh pergi kemana pun." Tegas Jordan.
"Hei ada apa ini?" Tanya Andrea yang baru datang.
"Khai minta pulang. Dan aku tidak mengizinkannya." Jawab Jordan
"Khai kenapa pulang? Kita bahkan belum bersenang-senang. Ini lebih baik kau minum dulu." Andrea menyodorkan gelas berisi minuman berwarna merah pada Khaira.
"Tidak Andrea. Jordan lepaskan tangan mu aku ingin pulang!"
"Khai untuk apa pu--ehh, hei hati-hati kalau jalan!." Tegur Andrea pada seorang wanita yang tak sengaja menabraknya hal itu membuat minuman merah itu mengenai pakaian Khaira.
"Ops Khai, lebih baik kau ganti pakaian mu dulu di kamar ku." Ujar Andrea seraya menaruh gelas di meja yang tersedia.
"Tidak apa-apa Andrea, aku bisa ganti di rumah." Ujar Khaira tak ingin merepotkan.
"Lebih baik lepas pakaian itu sekarang!" Gertak Jordan membuat Khaira mematung. "Itu pakaian yang aku belikan! Jadi kau harus mengikuti apa yang kami katakan!" Lanjut Jordan marah.
Khaira tak bisa berkata apa-apa. Kalaupun ia lepas pakaian yang ia pakai saat ini, ia tidak membawa pakaian ganti. Mau tidak mau, Khaira pun menurut.
"Baiklah, dimana aku harus menggantinya?" Tanya Khaira.
Jordan yang menatap marah Khaira kian melunak. "Ayo kami antar." Ujar Jordan.
/////
"Disini. Kau bisa ganti." Ujar Andrea menunjukkan sebuah kamar.
"Baiklah. Terimakasih sudah mengantar ku." Ujar Khaira namun tak dijawab oleh keduanya.
"Sana masuk!"
"I-iya." Khaira membuka pintu lalu masuk.
Setelah Khaira masuk. Jordan dan Andrea terkikik lalu melakukan high five.
"Rencana berikutnyaaaa." Ujar Jordan bahagia begitupun dengan Andrea. Lantas Andrea turun ke bawah untuk menjalankan misinya.
"Jaden!" Teriak Andrea memanggil seorang pria bernama Jaden.
Merasa terpanggil, pria tinggi berkulit hitam serta memiliki tubuh yang gemuk menghampiri Andrea.
"What's goin' on?" Tanya Jaden.
"Aku punya makanan enak untuk mu. Di kamar ku ada pizza dan makanan enak lainnya, kau bisa mengambilnya." Ujar Andrea. Jaden menatap Andrea berbinar.
"Really?"
"Ya...cepat nanti habis dimakan teman ku."
"Baiklah. Makanan aku menanti mu!!!" Teriak Jaden seraya melangkah pergi.
_-_-_
"Mana pakaian ku?" Tanya Jordan pada Khaira. Mereka berdua sedang berada di kamar Andrea dengan lampu temaram.
"Itu. Lalu pakaian gantinya mana?" Tanya Khaira.
"Sebentar, pakaiannya sedang Andrea ambil. Kau tunggu sini saja, aku keluar memanggil Andrea." Khaira mengangguk. Saat Jordan berbalik badan, senyum miring jahatnya terlihat.
Setelah kepergian Jordan, Jaden pun datang. Lantas ia memutar knop namun terhenti saat suara seseorang menginterupsi.
"Jaden!" Jaden terkejut lalu menatap orang itu sedikit takut.
"Sedang apa kau?" Tanyanya.
"Aku ingin mengambil makanan didalam."
"Makanan? Huh, dasar tukang makan. Cepat periksa mobil, mobil sialan itu mogok!" Ujarnya kesal.
"Sepertinya kau mabok, Nic."
"Memang kenapa kalau aku mabok? Masalah?! CEPAT!" pria itu berteriak. Membuat Jaden ketakutan lantas berlari pergi.
"Seperti babi! Kerjaannya makan terus. Uh sepertinya aku juga lapar," pria itu memegang perutnya. Lalu membuka pintu dengan perlahan. Katanya ada makanan bukan? Hm...keberuntungan.
"Dimana--oh s**t!" Pria itu berubah pikiran saat melihat Khaira yang sedang duduk menunggu Andrea dengan hanya menggunakan pakaian dalam. Pria tersebut mengunci pintu membuat Khaira yang sadar akan suara langsung menoleh.
Khaira sontak melotot dan langsung menutupi tubuhnya menggunakan selimut. "SIAPA KAU!!!" Teriak Khaira ketakutan.
Cklek.
Lampu menyala terang saat pria itu menyalakannya membuat Khaira melotot dengan sempurna saat melihat bahwa pria tersebut adalah Nicholas. Pria yang tadi siang menghinanya dengan mulut pedasnya.
"Ini bukan lagi keberuntungan. Tapi ini surga." gumam Nicholas lalu menyerang Khaira.