Sebuah mata berwarna hitam pekat terbuka lalu melotot menyadari dirinya tengah berada di sebuah kamar dan...oh tidak.
Khaira bangkit lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Air matanya mencelos dengan mudah mengingat kejadian semalam. Kejadian menyakitkan yang bukan hanya menghancurkan hatinya tapi juga masa depannya.
Khaira terisak lalu menoleh menatap samping. Nicholas tengah tertidur pulas dengan damai dan nyaman tanpa beban. Karena kesal, Khaira mengambil bantal lalu memukul wajah Nicholas dengan benda tersebut sambil menangis.
"Sialan! b******k! b******n!!!" Semua cacian Khaira ucapkan.
Nicholas terusik lalu membuka matanya, dan dengan cepat ia menangkis bantal yang akan mendarat ke wajahnya.
"What the f**k! Apa yang kau lakukan sialan!" umpat Nicholas kemudian bangkit.
"Kau yang sialan! Dasar b******n!!!"
"Kau--" perkataan Nicholas terhenti saat melihat tubuhnya dan Khaira yang tidak mengenakan pakaian.
"Apa yang terjadi, motherfu*cker!" Nicholas panik.
"Apa yang terjadi? Kau yang melakukan ini semua...hiks hiks... Ini semua karena kau! Kau sudah menghancurkan hidup ku!!!!" Teriak Khaira lalu kembali memukul Nicholas dengan bantal.
"STOP! Ini semua terjadi pasti kau yang menggoda ku! Dasar jalang!" ucap Nicholas menghina Khaira seraya merebut bantal dari tangan Khaira.
Khaira menatap Nicholas tak percaya. Ia memejamkan matanya membuat air mata itu menetes. "Kau sudah berbuat tapi malah mengelak. Benar-benar pria tidak tahu diri!"
"Aku tidak mengelak! Kau memang jalang. Ramah ke semua orang dan membuat orang itu jatuh hati pada mu! Berapa uang yang kau butuhkan, huh?! Aku akan membayar mu!" Nicholas mengambil celana jeansnya yang ada dilantai lalu mengambil dompet disana.
Khaira terdiam. Dia sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Dia sudah lelah, hatinya sakit.
"BERAPA! Dasar murahan!" Nicholas mengambil sebuah kartu kredit lalu melemparkan benda itu ke arah Khaira.
"Ambil semua! Kalau kurang kau bisa minta padaku!" Sarkas Nicholas.
Khaira terisak. Semurahan itukah dirinya bagi pria itu?
"f**k you! Aku tidak butuh uang mu, sialan!" ucap Khaira disela-sela isakan tangis.
"MUNAFIK! Jangan pernah kita bertemu!" Setelah mengatakan itu, Nicholas berdiri dan melangkah ke kamar mandi. Hal itu membuat Khaira memalingkan wajahnya cepat.
Pintu kamar mandi terbuka menampakkan sosok Nicholas dengan pakaiannya yang berantakan. Lelaki itu melangkah melewati Khaira dengan tatapan nyalang dan menjijikan. Setelah mencari-cari kunci dan mendapatkanmya, ia keluar dan hanya tersisa Khaira di kamar. Gadis itu menangis kencang mengeluarkan semua rasa sesaknya atas apa yang menimpanya sekarang.
-2 weeks later
Sudah 2 minggu Khaira izin kelas. Gadis itu meratapi hidup kedepannya yang akan seperti apa. Entahlah. Terkadang ia menangis mengingat kejadian itu membuat matanya bengkak. Jika kedua orangtuanya tahu Khaira disini seperti ini, mereka pasti akan kecewa. Sangat kecewa. Niatnya kuliah di luar negri hanya ingin menimba ilmu, mendapatkan ilmu dan sukses kedepannya. Namun kenapa rencananya itu tidak sesuai ekspektasi?
KENAPA TUHAN!
Khaira sudah bersiap-siap pergi ke kampus. Setelah 2 minggu berlalu, dirinya merasa sedikit tenang dan akan memulai aktifitas seperti biasanya.
-Kampus
Jam mata kuliah pertama sudah selesai. Tersisa mata kuliah satu lagi. Sebelumnya ketika istirahat Khaira pergi ke kantin, namun kali ini tidak. Ia lebih memilih ke perpustakaan. Menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan sangat nyaman dan damai. Ia tidak ingin bertemu dengan Andrea, Jordan, dan...ah sudahlah lupakan. Khaira jijik menyebut nama itu.
Saat sedang fokus membaca, perut Khaira terasa sangat mual. Khaira menutup mulutnya menahan rasa mual seraya membereskan buku-bukunya lalu keluar perpustakaan.
-Toilet
Khaira membasuh mulutnya seraya menutup kran kemudian berkaca. Saat muntah ia tidak mengeluarkan apapun. Matanya berkaca-kaca, ia terdiam memikirkan sesuatu lantas menggeleng dan keluar toilet.
Mungkin karena perutnya belum diisi sesuap nasi, makannya berakibat mual. Khaira keluar dari perpustakaan menuju kelas. Ayolah tinggal tersisa 1 kelas lagi, nanti kau bisa tidur sesuka mu.
-_-_-
Ahh sialnya hari ini. Tugas kali ini adalah tugas kelompok. Dan sialnya, Khaira harus satu kelompok dengan Nicholas dan 2 temannya itu.
Saat ini, Khaira berada di cafe. Ia diharuskan kerja kelompok karena tugas akan dikumpulkan nanti malam. Tapi, baru ia dan salah satu temannya yang datang.
"Mau pesan minum dulu?" usul Julia bertanya.
"Yap, good idea." jawab Khaira.
Mereka pun memesan minuman. Sembari menunggu, mereka membaca sejenak buku yang akan dikaji. Namun tiba-tiba, Khaira merasakan mual kembali.
"What's wrong?" tanya Julia.
"Eh I'm fine. Hanya mual saja, tapi tidak apa-apa." Alibi Khaira dengan senyuman kecil.
Khaira mencoba menahan rasa mual itu, namun tidak bisa. Akhirnya ia pun izin ke toilet.
Khaira membasuh mulutnya setelah memuntahkan cairan bening berkali-kali lalu menatap cermin, ia menatap wajah pucat dan tak bersemangat disana. Kepalanya kembali mulai memikirkan hal yang tidak-tidak. Ia lantas menggeleng keras lalu keluar dari toilet.
"Hey Khai, are you okay?" tanya Julia melihat Khaira datang. Entah sudah berapa lama Khaira di toilet, sampai semua orang sudah berkumpul Khaira baru kembali.
"Yeah I'm okay." Khaira duduk di samping Julia hal itu membuat Nicholas melirik ke arah perempuan itu.
"Tapi kau terlihat pucat."
"Aku tidak apa-apa, hanya masalah asam lambung." Bisik Khaira pada Julia.
Julia mengangguk dan mereka semua pun mulai mengerjakan tugas kelompok.
...
Kerja kelompok sudah selesai, waktunya pulang. Namun Khaira yang tidak tahan karena mual berlari ke toilet.
Nicholas melihat tingkah Khaira yang menurutnya aneh, ia menatap kedua temannya dan mencari cara untuk menyusul Khaira.
"Kalian berdua pesan pizza, aku akan menunggu disini."
Kedua pria itu nampak bahagia. "Oke! Ayo Hans."
Selepas kepergian kedua temannya itu, Nicholas menyusul Khaira ke toilet. Ia membuka pintu dengan hati-hati dan melihat Khaira sedang berdiri di depan cermin.
"What's wrong with you?"
Suara itu membuat Khaira terkejut. Ia sontak menatap ke arah suara tersebut.
Seketika, Khaira membuang tatapannya dengan malas, ia pun melenggang pergi keluar toilet. Namun, Nicholas segera mencekal tangan perempuan itu.
"What's wrong with you?" Ulang Nicholas.
Khaira menyentak kasar tangan Nicholas yang menggenggam tangannya. "Jangan menyentuh ku, b******k!"
Nicholas tak bereaksi apapun, namun wajah pria itu terlihat dingin.
"Apa kau hamil?"
Deg.
Perkataan itu membuat Khaira membeku. Jantungnya mendadak berdetak kencang. Kejadian itu terulang lagi di ingatannya.
"Get out of here, asshole!" Ucap Khaira lirih.
"Kau belum menjawabnya."
Khaira menatap Nicholas dengan tatapan tidak suka. "Kau pikir aku menginginkan hamil anak mu, huh?"
"Itu menjijikkan!" Lanjut Khaira dengan kesal.
Nicholas mengangguk. "Baiklah, aku hanya bertanya saja. Tidak perlu berlebihan."
Khaira memalingkan wajahnya dengan malas.
Nicholas melepaskan jaketnya lalu menyampirkannya ke tubuh Khaira. "Lain kali pakai jaket, diluar dingin sedang hujan."
Khaira terdiam, wangi maskulin pria itu menyeruak keluar hingga tercium oleh indra penciumannya. Sementara Nicholas keluar dari toilet.
_-_-_-_
"Khai!"
Khaira menghentikan langkahnya dan menemukan Aidan berlari kecil ke aranya.
Ah, untung saja jaket pria b******k itu sudah ia masukkan ke dalam tas yang lumayan besar.
"Iya? Kenapa Aidan?"
"Aku mencari mu, akhirnya aku bertemu denganmu."
Khaira tersenyum lalu keduanya melanjutkan langkah mereka.
"Bagaimana kerja kelompok mu?" tanya Khaira.
"Sudah selesai. Kau? Tidak ada masalah bukan, sekelompok dengan Nicholas?" tanya Aidan.
Khaira menggeleng dengan senyuman.
"Eum wait.." Aidan menghentikan langkahnya membuat Khaira ikut berhenti. "Wajah mu pucat sekali, kau sakit?"
"Tidak, aku hanya asam lambung saja."
"Oh my god! Bagaimana bisa? Ayo kita ke Dokter--"
Khaira terkekeh ketika Aidan menjadi cerewet. "Aidan aku baik-baik saja, kau jangan khawatir."
"Baik bagaimana? Asam lambung itu tidak baik. Ayo, aku temani ke Dokter."
"No, it's okay Aidan. Aku ada obatnya di rumah."
Aidan menghela napas lega. "Syukurlah kalau begitu aku jadi lega. Kalau ada apa-apa, beritahu aku ya?"
Khaira mengangguk dengan senyuman menjawab.
Aidan dan Khaira, keduanya memutuskan untuk pergi jalan-jalan. Mengobrol sejenak sambil melihat-lihat pemandangan Harvard, kemudian mampir ke sebuah toko kecil.
Toko itu berdinding kayu, disana menjual berbagai pernak-pernik aksesoris dan minuman hangat.
"Khai, coba ini." Aidan memakaikan bando pada kepala Khaira. Mereka berdua tersenyum.
"Kau lucu sekali hahaha." Aidan tertawa kecil melihat itu.
Khaira segera melepaskan bando dari kepalanya, lalu menabok lengan Aidan karena menertawakannya. Setelah itu, mereka berdua memesan teh hangat dan duduk di depan.
"Lebih hangat, bukan?" Tanya Aidan diangguki oleh Khaira.
"Ya, tapi aku masih kedinginan."
"Gosh! Kenapa kau tidak memakai jaket? Suhu disini semakin turun." ucap Aidan khawatir, melihat Khaira yang tidak mengenakan jaket.
Dengan gentle, Aidan membuka jaket miliknya lalu menyampirkan benda itu pada tubuh Khaira.
"No Aidan, nanti kau kedinginan."
"Never mind, kau lebih penting." Jawab Aidan.
"Ayo, aku antar pulang."
Khaira mengangguk, lalu keduanya pergi dari toko itu setelah membayar. Di jalan, Khaira merasakan pening di kepalanya, perutnya mual dan tubuhnya terasa tidak enak. Khaira tidak bisa menahannya, sehingga kegelapan pun menyerangnya.
"Khaira!"
Suara itu, terakhir menusuk pendengarannya sebelum Khaira hilang kesadaran.
-
Khaira membuka matanya. Wajah pucat dan mata sayu nya terlihat kalau Khaira sedang sakit saat ini.
"Akhirnya kau sadar." Ucap seseorang.
"Aidan? Kenapa kau-"
"Ya, kau pingsan Khai." Ucap Aidan
"Aku dimana?" Khaira tak menjawab perkataan Aidan.
"Dirumah ku. Kau pingsan jadi aku membawa mu kesini. Dan..." Perkataan terputus Aidan membuat Khaira menatapnya.
"Dan apa?"
"Kau...hamil." Khaira melotot. Napasnya memburu mendengar kalimat itu.
Tak terasa air matanya menetes. Khaira menangis. "Kau bohong Aidan! Aku tidak mungkin hamil!"
"Tapi kau memang hamil. Dokter memeriksa mu dan mengatakan itu." Jawab Aidan.
"Tidak mungkin!" Khaira menggelengkan kepalanya. "TIDAK!!!" Ia lantas memukul perutnya.
"Hei Stop! Stop! Stop!" Aidan mencegah gerakan tangan Khaira.
"Lepaskan aku Aidan! Aku tidak ingin hamil anak b******n itu!!!" Teriak Khaira kesetanan.
"Apa maksudmu? b******n siapa?" Aidan menahan Khaira yang terus memukuli perutnya. "Stop Khai, jangan lakukan ini. Tenanglah, lebih baik kau minum dulu." Aidan memberikan segelas air pada Khaira. Khaira mengambilnya dan hanya meneguk sedikit air.
"Kau sudah tenang?" ucap Aidan lembut diangguki Khaira dengan lemas. "Baiklah, kau bisa menceritakan apa yang terjadi padaku." Aidan menangkup kedua pipi Khaira, menyeka air mata itu.
Khaira terdiam sambil menyedot ingusnya. Otaknya memutar ingatan pada kejadian kelam itu. Lalu menceritakan semuanya pada Aidan. Lelaki baik yang ia percaya.
"What? Nicholas?" Khaira tak menjawab. Ia hanya bisa menangis.
"Pria b******k itu harus di beri pelajaran!" Aidan geram. Rahangnya mengetat lantas Khaira langsung memegang tangan Aidan seketika tatapan pria itu melembut.
"Aku tidak ingin memiliki masalah lagi dengan pria itu, Aidan. Sudah cukup pria itu menghancurkan hidupku." ucap Khaira.
"Tapi--"
"Sudahlah Aidan. Aku sudah lelah dengan semuanya. Aku ingin pulang ke Indonesia." ucap Khaira tak bersemangat.
Aidan memeluk Khaira. Memposisikan kepala Khaira senyaman mungkin di dadanya. "Aku yang akan bertanggung jawab. Dan aku akan menemani mu kesana."
Karena rasa sayangnya pada Khaira lebih besar, Aidan rela bertanggungjawab meskipun itu bukanlah perbuatannya.