Aidan or Nicholas?

1013 Kata
Saat ini Aidan mengajak Khaira untuk makan di sebuah Cafe sesekali tertawa melupakan sejenak masalah yang datang. Mereka duduk dan mulai memesan makanan. "Kau ingin makan apa? Harus yang bergizi ya." Aidan memperingati. "Baiklah." Jawab Khaira dengan kekehan. Makanan sudah mereka pesan, sembari menunggu mereka sedikit mengobrol. "Kandungan mu baru berusia dua minggu." Aidan menjeda. "Jika saja kau menelpon ku malam itu, aku pasti akan mencegah semua ini." ucap Aidan geram. "Sudahlah. Ini memang berat, tetapi ini sudah menjadi takdirku. Tapi, aku hanya takut nanti jika kedua orangtua ku mengetahui ini." Aidan mengusap lembut punggung tangan Khaira. Memberikan ketenangan padanya. Disisi lain, Nicholas yang tengah berada di cafe sedari tadi terkejut saat melihat Khaira bersama Aidan. Lelaki itu menajamkan sorot matanya melihat interaksi keduanya yang saling berpegangan tangan. Cih! Dasar murahan! Namun sorot mata Nicholas berubah bingung saat melihat tangan Aidan mengusap perut Khaira. "Jaden!" Nicholas memukul pundak Jaden membuat pria itu menghentikan aktifitas makannya. "Kau duduk di belakang kursi Aidan lalu dengarkan apa yang mereka bicarakan! Cepat!" Perintah Nicholas. "Hei tapi aku sedang makan." Kesal Jaden. "f**k! Makan terus kau ini. Cepat atau--" "Ya baiklah baiklah!" Jaden menyerah saat mendengar kata 'atau' yang berarti kata ancaman dari Nicholas. "Ingat! jangan sampai ketahuan!" peringati Nicholas. Jaden berdiri sembari membawa makanannya lalu duduk di kursi belakang Aidan secara diam-diam, mengikuti apa yang Nicholas perintahkan. "Besok kau akan pergi ke Indonesia?" Tanya Aidan memastikan lalu diangguki Khaira. "Kau tenang saja ya, aku tahu orangtua mu akan sangat marah dan kecewa, tapi mereka semua pasti bisa memaafkan mu." Jeda sedetik. "Jika bukan karena Nicholas b******k itu, kau tidak akan mungkin hamil." Lanjut Aidan sanggup membuat Jaden tersedak makanannya namun Jaden langsung menahan batuknya agar tidak terdengar oleh Aidan dan Khaira. Jaden bangkit lalu berlari menghampiri Nicholas. "Nic." ucap Jaden dengan mata melotot tak percaya dengan apa yang barusan Aidan katakan. "Ada apa? Kenapa? Apa yang mereka bicarakan?" Tagih Nicholas penasaran. "Nic, Aidan bilang kalau kau yang menghamili wanita itu dan sekarang dia sedang mengandung. Dan sepertinya mereka akan ke...in--indonesia." ucap Jaden memberitahu semuanya yang ia dengar. Nicholas terdiam. Mulutnya terkatup rapat. Ia tak bisa berkata-kata lagi. Jika benar Khaira hamil, berarti anak itu adalah darah dagingnya. Nicholas menjambak rambutnya frustasi. Cobaan macam apa ini? Ah sial. Jika bukan karena pengaruh alkohol, ini semua tidak akan terjadi. Ekor mata Nicholas terus menatap gerak-gerik Khaira dan Aidan yang saat ini tengah bangkit dari duduknya lalu keduanya lantas berjalan keluar Cafe. _-_-_ "Kau yakin wanita itu hamil?" Nicholas bertanya lagi pada Jaden. Ia seakan tidak percaya jika Khaira hamil dan itu darah dagingnya. "Aku punya telinga Nic. Jadi aku bisa mendengar apa yang Aidan katakan." Jawab Jaden sembari mengatur fokusnya ke jalanan. Saat ini mereka sedang berada di jalan pulang. "Lalu kapan mereka akan ke Indonesia?" tanya Nicholas lagi. "Besok kata Aidan." Jawab Jaden. Nicholas terdiam. Berarti mulai saat ini ia harus bertindak. "Cepat! Lebih cepat lagi." ucap Nicholas meminta Jaden untuk mempercepat laju mobil. Setelah sampai rumah, Nicholas turun dari mobil lalu berlari dengan tergesa-gesa kedalam membuat beberapa teman-temannya yang sedang bermain dirumah memandang pria itu heran. "Hei Jaden. Ada apa?" Tanya salah satu pria bernama Hans pada Jaden yang baru saja datang. Jaden kemudian berlari menghampiri dengan wajah heboh. "Kalian tau, Nicholas telah menghamili seorang gadis!" Pekiknya tertahan. Membuat semua orang yang ada disitu terkejut. "What the hell! Watch your mouth, Jaden!" Umpat Audrey yang tak percaya dengan perkataan Jaden. "Jika kau tidak percaya tanyakan saja pada Nicholas." ucap Jaden kemudian duduk lalu menuang minum ke gelas. Disisi lain, Nicholas sedang kelimpungan mengurus segalanya. Termasuk mengurus pembelian tiket pesawat dan mencari pasport nya yang entah hilang kemana. Sudah lama Nicholas tidak bepergian ke luar negri, jadi ia tidak pernah mengurusi pasportnya. "Amy, kau sudah menemukan pasport ku?" Tanya Nicholas pada Amy yang merupakan kepala pelayan di rumahnya. "Belum Tuan. Saya masih mencarinya." ucap Amy. "Cari terus sampai dapat!" ucap Nicholas kemudian beralih pada telponnya. Ia mengetik cepat dial nomor seseorang lalu menempelkan benda pipih itu ke telinga. "Bagaimana? Sudah mendapatkan tiketnya?" Tanya Nicholas pada Aldo yang merupakan bodyguard ayahnya dan sekarang ditugaskan untuk menjaga Nicholas. "Sudah Tuan." "Bagus. Cepat pulang!" Nicholas memasukkan ponsel ke saku celana, lalu menatap ke arah pelayan. "Kalian, cepat kemas pakaian ku." Setelah mengatakan itu pada pelayan lainnya, Nicholas melangkah ke ruang depan untuk menemui teman-temannya. "Hei bro, hebat! Sekali tancap langsung jadi. Kau berbakat, Nic." Puji Hans sambil menepuk pundak Nicholas. Nicholas tak menjawab, lelaki itu malah terdiam sesekali mengatur napas agar lebih tenang. Wajahnya semerawut dan dipenuhi dengan pikiran. Semua itu karena Khaira. Otak Nicholas saat ini dipenuhi oleh nama Khaira. Selalu Khaira yang terus teringiang-ngiang. "Bisa kalian membantu ku?" Nicholas membuka suara. Yang lainnya mengernyit. "Bantu apa?" Tanya Audrey. -_-_-_ -07.45 PM "Kau sudah siap?" Tanya Aidan diangguki Khaira seraya tersenyum. "Ayo kita berangkat." Mereka masuk ke dalam mobil lalu pergi ke bandara. Pagi ini mereka benar-benar pergi ke Indonesia. "Terimakasih sudah mau menemani ku. Maaf aku merepotkan mu." ucap Khaira menatap Aidan lalu tersenyum. Aidan tersenyum membalas. "Tidak, kau sama sekali tidak merepotkan ku." Aidan rela masuk ke dalam masalah yang sebenarnya tidak ia lakukan, hanya untuk Khaira. -Airport 30 menit dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai di bandara. Mereka langsung ke tempat bagian check-in lalu mendapatkan boarding pass dan mereka pun melenggang masuk ke dalam pesawat. Namun, saat mereka hendak memasuki garbarata pesawat, tiba-tiba seorang berpakaian bodyguard memukul Aidan dan membawa Aidan keluar sedangkan Khaira, gadis itu ditarik paksa ke dalam pesawat oleh Nicholas. "Lepaskan! AIDAN!" Teriak Khaira memanggil Aidan seraya memberontak dari cekalan Nicholas. "Kau akan berangkat bersamaku. Bukan dengannya!" Nicholas menarik Khaira hal itu membuat pramugari yang ada disana kebingungan. "Maaf Tuan, kenapa dia menangis?" Tanya seorang pramugari. Nicholas tersenyum dengan santainya ia berkata. "Dia hanya sedih berpisah dengan temannya." Jawab Nicholas berbohong. "Hei tenanglah. Apa bedanya aku dengan dia?" Bisik Nicholas sambil terus menarik Khaira menuju tempat duduknya. "Lepaskan aku!" "No, no, no! Cepat duduk." Nicholas mendudukkan paksa tubuh Khaira lalu ikut duduk disamping gadis itu setelah menaruh tas di kabin. Khaira mengusap air matanya kemudian memukul lengan Nicholas. "Kau menyebalkan!" Lalu membelakangi Nicholas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN