Nicholas menutup laptop lalu melirik ke arah Khaira yang sedari tadi membelakanginya. Sejak pesawat belum take off hingga pesawat sudah diatas langit, Khaira tidak bergerak sedikit pun. Apa wanita itu tidak pegal?
"Are you okay?" Tanya Nicholas seraya menepuk pundak Khaira membuat nya spontan menggerakkan pundaknya yang dipegang oleh Nicholas.
"Kau marah padaku?" Nicholas bertanya lagi. Kali ini memaksa tubuh Khaira agar menghadapnya.
Khaira yang kesal pun menyentak tangan Nicholas. Menatapnya tak bersahabat. "Jangan mengganggu ku!"
Nicholas menghela napas. "Okay aku tidak mengganggu mu, tapi setidaknya isi perut mu. Cepat makan."
"Tidak mau!" Ketus Khaira.
"Kenapa tidak mau? Kau belum makan."
"Sudahlah, Nic hentikan sandiwara mu."
Nicholas mengernyit bingung. "Sandiwara apa? Memangnya aku bersandiwara?" tanya Nicholas.
"Ya kau bersandiwara! Kenapa kau tiba-tiba baik padaku, huh? Bukankah kau mengataiku jalang, dan murahan?! Kau pikir apa kalau bukan bersandiwara? Bermuka dua?!" Khaira menatap tajam pria itu kemudian mengalihkan pandangannya.
Nicholas terdiam, ia menarik napas kemudian membuangnya. "Maafkan aku. Setidaknya makanlah-"
"Kau itu buruk! Aku tidak menyukaimu. Aku bahkan jijik melihat wajahmu! Kau bilang jangan pernah kita bertemu, tapi apa? Kau sendiri yang bertemu dengan ku. Jadi apa mau mu, huh?!" Ujar Khaira kesal. Nicholas lagi-lagi terdiam. Perkataannya menjadi boomerang untuknya.
"Maafkan aku. Aku menyesal sungguh." ucap Nicholas sendu.
Khaira berdecih. "Maaf mu palsu. Maaf mu hanya sekedar ucapan bukan tulus dari hati."
Nicholas menyandarkan punggungnya kemudian memijat pangkal hidungnya.
"Sudahlah berhenti bersandiwara. Kau lelah bukan bersandiwara? Sama aku juga lelah dengan sikap palsu mu ini!" Setelah mengatakan itu, Khaira membelakangi Nicholas. Air matanya mengalir dengan sendirinya lantas langsung menyekanya.
Seorang pramugari yang sedang melayani penumpang di kursi depan Nicholas dan Khaira kini menoleh saat melihat mata sembab Khaira.
"Nyonya, apa kau baik-baik saja?" Khaira menatap pramugari tersebut lantas mengangguk seraya tersenyum. "Kenapa tidak dimakan? Apa kau mau makanan yang lainnya?" Tawarnya sopan.
"Dia sedang tidak nafsu makan. Tapi nanti akan ia makan." Nicholas menjawab.
"Ah...baiklah." Ujar pramugari tersebut seraya tersenyum lalu melenggang pergi ke penumpang yang memanggilnya.
_-_-_-_
06.00 PM
Setelah menempuh perjalanan selama 22 jam 30 menit lamanya, akhirnya mereka sampai di bandara Soekarno-Hatta Jakarta Indonesia. Mereka tak langsung ke rumah Khaira yang berada di bandung, karena letih mereka memutuskan untuk menginap di hotel.
Mereka masuk ke kamar yang telah mereka pesan. Nicholas mengunci pintu sedangkan Khaira membuka kopernya untuk mengambil pakaian ganti. Ia lantas melenggang pergi ke kamar mandi.
Nicholas menghela napas seraya menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Memikirkan permasalahan tadi di pesawat, membuatnya pusing. Entahlah kenapa ia senekat ini. Jujur saat mendengar kalau Khaira mengandung, jantungnya langsung berdetak kencang. Dan sebagai rasa bersalahnya, ia rela bertanggung jawab atas hal b***t yang sudah ia lakukan.
Pintu kamar mandi terbuka lalu Khaira keluar tanpa menoleh bahkan menatap Nicholas sedikitpun. Nicholas yang tidak ingin berdebat tanpa bertanya langsung melenggang ke kamar mandi.
Khaira berdiri di balkon menatap pemandangan kota Jakarta yang sangat ia rindukan. Angin sejuk menyapu sedikit kesedihannya, terlihat Khaira tersenyum merasakan angin mengenai wajahnya.
"Khai, ayo kita keluar." Suara itu membuat senyum nya luntur. Tatapan Khaira langsung berubah tak bersahabat. Ia tidak menjawab perkataan Nicholas.
"Kau hanya makan sedikit di pesawat, kumohon makanlah demi bayi kita." Khaira sontak menatap tajam Nicholas.
"Berani-beraninya kau menyebut ini bayi kita! Aku tidak akan pernah menganggap mu sebagai ayah anak ini!"
"Kenapa tidak? Aku ayah biologisnya!"
"Kenapa? Kau bilang kenapa? Bahkan waktu kejadian itu kau mengelak. Kau menuduhku kalau aku yang menggoda mu. Kau mengataiku jalang, dan murahan. Apa aku tidak sakit hati? Lalu dengan seenaknya kau bilang ini anak kita?" Khaira berdecih. "Dasar b******k!" Makinya seraya mendorong d**a pria itu lalu berjalan masuk kedalam.
"Khai! Tunggu dulu!" Nicholas menarik tangan Khaira.
"Lepas! Jangan sentuh aku!" Bentaknya. "Aku lelah dengan semua ini. Sudahi sandiwara mu, Nic!"
"Aku tidak bersandiwara, Khai! Aku tulus ingin bertanggung jawab saat tahu kau mengandung darah daging ku."
"Bullshit! Ini bukan anakmu sialan! Lebih baik kau pulang ke Amerika sana! Aku akan disini dan akan menggugurkan kandungan ini!" Teriak Khaira frustasi. Nicholas melotot, rahangnya mengeras.
"Jangan coba kau berani menggugurkan anak ku!" Gigi Nicholas gemeletukan.
"Kenapa hah? Dia bahkan anak yang tidak diinginkan. Kau bahkan tidak menginginkannya juga, bukan? Aku tidak akan pernah mau hidupku hancur karena dia dan karena mu!" Khaira menunjuk perutnya lalu ke Nicholas. "Jikalau aku mengandungnya sampai dia lahir, akan aku taruh bayi ini di yayasan penitipan anak!"
PLAK!
Tamparan yang mendarat di pipi Khaira membuat perempuan itu terdiam. Perempuan itu memegang pipinya yang terasa panas menjalar hingga ke syaraf. Khaira menatap Nicholas tak percaya. Bibirnya gemetar.
"Yeah tampar aku lagi. Tampar aku lagi!"
"Khai I'm so sorry--"
Nicholas merasa bersalah, pria itu berusaha menyentuh Khaira untuk menenangkan perempuan itu namun Khaira semakin kalut.
"Tampar aku hingga kau puas! Tampar aku! Cepat tampar aku lagi! Bunuh aku sekalian!" Teriak Khaira hingga wajahnya memerah dan urat di lehernya menonjol.
"Khaira aku minta maaf, maafkan aku."
"Bunuh aku! Selain b***t kau juga kasar! Aku membenci mu!" Teriak Khaira.
Nicholas menarik Khaira ke dalam dekapannya meskipun perempuan itu memberontak tak karuan.
"Lepas!"
"Sstt I'm sorry, maafkan aku Khai." Suara Nicholas melembut, tangan pria itu mengusap kepala Khaira.
Khaira menangis di dekapan Nicholas. Membuat Nicholas amat sangat merasa bersalah.
Bukan pipinya saja yang sakit, hatinya juga ikut sakit. Khaira sangat sakit hati dengan Nicholas. Orangtua nya saja tidak pernah sekalipun menamparnya, tapi pria ini! Pria yang bukan siapa-siapanya tega menampar wajahnya.
"I'm sorry, I'm sorry, I'm sorry." Ucap Nicholas berulang kali.
.
Nicholas menuntun Khaira menuju ranjang lalu mendudukkan perempuan itu. Ia menatap Khaira tak tega apalagi pipi Khaira terlihat memerah akibat tamparannya.
"Aku minta maaf." Lirih Nicholas yang sekarang berjongkok di depan Khaira lalu menggenggam tangan mungilnya. "Maafkan aku atas semua perlakuan ku, perkataan ku yang menyakiti mu. Dan maafkan aku karena sudah menampar mu." Nicholas menjeda. "Itu spontan karena kau berbicara buruk tentang dia. Aku tentu saja tidak menerima itu. Dia bayi yang tidak berdosa. Dan tidak pantas seorang ibu mengatakan hal seperti itu. Dia anak mu juga, dan aku sebagai penyebab masalah ini ingin bertanggungjawab atas kau dan anak kit--"
"Pergi dari hadapanku, Nic!"
Nicholas terdiam mendengarnya.
"Aku tidak ingin melihat mu! Get out!"
Nicholas mengangguk kecil. "Okay, aku akan pergi. Istirahatlah."
"Tidak butuh bantuan mu!" ucap Khaira tak suka ketika Nicholas menarik selimut untuknya.
Nicholas mengangguk kembali, ia berdiri lalu pergi keluar kamar.
Namun Nicholas masih belum tenang karena Khaira belum makan. Makanan di pesawat tak tersentuh sedikitpun oleh Khaira. Nicholas memutuskan, saat Khaira sudah terlelap ia akan membawakan makanan. Berjaga-jaga jika Khaira lapar ditengah malam.