Cahaya terang dibalik gorden membuat Nicholas membuka matanya. Nicholas duduk, mengumpulkan nyawanya. Kemudian mata berwarna biru laut indah itu menyapu ruangan. Dan ketika melihat kasur disamping kosong, Nicholas langsung panik.
Nicholas menyibak selimut dan beranjak dari kasur. "Khai!"
Nicholas memanggil Khaira. Saat melewati troli makanan yang ia pesan semalam, lengkungan di bibir pria itu nampak. Khaira memakan habis makanan yang ia bawakan. Tapi ia tidak tahu kapan perempuan itu memakannya. Ah itu tidak penting.
"Khai!" Ia lanjut memanggil nama Khaira. Nicholas mencari Khaira ke balkon kemudian beralih ke kamar mandi namun tidak menemukannya juga.
Hingga suara pintu terbuka membuat Nicholas langsung keluar dari kamar mandi dan melihat sosok Khaira yang cantik dengan atasan blouse berwarna coklat yang terdapat tali berbentuk pita di bagian leher serta dipadukan dengan celana jeans hitam masuk ke dalam kamar.
"Kau darimana saja, hm?" tanya Nicholas lembut. Khaira menghela napas kemudian memutar bola matanya malas. Pagi-pagi begini pria itu sudah memulai sandiwara baiknya.
"Apa itu?" Nicholas mencoba bertanya kembali.
"Kau punya mata, jadi kau bisa melihat aku bawa apa tanpa bertanya!" jawab Khaira ketus.
Nicholas menghela napas pelan. "Baiklah. Apa kau ngidam?"
"Tau apa kau tentang itu?" Khaira balik bertanya.
Dari situs internet yang ia cari semalam tentang wanita hamil, ia menemukan kata 'Cravings' disana. Yang artinya ngidam. Rata-rata wanita hamil mengalami masa dimana ia akan mudah tergiur oleh makanan.
"Aku hanya tau saja." jawab Nicholas seraya mengambil pakaian dari koper lalu melenggang ke kamar mandi.
Khaira mendengus lalu memakan cheesecake yang tadi diantar oleh pegawai hotel. Cheesecake adalah makanan kesukaannya. Dulu waktu ia di Indonesia saat liburan kuliah, ibunya selalu membuatkan makanan itu.
Namun...Khaira mendengus lantas menaruh makanan itu ke tempatnya. Namun jika ibunya tahu kalau ia sedang hamil tanpa ikatan pernikahan, ibunya pasti akan sangat murka dan kecewa. Bisa dipastikan ia akan diusir karena sudah membuat malu keluarga dengan aib ini.
Khaira termenung meratapi takdirnya yang jauh dari kata bahagia. Hidupnya yang dulu berwarna kini berubah menjadi hitam kelam yang menyedihkan. Dan itu karena Nicholas.
Khaira bangkit dari duduknya lalu berjalan ke balkon. Angin langsung berhembus kencang menerbangkan rambut-rambutnya. Khaira menghirup udara dalam-dalam dengan mata terpejam. Disaat matanya terpejam bayangan untuk terjun dari gedung hotel, menusuk perutnya dengan benda tajam itu terlihat jelas.
Bagaimana jika ia melakukan itu?
"Sedang apa kau?" suara serta tepukan di pundak membuat Khaira membuka mata terkejut dan sontak berjalan mundur.
"Hei!" tegur Nicholas lalu menarik tubuh Khaira dan berakhir dipelukannya. "Apa yang kau pikirkan sampai terkejut seperti ini? Kau hampir saja terjungkal dari pagar!" omelnya.
Khaira langsung melepaskan diri dari pelukan Nicholas, menatapnya tak bersahabat lalu melenggang masuk. Nicholas mendengus melihat sikap Khaira yang masih memusuhinya dan tidak banyak bicara. Ia lantas menyusul perempuan itu.
"Aku membelikan mu ini, aku akan membuatkan untukmu." Nicholas memperlihatkan kotak s**u hamil pada Khaira.
"Tidak perlu! Aku tidak suka!" ucap Khaira membuat langkah pria itu terhenti.
"Suka tidak suka kau harus minum."
"Aku bilang aku tidak suka!" geram Khaira namun tak digubris oleh Nicholas. Pria itu tetap akan membuatkan s**u hamil untuk Khaira.
Beberapa menit membuatkan s**u, Nicholas datang dengan membawa segelas s**u lalu menyodorkan minuman tersebut pada Khaira. "Minumlah." katanya.
"Apa kau tidak dengar?! Aku tidak suka!" Khaira tetap kekeh.
"Tolong jangan keras kepala, Khai."
"Kau yang keras kepala! Aku sudah bilang, aku tidak suka tapi kenapa kau masih membuat minuman itu!"
"Demi bayiku!" ucap Nicholas menyebut kata 'bayiku'. Ia tahu Khaira sensitif dengan kata 'bayi kita'.
"Aku tidak suka dipaksa, Nic." rengek Khaira.
"Maka dari itu minum s**u ini!"
"Aku tidak suka! Aku--" Khaira spontan menutup hidungnya saat mencium aroma s**u yang sangat memualkan perutnya. Ia lantas berlari ke kamar mandi.
"Khai!" Nicholas menaruh gelas di atas nakas lalu menghampiri Khaira. Ia membantu memijat tengkuk Khaira.
"Sudah baikan?" tanya Nicholas. Khaira mengangguk kecil seraya membasuh bibirnya dengan air.
Mereka keluar kamar mandi lalu Nicholas memapah lembut Khaira duduk di tepi ranjang.
"Kalau gitu tidak perlu diminum s**u ini." ucap Nicholas mengambil gelas lalu menjauhkan minuman itu dari Khaira.
Khaira melirik Nicholas. Terbesit ada rasa bersalah dan tak tega karena tidak menghargai pria itu yang rela membelikannya s**u hamil. Ia ingin meminumnya, tapi tidak kuat dengan bau minuman itu. Tapi ya sudahlah, salah siapa beli tanpa bilang terlebih dulu padanya?
"Nic." panggil Khaira. Nicholas dengan senang hati menatap Khaira bersama senyuman manisnya. "Kau lelah, bukan?"
Nicholas mengernyit bingung. "Lelah apa?"
"Bersandiwara. Berhenti lah bersandiwara seperti ini, Nic. Dengan bersandiwara seperti ini apa aku akan luluh dan mau menerima mu? Tidak, Nic! Aku memang benar-benar tidak menyukai mu dan aku sangat membenci mu! Hati ku sudah terluka oleh mu. Bagaikan kaca yang pecah! Seperti itulah hati ku yang tidak bisa kau perbaiki."
Nicholas menatap Khaira lekat. "Izinkan aku memperbaiki semuanya. Hati mu bukan seperti kaca, Khai. Tapi seperti bunga." Khaira mengernyit. "Hati mu saat ini seperti bunga yang layu, dan jika bunga itu dirawat kembali, ia akan mekar. Sama seperti hati mu, aku ingin memperbaiki semuanya. Aku yakin nanti kau bisa memaafkan ku, kau tidak membenci ku lagi dan pastinya menerima ku." ucap Nicholas.
Khaira berdecih. "Filosofi macam apa itu?" ucapnya merusak suasana. "Sekarang aku ingin berangkat ke Bandung!" Khaira bangkit untuk mengambil kopernya.
"Baiklah." Nicholas menurut.
////
Setelah beberapa jam di perjalanan menuju kota Bandung, mereka beristirahat sebentar di sebuah restoran. Sebenarnya Khaira yang meminta untuk berhenti di tempat khusus oleh-oleh namun Nicholas menolak dan meminta agar membeli oleh-oleh di mall saja.
"Aku tau kau memiliki banyak uang! Tapi apa masalahnya jika ditempat tadi! Lagipula aku tidak butuh uang mu!" kesal Khaira karena keinginannya tak terpenuhi untuk belanja oleh-oleh ditempat yang menjadi langganannya saat pulang ke Bandung.
"Ya baiklah, lain kali kita kesana."
"Lain kali! Lain kali! Tau ah!" ucap Khaira menggunakan bahasa Indonesia lalu keluar mobil. Nicholas mengernyit bingung namun langsung menyusul Khaira.
.
.
Dan kini tiba saatnya dimana jantung Khaira berdegub kencang. Ia mulai terlihat cemas dan tak tenang saat mobil telah terparkir di tepi jalanan depan rumahnya. Di sekitar rumahnya ramai sekali. Banyak anak-anak yang bermain, para ibu-ibu serta anak remaja lainnya yang sedang berbincang ria. Khaira pucat pasi, ia meneguk salivanya susah payah hingga sebuah tangan mengusap kedua pundaknya menyadarkannya.
"Kau tenang saja. Kalau orangtua mu memarahi mu, aku akan membela mu. Aku yang akan memposisikan diriku untuk melindungi mu karena memang ini bukan salah mu, tapi salah ku." ucap Nicholas menenangkan Khaira.
Khaira menghirup napas dalam lalu mereka keluar mobil setelah membayar. Para tetangga yang sedang berbincang-bincang kini terdiam saat melihat kedatangan Khaira bersama seorang pria bule tampan. Bahkan para cewek remaja banyak yang berbisik-bisik sambil tersenyum-senyum saat melihat Nicholas.
Khaira menyapa yang lainnya dengan senyuman.
"Mbak Ira, itu siapanya mbak?" tanya salah satu cewek sambil menatap Nicholas dengan berbinar.
Duh. Khaira bingung harus menjawab apa. Masa iya ia harus menjawab ayah dari anak nya, kan gak mungkin. Yang ada para tetanggamengetahui masalah besarnya.
"Teman dari Amerika." jawab Khaira.
"Ganteng mbak. Pasti mau melamar mbak iya kan..." ucapnya lagi.
"Cieeee." Sorak para cewek remaja lainnya.
Khaira hanya tersenyum membalas lalu mempercepat langkahnya menuju rumahnya. Nicholas yang tak mengerti apa yang Khaira dan tetangganya katakan pun hanya terdiam. Setelah sampai, Khaira mengetuk pintu lalu keluarlah seorang wanita paruh baya yang sangat ia rindukan.