"Ibu..." lirih Khaira lalu memeluk sang ibu.
"Ira, kamu kok pulang gak kasih kabar." ucap Fitri--ibu Khaira. Wajahnya nampak terkejut.
Khaira melepaskan pelukannya lalu menyeka air matanya. "Kita bicara di dalam ya bu." Fitri menuntun Khaira masuk ke dalam tak lupa mengajak Nicholas.
-Ruang Keluarga
"Dia siapa, Ra?" tanya Fitri yang bingung karena baru pertama kali melihat Nicholas. Khaira melirik Nicholas kemudian air matanya mengalir.
"Bu, ayah mana?" Khaira balik bertanya.
"Ayah ke rumah Uwa tapi belum pulang dari tadi sama Rizki." ucap Fitri. "Kamu kenapa nangis? Ada apa?"
"Bu..aku mau bilang sesuatu." Khaira menyedot ingusnya.
"Bilang apa? Ada apa sih sebenarnya?" Bingung Fitri.
"Tapi ibu jangan marah ya bu...hiks hiks.." Khaira menutup mulutnya saat isakan tangisnya semakin menjadi-jadi. Nicholas yang berada disamping Khaira mengusap lembut punggung tangannya.
"Memangnya ada masalah apa sampai ibu marah? Ceritakan Ra, kalau kamu jujur ibu gak akan marah." ucap Fitri mengusap pundak Khaira memberi ketenangan.
"Aku...hiks..." Khaira berusaha meredakan isak tangisnya. "Aku..."
Ya Tuhan, Khaira sangat takut dengan reaksi ibunya nanti ketika mendengar bahwa anak gadis nya ini hamil.
"Apa Ra, astagfirullah kamu ini." geram Fitri saat Khaira terus menunda perkataannya.
"Aku hamil bu..." Perkataan Khaira sukses membuat Fitri terkejut bukan main.
Fitri membekap mulutnya menatap Khaira tak percaya.
"Siapa yang menghamili kamu?!" Suara bariton itu membuat Khaira dan yang lainnya menatap sumber suara.
AYAH.
Mata Khaira terbelalak melihat raut murka ayahnya. Fitri bangkit untuk menenangkan suaminya itu.
"Siapa?!" murka Zainal--Ayah Khaira.
"Ada apaan ini?" sebuah pertanyaan datang dari seorang pria yang baru datang. Dia adalah Rizki--Kakak Khaira.
"Riz, tutup pintunya!" Perintah Zainal langsung dilaksanakan oleh Rizki. Terlihat raut kebingungan di wajah Rizki saat melihat Nicholas.
Zainal menyorot murka ke arah Nicholas. Sudah bisa dipastikan Nicholas lah yang menghamili anaknya. Untuk apa pria bule ini datang kesini kalau bukan untuk bertanggungjawab?
"Dia kan yang menghamili kamu?! JAWAB KHAIRA!!!" bentak Zainal membuat semuanya tersentak. Nicholas yang melihat Khaira dibentak pun ingin membelanya namun terhenti saat Khaira memberi isyarat lewat cekalan tangan.
"Iya..." lirih Khaira.
"Kamu menghamili adikku?! DASAR b***t!!" murka Rizki. Sebuah bakat Rizki bisa menguasai bahasa Inggris. Rizki menarik kerah baju Nicholas, memandang nyalang Nicholas lantas meninju wajahnya.
Khaira melotot lalu melerai kedua pria itu. "Kak! Kakak udah kak!" teriak Khaira.
"Kamu jangan membela dia, Ra! Dia pantas dapat ini! Bahkan dia pantas mati!" Rizki kembali meninju wajah Nicholas.
Nicholas yang tahu kalau ia bersalah hanya terdiam tanpa meninju balik. Ia tahu, perbuatannya ini tidak bisa di maafkan. Maka dari itu, sebagai permintaan maaf darinya ia rela di pukul habis-habisan oleh Rizki.
"Kak udah kak! Gimanapun juga dia ayah dari anak aku!" ucap Khaira sambil menarik tangan sang kakak agar tidak meninju Nicholas lagi.
"b***t! b******k! Kamu orang pertama yang menjadi musuhku! Sialan!" ucap Rizki lalu membenarkan bajunya yang berantakan.
Fitri dan Zainal hanya diam terutama Fitri yang kini menangis karena mendengar berita buruk dan juga pemandangan seperti ini. Menurutnya Nicholas memang pantas mendapatkan itu semua sebagai hukuman.
"Ayah tidak akan meminta dia untuk menjadi suami kamu apalagi ayah dari anak kamu!" Suara Zainal membuat semuanya menatapnya. Terutama Khaira, menatap Zainal tak mengerti.
"Maksud ayah?"
"Ayah tidak akan pernah mau menikahkan kamu dengan pria ini! Ayah tau dia itu buruk! Masih muda saja kelakuannya b***t, apalagi saat nikah dengan kamu. Ayah gak akan setuju!" ucap Zainal.
"Tapi dia ayah biologis dari anak Ira, Yah!"
Entahlah, kenapa Khaira menjadi seperti ini. Membela Nicholas dan mengatakan seakan ia membenarkan kalau Nicholas adalah ayah biologis dari anak yang ia kandung.
"Tetap ayah gak akan setuju! Ayah punya calon suami yang baik untuk kamu, yang setia menunggu kamu menyelesaikan pendidikan kamu di luar negeri sampai sekarang! Kamu obati dia! Lalu suruh dia kembali ke tempat asalnya." ucap Zainal tidak bisa di ganggu gugat lalu melenggang pergi diikuti Rizki.
Fitri menatap putrinya sedih lalu mengusap pundak Khaira dan melenggang pergi.
"Ayo ke kamar ku." Khaira menggenggam lengan Nicholas dan menggiring pria itu ke kamar.
_-_-_-_
"Apa yang ayah mu katakan? Beritahu aku!" desak Nicholas penasaran.
"Sudahlah kau diam. Lebih baik kau duduk aku akan mengobati mu." ucap Khaira seraya menunjuk ranjang.
Nicholas mendengus dan mengikuti yang Khaira katakan. Pria itu duduk di tepi ranjang dengan lesu. Wajah tampannya sekarang terlihat tidak bersemangat dan banyak masalah. Ditambah lebam akibat pukulan dari Rizki.
Khaira datang membawa semangkuk air es dan kain. Ia menaruh benda tersebut diatas nakas, lalu mulai mencelupkan kain ke dalam air dan memerasnya. "Tahan." ucap Khaira lalu menempelkan kain tersebut ke luka lebam di wajah Nicholas.
"Ayah mu bilang apa? Beritahu aku semua yang orangtua mu katakan, Khai!" Desak Nicholas dengan penasaran yang membuncah.
"Kau bisa diam tidak! Aku sedang mengobati mu." Omel Khaira.
"Tapi--akh Khai sakit!" Ringis Nicholas saat Khaira menekan luka lebamnya.
"Diam!" Tegasnya dan langsung dipatuhi Nicholas. Lelaki itu mengatupkan mulutnya menjadi garis lurus. Matanya bergerak kesana-kemari melihat wajah KKhair.
"Kau--"
"Sudah selesai. Kau istirahatlah." Khaira bangkit lalu membawa mangkuk es ke dapur. Nicholas mengerjapkan matanya tak percaya, bukankah baru sebentar Khaira mengompresnya? Bahkan ia tak merasakan sakit. Apa karena ia fokus menatap Khaira yang cantiknya mengalahkan bidadari dari khayangan?
Nicholas menatap Khaira yang datang ke kamar dengan tangan membawakan sepiring makanan dan segelas air. Perempuan itu duduk di samping Nicholas lalu menunjukkan isi makanan di piring tersebut.
"Makanlah. Kau pasti lapar."
Nicholas menatap makanan di piring dengan tatapan yang tak bisa diartikan. "Apa ini?"
"Makanan."
"Ya aku tahu. Tapi jenis makanan apa ini?"
"Ini jenis makanan khas Indonesia. Makanan ini enak, kau coba saja."
"Ceritakan dulu padaku apa yang mereka katakan tadi."
"Makan dulu."
"Ceritakan."
"Makan!" Khaira menatap tajam Nicholas.
"Oke, tapi barengan. Makanan ini terlalu banyak, kenapa kau mengambilkan makanan sebanyak ini untuk ku?"
"Bukan aku. Tapi ibu yang mengambilkan ini untuk mu." Jawab Khaira dan Nicholas mengambil piring dari tangan Khaira.
"Ibu mu sangat baik. Tapi anaknya--"
"Apa?! Aku tidak baik begitu maksud mu?!" Khaira mendelik.
Nicholas mengatupkan bibirnya lalu mengalihkan tatapannya ke arah lain. Ia takut diamuk oleh Khaira.
"Aku baik jika orang itu baik. Jika orang itu tidak baik, akupun sebaliknya." ucap Khaira.
"Lalu kenapa sikap mu padaku tidak baik?"
"Karena kau bukan orang baik, paham." Jawab Khaira singkat, jelas, padat.
Nicholas mendengus lalu mulai menyendok makanan. "Aaa...." Nicholas mengarahkan sendok ke arah Khaira.
"Apa?"
"Kau duluan, habis itu aku." ucap Nicholas. Khaira menurut, ia memajukan wajahnya lalu melahap makanan dari suapan Nicholas.
"Apa sungguh enak?" tanya Nicholas ragu.
"Kau coba saja jangan banyak tanya--uhuk...uhuk..." Khaira tersedak membuat Nicholas lantas menyodorkan segelas air. Khaira langsung meneguk air cepat.
"Kalau makan jangan sambil berbicara. Tersedak jadinya." omel Nicholas. Khaira melotot. Kenapa pria itu malah menyalahkannya? Khaira yang hendak marah tidak jadi saat melihat Nicholas minum di tempat bekas bibirnya tadi. Itu artinya, mereka ciuman secara tidak langsung.
Khaira mengalihkan tatapannya seraya menghirup udara kemudian menggeleng.