10.44 PM
Nicholas menaruh ponsel di saku celana setelah melihat jam di Amerika. Langit di Amerika sekarang cerah, sementara di Indonesia gelap. Saat ini Nicholas dan Khaira sedang duduk di sebuah kursi yang menghadap ke luar jendela. Mereka memandang bintang-bintang di langit dan juga bulan sabit yang bersinar.
Duduk bersama Khaira sekarang, adalah permintaan Nicholas. Jadi, mau tidak mau Khaira menurutinya.
"Ayah ku bilang..." Nicholas beralih menatap wajah Khaira dari samping. "Dia tidak akan mengizinkan kau untuk menjadi suami dan ayah dari anak ini." Perkataan Khaira sontak membuat Nicholas melotot.
"Dia bilang, kau tidak baik untukku." Lanjut Khaira.
"Aku akan berusaha untuk meyakinkan orangtua mu, terutama ayah mu. Dan aku akan merubah diriku menjadi lebih baik demi kau dan anak kita, Khai." ucap Nicholas, terlihat bersungguh-sungguh.
"Tetap saja kau tidak akan bisa mengalahkannya. Perkataan ayahku tidak bisa diganggu gugat apalagi menentangnya."
"Aku akan berusaha apapun itu rintangannya."
"Kenapa kau bersikukuh sekali? Setidaknya mereka sudah melihat pertanggungjawaban mu, kalaupun ayahku tidak setuju berarti kau bukanlah jodoh ku." ucap Khaira seraya membenarkan rambutnya yang berantakan karena hembusan angin.
"Kenapa kau seakan memihak mereka?" Tanya Nicholas menatap Khaira datar.
"Aku tidak memihaknya. Melainkan aku percaya kalau perkataan orangtua adalah perkataan yang tepat."
"Tapi aku tidak rela jika anakku nanti harus diurus orang lain. Kau tahu, kebahagiaan seorang pria adalah melihat buah hatinya lahir ke dunia, berkembang dengan baik dan menjadi anak yang sukses. Dan aku ingin merasakan itu. Aku ingin merasakan itu dengan mu..." Khaira tertegun saat melihat mata indah Nicholas mengeluarkan cairan bening yang perlahan menetes. Pria itu mengalihkan tatapannya dan Khaira tahu kalau Nicholas tidak ingin terlihat lemah di hadapannya.
"Sudahlah jangan menangis." ucap Khaira datar. Walaupun situasi seperti ini, Khaira berusaha tak menjadi sosok yang lembut. Ingatan tentang kejahatan Nicholas selalu terngiang di kepalanya.
"Tidak aku tidak menangis, hahaha..." Nicholas tertawa hambar sembari menyedot ingusnya. Khaira tersenyum simpul menatap Nicholas. Ia merasa kasihan dengan pria itu. Hidup Nicholas berubah hancur sama seperti hidupnya.
"Apapun rintangannya, aku akan memperjuangkan mu, Khai." ucap Nicholas kemudian memeluk Khaira. Khaira hanya terdiam saat Nicholas memeluknya. Ia hanya ingin kembali menenangkan pria itu.
TOK...TOK...
Rizki membuka pintu kamar Khaira sontak melotot lebar melihat adiknya di peluk oleh pria b******n itu. Rizki lantas melangkah lebar, menarik paksa Nicholas dari duduknya lalu meninju pria itu.
"Jangan berani kamu sentuh adik saya!" Teriak Rizki lalu meninju Nicholas lagi.
"Kak!" Khaira berusaha melerai Rizki yang membabi buta meninju Nicholas.
"Diam kamu! Jangan membela b******n ini!"
BUGH!
"Kak udah kak!!!" Khaira mendorong tubuh Rizki membuatnya hampir tersungkur. "Kakak apa-apaan sih! Nicholas gak salah kak. Kakak boleh benci tapi gak main tangan juga kak!"
"Kamu gak usah membela dia!" Tegas Rizki.
"Ira gak membela Nicholas, kak! Tapi yang kakak lakukan ini salah. Dia mau berubah kak. Mau bertanggungjawab!"
"Pertanggungjawaban dia itu palsu Ra! Itu kenapa ayah gak suka dia!" Rizki menatap tajam Nicholas. Urat di lehernya tercetak jelas menandakan ia sangat marah.
"Ini tiket pesawat. Suruh dia pulang ke negara asalnya!" Rizki menyodorkan sebuah tiket pada Khaira. Ia sedikit meredakan amarahnya.
Khaira menghela napas. "Kak, kakak gak boleh kayak gini. Dia tulus mau bertanggungjawab kak." ucap Khaira meyakinkan.
"Tapi kita semua gak setuju! Ayah, Ibu apalagi kakak gak akan pernah setuju! Lagipula ayah sudah menemukan suami untuk kamu, Ra."
"Siapa kak? Siapa orang yang mau sama Ira? Emang ada? Gak mungkin ada kak! Kalaupun ada, orangtua nya pasti gak akan setuju! Orangtuanya ataupun keluarganya pasti akan menghina aku, kak!" ucap Khaira kesal. Saat ini mereka bertengkar dalam beradu argumen.
"Udah Ra. Sekarang kamu tidur udah malam. Kamu tidur di kamar sama ibu. Jangan sama orang itu!" Rizki menatap tajam Nicholas, lalu beralih ke Khaira. "Cepet!"
Khaira mendengus lalu melenggang pergi keluar kamar.
"Mulai besok, keluarga saya tidak ingin melihat kamu disini! Pergi! Dan jangan pernah kembali lagi!!!" Rizki melempar kasar tiket pesawat ke d**a Nicholas lantas melenggang pergi.
____
08.00 AM
Khaira menaruh handuk kecil sehabis mengeringkan rambutnya di gantungan. Kemudian berjalan menuju meja rias, mengambil sisir lalu menyisir rambutnya.
Sembari menyisir rambut, pandangan Khaira menatap kosong cermin di hadapannya bahkan pada saat Fitri membuka pintu, perempuan itu sama sekali tidak menyadarinya.
"Ra!" panggil Fitri.
Khaira mengerjap sekilas lalu menoleh. Ia memberikan senyuman pada sang ibu. "Ada apa bu?"
"Ayo keluar, ada yang mau bertemu kamu." ucap Fitri.
Khaira mengernyit. "Siapa?"
.
"Khaira kamu cantik sekali nak..." Puji seorang wanita paruh baya seraya bangkit dari duduknya lalu memeluk Khaira.
Khaira terkejut mendapati pelukan tiba-tiba dari orang yang tidak ia kenal. Setelah pelukan terlepas, Khaira menatap pria paruh baya yang duduk di kursi dan disampingnya terdapat seorang pria yang sepertinya anak mereka.
Khaira tersenyum kecil namun kaku. Ia sedikit canggung pada orang yang baru ia kenal.
"Ira, ini tante Nara, ini om Kamal dan ini anak mereka namanya Kaisar. Kamal teman ayah dulu waktu SMA." ucap Fitri memperkenalkan.
"Iya sayang. Duduk dulu yuk." Ajak Nara menuntun Khaira untuk duduk disampingnya. "Lebih tepatnya sahabat. Ayah mu itu sahabatan sama papanya Kaisar dulu. Mereka lengket sekali kayak lem. Saking lengketnya, mereka sampai dianggap seperti saudara kandung hehe." Nara terkekeh, memberi sedikit bumbu lelucon untuk mencairkan suasana. Terlebih lagi, Khaira terus saja canggung.
"Anak mu canggung ya, Fit." Fitri tersenyum. "Padahal dulu waktu kamu umur 5 tahun tuh akrab banget sama tante, bahkan sama Kaisar kamu sering ajak dia jalan-jalan naik sepeda." ucap Nara menceritakan masa-masa yang Khaira sendiri pun lupa.
"Yang bener tante?" Khaira membuka suara.
"Iya. Tante ingat waktu kamu minta izin untuk bawa Kaisar main seperti ini 'tante Nala, aku boleh ajak main Kaisal gak?' Gitu. Kamu dulu masih imut-imut tapi sekarang kok malah jadi cantik sih, heran tante sudah lama gak ketemu jadi pangling ih." Khaira terkekeh seraya tersenyum.
"Kai, kenapa diam aja? Ini loh temen kecil kamu ajak ngobrol dong." Kata Nara. Kaisar menatap Khaira yang sedang mencari sesuatu. Wajah Khaira nampak kebingungan, matanya mencari-cari Nicholas yang tidak kelihatan batang hidungnya.
Apakah Nicholas benar-benar kembali ke Amerika?
"Oh ya Nara, Kamal, aku mau kasih tau kalian sesuatu. Yuk kita kebelakang." Khaira kebingungan melihat ibu dan ayahnya, tante Nara serta om Kamal yang pergi secara tiba-tiba meninggalkan mereka berdua.
"Kai, ajak ngobrol Khaira nya!" Teriak Nara sebelum menghilang dibalik tembok.
Perlahan bola mata Khaira menatap wajah Kaisar. Saat tatapan mereka bertemu, Khaira lantas tersenyum kecil dan itu sangat canggung.
"Apa kabar?" Kaisar memulai percakapan.
"Baik. Kamu?" Singkatnya.
"Baik juga. M...boleh temani aku liat pemandangan sekitar gak?" ucap Kaisar.
Khaira yang sedang celingak-celinguk mencari Nicholas pun tergugu. "Eh i-iya boleh kok."