Revealed

1292 Kata
Khaira dan Kaisar saat ini sedang jalan-jalan untuk melihat pemandangan indah nan asri di Bandung. Lebih tepatnya Khaira hanya menemani Kaisar sedangkan pikirannya melayang memikirkan Nicholas. "Kata mama, dari umur lima tahun aku udah pindah ke korea. Dan waktu main ke rumah kamu itu hari terakhir di Indonesia, jadi ya kita kayak orang gak kenal gini sekarang," Kaisar terkekeh. Kakinya menendang kerikil asal. Khaira tersenyum. "Iya." Singkatnya. Ia tak fokus pada topik yang dibicarakan Kaisar. Saat ini fokusnya hanya mencari Nicholas. "Kamu kuliah di luar negri ya? Aku kagum sama kamu, Khai." ucap Kaisar penuh puja. "Terus, kenapa kamu pulang ke Indonesia? Memangnya sudah waktunya libur?" lanjut Kaisar bertanya. Wajahnya berputar menatap Khaira dari samping. Kaisar mengernyit melihat Khaira yang celingak-celinguk entah mencari siapa. "Kamu cari siapa?" Kaisar menepuk pundak Khaira membuat sang empunya terkejut. "Eh...m...aku cari....kak Rizki." Alibinya. "Oh kak Rizki. Aku juga belum ketemu dia dari tadi." Khaira manggut-manggut membalas dengan arah mata yang bergerilya kemana-mana. "Aku tidak bisa meninggalkan Khaira, kak!" Sebuah suara membuat Khaira menatap sekeliling. Sorot matanya menemukan dua orang pria yang sedang bertengkar dengan raut wajah mereka yang terlihat marah. Khaira pun langsung berlari menghampiri mereka. Melerai pertengkaran mereka agar tidak membesar dan berujung perkelahian. "Kak Rizki! Ada apa ini?! Kenapa kalian bertengkar?" "Dia! Dia harus pergi dari sini!" "Tapi aku tidak mau, Khai-" "Diam kau!" Selak Rizki. "Kau tau diri seharusnya! Tidak ada yang menginginkan mu disini! Tau malu sedikit!" Teriak Rizki. "Aku tau tidak ada yang menginginkan ku! Tapi aku tidak bisa meninggalkan Khaira!" "Cih! b******k!" Umpat Rizki. BUGH. "Kak!!!" Teriak Khaira histeris melihat Rizki meninju wajah Nicholas. Baru saja kemarin ia terkena bogeman itu, dan sekarang terkena lagi. Tak terbayangkan sakitnya seperti apa. "Berhak apa hah?! Kau siapa nya? Kau siapa sampai aku tidak bisa melarang mu?!" Rizki menarik kerah baju Nicholas. Menatapnya sengit lalu kembali meninju. BUGH. "Kak Rizki! Udah kak! Udahh!! Kakak gak boleh main tangan!" Khaira berusaha menahan tangan Rizki yang terus meninju Nicholas. "Kamu gak usah membela dia! Biar dia tau rasa dan pergi dari sini!" Rizki menyentak tangan Khaira. "Kak udah kak! Biar aku yang bicara sama Nicholas! Kaisar, tolong bawa kak Rizki pulang ya." Ucapan Khaira diangguki Kaisar. "Ayo kak." Ajak Kaisar. "Mau tau dia siapa? Dia adalah calon suami adik saya! Cepat pergi dari sini bahkan dari kehidupan adik saya!" Setelah mengatakan itu, Rizki benar-benar pergi dengan perasaan berkecamuk marah. //// Saat memasuki rumah, Khaira tak menemukan siapapun di dalamnya. Khaira memapah Nicholas berjalan, lantas mendudukkan pria itu di tepi ranjang setelah memasuki kamar. "Tunggu disitu aku segera kembali." Khaira melangkah keluar kamar berniat mengambil kotak obat. "Stop Khai!" Suara Nicholas membuat perempuan itu berhenti yang sudah berada di depan pintu. "Kau tidak perlu mengobati luka ini. Biarkan luka ini menjadi bukti perjuangan aku pada mu." Khaira membalikkan tubuhnya menatap Nicholas. "Nic, sepertinya benar apa yang kakak ku katakan--" "Apa? Kau menyuruhku untuk pergi juga? Iya?!" Nicholas mulai emosi. Melihat itu, Khaira hanya diam."Kenapa kau tidak melihat perjuangan ku, Khai? Aku disini ingin memperbaiki semuanya." "Memperbaiki apa? Kau malah membuat semuanya runyam! Lebih baik kau yang mengalah, Nic. Pergilah ke negara mu. Disini kau hanya mendapatkan luka, bukan kebahagiaan." ucap Khaira parau. "Aku tidak peduli, Khai." Nicholas berdiri, pria itu melangkah mendekati Khaira yang berdiri di ambang pintu. Ia kemudian memegang kedua pundak Khaira, menatapnya lekat. "Bantu aku ya. Kita berjuang bersama-sama." Lanjut Nicholas. "Tapi aku tidak mencintaimu, Nic." "Akan ada saatnya cinta akan tumbuh, Khai. Yang terpenting kita bersatu demi anak kita." Tangan Nicholas mengusap perut Khaira. Namun perempuan itu segera menepisnya. "Aku juga tidak menginginkan anak ini." Khaira menatap takut melihat wajah Nicholas yang berubah datar tak berekspresi. "Sudah berapa kali aku bilang jangan mengatakan itu! Dia tidak berdosa! Kau mengerti tidak, hah?!" Nicholas meninggikan sedikit suaranya. "Aku tau, tapi aku--" Khaira sontak melotot saat merasakan benda kenyal menempel di bibirnya. Nicholas menciumnya. Manik mata Nicholas menatap manik mata Khaira lalu kemudian terpejam menikmati ciumam tersebut. Sedangkan Khaira, perempuan itu mendorong d**a Nicholas namun sialnya pria itu malah menahan tengkuknya dan mencium bibir Khaira dengan rakus. Melihat Khaira yang kehabisan oksigen, Nicholas melepaskan bibirnya. "Kita berjuang bersama-sama okay." ucap Nicholas. Kening dan hidungnya menempel di kening serta hidung Khaira membuat wajah mereka tersapu oleh napas mereka yang memburu. _-_-_-_ -Ruang Keluarga Zainal, Rizki, Fitri, Khaira, Nicholas, Kaisar, serta kedua orangtua Kaisar saat ini sedang duduk di kursi. Mata mereka semua saling memandang satu sama lain. Terlebih Khaira terlihat kebingungan atas perkataan Zainal yang tiba-tiba ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting. Rizki yang tak suka pada Nicholas terus menatap tajam pria itu. Awalnya Zainal tidak setuju jika Nicholas ikut bergabung, namum Rizki membiarkannya ikut. Rizki ingin melihat hancurnya Nicholas saat mendengar kalau Khaira akan dijodohkan oleh Kaisar. "Ada apa Yah??" Khaira bertanya. Zainal melirik Khaira lalu Ia tersenyum. "Ayah gak tau harus memulai darimana lagi, yang jelas saat ini ayah akan memberitahu kabar bahagia." ucapnya. Khaira menatap aneh semua orang yang tersenyum kecuali dirinya dan Nicholas. Kabar bahagia apa yang dirinya tidak ketahui? "Ayah dan om Kamal, kami sudah menyepakati akan menjodohkan kamu dengan Kaisar." Perkataan Zainal membuat Khaira melotot lebar. "Apa?!" Khaira terkejut. "Kamu tidak dengar? Ayah bilang dia akan menjodohkan kamu dengan Kaisar." ucap Rizki menggunakan bahasa inggris. Ya, dia sengaja. Dia ingin melihat Nicholas hancur juga ingin mematahkan perjuangannya agar Nicholas menyerah dan pergi dari kehidupan adiknya. Nicholas sama terkejutnya dengan Khaira saat mendengar perkataan Rizki. Hati pria itu sesak mendengar Khaira akan dijodohkan oleh orang lain seketika rahangnya mengetat. Ini tidak boleh terjadi. Nicholas yang tidak terima akhirnya bangkit dari duduknya. "Aku tidak setuju!" Nicholas menyuarakan ketidaksetujuannya. Melihat itu, Rizki bangkit juga. Matanya menatap Nicholas tak bersahabat. "Siapa kau? Kami semua tidak meminta persetujuan mu!" Gertak Rizki. "Tapi aku berhak atas semua ini! Didalam perut Khaira terdapat darah daging ku! Tidak sepantasnya kalian memisahkan aku dengan anakku sendiri!" Urat-urat dileher Nicholas nampak, amarahnya saat ini sudah meledak. "Diam kau--" "STOP!" Kaisar membuka suara sembari bangkit dari duduknya. Orangtua Khaira dan orangtuanya bingung sama apa yang saat ini mereka bicarakan. "Khaira, apa benar yang dibilang cowok ini?" Kaisar menatap Khaira menunggu jawaban. Tapi tangannya menunjuk ke arah Nicholas. "Sar, ada apa?" Tanya Nara yang makin dibuat bingung. "Sebentar ma. Kaisar mau memastikan jawabannya Khaira." "Jawaban apa? Apa yang kalian bicarakan sih?!" Kesal Nara. "Asal kalian tau. Saat ini--" "f**k you! Jangan berani kau membuka suara sedikit pun!!!" Rizki berteriak dengan tangan menyambar kerah baju Nicholas lalu meninju wajahnya saat Nicholas ingin mengungkapkan semuanya. Semua orang berdiri dan panik. "Rizki! Apa-apaan kamu?!" Zainal dan Kamal mencoba menjauhkan keduanya. Setelah menjauh dari serangan Rizki, Nicholas mencoba tenang walaupun napasnya masih memburu. "Khaira! Dia tengah mengandung darah daging ku!" Tegas Nicholas. Bola mata Kaisar melebar mendengar itu. Ia menatap Khaira dan Nicholas silih berganti. "Khai jawab! Apa benar kamu hamil anak dia?!" Khaira yang entah harus apa hanya terdiam sambil menangis. Kedua orangtua Kaisar terkejut bukan kepalang mendengar kalau Khaira saat ini sedang hamil. "Apa-apaan ini Zainal? Anak mu hamil? Lalu dengan tipu daya mu, kamu menjodohkan Kaisar dengan Khaira?" ucap Kamal pada Zainal tak terima. "Kalian keterlaluan! Kalian pikir kami mau memiliki menantu seperti anakmu yang sudah tidak suci lagi?! Bisa-bisanya kalian menipu kami?! Ayo Kaisar, kita pulang!" Kamal menarik tangan Kaisar lalu melenggang keluar. Nara memberikan tatapan kebencian pada Zainal dan Fitri sebelum melangkah pergi. Zainal menggeram marah menatap Nicholas. "Ikut ayah!" Tangan Khaira ditarik oleh Zainal. "Ayah tapi--" "Ikut!" Tegasnya. Khaira menatap Nicholas dengan mata berkaca-kaca sebelum penglihatannya menghilang dibalik pintu kamar yang tertutup. Rahang Rizki mengetat menahan amarah sedari tadi. Melihat kedua orangtuanya dan Khaira sudah pergi dari hadapannya, Rizki pun langsung meninju wajah Nicholas dengan membabi buta. BUGH. "Semuanya berantakan! Ini semua karena mu! Adikku dihina orang lain karena mu! Aku tidak akan memaafkan mu sialan!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN