Resmi Menikah

1104 Kata
"Kamu liat kan? Semuanya berantakan karena orang itu!" Zainal menatap Khaira dengan sorot mata emosi. "Ayah, ibu, Nicholas mau bertanggung jawab. Kenapa kalian kayak ini? Aku mohon, coba kalian jangan memandang dia sebelah mata!" ucap Khaira. Ia harus berkata seperti ini karena ia tidak ingin Nicholas disakiti lagi. Sudah berapa kali pria itu terus saja disakiti oleh keluarganya namun pria itu hanya diam saja. "Tapi dia pria yang gak baik, Ra! Ayah gak ada maksud jahat sama dia. Tapi sebagai orangtua, kita tau mana yang baik dan mana yang enggak!" Jawab Zainal. "Maka dari itu ayah gak tau dia baik atau enggaknya karena ayah terus musuhin dia!" "Kamu gimana sih? Kamu pikir melakukan hal b***t itu disebut apa?! Dari kelakuan dia aja udah gak baik jadi udah keliatan dari mukanya!" Zainal memijat pangkal hidungnya. "Ayah, ibu percaya sama aku, dia udah berubah. Apa tadi kurang jelas waktu orangtua Kaisar menghina aku? Kalaupun Ayah menjodohkan aku sama orang lain dan keluarganya tau kalau aku ini hamil, mereka pasti gak akan pernah mau menerima aku dan keluarga kita akan dihina lagi." Khaira mengusap air matanya lalu menarik napas. "Terserah apa yang kalian mau. Silahkan jodohin aku lagi kalau kalian memang ingin melihat anak kalian dihina terus!" Setelah mengatakan itu, Khaira pergi keluar kamar. ./././. Saat Khaira membuka pintu, pemandangan di depannya mengejutkannya. Khaira menutup mulutnya yang menganga lebar kemudian berlari untuk melerai Rizki yang sedang menonjoki Nicholas. "KAKAK!" Teriak Khaira berusaha memisahkan Rizki. "Kak udah! UDAH KAK!" Karena mendengar teriakan putrinya, Zainal dan Fitri lantas berlari keluar kamar. Khaira menatap marah sang kakak. "Kakak gak mikir berapa kali kakak pukulin Nicholas? Muka dia jadi kayak gitu kak! Luka yang kemarin aja belun sembuh sekarang kakak tambah lagi! Aku tau kak Rizki membela aku, berniat melindungi aku tapi gak sampai melukai orang! Aku tau kakak gak terima sama semua ini! Aku juga sama, kak. Aku lebih gak bisa menerima takdir aku yang udah hancur berantakan! Aku juga gak mau semua ini terjadi kak! Hidup aku udah hancur kayak gini, jadi aku mohon kalian berhenti! Jangan buat hidup aku semakin hancur!" ucap Khaira meledak-ledak. Perempuan itu kemudian menangis. "Kalian pikir aku sanggup dengan semua ini? Enggak! Hidup Khaira udah hancur, yah, Bu, kak Rizki. Khaira berusaha buat bertahan walaupun rasanya sulit, tapi kalian kenapa menambah kehancuran dan membuat runyam hidup Khaira?! Khaira rasanya mau mati aja hiks..." lirih Khaira. Raut wajahnya nampak putus asa. Zainal, Fitri dan Rizki melotot mendengar menuturan Khaira. "Tuan, Nyonya saya benar-benar ingin bertanggungjawab atas semua yang saya perbuat pada Khaira. Saya tahu saya salah, dan saya sangat menyesal. Saya mohon tolong jangan seperti ini...izinkan dan restui saya menikahi Khaira. Saya janji akan memperlakukan Khaira dengan sangat baik sebagaimana kalian memperlakukan Khaira." ucap Nicholas bersungguh-sungguh. "Rizki apa yang dia bilang?" tanya Zainal tak mengerti dengan perkataan Nicholas. "Dia bilang dia benar-benar mau bertanggungjawab atas semua yang dia perbuat. Dia menyesal, dia juga minta izin dari ayah dan ibu agar merestui mereka dan dia bilang dia akan memperlakukan Khaira baik seperti kita memperlakukan Khaira." ucap Rizki. "Tapi saya--" "Rizki kamu diam dulu!" Potong Zainal membuat Rizki bungkam. "Kalau kamu memang sungguh-sungguh ingin bertanggungjawab..." Zainal menjeda. "Saya akan merestui kamu tapi dengan satu syarat!" "Apa syaratnya yah!" Tanya Khaira. "Kenapa ayah restuin dia!" ucap Rizki kesal. "Saya kasih kesempatan untuk kamu, jangan sia-siakan kesempatan yang sudah saya berikan. Tepati ucapanmu dengan memperlakukan Khaira sangat baik. Meskipun saya tidak yakin pada ucapanmu." ucap Zainal tegas. "Ira yakin yah Nicholas pasti akan memperlakukan Ira dengan baik. Percaya sama Ira yah..." "Oke ayah percaya. Tapi kalau sampai dia memperlakukan kamu tidak baik, ayah sendiri yang akan menggugat kalian untuk cerai!" Khaira mengangguk diiringi dengan tangis haru kebahagiaan karena ayahnya telah merestui dirinya dengan Nicholas. Khaira memang tidak mencintai Nicholas, namun perjuangan pria itu mampu merobohkan pertahanannya. "Lalu apa syaratnya yah?" Tanya Khaira dengan senyum bahagia menatap Nicholas. -_-_- Seminggu kemudian. Semua orang yang menjadi saksi mengucapkan hamdalah setelah Nicholas selesai mengucapkan ijab kabul. Tepat hari ini akhirnya ia resmi sah menjadi suami Khaira. Seminggu yang lalu, Nicholas sudah memenuhi syarat yang mertuanya berikan. Syaratnya adalah Nicholas harus mengucapkan syahadat dari hati bukan dari keterpaksaan. Serta meyakini dengan teguh kalau Tuhan itu ada. Karena dari awal, Nicholas seorang Atheis. Orangtua Nicholas pun juga ikut datang menghadiri pernikahan Nicholas yang dilangsungkan di Indonesia setelah ia memberinya kabar. Yang datang hanya ibu Nicholas sedangkan ayah Nicholas sudah meninggal dua tahun yang lalu. Kini setelah acara selesai, semua keluarga berkumpul di ruang keluarga. Sudah berganti pakaian tentunya. "Kalau kalian mengizinkan, aku ingin membawa menantuku ke Amerika untuk tinggal disana. Kebetulan juga masa kuliah Nicholas dan Khaira juga belum selesai." Heidie Gallagher - ibu dari Nicholas membuka suara. Rizki yang berada disitu langsung menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. "Sebenarnya kami sangat berat, tapi mau bagaimana lagi, sekarang Khaira sudah menjadi hak Nicholas." Jawab Zainal. "Kalau gitu, sekarang kita berangkat." "Maaf, kenapa terburu sekali?" Tanya Rizki sopan. "Iya, karena disana masih banyak urusan kantor yang belum terselesaikan, jadi mohon maaf kalau kami tidak bisa berlama-lama." ucap Heidie dengan senyuman. Zainal dan Fitri menghela napas setelah mendengar penuturan Rizki yang memberitahu mereka kalau Khaira hari ini juga harus diboyong ke Amerika. Air mata Fitri yang sudah tak bisa dibendung lagi akhirnya menetes. "Kami mengizinkan. Dan tolong jaga dia dengan baik hiks..." Fitri menghampiri Khaira lalu memeluk putri satu-satunya. Khaira tersenyum lalu membalas pelukan ibu tercinta. "Ira akan baik-baik aja kok bu...udah ibu jangan nangis ya. Nanti Ira juga ikutan sedih." Khaira melepaskan pelukan Fitri lalu menyeka air mata Fitri lembut. "Iya ibu gak nangis kok." Fitri tersenyum berusaha kuat. Khaira benar-benar akan diboyong oleh keluarga Nicholas ke Amerika untuk tinggal disana. Tentu saja orangtua Khaira sangat sedih saat anak mereka kembali jauh dari mereka. Namun dengan begitu, mereka berusaha melepaskan Khaira walaupun rasanya sulit dan enggan. "Ayah, ibu...Khaira pamit ya." Khaira memeluk Zainal dan Fitri bergantian sesekali mengusap air matanya yang terus mengalir. "Hati-hati Ra...jaga diri kamu baik-baik dan jadi istri yang patuh." Pesan Fitri pada Khaira. Lantas perempuan itu mengangguk. "Kak, Ira pamit ya...makasih untuk semuanya..." Rizki mengangguk. Wajahnya berusaha untuk tenang walaupun ia ingin sekali menangis. "Hati-hati." ucap Rizki. Mereka berpelukan. "Kalau gitu kami pamit. Ayah, Ibu, kak Rizki terimakasih untuk semuanya, terimakasih karena telah memberikan kepercayaan padaku." ucap Nicholas berusaha menyebut kata 'Ayah, Ibu dan kak Rizki' dengan aksen Amerikanya yang kental. Rizki mengangguk sedangkan Zainal dan Fitri hanya tersenyum. Saat melihat Khaira melangkah pergi dari halaman rumah, Fitri yang tak kuat hanya bisa menangis di pundak suaminya. Khaira menurunkan kaca mobil lalu melambaikan tangannya. Air matanya terus mengalir dan Nicholas yang peka pun memeluknya. Memberikan ketenangan. Mobil pun melaju meninggalkan pekarangan rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN