Salah paham

1098 Kata
Khaira termenung dengan arah menatap keluar jendela yang menampakkan langit gelap disana. Nicholas yang sadar akan itu langsung menarik Khaira ke dalam pelukannya refleks perempuan itu terkejut. Jam sudah menunjukkan pukul 1 malam tapi Khaira belum tidur. Bahkan Heidy sudah tertidur pulas di seat samping Nicholas. "Semuanya sudah selesai, jadi kau tidak perlu memikirkan yang lainya lagi. Ingat, ada bayi kita yang harus kau jaga." ucap Nicholas. Khaira yang hendak ingin melepaskan diri dari pelukan suaminya itu, tak bisa saat Nicholas semakin mempererat pelukannya. "Tidurlah dan tetaplah berada di pelukan ku." Lanjutnya dengan tangan mengusap lembut surai hitam nan wangi milik Khaira. . Waktu cepat sekali berlalu. Kini Khaira sudah sampai disebuah rumah yang sangat indah dan mewah. Khaira menatap tak percaya bangunan luas didepannya saat ini. Apakah benar ini rumah Nicholas? "Kenapa?" Tanya Nicholas heran melihat Khaira yang terdiam. Khaira menggeleng. Nicholas pun tersenyum. "Ayo masuk." Ajak Nicholas dibalas anggukan oleh Khaira. Pintu dengan corak yang indah dan sangat elegan itu terbuka menampakkan isi rumah tersebut. Lagi-lagi Khaira dibuat diam dengan keindahan rumah Nicholas. Khaira, Nicholas dan Heidy melangkah masuk seketika para asisten dengan sigap mengambil barang bawaan mereka. "Sebelum istirahat, kau harus makan okay." ucap Nicholas. Khaira mendongak menatap Nicholas dengan tangan Nicholas yang berada di pinggang Khaira. "Tapi aku tidak lapar." Nicholas memberikan gelengan dengan ekspresi imut. "No buts." "Kau harus makan sayang, bayi mu pasti lapar." ucap Heidy. "Mama tidak ikut ya, mama sangat lelah." Lanjut wanita paruh baya itu. "Mama sungguh tidak ingin bergabung?" Tanya Khaira digelengi Heidy. "Tidak sayang." ucap Heidy sambil tersenyum. "Kamu makan yang banyak ya..." Khaira mengangguk dengan senyuman lalu Heidy melenggang pergi menuju kamarnya. Nicholas pun menggiring Khaira ke ruang makan. Mendudukkan sang istri dengan istimewa lalu pria itu ikut duduk disamping Khaira. "Tada...menu makanan lezat sudah disiapkan khusus untuk mu. Jadi kau harus makan okay." ucap Nicholas sambil melebarkan kedua tangannya. "Kenapa ini semua disiapkan? Padahal belum jam makan malam?" Tanya Khaira menatap semua menu makanan yang menggugah nafsu di meja makan. "Ini perintah ku. Karena kau akan datang, jadi aku memerintahkan asisten untuk masak makanan lezat yang sangat spesial untuk mu." Jawab Nicholas. Khaira tersenyum kecil membalas. "Baiklah, ayo kita makan." Nicholas membalikkan piring lalu menyidukkan nasi. "Biar aku saja--" "Aku saja." Jawab Nicholas. Khaira pun patuh. "Aku tidak suka salmon, Nic." ucap Khaira saat Nicholas memasukkan ikan salmon ke piringnya. "Proteinnya sangat banyak, kau harus memakannya." Khaira mengerucutkan bibirnya. "Silahkan dimakan." ucap Nicholas mempersilahkan seraya menaruh piring yang sudah penuh dengan berbagai macam lauk. "Aku tidak akan habis pasti." "Berikan padaku nanti. Yang penting perut mu terisi dan anak kita tidak kelaparan." /// -09.30 PM "Honey, diluar ada teman-teman ku." Khaira yang dipanggil seperti itu oleh Nicholas merasa geli. "Tolong jangan panggil aku seperti itu, Nic." "Kenapa?" Nicholas menghampiri Khaira yang sedang duduk di kasur. Pria itu duduk di tepi ranjang. "Sudah sepantasnya bukan?" Alis Nicholas terangkat sebelah. "Iya masalahnya aku geli." Nicholas terkekeh. "Tapi aku ingin." ucap Nicholas membuat Khaira tersenyum kecil. "Kau ingin ikut aku keluar?" Khaira terdiam. Perempuan itu bingung harus menjawab apa. Disatu sisi kalau ia tidak datang menemui teman-teman Nicholas ia merasa tidak sopan. Disisi lain kalau ia menemui teman-teman Nicholas rasanya sangat canggung apalagi ia sama sekali tidak akrab dengan mereka semua. "Hey! Melamun? Aku tidak menyukainya, honey." Nicholas mengusap pipi Khaira membuat perempuan itu tersadar. "Baiklah aku ikut." Jawab Khaira. Nicholas tersenyum. "Ayo." Pria itu menggenggam tangan Khaira, menarik perempuan itu lembut. . Suara bising yang tadi terdengar kini menghilang saat Nicholas dan Khaira datang. "Wow pengantin baru!" Seru Hans heboh. Nicholas dan Khaira duduk di sofa. Khaira memberikan senyuman pada teman-teman Nicholas dengan ramah. "Hey Khai, sudah usia berapa kandungan mu?" Tanya seorang lelaki yang sedang duduk dengan seorang perempuan disampingnya. Namanya Jason. Mata Khaira menangkap perempuan disamping Jason yang beberapa detik lalu memotretnya dan kini sedang memasukkan ponsel ke saku roknya. "Sekitar 4 minggu." Jawab Khaira. "Ya sekitar segitu. Soalnya Khaira belum check up ke dokter." Nicholas menyahut. "Aku tidak menyangka kau akan menikah, Nic." ucap perempuan disamping Jason. Greta namanya. Ia adalah kekasih Jason. "Begitupun aku." ucap Jason. "Kami memang sudah ditakdir kan." Jawab Nicholas santai sembari meneguk cola yang tadi dibawakan oleh asisten. "Aku yakin, Aidan pasti akan bunuh diri melihat orang yang ia sukai telah menikah dengan musuhnya." ucap Michael asal jeplak membuat Khaira dan Nicholas menatap Michael cepat. Khaira masih tidak percaya dengan perkataan Michael kalau Aidan menyukainya? Sejak kapan? Bahkan Khaira tidak pernah melihat sikap Aidan yang menunjukkan kalau lelaki itu menyukainya. Sedangkan Nicholas menatap marah Michael karena menyebut nama Aidan dan menyangkut-pautkan Khaira dengan Aidan yang merupakan musuhnya. Tangan Nicholas menaruh gelas sedikit kasar ke meja kaca menimbulkan suara yang memekakkan telinga."Apa yang kau katakan, Mic? Sudah ku peringatkan nama Aidan haram untuk disebutkan?" ucap Nicholas menahan amarah. Semua orang menatap Michael. Menyalahkan lelaki itu karena sudah sembaranyan berucap. Michael ciut saat melihat tatapan Nicholas yang menatapnya marah. "Sorry, Nic. Aku tidak bermaksud." ucap Michael lirih ketakutan sambil cengengesan. "Damn you!" Umpat Nicholas kesal. "Nic, kau tidak boleh berkata seperti itu tentang Aidan." Nicholas menatap tak percaya Khaira saat istrinya itu membela Aidan. "What the hell--" "Bagaimanapun Aidan adalah teman baikku. Kau jangan seperti itu Nic." Lanjut Khaira. "Teman baik? Saat kau tau kalau Aidan menyukai mu kau membelanya? Cih! Jadi kau juga menyukainya?" Nicholas menatap Khaira tajam. "Tidak bukan seperti itu. Aidan adalah teman baikku selama di kampus. Dan aku sebagai--" "Orang yang disukainya tidak terima! Iya, benar bukan?!" Potong Nicholas cepat dengan sedikit membentak. Rahang Nicholas mengetat. "Nic, kau jangan membentak istri mu--" "Lebih baik kalian semua pulang! CEPAT!" Bentak Nicholas membuat Audrey terdiam beserta yang lainnya. Mereka pun bangkit lalu melangkah pergi. Nicholas menatap Khaira tajam. Ia lalu bangkit dari duduknya lantas melenggang ke kamar meninggalkan Khaira sendiri. "Nic, bukan seperti itu. Kau jangan salah paham." Khaira mengejar Nicholas dan ia hampir saja tersandung namun masih bisa mengimbangi tubuhnya. "Nic!" Khaira menahan pintu yang hendak tertutup kemudian ia masuk lalu menghampiri Nicholas. Khaira menggenggam lengan Nicholas. "Kau jangan salah paham, Nic. Maksud ku, aku sebagai temannya dan dia sebagai teman baikku--" "Bullshit! Teman baik! Kau pasti menyukainya juga kan?" Nicholas menyentak kasar tangan Khaira membuat perempuan itu kaget. "Tidak Nic. Kau kenapa menjadi seperti ini--" "Ini semua karena mu! Kalau kau tidak membela Aidan aku tidak akan seperti ini!" Bentak Nicholas lalu melenggang keluar kamar. Khaira terduduk di kasur. Matanya yang berkaca-kaca itu kini air matanya menetes dengan sekali kedip. Hatinya sesak saat Nicholas membentaknya. Khaira mengusap air matanya lalu menarik napas dalam. Ia menyibakkan selimut lalu tidur. Semoga saja besok keadaan akan membaik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN