07.00 AM.
Khaira yang bangun lebih dulu dan sudah membersihkan tubuhnya pun bergerak untuk membangunkan Nicholas. Suaminya itu sangat tampan, tenang dan damai saat tidur pulas seperti ini.
"Nic...bangun sudah pagi." Khaira menggoyangkan pelan tubuh Nicholas.
Pria itu mengerang lalu membuka mata. Pertama yang ia lihat adalah wajah sedih Khaira. Nicholas bangkit lalu melenggang pergi tanpa berkata sepatahpun. Melihat itu, Khaira semakin sedih. Apa suaminya itu sangat marah sampai-sampai mendiamkannya?.
Beberapa menit kemudian, Nicholas keluar dari kamar mandi. Pria itu melangkah ke dalam walk in closet dan masih belum membuka suara membuat Khaira semakin dibuat sedih dan sesak.
Khaira menarik napas. Daripada terus-menerus dibuat sesak, perempuan itu bergerak untuk merapikan tempat tidur. Ekor mata Khaira melihat Nicholas keluar namun ia membiarkan. Suasana kamar hening tanpa seorangpun membuka suara.
Setelah selesai merapihkan tempat tidur, Khaira melangkah keluar kamar namun saat perempuan itu hendak membuka knop pintu, seseorang menarik tangan Khaira membuatnya terhenti.
Nicholas menatap Khaira datar dan detik berikutnya tersenyum lalu menarik Khaira untuk mendekat.
"I'm sorry..." Ujar Nicholas seperti berbisik. "Masalah tadi malam membuat aku naik darah dan berujung membentak mu. Sorry..."
Khaira tersenyum getir walaupun sebenarnya ia ingin menangis karena rasa sesak saat suaminya itu membentak dirinya masih ada ditambah lagi saat Nicholas mendiamkannya. Namun Khaira tidak boleh egois. Bagaimanapun Nicholas adalah suaminya.
"Menangislah," Ujar Nicholas yang paham dengan raut wajah Khaira. Pria itu mendekap Khaira ke dalam pelukannya. Mengusap lembut punggung Khaira.
Nicholas terkekeh kecil saat Khaira benar-benar menangis dipelukannya. Pria itu menghirup dalam puncak kepala Khaira.
"Sorry..." bisik Nicholas. Khaira melepaskan pelukannya.
"Aku juga minta maaf." Ujar Khaira diiringi sesenggukan.
"Sudah puas?" Tanya Nicholas seraya mengusap air mata di pipi Khaira. Perempuan itu tersenyum lalu mengangguk. "Ayo kita sarapan." Nicholas menggandeng Khaira menuju ke ruang makan.
"Morning ma..." Ujar Nicholas dan Khaira bersamaan. Mereka lantas duduk bersampingan.
"Morning." Jawab Heidy dengan senyuman lalu menggigit sandwich. "Nic, kau masih kuliah kan? Masa kuliah mu tinggal setengah semester lagi nanti setelah lulus, kamu akan langsung mama jadikan tangan kanan perusahaan." Lanjutnya.
"Iya aku masih. Tapi Khaira tidak."
Khaira menoleh menatap Nicholas. "Kenapa aku tidak?"
"Honey, of course you not. Kau sedang hamil."
"Tapi Nic--"
"No buts, honey. Ikuti apa kata ku okay." Ujar Nicholas seraya mengusap puncak kepala Khaira. Khaira pun menghela napas pasrah.
"Benar apa kata suami mu, sayang. Usia kehamilan kamu sekarang rentan keguguran jadi kamu harus selalu dirumah dan jangan banyak bergerak." Ujar Heidy diangguki Khaira patuh.
"Iya ma..."
....
"Mama berangkat, doakan ya semoga perusahaan kita menang tender." Suara Heidy membuat mereka menatap wanita baya itu yang tengah berjalan menghampiri mereka.
"Amin." Ujar Nicholas dan Khaira bersamaan.
"Ingat ya sayang, jangan banyak bergerak." Pesan Heidy sebelum keluar rumah. Khaira mengangguk sembari tersenyum.
"Kalau gitu aku juga berangkat...jangan lupa, minum susu." Ujar Nicholas dan diangguki Khaira patuh.
"Nic..." Panggil Khaira.
"Apa?" Tanyanya lembut.
Khaira meneguk saliva, "Aku ingin kuliah.." Lirihnya.
"No honey."
"Please Nic aku ingin kuliah... Lagipula hanya setengah semester lagi habis itu kelulusan." Rengek Khaira tanpa sadar, ia menggenggam tangan Nicholas.
Nicholas terdiam. Matanya melirik ke arah tangannya yang terasa hangat saat digenggam Khaira. Lalu beralih ke wajah Khaira.
"Khai dengar! Kau.sedang.hamil!" Ucap Nicholas penuh penekanan.
"Aku bisa menjaga diriku Nic!"
"Tidak! Tetap dirumah!"
"Aku bisa menjaga bayi ini kenapa kau tidak percaya?!" Kesal Khaira. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku bilang tidak!"
"Kumohon..aku ingin kuliah.." Ucap Khaira memohon.
Tatapan Nicholas berubah dingin. "Tidak Khai! Jangan buat aku marah!" Ucap Nicholas tegas.
Air mata Khaira tak bisa ditahan lagi. Ia berlari menaiki anak tangga bersama uneg-uneg yang ia pendam.
"Khai!" Teriak Nicholas. Ia menyugar rambut lalu mendengus.
Khaira membanting pintu sedikit kasar lalu duduk di tepi ranjang. Ia menangis. Kesal rasanya. Padahal hanya setengah semester lagi namun pria itu tidak mengizinkannya. Lagipula ia bisa menjaga diri kenapa sangat overprotective?
Pintu terbuka menampakkan Nicholas. Pria itu berjalan menghampiri Khaira.
Khaira memalingkan wajahnya saat merasakan guncangan di kasur sampingnya.
"Kenapa aku tidak mengizinkan mu kuliah? Karena aku khawatir dengan mu dan anak kita." Ucap Nicholas. "Aku takut terjadi sesuatu." Lanjutnya.
Hening.
"Stop crying, honey." Ucapnya lembut. Tangan kekar Nicholas membelai surai hitam milik Khaira. Namun segera ditepis oleh Khaira.
"Sana kuliah! Tidak perlu memikirkan aku lagipula kau senang jika melihat aku seperti ini!" Ketus Khaira tidak jelas.
"Apa maksud mu?"
"Kau senang jika melihat aku nangis! Ini yang akan membuat ku kenapa-napa!"
"Kenapa kau berbicara seperti itu? Tentu saja tidak!" Ucap Nicholas.
Khaira memutar bola mata jengah. "Kalau tidak, sekarang apa?!" Kesal Khaira.
Nicholas menarik tubuh Khaira ke dalam pelukannya.
"Lepaskan aku!"
"Kau boleh kuliah," Seketika mata Khaira langsung berbinar. "Tapi ada syaratnya."
"Syarat apa?" Tanya Khaira.
"Kau bisa menepatinya tidak? Jika tidak bisa, aku tidak mengizin--"
"Akan ku kabulkan." Ucap Khaira cepat tak sabaran.
Nicholas tersenyum jahil.
"Apa katakan cepat!"
"I wan't you tonight." Bisik Nicholas di telinga Khaira kemudian menggigit daun telinganya.
Khaira mengerang. Antara geli dan merinding. Ia tidak langsung menjawab, otaknya berputar kesana-sini untuk merangkai kata-kata. Namun...ia juga ingin kuliah.
"Akan ku kabulkan." Final Khaira. Ini demi kuliah.
Nicholas yang kepalang senang melepaskan pelukannya, tangannya menangkup kedua pipi Khaira lalu mencium bibir istrinya.
"Sekarang masih pagi!" Kesal Khaira saat pungutan bibirnya terlepas.
Nicholas nyengir kuda.
"Ayo berangkat!" Ucap Khaira girang.
////
Mobil Nicholas sudah terparkir. Sepasang suami istri itu kemudian keluar lalu berjalan beriringan memasuki kampus dengan tangan kekar Nicholas yang menggenggam tangan mungil Khaira.
Beberapa pasang mata menatap ke arah mereka, namun tak mereka hiraukan.
"Aku akan mengantar mu sampai gedung." Ucap Nicholas.
"Tapi nanti kau telat."
"Tidak masalah, aku akan menyogok dosen itu. Yang terpenting kau aman sampai tujuan." Ucap Nicholas.
"Ya baiklah." Ucap Khaira pasrah.
Saat dijalan, mereka bertemu dengan teman-teman Nicholas.
"Wassup man!" sapa Audrey lalu ia dan Nicholas tos ala pria. Begitupun dengan Hans, Michael.
"Hai Khaira, you look stunning today." Puji Audrey.
"Watch your mouth!" ucap Nicholas memperingati. Tidak ada yang boleh memuji Khaira seperti itu selain dirinya.
Audrey mengulum bibirnya. "Sorry."
"Sudah ada pawangnya, jadi kau tidak bisa menggoda Khaira." sahut Hans.
"Hell no! Aku tidak menggodanya, aku hanya memuji Khaira." jawab Audrey membela.
"Sstt stop! Kalian membuat kepalaku sakit."
Keduanya pun terdiam tidak bertengkar lagi.
"Nic, wanna come for camp tonight?" tawar Michael .
"Camp?"
"Yeah, kami akan mengadakan kemping. We're just chillin, mumpung sekarang musim semi."
-_-_-_-
Khaira saat ini sedang menyiapkan barang-barang untuk kemping. Ia dan Nicholas memutuskan untuk ikut.
"Huft, padahal aku ingin berduaan dengan mu malam ini." keluh Nicholas seraya membantu Khaira.
Khaira terkekeh. "Teman-teman mu merindukan mu, Nic. Jadi tidak apa-apa jika kau bersenang-senang dengan mereka."
"No without you."
Nicholas tersenyum lalu memakai tas yang sudah terisi barang-barang untuk kemping.
"Biarkan aku yang bawa." ucap Nicholas mengambil alih barang dari tangan Khaira. Namun, perempuan itu segera menahannya.
"Aku saja, ini ringan."
Nicholas menatap Khaira, lebih tepatnya pada bibir perempuan itu. Ahh.. ingin sekali Nicholas menciumnya, namun dirinya cukup tau kalau Khaira masih belum bisa menerimanya.
*
Beberapa menit dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai. Semuanya mulai mempersiapkan tenda dan berbagai barang lainnya.
"Hey, kau duduk saja. Biarkan Michael yang membantuku." Ucap Nicholas kepada Khaira yang hendak membantunya memasang tenda.
"It's okay, aku bisa."
"No, Khai. Kau sedang hamil, aku tidak ingin kau kelelahan."
"No, I'm not. Lagipula Michael sedang sibuk juga, Nic."
Nicholas menatap Khaira penuh khawatir, ia lalu menghela napasnya. "Okay, just be careful."
Khaira mengangguk lalu membantu Nicholas memasang tenda.
"Sepertinya, kita harus membeli kayu untuk api unggun. Karena kayu disini basah." Ucap Greta.
"Yap, good idea." sahut Audrey.
Meskipun musim semi, cuaca Amerika masih saja dingin dan gerimis.
Setelah selesai membangun tenda, yang lainnya bersiap untuk pergi membeli kayu bakar di sebuag toko tak jauh dari tempat kemping.
"Kalian pergi saja, aku akan menyusul." ucao Nicholas.
Yang lain mengangguk lalu pergi. Sementara Khaira menatap Nicholas dengan bingung.
"Kalau gitu aku ikut mereka." ucap Khaira.
Nicholas yang baru saja mendudukkan bokongnya ke tenda, dengan cepat berdiri dan mencekal tangan Khaira.
"No!"
"Kenapa?"
"Disini saja dengan ku. Kau sedang hamil, tidak boleh banyak bergerak."
"Tapi aku ingin ikut mereka. Aku ingin jalan-jalan, Nic."
"Khai, kandungan mu itu masih muda--"
"Terserah kau!" ucap Khaira acuh. Perempuan itu melepaskan cekalan tangan Nicholas lalu melenggang pergi.
"Khai--WHAT THE HELL!" ucap Nicholas tegas seraya menahan tubuh Khaira yang hendak terjatuh karena terpeleset.
Jantung Khaira berdetak cepat, tangannya mencengkram erat jaket Nicholas. Dirinya hampir saja terjatuh.
Nicholas menatap tanah yang basah lalu menatap tajam ke arah Khaira. "Itulah yang aku takutkan! Kenapa kau keras kepala sekali, Khai!!"
"Tidak bisakah kau mengikuti ucapan ku?! Lihat! Jika aku tidak ada, kau akan terjatuh! Dan itu sangat berbahaya untuk janin mu!"
Mata Khaira memanas, matanya pelahan berkaca-kaca.
"Sebentar lagi kau akan menjadi seorang ibu! Jaga kandungan mu! Jangan keras kepala! Turuti perintah ku!"
Nicholas menghela napasnya memandang wajah sedih sang istri lalu menuntun Khaira ke tenda.
Melihat teman-teman Nicholas kembali, Khaira masuk ke dalam tenda lalu menyembunyikan wajahnya dibalik selimut. Sementara Nicholas, menatap Khaira sejanak lalu menutup tenda. Membiarkan Khaira di dalam.
"Nic, dimana Khaira?" tanya Maddie--pacarnya Hans.
"She is in bad mood right now." jawab Nicholas lalu membantu yang lainnya.
_
Nicholas membuka penutup tenda dan melihat Khaira sedang menyeka air matanya. Nicholas masuk ke dalam tenda lalu menutupnya.
Melihat Nicholas mendekat, Khaira kembali menyembunyikan wajahnya dengan selimut.
"I'm sorry honey. Aku refleks memarahi mu karena aku terkejut dengan kejadian tadi. Aku hanya tidak ingin kau dan anak kita kenapa-napa. Hanya itu. Aku hanya ingin kalian berdua sehat dan baik-baik saja."
Khaira hanya diam, namun perempuan itu menangis dalam diam.
Tak ada pergerakan dari Khaira, Nicholas menarik tubuh sang istri lalu memeluknya. Membelai rambut hitam itu sesekali mengecupnya.
"I'm sorry Honey." Ibu jari Nicholas mengusap lembut pipi Khaira. "Ingin melihat gunung es? Teman-teman yang lainnya sudah kesana."
Khaira melepaskan diri dari pelukan Nicholas lalu mengangguk.
"Come on."