Ini namanya bagai makan buah simalakama. Haruskah Wendy pulang saja? Tapi tidak enak dan tidak sopan. Tapi jika dia tetap di sini, suasananya benar-benar canggung. Yuan mungkin tidak tahu kalau Pane tahu, tapi sayangnya Wendy tahu kalau Pane tahu. Wendy jadi tak enak pada kekasihnya itu. Kini mereka semua duduk di sofa dengan kondisi yang amat sangat canggung. Belum lagi Lintang yang terasa bersikap aneh bagi Wendy. Entah ada apa dengan kakak sepupunya itu. "Ini siapa, Wen?" tanya Pino, sahabat Lintang dan Yuan. "Hah, oh, ini Kak Faren.." Wendy menoleh pada laki-laki yang duduk di sebelahnya itu. "Pacar Wendy, Kak." Pino manggut-manggut. "Faren.." Pane mengenalkan namanya. "Pino, temennya Lintang." Pino tersenyum. Ia kemudian menyenggol lengan Yuan seolah menyuruh Yuan untuk ikut

