Restu Sang Papa

1025 Kata
Diego sudah tahu pasti mamanya akan bereaksi seperti ini, tapi ia juga tahu mamanya tak bisa melakukan apa-apa, terutama saat ini di mana hanya pernikahan inilah yang bisa menyelamatkan dan menstabilkan perusahaan. “Terserah! Yang jelas aku sudah menikah dan tidak ada satu orang pun yang bisa membatalkannya kecuali aku sendiri. Jadi, jangan coba-coba bermain trik denganku, Ma! Aku tak akan pernah menceraikan istri yang sangat aku cintai. Pikirkan saja untuk membuat pesta yang megah kalau Mama tidak mau malu di mata relasi kita!” tegas Diego. “Papa yang akan menyiapkan semua resepsi pernikahan kalian. Setidaknya kamu harus mengumumkan pada dunia kalau kamu sudah menikahi seorang wanita dan itu bisa membungkam semua rumor buruk tentang kamu,” timpal Martin menengahi. Ia akan membela putranya mati-matian, meskipun ia harus menentang keinginan istrinya. “Terima kasih, Pa. Terserah Papa mau bikin pesta yang gimana juga,” sahut Diego senang mendapatkan pembelaan. “Silakan saja! Mama tidak akan mau terlibat apalagi mempersiapkan pesta pernikahan yang tidak Mama setujui. Ingat, kalaupun Mama diam, itu demi perusahaan! Tapi, Demi Tuhan! Mama tidak akan pernah rela menerima dia sebagai menantu Mama. Mama berharap kalian akan segera berpisah setelah perusahaan stabil.” “Mama nggak boleh ngomong kayak gitu,” tegur Martin menyayangkan ucapan istrinya yang pasti sangat menyakiti hati menantunya. “Pernikahan itu bukan main-main, Ma.” “Masa bodoh! Pokoknya sampai kapan pun Mama tidak akan setuju. Meskipun kalian berdua mengemis di kaki Mama, Mama tetap tidak akan pernah menyetujui pernikahan ini,” pekik Amelia lantang, kemudian langsung masuk ke dalam kamar dan membanting pintunya sekuat tenaga, membuat Aurel refleks mengurut d**a. "Astaga, jahatnya mama mertua! Bisa jantungan aku kalo selalu berada dekat dengannya. Apa ini alasan suami sialanku ini mengajakku menikah dadakan tanpa persiapan? Dia pasti sudah tahu mamanya tak akan mungkin merestuiku jadi menantunya. Gila, ya! Ternyata orang kaya itu rata-rata memang memandang status. Kisah Cinderella yang bisa mendapatkan pangeran kaya itu bullshit belaka. Mana ada pria kaya yang mau sama wanita hina? Mana ada pula keluarga ningrat mau menerima menantu miskin, kan? Sial! Kenapa aku jadi terlibat kisah Cinderella, sih?" batin Aurel tak habis pikir. Martin merasa tidak enak hati pada Aurel. Ia segera menatap ke arah menantunya yang sekarang sedang menunduk lesu. Ia tahu persis apa yang dirasakan menantunya. Pasti menantunya benar-benar merasa tertekan saat ini. Kenapa istrinya tak mau menerima menantu secerdas dan secantik Aurel? Kenapa hanya status sosial yang diagungkan istrinya? Tampaknya ia harus mewejang istrinya habis-habisan nanti. “Aurel ...," panggil Martin lembut. Aurel mendongakkan kepalanya lalu menunduk hormat pada papa mertuanya, pemilik perusahaan tempat ia bekerja. “Iya, Pak Martin.” “Tidak usah panggil begitu lagi. Panggil saja Papa! Papa bukan atasan kamu lagi. Maafkan mama kamu, ya! Butuh waktu baginya untuk menerima kamu, tapi Papa yakin lambat laun Mama kamu pasti akan menerima kehadiran kamu. Papa akan membuka pikiran mama kamu pelan-pelan. Mama kamu hanya sedikit syok akibat pernikahan dadakan kalian.” Martin menenangkan menantunya lalu menoleh pada putranya. “Kamu juga, Diego. Jangan kamu anggap main-main pernikahan ini! Jangan mentang-mentang mama kamu menentang, kamu jadi menuruti kata-kata mama kamu untuk menceraikan istri kamu saat perusahaan sudah stabil! Papa akan marah kalau kamu melakukan itu. Pertahankan istri kamu karena Papa sangat menyukainya!” Aurel merasa terharu mendengar penuturan papa mertuanya. Ternyata papa mertuanya adalah orang yang baik dan bijak, jauh berbeda dengan mama mertuanya yang sudah terlihat jelas sifat jahatnya. Kenapa putranya tidak mewarisi sifat papanya? “Ah, iya juga? Suami gay-ku ini pasti mewarisi sifat mamanya yang jahat. Amit-amit dapat mama mertua modelan begitu! Untung nikah pura-pura,” batin Aurel bergidik ngeri. “Papa tenang aja! Aku belum gila menuruti kata-kata Mama," sahut Diego tegas. “Bagus, Papa pegang janji kamu! Istri kamu itu Papa yang memilihnya untuk mendampingi kamu selama ini dan Papa tahu sepak terjangnya menemani Manajer Indra memajukan perusahaan. Meskipun Papa tidak pernah melihat kegiatannya secara langsung, tapi Papa tahu apa saja yang dilakukannya untuk memajukan perusahaan kita. Dia adalah seorang sekretaris yang setia dan bisa diandalkan. Itulah kenapa Papa sangat menyukainya.” Aurel tak bisa berkata-kata. Ia lagi-lagi terharu mendengar pujian papa mertuanya padanya. Namun, hatinya juga mulai resah, membayangkan apa yang akan terjadi dalam beberapa bulan ke depan. Belum lagi ia harus menjelaskan pada mamanya. Ia sungguh tidak menyangka akan langsung diajak menikah hari ini secara dadakan sehingga ia belum sempat bercerita pada sang mama. Semoga mamanya belum melihat berita. Selain itu, ia juga harus bersiap menghadapi mama mertua jahat yang pasti akan bermain intrik untuk membuatnya segera bercerai dari suaminya. Bukannya dirinya suka menikah dengan suaminya tersebut, tapi setidaknya ia harus segera berkompromi untuk menangkal semua hal buruk yang terjadi khususnya setahun ke depan hingga pernikahan kontraknya berakhir. “Iya, Pa. Kalau gitu kami permisi. Aku harus menenangkan istriku. Terlalu banyak ketegangan yang dialaminya hari ini,” ucap Diego menarik pinggang istrinya, berpura-pura mesra di depan papanya. “Pulanglah, nanti Papa kabari lagi soal persiapan pesta resepsi kalian! Oh, ya, kamu dan istri kamu mau tinggal di mana? Di apartemen apa di mansion kamu?” “Kami mau tinggal apartemen, mengingat lokasinya yang cukup dekat dengan perusahaan. Aku dan istriku akan bekerja seperti biasa besok,” ujar Diego lalu tersenyum manis pada istrinya. “Ya, kan, Sayang?” Aurel terpaksa tersenyum, ikut bersandiwara meyakinkan papa mertuanya. “Iya, Pa. Kami akan langsung bekerja besok.” “Lho, kenapa nggak libur aja? Ambil cuti beberapa hari untuk berbulan madu!” Martin menawarkan. Diego panik. Ia tak mau ada bulan madu yang membuatnya terlibat berdua saja dengan Aurel tanpa asistennya. Ia tak mau itu terjadi. “Kayaknya nggak perlu, deh, Pa. Bagiku, serumah dengan istriku sudah membuatku bahagia. Lagipula kita harus meredam semua gosip murahan itu terlebih dahulu, kan?” Martin menggeleng tidak setuju. “Tidak bisa begitu, Diego. Setelah resepsi, kalian harus pergi berbulan madu. Biar Papa yang mengatur semuanya. Setidaknya seminggu dari pesta pernikahan kalian harus pergi bersenang-senang.” “Tapi, Pa ....” Martin menatap serius putranya lalu menegaskan keinginannya. “Pokoknya kalian harus pergi berbulan madu. Selain Papa ingin kalian bersenang-senang dan fokus membuatkan Papa cucu, ini juga bisa meredam semua rumor jelek tentang kamu. Jadi, jangan menolaknya lagi!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN