Rencana Konferensi Pers

1405 Kata
“Wah, saya nggak pernah menyangka orang kaya itu jauh lebih matre dibandingkan orang miskin, ya?” celetuk Aurel tak menyangka. Diego hanya melirik istrinya. Ia sejak tadi hanya fokus menatap jendela mobil, duduk berjauh-jauhan dari istrinya, benar-benar pusing memikirkan hidupnya ke depannya. CEO blasteran Italia itu bingung apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Apa ia harus tinggal dengan wanita cerewet ini dalam satu rumah tanpa kehadiran dua asistennya? Bagaimana mungkin juga ia mengajak dua asistennya tinggal bersamanya bersama istri kontraknya? Ini benar-benar membuatnya pusing. Ia sudah biasa dilayani oleh dua asistennya. Bahkan untuk makan dan minum pun asistennya yang akan melayaninya. Dirinya hidup bergelimang harta dan manja, tak bisa melakukan semuanya sendiri, selalu disiapkan. Apa ia harus menyuruh istri kontraknya menyiapkan semuanya untuknya? Yang benar saja? Yang ada ia akan sering emosi karena sepertinya istrinya ini selalu banyak tanya dan cerewet bukan main. “Dasar sialan! Kenapa susah banget, sih, komunikasi sama dia?” omel Aurel dalam hati. Aurel yang terus saja bicara sendirian, benar-benar kesal dan jengah melihat sikap acuh suaminya. Sejak pulang dari kejaran wartawan tadi, ia terus mengajukan pertanyaan, tapi tetap tidak dijawab dan itu benar-benar membuatnya geram. “Jadi, bagaimana selanjutnya, Pak? Setelah mengetahui betapa cerewet dan betapa gila status sosialnya mama anda, mana mungkin saya mau bercengkrama dengannya. Jangan pernah meminta saya untuk mengemis-ngemis dan mencari perhatian mama anda, ya!” teriak Aurel keras-keras agar suami sialannya itu menanggapi pertanyaannya. “Berisik! Nggak usah banyak ngomel dan jaga nada suara kamu! Lakukan saja semua yang aku perintahkan, tidak usah banyak tanya! Aku sedang pusing saat ini.” Aurel yang memang sudah terlalu lama menyimpan kesal, tanpa sadar melotot dan menaikkan nada suaranya lebih tinggi dari sebelumnya. “Apa anda pikir anda sendiri yang pusing? Saya juga pusing. Anda mengajak saya menikah tanpa memberitahukan saya kalau proses pernikahannya akan seperti ini dan sedadakan ini? Apa anda pikir mama saya sudah mengetahui semua ini. Saya pikir anda akan melamar saya baik-baik di depan beliau, Pak. Saya pikir kita butuh waktu beberapa minggu untuk mempersiapkan pernikahan. Nyatanya?” “Turunkan nada suaramu! Jangan kurang ajar padaku, ya! Lagian nggak usah pusing soal itu, kasih kasih tahu saja mama kamu lewat telepon! Kan, beres?” “Anda pikir Mama saya apa? Kalau dia syok gimana? Siapa yang akan membawanya ke rumah sakit?” “Jadi mau kamu apa?” balas Diego melotot tajam. “Saya mau pulang. Saya mau kasih tau mama.” “Heh, kamu sama mama kamu ‘kan nggak tidur serumah lagi? Mama kamu tinggal sendirian di rumahnya, kamu tinggal di apartemen. Jangan lebay, deh! Kita ini masih dikejar oleh wartawan. Pergi sendirian ke sana akan menimbulkan rumor baru, tahu kamu?” “Anda membuat semuanya jadi rumit, Pak. Seandainya anda tidak mengambil keputusan buru-buru, setidaknya kita bisa menikah sesuai dengan aturan negara dan adat di depan khalayak ramai, tidak terburu-buru seperti ini. Reputasi saya benar-benar sudah hancur. Mama saya juga pasti berpikir kalau saya hamil duluan, makanya menikah buru-buru begini.” “Jangan bikin kepalaku tambah pusing, ya! Ada banyak hal yang harus aku pikirkan. Jangan mendesakku melakukan hal ekstrem yang menyebabkan aku menjebloskan kamu ke penjara secepatnya.” “Terus saya harus bagaimana, Pak? Tidak mungkin saya tidak memberitahukan pada mama tentang pernikahan ini. Mama harus tahu dan mama tidak boleh tahu soal kontrak kita.” “Kenapa?” “Mama akan ikut menderita. Masa itu aja nggak ngerti, Pak?” sungut Aurel. “Sebaiknya kamu kasih tahu mama kamu yang sebenarnya karena aku nggak mau berpura-pura manis dan mesra di depan mama kamu. Yang harus berpura-pura hanya kamu, bukan aku.” Aurel memegangi pelipisnya, benar-benar sakit kepala menghadapi sikap kasar juga acuh dari atasannya. Apakah ia harus memberitahukan mamanya kalau ia hanya menikah kontrak? Apakah mamanya tidak akan kepikiran nanti? Namun, suaminya tak mau berpura-pura jadi suami sungguhan di depan mamanya. Bagaimana ini? “Kalau saya kasih tahu soal kontrak kita, mama pasti akan khawatir, Pak. Apalagi kalau saya bilang saya terpaksa menuruti anda menikah kontrak karena ancaman anda akan menjebloskan saya ke penjara.” Aurel tak sanggup berkata jujur pada sang mama. “Apa anda tidak punya solusi lain yang lebih baik agar saya tidak pusing, Pak?” “Solusinya cuma satu, kasih tahu mama kamu yang sesungguhnya. Kalau tidak, kamu masuk penjara,” tegas Diego lantang. “Astaga! Saya tidak tahu apakah keputusan saya menikah dengan anda adalah keputusan yang tepat?” Aurel tak habis pikir. “Apa kamu punya pilihan? Kamu nggak punya pilihan di sini. Yang berkuasa dan yang kaya yang akan menang. Jadi lebih baik kamu diam, turuti semua perintahku! Aku benar-benar tidak mau dibantah lagi, mengerti!” pungkas Diego kasar lalu memerintah supirnya. “Pak Min ....” “Siap, Bos!” “Putar haluan ke rumah mama dari sekretarisku!” titah Diego lantang. “Maaf, Bos. Rumah mama dari istri anda, maksud Bos.” “Tidak usah meralat ucapanku, ya! Apa kamu mau aku pecat?” bentak Diego garang. “Maaf, Bos.” Min menelan salivanya, menyesal telah meralat perkataan atasannya yang sedang marah. Min langsung memutar haluan ke arah Perumahan Arcandia menuju kediaman Sofie, mama dari Aurel. “Anda benar-benar sudah gila,” desis Aurel geram. “Diam kamu! Kamu juga akan aku buat gila kalau kamu terus membantah semua ucapanku. Aku harus memikirkan semuanya secara matang, jadi turuti semua kata-kataku dan jangan pernah membantahku lagi, Aurel Liana!” *** “Bos, apakah anda bisa mengadakan konferensi pers besok di perusahaan kita?” Diego baru saja sampai di kediaman mertuanya, sengaja belum turun dari mobil, menunggu kabar terbaru dari dua asistennya. Dan benar saja, Jim segera menghubunginya, menanyakan soal kesediaannya menghadiri konferensi pers besok siang. “Kalian mengaturnya besok, ya?” “Iya, Bos. Itu karena mereka terus mendesak. Kalau kita tidak melakukannya besok, mereka pasti akan menunggu di depan perusahaan dan akan terus mengikuti anda ke mana-mana. Apa anda mau melakukan Konferensi Pers itu, Bos?” “Kenapa kamu masih bertanya padaku? Kalau itu yang terbaik lakukan saja.” “Saya hanya mengonfirmasi, Bos.” “Mana, Jack?” tanya Diego ingin tahu. “Dia masih sibuk bernegosiasi dan menjelaskan sepintas tentang kisah cinta anda dan istri anda. Anda tenang saja, nanti kami akan mampir ke apartemen anda untuk briefing apa-apa saja yang harus anda jawab ketika konferensi pers nanti.” “Asal jangan terlalu mengada-ngada, ya! Aku tidak mau terlalu berlebihan dengan sekretarisku.” “Nanti kita bicarakan lagi, Bos. Oh, iya, mulai malam ini kami nggak tidur di rumah anda lagi, kan, Bos?” “Itu yang bikin aku pusing. Siapa yang mau melayaniku, mengantarkan sarapanku, menungguiku plus melayaniku di meja makan serta mengurus laundryku, mengatur semuanya untukku, dan mengawasi pekerjaan ART-ku. Tidak mungkin aku menyuruh dia ‘kan?” desah Diego stres. “Akan aneh kalau kami menginap di rumah anda, Bos. Awak media pasti masih akan tetap curiga dan berasumsi kalau istri anda hanya dijadikan sebagai alat untuk meredam gosip yang sedang beredar. Kalau menurut saya, sebaiknya kami tidak menginap lagi, bahkan tidak menginjak apartemen anda lagi. Semua urusan kerja sebaiknya dikerjakan di kantor saja di mana ruangan anda cukup transparan, sehingga tidak akan ada lagi gosip yang berhembus. Gimana, Bos?” “Apa di sini aku punya pilihan lain?” “Tidak punya, Bos. Karena saat ini anda benar-benar menjadi sorotan, terutama ketika anda sudah memiliki istri. Bukan tidak mungkin akan ada mata-mata yang menguntit keseharian anda dengan istri anda. Jadi, sebaiknya anda memang harus benar-benar pura-pura menjadi seorang suami yang begitu mencintai istri anda di kantor seharian penuh.” “Astaga, itu benar-benar melelahkan!” Diego benar-benar frustrasi sekarang. “Tidak ada jalan lain, Bos. Orang-orang yang iri pada anda pasti akan mencari celah. Kalau anda sampai berbuat kasar, memarahi istri anda di depan umum dan sampai tertangkap kamera, maka semua sandiwara anda akan hancur berantakan.” Diego kembali memegangi pelipisnya yang terus saja berdenyut seharian ini seraya berpikir ulang, apakah semua yang ia lakukan ini sudah tepat. Apakah itu tidak salah jalan? Tidakkah ini akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri sama seperti ini sama seperti yang dikatakan oleh dua asistennya? Namun, apa lagi yang bisa ia lakukan selain menjalani semuanya karena semuanya sudah terlanjur terjadi. “Baiklah, aku mempercayakan semuanya pada kalian berdua. Tegur aku kalau aku melakukan kesalahan! Aku mempercayakan hidup dan nasibku setahun ke depan pada kalian berdua. Setelah semua urusanku dengan mertuaku selesai, aku akan memberitahu kalian untuk menemuiku di tempat yang akan aku tentukan nanti. Paham!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN