bc

Surga Semu Pernikahan Tuan Arga

book_age18+
1
IKUTI
1K
BACA
revenge
love-triangle
drama
tragedy
like
intro-logo
Uraian

Bagi Kalila, menikah dengan Arga Adhitama adalah impian terindah yang berubah menjadi neraka hidup. Ia memberikan seluruh jiwa dan raga, percaya pada janji setia pria itu, tanpa sadar ternyata ada rencana di balik manisnya sikap suaminya yang telah disusun bertahun-tahun.

Apa sebenarnya yang Arga rencanakan dengan menikahi Kalila? Bagaimana jika rahasia tak terduga itu sampai diketahui Kalila? Dan benarkah tak ada cinta di hati Arga untuk istrinya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Malam Pengantin yang Penuh Dusta
Udara di kamar pengantin mewah itu terasa panas, berat, dan dipenuhi aroma mawar segar bercampur wangi tubuh yang memabukkan. Cahaya lilin besar yang tersusun rapi menari di permukaan kulit mereka, melemparkan bayangan lembut di atas seprai sutra berwarna krem. Arga menekan tubuh Kaila perlahan ke atas kasur, tatapannya tajam menembus ke dalam manik mata wanita itu, seolah ingin menelannya bulat-bulat. Namun di balik kilatan gairah yang membara, tersembunyi kilatan amarah dingin yang tidak bisa dibaca oleh Kalila yang masih terbuai bahagia. "Kamu milikku sekarang, Kalila," bisiknya dengan suara serak berat, bibirnya menyapu lembut telinga Kalila hingga membuat seluruh tubuh wanita itu merinding. "Malam ini kamu milikku sepenuhnya. Tidak ada lagi siapa pun yang boleh memilikimu selain aku." Tangannya yang besar dan hangat merambat perlahan, menandai setiap inci kulit Kalila dengan sentuhan yang penuh kepemilikan mutlak. Ciumannya datang dengan dahsyat, memabukkan, menuntut, dan menelan seluruh napas Kalila. "Jangan khawatir, Sayang. Karena aku hanya akan menjadi milikmu seorang. Tidak akan ada laki-laki mana pun yang bisa menggantikan kamu di hatiku." Gadis itu merangkul leher Arga erat, memejamkan mata, menyerahkan segalanya dengan tulus. Baginya, sentuhan ini adalah bukti cinta sejati, janji bahagia yang akan mereka bangun bersama selamanya. Ia tidak tahu, di balik setiap sentuhan itu, Arga justru sedang menghitung mundur. Menghitung waktu yang dibutuhkannya untuk menghancurkan segala hal yang paling berharga bagi keluarga wanita yang kini memeluknya dengan penuh percaya itu. "Arga... ahh... aku sangat menginginkan sentuhan ini," desah Kalila pelan, air mata bahagia menetes di sudut matanya saat Arga menciumnya lebih dalam lagi. "Apa kamu menyukai ini, Sayang?" tanya Arga pelan. "Malam ini, tubuhnya telah resmi menjadi milikku." Arga terus mencium lehernya, lalu ciuman itu turun ke d**a Kalila, hingga membuat Kalila mendesah nikmat. "Ahhh... Arga... lakukan apa pun yang kamu mau. Sentuh dan cumbu aku, ini sangat nikmat Arga," desah Kalila di sela sentuhan Arga. "Aku sangat mencintaimu. Terima kasih karena kamu telah memilihku untuk menjadi pendamping hidupmu." Arga terdiam sejenak, ia menatap wajah Kalila yang berseri dalam kelembutan, jemarinya mengusap pipi wanita itu dengan gerakan yang terasa begitu lembut, bahkan oleh dirinya sendiri. Ada sesak yang tidak ia kenal sesaat di dadanya, namun ia segera menepisnya kasar. Ia hanyalah bagian dari rencana, ia tidak boleh jujur. Tidak boleh. "Aku yang seharunya berterima kasih," jawabnya pelan, nada suaranya tetap tenang dan memikat. Menyembunyikan badai yang mengamuk di dalam hatinya. "Kamu adalah hadiah terindah yang pernah aku temukan, Kalila." Kata-kata itu manis seperti madu, namun rasanya pahit seperti racun di lidahnya sendiri. Malam itu berlanjut dalam kehangatan yang memabukkan. Arga memilikinya sepenuhnya, dengan gairah yang tidak bisa disembunyikan. Karena tubuhnya memang menginginkan wanita ini, meski hatinya masih tertutup rapat oleh dinding kebencian dan dendam. Namun bagi Arga, ini hanyalah permulaan dari pembayaran yang harus diterima keluarga Anindya atas apa yang telah mereka lakukan bertahun-tahun silam. Saat fajar mulai menyingsing, menyelinap masuk lewat celah tirai jendela, Kalila tertidur pulas dalam pelukan Arga. Wajahnya terlihat damai, masih tersenyum samar seolah bermimpi indah. Arga bangkit perlahan, berusaha tidak membangunkannya. Ia duduk di tepi ranjang, menatap punggung Kalila yang terlihat rapuh di balik selimut. Tangannya terulur sejenak ingin menyentuh rambut panjang itu, namun ia menariknya kembali dengan kasar. Ia bangkit berdiri, meraih pakaiannya dan mengenakannya kembali dengan gerakan cepat. Langkah kakinya membawa ia menuju balkon terbuka, tempat Dimas sudah menunggunya sejak tadi. "Apa semuanya berjalan sesuai rencana kita?" tanya Dimas, menatap wajah sahabatnya yang tampak dingin kembali. Arga menatap kota yang mulai terang, wajahnya terlihat begitu dingin. "Dia sangat percaya padaku sepenuhnya, bahkan dia menyerahkan segalanya tanpa ada rasa curiga sedikit pun." "Dan kamu, bagaimana?" tanya Dimas. "Apa kamu terlihat baik-baik saja?" Arga tertawa kecil, namun tawanya sama sekali tidak terdengar gembira. "Tenang saja, aku akan baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku. Semakin dia percaya padaku, maka semakin mudah bagiku untuk menghancurkan ayahnya. Dan semakin cepat untuk aku bisa melunasi semua dendam ini." "Tapi kamu tahu, Arga. Apa yang kamu lakukan ini akan sangat menyakitkan baginya," ucap Dimas merasa ragu. "Dia sama sekali tidak bersalah atas apa yang terjadi di masa lalu." "Siapa yang peduli?" potong Arga dingin, matanya menatap tajam ke arah kamar di mana Kaila masih terlelap. "Keluarganya sudah menghancurkan hidupku, bahkan menghancurkan keluargaku juga. Maka mereka harus membayarnya. Dan Kalila... dia adalah cara terbaik untuk membuat ayahnya merasakan sakit yang sama persis seperti yang aku rasakan dulu." Dimas menghela napas panjang, tidak sanggup membantah lagi. Ia tahu betapa dalamnya luka yang dibawa Arga. Namun melihat bagaimana wanita di dalam sana begitu tulus mencintai sahabatnya, ia pun merasakan kecemasan yang tidak bisa dijelaskan. Di dalam kamar, Kalila tiba-tiba membuka matanya. Ia terbangun karena merasakan kekosongan di sampingnya. Kaila bangkit perlahan, menyelimuti tubuhnya, lalu berjalan mendekati pintu balkon yang sedikit terbuka. Setiap kata yang terucap di sana terdengar jelas hingga ke telinganya. "Setelah aku menghancurkan ayahnya, aku akan membuangnya. Bagiku dia hanyalah sebuah alat." Dunia Kalila seakan runtuh, kakinya terasa lemas, napasnya tertahan di tenggorokannya. Senyum bahagia yang sempat menghiasi wajahnya lenyap seketika, digantikan oleh kekosongan yang dingin dan menyakitkan. Arga Adhitama, pria yang baru saja bersumpah mencintainya, pria yang memeluknya dengan penuh kehangatan semalam, ternyata hanya memandangnya sebagai alat. Pernikahan ini hanyalah sandiwara, cinta yang ia percayai sepenuhnya hanyalah kebohongan yang disusun rapi. Arga berbalik seketika seolah merasakan kehadiran orang lain. Ia melihat Kaila berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat pasi, matanya memerah menahan air mata yang tidak kunjung jatuh. Untuk beberapa detik, Arga terpaku. Ada rasa bersalah yang menyelinap masuk, namun ia segera menepisnya. Arga memasang kembali topeng dinginnya, menatap wanita itu dengan sorot mata yang tidak terbaca. Kalila menatapnya lama, menatap pria yang baru saja menjadi segalanya baginya. Namun kini, semua itu terasa seperti mimpi buruk yang tidak akan pernah berakhir. "Jadi... semua ini hanya sebuah kebohongan?" suaranya bergetar hebat, hampir tidak terdengar. Arga tidak menjawab, ia hanya diam membiarkan keheningan itu menjawab segalanya. Dan diamnya itu lebih menyakitkan daripada ribuan kata-kata kejam sekalipun. Malam pengantin yang ia impikan ternyata hanyalah permulaan dari neraka yang telah disiapkan khusus untuknya. Dan cinta yang ia berikan dengan tulus, ternyata harus dibayar dengan pengkhianatan yang tidak termaafkan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
772.7K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.9M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
996.6K
bc

A Warrior's Second Chance

read
369.5K
bc

Not just, the Beta

read
354.1K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook