"OMFG Al! Sumpah ya, lo beneran rada miring bbie." celetuk Luna, teman sepergengan Alea yang rada centil, seraya bergeleng.
Alea menoleh dan tersenyum bangga. Membiarkan rambutnya di bleach wash oleh salah satu pegawai salon di salah satu salon kecantikan favorit ketiga cewek cantik itu.
"Kita gak nyangka aja gitu lo berani nyium Saga di depan umum." Kali ini Anggi, yang paling adorable memberikan komentar. Diangguki setuju oleh Luna.
"Btw lo tau gak sih, kalo cowok yang lo cium tadi siang itu cowok yang lagi ditaksir sama Ayana?"
Alea langsung menoleh cepat. Memastikan kembali kalau ia tidak salah dengar. "Masa iya?"
Anggi mengangguk yakin. "Udah banyak kali yang gosipin itu. Makanya gue sempet kaget pas tau dia ngerebut Gavin dari lo." Anggi menggeleng tidak suka. "She's so b***h, dua-duanya kok pengen diembat."
Luna mengangguk menyetujui sambil berdeham. "Ikutan gedek gue Gavin lebih ngebelain itu cewek daripada lo, Al."
Alea hanya bungkam. Teringat kembali kejadian itu membuat hatinya terasa diremas-remas.
"Tampangnya emang polos sih, tapi munafik." ucap Luna sarkastik dengan gaya bicara centilnya yang khas.
"Tapi gue rasa, dia masih suka sama Saga deh, Al. Keliatan aja gitu mukanya langsung murung pas lo nyium Saga di depan umum."
Mendengar itu tiba-tiba saja sudut bibir Alea terangkat. Menarik smirk devilnya. Baru saja mendapatkan ide brilian untuk membalas dendam kepada Ayana dan Gavin. Sekaligus.
"Gue udah tau apa yang harus gue lakuin buat balas dendam ke mereka." Alea menghentikan ucapannya sejenak, melirik kedua temannya yang tengah menunggu kalimat selanjutnya sambil tersenyum licik.
"Gue bakalan gunain Saga sebagai media balas dendam gue nanti. Gimana? Cemerlang kan?"
Saga merasa risih ketika mendapat tatapan penuh selidik dari setiap orang yang ia temui sepanjang koridor pagi ini.
Memangnya apa yang salah darinya? Ia masih memakai seragam yang lengkap, rapi pula. Ia juga memakai sepatu, tidak memakai sendal bulu-bulu milik Dara-kembarannya. Dan ia juga membawa tas, bukannya tas koper yang bisa di dorong itu kayak anak Paud.
Lalu apa yang aneh?
"Wes, gewla!" Seseorang tiba-tiba merangkul pundaknya ketika cowok tinggi itu hampir sampai di depan kelas.
Saga menoleh, tenyata Zian pelakunya. "Jangan sentuh-sentuh, risih." tukas Saga seraya menghempas tangan Zian.
"So, how's it feelin dude?" tanya Zian menggoda sambil menaik-naikkan alisnya.
Saga meletakkan tasnya di bangku setelah masuk ke dalam kelas. "Hah? Apaan?"
"Gosah sok polos jing," Zian menoyor bahu Saga. "Jadi gimana rasanya kena cium sama cewek paling cantik sesekolahan?" Zian kembali menaik-naikkan alisnya, menatap Saga penuh selidik.
Kali ini Saga yang menaikkan sebelah alis heran. "Tau darimana?"
"Aelah si g****k. Lu kira gue kudet kek elu apa? Satu sekolahan udah pada tau malah!"
Jadi ini yang membuat orang-orang terus memperhatikannya aneh. Kembaran perempuannya pun turut bertanya hal yang sama. Saga pikir tidak banyak yang tau, tapi ternyata banyak.
Kelopak mata Saga refleks terbuka lebar. "Semuanya? Guru juga?" Saga menjatuhkan bahu lemas saat duduk di bangkunya. "Nilai sikap gue bisa berkurang ini."
"Eh si k*****t. Masiiih aja mikirin nilai." cibir Zian geram seraya meminjam pr Saga untuk menyalinnya.
"Gini nih, tipe orang yang bilangnya bodo amat eh tapi malah diembat. Sejak kapan lo pacaran sama Alea coeg?"
Saga mengerutkan wajah bingung. "Siapa yang pacaran? Kagak lah
tai. Masih banyak hal yang lebih penting daripada pacaran."
"Kayak belajar misalnya." cibir Zian memotong. Mengikuti gaya bicara Saga. "Basi mah semboyan lo."
Zian diam sejenak, meminjam pena Saga sebentar karena tinta penanya sudah habis. "Gak usah boong dah lo intinya. Si Alea bahkan udah konfirmasi kalau kalian beneran jadian."
Saga semakin membelalakkan mata. Itu jelas tidak benar. Memang benar kemaren ia sempat membantu cewek itu. Tapi bukan berarti ia mengajaknya berpacaran.
"Gila ya tu cewek. Buat double sensasi dalam satu hari. Jadi makin ngepens gue."
Cowok berambut hitam agak acak-acakan itu tiba-tiba bangkit berdiri. Membuat Zian spontan menoleh ke arahnya bingung.
"Mau kemana lo nyuk?"
Saga melirik Zian sekilas sebelum menjawab. "Gue mau memperbaiki situasi."
Tawa Alea dan kedua anggota gengnya perlahan memudar tatkala Saga mendekatinya. Melihat Saga, Anggi dan Luna memilih pergi. Membiarkan dua orang itu berbicara berdua saja.
"Kenapa lo ngakuin ke semua orang kalo kita pacaran?" sembur Saga to the point.
"Kenapa? Ada masalah? Lagian lo sendiri yang bilang kalo gue cewek lo kemaren." jawab Alea dengan dagunya yang diangkat angkuh.
Nada bicaranya agak ngegas, membuat Saga refleks menghela nafas. Jika kedua belah pihak sama-sama tidak bisa mengontrol diri, situasinya tidak akan membaik.
"Gue ngomong kayak gitu karena mau bantuin lo doang. Gak ada niatan ngajak lo pacaran."
"I dont fuckin mind. Kita pacaran gak pacaran gue tetep bakalan diam aja mau orang nganggepnya kayak gimana." acuh Alea sambil bersedekap.
"Kenapa gitu?"
Alea melirik ke arah lapangan. Sebenarnya Alea cukup sadar kalau Gavin diam-diam terus memperhatikan mereka berdua. Karena itu Alea menaikkan sebelah sudut bibirnya licik.
"Karena gue berniat buat balas dendam sama mantan gue dan si p***n itu. Gue gak bakalan biarin mereka bahagia gitu aja."
Saga menatap Alea datar. Jujur dia tidak suka dibawa-bawa dalam masalah orang lain. Apa hubungannya dengan dirinya.
"Gue gak setuju."
"Gue gak butuh persetujuan lo atau nggak. I'm Queenella. Gue bakal ngelakuin apapun yang gue ingin lakuin. Dan gue gak peduli sama pendapat orang lain." balas Alea penuh penekanan. Menebar aura horor diantara mereka.
Saga hanya menatap Alea sinis tanpa suara. Sama horornya. "Terserah lo lah."
Saga lantas berbalik, memilih untuk kembali ke kelasnya saja. Tepat pula disaat itu, Alea melihat adanya Ayana di sudut koridor. Merasa waktu yang pas, Alea langsung tersenyum licik sebelum kemudian menarik lengan Saga untuk kembali menghadapnya.
"Apa lag-" Alea segera membungkam mulut Saga dengan bibirnya. Membuat Saga membulatkan bola matanya kaget.
Cewek angkuh itu, mencuri ciumannya lagi.