9-Deal

969 Kata
"Bokap lo care ya, Ga." Saga mendudukkan diri di samping Alea sambil membawa dua buah oreo cheese cake berukuran sedang. Saat ini mereka tengah duduk di pinggir kolam renang, bermain air sejenak setelah makan. "Itu pujian atau sindiran nih?" Alea spontan tertawa. Mengayunkan bagian telapak kakinya yang terendam di dalam air. "Dua-duanya." cengir cewek itu kemudian. "Tapi beruntung sih punya bokap kayak lo. Walaupun rada protect, tapi dia tipikal bokap yang sayang banget sama anaknya." "Bokap sayangan sama nyokap lah." sela Saga polos. Cowok itu lalu menyodorkan cake bawaannya barusan. "Nih, dessert." "Yaelah, kagak romantis amat sih lu mas. Suapin dong!" Saga memutar bola mata malas. "Mager. Kalo mau, makan sendiri." Alea mendecak sebal. Lalu memasang puppy eyes polos dengan wajah-wajah memelas nan memiriskan. Saga mendesah pasrah. Mau tidak mau, dia menuruti keinginan cewek itu juga pada akhirnya. "Nah gitu dong! Sekali-kali jadi pacar yang baik." Alea mengunyah dessert suapan Saga sambil tersenyum menang. Tidak peduli seberapa sering ia merasa menang atau selalu bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan. Alea tetap tidak pernah bisa mendapatkan satu hal, meskipun sudah mencoba berbagai macam ulah sekalipun. Kenyataannya, dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang yang adil dari Ayahnya. Hanya itu yang belum bisa ia dapatkan sampai saat ini. "Eh, Lo kapan pulangnya?" Alea mendecak sebal sambil menoleh ke samping sisi. "Nanyanya itu mulu. Pengen cepet-cepet ngusir gue lo ya?" Saga mendengus sabar. "Gue cuma gak mau lo pulang kemaleman. Bahaya." Alea hanya menatap cowok yang memakai kaus putih itu tanpa berkomentar. Cowok disampingnya ini memang baik. Bahkan terlalu baik untuk disandingkan dengan titisan ratu iblis seperti dia. "Yaudah, kalo gitu biarin gue nginep. Jadinya kita kan bisa lebih lama berduaan." goda Alea iseng sambil mengedipkan sebelah matanya. Saga langsung bergidik ngeri. Buru-buru mengambil jarak dari cewek itu. Kalau-kalau Alea hendak berbuat macam-macam kan? "Lagi pada asik ya? Mama numpang ganggu ya," entah sejak kapan Amira sudah berada di pinggir kolam. Ikut duduk di antara keduanya. "Gimana oreocheesecakenya? Enak gak? Mau tante bungkusin buat bawa pulang?" Alea langsung menyergah. "Ih gak usah tante calon bunda mertua! Entar repot." Saga langsung menahan tawanya begitu mendengar panggilan Alea untuk mamanya. Sejak kapan cewek itu mulai memanggil demikian? "Yakin nih? Nggak mau? Bener?" "Iya tante calon bunda mertua. Makasih udah nawarin. Dessertnya manis kok, kayak yang buat." gombal Alea sambil tersenyum sok akrab. Saga hanya geleng-geleng kepala. Bahkan mamanya pun juga digombali oleh cewek itu. Dasar Alea. "Bagus deh kalo manis. Tante beli di deket klinik tante tadi." Saga hampir saja menumpahkan tawanya. Apalagi begitu melihat perubahan raut wajah Alea setelahnya. Seperti menahan malu, tapi tidak tahu malu. Cewek itu lantas menyampirkam rambutnya saja sambil cengengesan tidak jelas kemudian. "Kamu pulangnya diantarin Saga aja ya!" Ujaran Amira barusan sukses membuat Saga langsung melotot. "Iya! Alea setuju banget tante calon bunda mertua!" "Mobil lo gimana coi?" ucap Saga mensinyalir. "Alea bawa mobil sendiri, ma." Amira berpikir sejenak. "Yaudah, mobil Alea ditinggal aja. Kamu anterin Alea pake mobil kita." Saga menaikkan alis bingung, tidak mengerti. "Lagian kan besok kalian pergi sekolah bareng? Nah besok pagi Saga yang jemput Alea, sekalian balikin mobilnya." tutur Amira seolah baru saja mengusulkan suatu ide yang brilian. Disambut dengan Alea yang langsung mengangguk bersemangat dan tersenyum licik. Saga hanya bisa menghela nafasnya pasrah kemudian. Astaga. Entah sejak kapan mamanya jadi berpihak kepada cewek itu? Alea mengotak-ngatik radio mobil. Membesarkan volumenya setelah kemudian mendapatkan channel radio yang cewek itu inginkan. Saga mengerutkan wajahnya, sedikit terganggu karena berisik. "Kurang gede volumenya, Al." sarkas cowok itu ketus. "He?" Alea melirik sekilas. Lalu menggerakkan tangannya memutar tombol volume. Bukannya dikecilkan, cewek itu malah makin memperbesar volumenya. "Nih udah di gedein." Saga mendengus, ternyata sesusah ini berbicara dengan cewek itu. Alhasil cowok itu juga lah yang mengecilkan volume radio. "Dih lo mah! Lagi asik degem-degem gue, malah dikecilin." sungut Alea sebal. Seperti biasa, Saga tak ingin menggubris dan hanya fokus mengendarai mobil. Kalau dilihat-lihat, Saga sangat menarik meskipun hanya dilihat dari samping. Aura kegantengannya pun tetap keluar meski dia hanya pakai kaos oblong dengan celana pendek yang sudah robek-robek di bagian bawahnya. Ketika melihat cowok itu yang tampak fokus dengan wajah seriusnya, membuat sudut bibir Alea terangkat naik. Semakin bersemangat untuk mengusik cowok itu. Tangan cewek itu lantas menyentuh ujung lengan Saga. Merambat naik kemudian, membuat Saga spontan menoleh kaget ke arahnya. "Woi! Lo mau ngapain?" "Dih, orang gue cuma pengen tau bahan kaos lo doang kok!" Untung saja lampu merah sedang menyala, jadi Saga bisa memberhentikan mobilnya. Hitung-hitung waspada agar tidak terjadi sesuatu di jalan karena ulah cewek itu. "You literally was insane." "Thank you." balas Alea sambil tersenyum puas. "Lagian lo itu gak asik banget sih. Diem-diem bae kek manekin challenge. Ajak gue ngobrol kek." sambung Alea menggerutu. Saga pura-pura tidak mendengar saja. Alea mengerucutkan bibir sebal. "Ga, Lo itu bisa olahraga gak sih? Gue gak pernah ngeliat elo deh main di lapangan." "Jam olahraga kita beda." Benar juga sih. "Ya tapi masa lo gak pernah keliatan sih? Paling enggak main basket bareng senior kek, adek kelas kek. Atau futsal gitu." Saga mulai menjalankan mobilnya setelah lampu sudah kembali hijau. "Jangan-jangan, lo gak pande main ya!" tuding Alea tiba-tiba. "Dih, kagaklah!" Sergah Saga tidak terima. "Gue bisa main panahan. Gue juga bisa basket kok." "Masa? Buktiin dong!" Saga melirik Alea sekilas. "Oke." ucap cowok itu agak tidak yakin. "Oke." Alea melipat tangan di perut sambil tersenyum devil. "I dare you. Lo harus menang main basket besok. Kalo lo menang, gue janji deh bakalan turutin satu permintaan elo." "Lima." Alea menoleh kaget. "Enggak! Dua deh." "Enggak. Empat!" "Dih! Oke, oke Tiga. TIGA. DEAL. Gak mau tau." Saga tersenyum setuju. "Deal." "Tapi kalo lo kalah," Alea tersenyum miring. Mencondongkan tubuhnya agak mendekat dengan telinga Saga, sekaligus menggoda iseng cowok itu. "Lo harus gak boleh nolak apapun yang gue inginkan. Deal?" Saga berdiam sejenak, sebelum kemudian mengangguk pasti. "Deal."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN