Esoknya harinya, rumah sakit. Kedua mataku terbuka perlahan, mengabur dan terasa tidak nyata. Langit-langit asing menjadi pemandangan pertama yang menghiasi pandanganku, dan bau desinfektan menusuk hidung membuatku mengernyitkan kening tak senang. “Ibu...” gumamku serak, tidak yakin dengan apa yang kukatakan sendiri. “Oh! Putriku! Putriku akhirnya tersadar!” suara ibuku terdengar panik, tapi diliputi kebahagaiaan dan rasa lega di sana. Ketika aku menoleh pelan ke kiri, ibu dan beberapa orang sudah mendekatiku dengan tergesa-gesa. “Bu, hati-hati dengan lehernya!” tegur suara ayahku. Loh? Ayah sudah pulang lagi? batinku sedikit heran. Samar-samar, kulihat seseorang maju menghindari ke arah lain, lalu berteriak: “DOKTER! DOKTER! DIA SUDAH SADAR!” Ah.... Aku

