bc

My Ex Husband My Blind Boss

book_age18+
5
IKUTI
1K
BACA
billionaire
second chance
friends to lovers
arrogant
blue collar
drama
bxg
office/work place
like
intro-logo
Uraian

"Mantan suamiku bukan hanya hatinya yang lupa ... tapi matanya juga!"

*

*

Tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang kedua, Prita Nafisa Haura menerima kado paling pahit dalam hidupnya: selembar surat talak dari Faiz Qadir Zahir. Prita dibuang bagai sampah, dihina mandul oleh ibu mertuanya, dan disingkirkan demi Jelita, mantan kekasih Faiz yang modis. Diusir dalam kondisi dihina, Prita pergi membawa rahasia besar yang ia temukan sebulan kemudian—sebuah titik kecil di dalam rahimnya. Demi melindungi darah dagingnya dari keserakahan Keluarga Zahir, Prita memilih menghilang dan merantau ke Jakarta.

*

*

Lima tahun berlalu. Prita bukan lagi wanita gendut, kusam, dan penurut yang bisa diinjak-injak. Ia telah menjelma menjadi 'Nafisa'—seorang sekretaris eksekutif yang sangat cantik, anggun, dan cerdas di sebuah perusahaan ritel besar di Jakarta. Hidupnya tenang bersama Kenzi, putra kecilnya yang tampan.

*

*

Namun, badai kembali datang saat perusahaan tempatnya bekerja diakuisisi oleh Grup Zahir. Faiz kembali hadir sebagai bos barunya. Lucunya, Faiz tidak mengenali wanita berkelas di hadapannya adalah mantan istri yang dulu ia campakkan. Di bawah pengawasan Faiz yang arogan, Prita harus memakai topeng profesional sedingin es, bertarung ego di meja kerja, sekaligus mati-matian menyembunyikan keberadaan putranya. Ketika sang bos yang 'buta' mulai terikat oleh pesona dan kecerdasan 'Nafisa', akankah kebenaran masa lalu menghancurkan keangkuhannya? Dan mampukan Prita mempertahankan dinding hatinya saat sang mantan suami mulai mengemis kesempatan kedua?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Kado Pernikahan Yang Paling Pahit
"Apa karena aku mandul, Mas Faiz menalakku? Apa karena Mas Faiz ada wanita lain, makanya ingin sekali menceraikan aku? Katakan saja, Mas! Aku ikhlas ... karena Mas Faiz selama ini memang terpaksa menikahi aku!" Suara Prita Nafisa Haura bergetar hebat. Air mata meleleh deras di balik kacamata tebal yang bertengger di hidungnya. Di tangannya, selembar kertas bermaterai—surat kesepakatan perceraian—teremas erat hingga kusut. Pria di hadapannya, Faiz Qadir Zahir, tetap berdiri tegak dengan setelan jas mahalnya. Wajahnya yang tampan bagai pahatan dewa tampak sedingin es. Tidak ada riak penyesalan, tidak ada ragu. "Sudahlah, Prita. Jangan mendramatisir keadaan," sahut Faiz datar, suaranya bariton dan memotong malam dengan kejam. "Kita sudah bicarakan ini. Hubungan kita tidak bisa dipaksakan lagi. Dua tahun ini sudah cukup membuktikan kalau kita memang tidak sejalan." Prita tertawa getir di sela tangisnya. Tubuhnya yang gendut terguncang hebat. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar ruang tamu rumah mewah mereka di Surabaya. Rambutnya kusam digelung asal-usul, kaus rumahannya longgar dan pudar, wajahnya pucat tanpa riasan. Ia tahu diri. Ia sangat sadar jika dirinya sama sekali tidak pantas mendampingi calon Presdir Grup Zahir. Faiz begitu sempurna, sedangkan ia? Hanya gadis rumahan yang dinikahkan karena wasiat dan perjodohan ayah mereka berdua. "Tidak sejalan?" Prita melangkah mendekat, meski Faiz refleks mundur satu jengkel seolah enggan berdekatan. Prita tersenyum menyedihkan melihat penolakan suaminya. "Dua tahun menikah, Mas ... dan menyentuhku saja bisa dihitung dengan jari. Setiap malam Mas Faiz memperlakukanku seperti hantu di rumah ini! Dan sekarang, tepat di hari ulang tahun pernikahan kita yang kedua, Mas memberikan kado ini? Talak?" "Prita, jaga suaramu!" sebuah suara ketus memotong dari arah tangga. Mama Sandra, ibu mertua Prita, berjalan turun dengan angkuh. Daster sutranya berkibar, senyum sinis tersungging di bibirnya yang merah merona. "Lagipula apa yang dibilang Faiz itu benar, Prita. Kamu jangan serakah. Dua tahun dinikahi keluarga Zahir, apa yang sudah kamu berikan? Nol besar! Rahimmu itu mandul, kering! Keluarga kami butuh penerus Grup Zahir, bukan pajangan rumah yang tidak terawat seperti kamu!" cerocos Mama Sandra tanpa belas kasihan. "Mama ...," Prita menatap mertuanya dengan d**a sesak. "Aku sudah periksa ke dokter, dan dokter bilang aku sehat—" "Halah, alasan! Buktinya mana? Dua tahun Faiz tidur seranjang sama kamu—walaupun saya tahu Faiz pasti terpaksa dan mual melihat tubuhmu—tapi tetap saja tidak ada hasilnya, 'kan?" potong Mama Sandra kejam. "Sudah, Faiz, tanda tangan saja. Besok biar pengacara kita yang urus ke pengadilan. Lebih cepat berpisah dengan wanita ini, lebih cepat kamu bisa bahagia dengan Jelita." Jelita. Nama itu bagai belati yang dihantamkan tepat ke jantung Prita. Jelita Nur Faqiyya, mantan kekasih Faiz semasa kuliah yang cantik, langsing, dan modis. Wanita yang selalu digadang-gadang Mama Sandra sebagai menantu idaman. Prita menatap suaminya, mencari sisa-sisa kemanusiaan di mata pria itu. "Jadi benar, Mas? Karena Jelita? Mas Faiz mau kembali padanya?" Faiz menghela napas berat, memalingkan wajah. "Ini tidak ada hubungannya dengan Jelita, Prita. Ini antara aku dan kamu. Aku tidak bisa mencintaimu. Tolong, pahami itu." Kalimat 'Aku tidak bisa mencintaimu' diucapkan Faiz dengan begitu mudah, namun menghancurkan seluruh dunia Prita hingga berkeping-keping. Prita menghapus air matanya dengan kasar. Ia meletakkan surat yang sudah ia tanda tangani di atas meja dengan tangan gemetar. "Baik. Kalau itu yang Mas Faiz dan Mama inginkan. Hari ini ... aku pergi. Terima kasih atas kado pernikahan dua tahun ini, Mas. Sangat ... luar biasa pahit." Tanpa menunggu jawaban, Prita berbalik. Ia berjalan ke kamar, menyeret koper tuanya yang sudah ia siapkan. Tidak ada satu pun barang mewah pemberian Faiz yang ia bawa. Ia keluar dari rumah megah itu menembus pekatnya malam Surabaya, meninggalkan Faiz yang terpaku dan Mama Sandra yang tersenyum puas. Proses perceraian mereka berjalan begitu cepat. Dengan kekuasaan dan uang Grup Zahir, ditambah desakan penuh dari Mama Sandra, dalam waktu singkat Prita resmi menyandang status janda. Faiz bahkan tidak pernah hadir dalam persidangan, diwakili sepenuhnya oleh kuasa hukum. Satu bulan berlalu sejak ketukan palu hakim. Prita kini menumpang di rumah kecil ibunya, Hasna, di pinggiran Surabaya. Sore itu, Prita sedang membantu ibunya melipat pakaian di ruang tengah ketika tiba-tiba kepalanya terasa berputar hebat. Pandangannya menggelap, udara di sekitarnya mendadak habis. Brukk! "Prita! Ya Allah, Prita! Kamu kenapa, Nak?!" jerit Hasna panik melihat putrinya ambruk tak sadarkan diri di lantai. Saat membuka mata, bau obat-obatan menyengat hidung Prita. Langit-langit ruangan berwarna putih bersih. Ia berada di ruang instalasi gawat darurat sebuah rumah sakit umum. Di samping bangkalnya, Hasna menggenggam tangannya dengan mata sembab. Seorang dokter wanita paruh baya berjalan mendekat sambil membawa selembar kertas dan tersenyum ramah. "Mbak Prita sudah sadar? Bagaimana perasaannya? Masih pusing?" tanya dokter lembut. "Sedikit, Dok. Saya ... saya kenapa ya? Apa karena saya kurang tidur?" tanya Prita lemas. Dokter itu terkekeh pelan, lalu menepuk punggung tangan Prita. "Bukan kurang tidur, Mbak Prita. Tapi wajar saja kalau tubuh Mbak merasa sangat lelah. Selamat ya, Mbak sedang mengandung. Usia kehamilannya sudah jalan lima minggu." Deg. Jantung Prita rasanya berhenti berdetak. Kamar IGD itu seketika hening. Prita menatap dokter dengan mata membelalak, mengira pendengarannya bermasalah. "Dok ... Dokter bercanda, 'kan? Saya ... saya hamil?" suara Prita mencicit, bergetar hebat. "Tidak, Mbak. Ini hasil tes darah dan USG awalnya. Lihat ini," Dokter menunjukkan secarik kertas cetakan hitam-putih yang memperlihatkan sebuah titik kecil di dalam rahim. "Janinnya sehat. Tolong dijaga ya, jangan sampai stres." Air mata Prita luruh seketika. Tapi kali ini, rasanya campur aduk. Antara bahagia yang membuncah karena ia terbukti tidak mandul, dan kesedihan yang teramat dalam karena anak ini hadir saat ayahnya baru saja membuangnya. "Anak ... anakku ...," Prita memeluk secarik kertas USG itu ke dadanya, menangis sesenggukan hingga bahunya terguncang. Hasna langsung memeluk putrinya erat-erat, ikut menangis. "Prita ... anakmu, Nak. Kamu tidak mandul ... Gusti Allah tidak tidur." Setelah dokter pergi, Prita masih mendekap perutnya yang masih rata. Pikirannya melayang pada Faiz. Pria itu baru saja menceraikannya sebulan lalu karena mengira rahimnya mati. "Prita," Hasna berbisik lirih sambil mengusap rambut putrinya. "Apakah ... apakah kita harus memberi tahu Faiz? Bagaimanapun, ini darah dagingnya. Keluarga Zahir harus tahu kalau mereka salah memfitnahmu." "Tidak, Ibu!" jawab Prita cepat, suaranya mendadak tegas dan penuh penekanan. Mata di balik kacamata tebal itu memancarkan kilat luka yang mendalam. "Jangan pernah beri tahu Mas Faiz atau keluarganya!" "Tapi, Nak ... membesarkan anak sendirian itu berat. Apalagi Faiz orang kaya, dia bisa—" "Bisa apa, Bu? Merebut anak ini dari tanganku?" potong Prita dengan tawa getir. "Ibu lupa bagaimana mereka menghinaku? Mama Sandra bilang rahimku kering. Mas Faiz menalakku tepat di hari pernikahan kami demi Jelita! Kalau mereka tahu aku hamil, mereka hanya akan merebut bayi ini dan membuangku lagi seperti sampah! Aku tidak akan sudi!" Prita mencengkeram sprei rumah sakit dengan kuat. Keputusannya sudah bulat. "Anak ini milikku, Bu. Hanya milikku. Mas Faiz sudah memilih Jelita, dan dia tidak berhak atas seujung kuku pun dari anak ini. Kita simpan rahasia ini rapat-rapat." Hasna menatap wajah putrinya yang penuh luka, lalu mengangguk pasrah. "Lalu, apa rencana kamu sekarang, Nak?" Prita menatap lurus ke depan. Surabaya sudah tidak aman baginya. Grup Zahir punya mata-mata di mana-mana. Jika perutnya mulai membesar, lambat laun rahasia ini pasti akan bocor. "Kita pergi dari Surabaya, Bu. Kita merantau ke Jakarta," ujar Prita mantap. "Di sana ada Bibi Rahma, 'kan? Kita bisa tinggal di dekat kerabat Ibu dulu. Aku akan bekerja apa saja di Jakarta demi menghidupi anakku." "Jakarta itu keras, Prita ... Tubuhmu sedang hamil," ucap Hasna khawatir. Prita mengusap perutnya dengan penuh kasih, seolah menyalurkan seluruh kekuatan yang tersisa di dalam jiwanya. "Demi anak ini, aku pasti kuat, Bu. Prita yang dulu lemah, gendut, dan selalu ditindas sudah mati malam itu di rumah Mas Faiz. Di Jakarta, aku akan membuka lembaran baru. Aku akan membuktikan pada mereka ... bahwa aku bisa berdiri tegak tanpa nama besar Grup Zahir!" Malam itu juga, di atas ranjang rumah sakit, Prita memantapkan hatinya. Sambil menatap titik kecil di kertas USG, ia berbisik lirih penuh emosi, "Tunggu aku, Jakarta. Dan selamat tinggal, Mas Faiz. Mulai hari ini, kamu tidak lagi memiliki hak atas hidupku ... dan anak kita."

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.8M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
698.6K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.4M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
938.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
335.9K
bc

Not just, the Beta

read
335.7K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook