Episode 13

2030 Kata
Wuri lalu mencoba bangkit kembali meski ia terlihat sudah begitu sekarat. Ia terlihat ngos-ngosan mencoba bangkit. "Host, host, host," Nafasnya terengal sembari memejamkan matanya sebelah untuk bertahan. Darah juga terlihat keluar lagi dari mulutnya dan lebih banyak dari terkena serangan tadi. Adrienne terlihat begitu gila di di depannya dengan tersenyum lebar memegangi bola kehidupan itu. Adrienne yang tersadar Wuri sudah bangun kembali itu terkekeh. Wuri tersadar tongkat saktinya terlepas dari tangannya dan sekarang ada di sampingnya lumayan jauh. Ia membelalakkan matanya. Ia menatap Adrienne panik. Adrienne tersenyum lebar mengerutkan alisnya. Tanpa pikir panjang Wuri langsung mencoba mengambil tongkatnya kembali sebelum Adrienne menyerangnya. "Wuri!!" teriak Adrienne langsung mengarahkan kekuatan bola kehidupan itu padanya dan sekarang cahaya putih besar dan terlihat begitu tajam itu langsung mengarah ke Wuri begitu cepat. Wuri tak memedulikan itu dan terus mencoba mengambil tongkatnya dengan raut wajah begitu panik. "DUARR!!!" Ledakan begitu hebat terjadi. Adrienne tersenyum puas karena ia rasa Wuri sudah meledak menjadi abu karena serangannya dan tak sempat mengambil tongkat sakti berwarna emasnya. "AHHAHHAHAAA!!" teriaknya tertawa begitu puas menatap ke depan. Namun, saat asap mulai menghilang. Ia langsung melotot. Terlihat di sana tidak ada apa-apa. Betapa geramnya ia tersadar bahwa Wuri berhasil selamat dan tidak jadi meledak terkena serangannya. Ia sekarang gelagapan mencari keberadaan Wuri yang hilang entah di mana. Tanpa ia sadari Wuri menggunakan kekuatan kasat matanya dari Adrienne dengan tongkat saktinya meski ia memang terkena serangan ledakan Adrienne tadi. Ia terlihat di belakang Adrienne sekarang dan berhasil mengambil bola putih bersinar terang itu darinya. Wuri sekarang terlihat semakin parah. Mulutnya juga mengeluarkan darah lagi. Tubuhnya sudah di penuhi luka-luka parah karena ledakan Adrienne dan karena ia kuat ia berhasil menghindar dan menepis ledakan itu meski sedikit dan kedua sayapnya juga kena imbasnya. Terlihat sayapnya sudah hangus terbakar. Ia terlihat tersenyum bahagia memandangi bola itu dan memeluknya erat. Wajahnya lalu kembali serius menatap tajam ke Adrienne dan langsung menyimpan bola kehidupan itu di dalam sayapnya dan menyihirnya agar tak kelihatan menghindari Adrienne. Namun, karena kekuatannya yang melemah akhirnya sihir kasat matanya menghilang dan sekarang keberadaannya di ketahui di lihat oleh Adrienne. Betapa membelalakkan matanya saat tersadar akan hal itu. "KURANG AJAR KAAU!!!" geram Adrienne begitu marah padanya dan langsung mengeluarkan kekuatan merah yang begitu hebat sekarang lebih dari tadi. Sepertinya Adrienne benar-benar marah sekarang. Wuri membelalakkan matanya melotot ternganga melihat itu. Sepertinya ia sekarang benar-benar sekarat dan tak bisa lagi mengeluarkan kekuatannya juga. Namun, ia juga mencoba mengeluarkan kekuatannya lagi untuk menahan serangan Adrienne dan tanpa di sangka-sangka kekuatan Adrienne begitu cepat dan sekarang telah menyerangnya. "UGH!!!" teriaknya menjerit. "ENYAHLAH DARI SINI!!" teriak Adrienne terus mendorong serangannya begitu kuat sampai-sampai tempat itu kini bercahaya putih merah seakan ingin mengeluarkan suara dentuman begitu keras karena kekuatannya. Wuri kini hanya menjerit menutup matanya dan Adrienne terlihat semakin memperkuat kekuatannya. "HAAAA!!!!" Adrienne berteriak dan langsung menambah kekuatannya dengan tongkat hitamnya dan membentuk sebuah milky way dan Wuri akhirnya benar-benar terpental hebat ke atas milky way Adrienne itu entah ke mana. Adrienne lalu menutup milky waynya dan seketika dentuman hebat meledak di tempatnya. Adrienne mengundurkan dirinya dan terlihat bayangannya dengan sayap terbentangnya berdiri tegak diam melihat itu. * "ARGH!" teriak Wuri yang terlihat sudah terpental di angkasa keluar dari milky way itu. Kini ia terlihat membelalakkan matanya ternganga terdiam dan terlihat membujur kaku tak berdaya. Sayapnya juga kini patah dan terlihat terombang tak bersaya mengikuti tubuhnya. Tanpa ia tahu ia terjatuh ke planet manusia. Ya, bumi. Karena sudah sekarat. Matanya yang terbelalak tadi mulai terpejam pelan. Kini ia mulai memasuki atmosfer bumi. Terlihat bagian sayapnya mulai terbakar dan semakin ia memasuki bumi badannya semakin membuat api. Namun, api terlihat hanya mengelilingi tubuhnya. Sepertinya kekuatan biru yang mengelilingi tubuhnya itu lah yang melindunginya dari hebatnya atmosfer bumi itu. Kini api sudah menjalar dari kepalanya dan sekujur tubuhnya. Kini ia terlihat seperti meteor yang memasuki bumi begitu besar dan cepat dan ia terjatuh tepat di daerah bumi yang kebetulan terkena sedang malam hari. Akhirnya ia meledak terjatuh ke daerah lembah pegunungan dan terjadi dentuman begitu keras meledak di sana. Terlihat pemandangan di sana bagaikan bom nuklir yang meledak hebat. Dentuman itu lah yang membuat gempar para makhluk bumi dan di dengar Zanna juga Agra beritanya. Setelah dentuman itu berakhir. Terlihat kawah begitu besar terbentuk karenanya. Kawah itu besar sekali sekarang asap begitu tebal mengelilinginya. Setelah asap itu sudah mulai menghilang. Terlihat Wuri tepat berada di tengah-tengahnya tak sadarkan diri lagi. Terlihat seluruh tubuhnya juga mengeluarkan kukus. Ia terlihat tengkurap pingsan. Sekujur tubuhnya sudah lebam dan penuh luka bakar. Gaunnya juga pelindung kedua tangannya terlihat sobek-sobek. Begitu memprihatinkannya ia. Tetapi ia memang makhluk yang begitu kuat. Meski ia meledak begitu hebat. Ia masih saja tak hancur. Karena ia terhempas ke bumi. Bola kehidupan itu pun terpental ke bumi juga terpisah dari Wuri entah ke mana. Setelah 2 jam lebih Wuri terlihat masih tak sadarkan diri. Malam pun sudah semakin larut. Namun, terlihat jemarinya mulai bergerak. Ia sepertinya tersadar. "Ugghh?!" jeritnya seraya mengepal jemarinya menahan sakitnya. Akhirnya ia tersadar. Betapa terkejutnya ia saat melihat dirinya terjatuh ke suatu tempat yang lapang. Karena penglihatan yang tajam. Ia bisa saja melihat pemandangan di sana dan gemerlapnya bintang di atas. Ia langsung mencoba membentang kedua sayapnya tetapi ia langsung menjerit kesakitan karena terlihat sayapnya telah rusak parah dan patah. Akhirnya ia kembali menutup sayapnya seraya memegangi bahunya kesakitan. Dengan berjuang. Ia terus mencoba bangkit. Akhirnya ia bisa berdiri seraya terus memegangi bahunya menahan sakit dan mulai melangkah dari sana. Wuri memang makhluk yang sangat kuat. Akhirnya ia bisa keluar dari kawah bekas ia terjatuh itu dengan susah payah. Saat ia ingin naik dari kawah besar itu. Ia memaksa sayapnya untuk terbang dan berhasil hingga ia bisa keluar dari kawah itu. Dengan tertatih ia berjalan menuju hutan. Namun, karena kekuatannya sekarang benar-benar habis dan terkuras. Akhirnya ia pingsan dan tersungkur di sana. Sampai Bi Iyem di pagi hari bekerja mencari kayu bakar dan menemukannya. **** Adrienne yang terlihat sangat bahagia di sana karena telah berhasil menyingkirkan Wuri dan mengira ia telah tewas benar. Akhirnya tersadar bahwa ada sesuatu yang hilang darinya. Ia membelalakkan matanya kesana kemari kalang kabut. "Di mana, di mana bola kehidupan itu? Di manaa!!!" tanyanya panik melotot menengok panik ke sana kemari. "WURIII!!!!" teriaknya lantang sampai ke manapun terdengar. **** Wuri langsung membuka matanya teringat semua itu. Kini ia sudah mengingat semuanya. "Huh huh huhh," ia langsung ngos-ngosan. Jantungnya berdebar tak karuan dan terlihat terengah. Ia sekarang terlihat lebih sehat. Lukanya pun sudah memudar. Ia lalu melirik ke samping pelan dan masih membelalakkan matanya. Ia mengerutkan alisnya lalu terdiam sejenak. Ia langsung mencoba duduk. "Ya, aku... Aku memang terjatuh ke suatu tempat," ucapnya sudah merasa yakin pada dirinya. "Jadi, orang ini. Orang ini lah yang menyelamatkan aku!" ucapnya sekarang tersadar menatap ke dapur membayangkan ada Bi Iyem di sana. Namun, saat ia lumayan lama menatap ke dapur. Terlihat Bi Iyem masih tak keluar. Ia merasa heran lalu menatap ke luar. "Ke mana dia? Apa dia tidak ada di sini?" tanya Wuri heran. Ia lalu terdiam termenung sejenak. Ia lalu langsung beranjak dari tempat tidur sederhana itu dan berjalan keluar mencoba melihat sekitar karena ia sekarang sudah kembali pulih dan ingat semuanya. Ia melihat ke arah dapur dan terhenti terus memperhatikan dapur sederhana yang penuh dengan arang dan melihat satu ceret sederhana terpampang di sana. Ia mengangkat sebelah alisnya lalu menatap ke luar. Ia melangkah pergi keluar lagi. Kini ia tersadar benar-benar melihat pemandangan yang sejuk dan indah di pegunungan itu. Ia terlihat menikmatinya dan merasa tenang. Ia lalu kembali terkekeh melihat bunga kenikir-kenikiran di halaman Bi Iyem yang mengingatkannya pada alamnya. Ia lalu melangkah pelan mendekati bunga itu masih terdiam. Ia memandangi bunga itu tenang lalu mencoba menyentuhnya. Ia tersenyum tipis memeganginya. "Kenapa ukurannya berbeda sekali, sebenarnya aku ini sedang di alam mana?" tanya heran masih bingung seraya celengak-celenguk kebingungan. Ia berjalan menatap kebun teh yang luas di depannya itu dan terhenti sejenak. Ia melirik tubuhnya sendiri dan membentangkan telapak tangannya melihatnya. "Kondisiku membaik sekarang, apa.. apa kekuatanku juga udah pulih?" tanyanya pada dirinya sendirinya. Ia pun mulai mencoba mengetes kekuatannya sendiri. Ia memejamkan matanya mengingat mantranya dan terlihat tangannya mulai mengeluarkan kekuatan birunya kembali dan ternyata kekuatannya masih belum stabil. Kekuatan itu langsung hilang seketika. Ia pun membuka matanya sedih. "Ehm, sepertinya aku masih harus memulihkan dulu," katanya sedih. Tetapi terlihat ada setangkai bunga yang layu di sana. Ia pun mendekatinya. Ia menarik nafasnya dan langsung mengeledahkan tangannya mengeluarkan cahaya putih pada bunga itu. Ternyata bunga itu pelan-pelan subur dan mekar kembali seperti sedia kala. Ia tersenyum melihat itu dan melihat tangannya senang. "Tapi kekuatanku sedikit bisa di keluarkan sekarang," ucapnya senang. Ia berbalik dan tersenyum. "Aku sangat bahagia. Orang itu benar-benar menyelamatkanku. Aku harus menunggunya datang," katanya tersenyum tipis begitu haru membayangkan Bi Iyem. Ia lalu berjalan-jalan melihat sekeliling seraya menunggu Bi Iyem kembali pulang. Ia terlihat bahagia dan merasa unik dengan semua yang ada di sana. **** Setelah menghilangnya Wuri. Kini semua Peri begitu sedih dan tak tak tenang. Karena, Adrienne lah yang berkuasa dengan mereka. Adrienne terlihat tersenyum begitu angkuh duduk di singgasananya Wuri. Peri Elodie dan Eloise juga terlihat murung. Para Peri akhirnya memutuskan untuk berkumpul tanpa di ketahui Adrienne. Mereka terlihat berkumpul di sebuah lapangan hijau luas yang hanya ada bunga-bunga besar di pinggirnya. "Kita tidak bisa kalau seperti ini terus para Peri. Adrienne Peri semakin menghancurkan dan membuat kita menjadi babunya. Kita harus cari keberadaannya Ratu Peri sekarang!" ucap Peri bergaun pink bernama Neri Peri yang mempunyai kekuatan yang paling unik yaitu bisa menyihir apapun menjadi benda yang unik. "Benar, karena sejak Ratu Peri meninggalkan kita. Telepati kita dengannya selalu gagal. Entah di mana dia sekarang," jawab temannya sedih. "Aku takut sekali, kalau... Ratu Peri benar-benar tewas karena Adrienne," isak temannya yang satu lagi berbaju biru tua itu sangat sedih. "Tidak! Aku yakin, Ratu Peri tidak mati.. dia pasti selamat, karena... Bola kehidupan sekarang sudah tidak ada di tangan Adrienne lagi," pungkas Neri Peri mendongak merasa yakin membelakangi mereka. Mereka terdiam menatapnya. "Apa? Jadi, bola kehidupan tidak berada di tangan Adrienne? Bukannya iya?" tanya Peri lebih tua dari mereka itu bernama Buul Peri yang mempunyai kekuatan menarik apapun dengan rambutnya yang kuat itu tak percaya melangkah mendekatinya. Neri Peri terlihat terdiam sedih mengingatnya. "Benar... Karena... Aku sempat menemukan tempat mereka berkelahi semalam," jawab Neri Peri lalu berbalik ke arah mereka sendu. Betapa tak menyangkanya mereka semua. "Setelah mereka menghilang dan kita bubar. Aku tidak langsung ke singgasana. Tapi langsung berpikir dan terbang mencari mereka untuk membantu Ratu Peri. Ternyata Ratu Peri membawanya ke lembah air terjun Tara, di sanalah mereka bertempur. Namun, saat aku datang aku melihat Adrienne sudah menyerangnya begitu dahsyat dan... Membuat milky way dan melemparkan Ratu Peri ke sana," beritahu Neri Peri sangat sedih mengingat hal itu. Betapa tak menyangka mereka mendengar itu sampai ada yang menutup mulut mereka karena syok. "Em benarkah? Neri Peri. Benar apa katamu, kita harus mencari keberadaan Ratu Peri sekarang," jawab Buul Peri khawatir mendekatinya. Neri Peri memandanginya sedih lalu mengangguk. "Kita setuju, dan akan mencari keberadaannya Ratu Peri sekarang," ucap Peri Elodie mantap. Mereka mengangguk satu sama lain dan akhirnya sepakat mulai mencari keberadaannya Wuri. **** Tanpa di sangka-sangka. Bola kehidupan itu malah terjatuh di halaman rumah seorang pria berperut buncit paruh baya. Bola itu tepat terjatuh di keranjang kumuh bekas depan halamannya. Ia terlihat menguap bosan berjalan ke halamannya. Namun, dia terkekeh saat melihat halamannya berhamburan dan ternyata karena isi dari keranjang tadi berhamburan ke bawah. Ternyata keranjang itu dia taroh di atas tangga kayu itu dan karena bola kehidupan itu terjatuh ke sana maka terhempaslah keranjangnya dan bola itu malah tersangkut dan diam di sana. "Aduhh! Kenapa ini siapa yang jatuhin ah!" ketusnya kesal seraya mencoba merapikan semuanya. Dengan kesalnya dia menaruh kembali semua barang-barang rongsokan itu ke dalam keranjang itu tapi kemudian dia terkekeh dengan apa yang ada di dalam keranjang itu. Ia lalu melihat sebuah bola abu-abu transparan seperti dari bahan plastik sintetis itu dalam keranjangnya. Dia lalu mengambil bola itu yang awalnya terlihat bersinar tanpa dia sadari. Bola itu memiliki bentuk yang sedang tidak terlalu kecil juga tidak terlalu besar dan dikira-kira lingkarnya 14cm dan masih bisa di pegang sebelah tangan oleh pria biasa itu. Dia terlihat hanya heran menatapi bola itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN