Episode 14

2050 Kata
Pria itu masih terheran memandangi bola kehidupan sembari menggaruk kepalanya. "Udah berapa lama ada di sini ya?" tanyanya bingung sendiri karena dia orang yang suka mabuk jadi tak menghiraukan apa yang terjadi beberapa minggu yang telah berlalu. Dia akhirnya menaruh kembali bola itu ke keranjangnya dan kembali masuk ke rumahnya bersantai. **** Hari ini Zanna juga Agra ada syuting promo jasa perusahaannya di sana. Zanna terlihat begitu cantik hari ini. Memakai gaya kasual yang kece semakin mempercantik kecantikannya. Rambutnya yang lurus itu juga membuat daya tariknya semakin lebih. Ia terlihat berpose menjadi model di iklan Agra. Agra terlihat puas melihatnya seraya berteriak bertepuk tangan. Bahkan, kameramen pun sempat melongo melihat kecantikannya saat ia tersenyum di depan kamera. Agra tertawa melihat mereka. "Bos emang pandai cari modelnya!" puji kameramen. Zanna hanya tersenyum lebar menunduk karena malu-malu. "Haha iya dong, gue kan CEO muda tampan dan berbakat," jawab Agra pede membanggakan dirinya. Zanna yang mendengar itu hanya mencibir meledeknya lalu tersenyum. Mereka tertawa bersama dan terus melakukan iklan sampai iklan terbuat sempurna. Para client kerja merasa sangat puas dengan hasil yang buatnya. Mereka lalu beristirahat sejenak di taman tepi danau yang sangat indah dan luas itu. Namun, saat mereka bersantai. Tiba-tiba Zanna mendengar sayup-sayup seseorang meminta tolong. Ia terkekeh menengok ke belakang arah ke danau. Agra yang masih jauh darinya tak sadar dan masih asyik berbincang-bincang dengan para clientnya. "Ada yang minta tolong? Tapi siapa ya?" tanyanya heran. Ia terus mencoba lebih fokus mendengar asal suara itu. Karena pendengarannya yang memang lebih tajam dari manusia biasa, maka dari itu ia bisa mendengar suara orang minta tolong meski jaraknya yang jauh darinya. "Toloong! Hmmp!!" teriak seperti seorang anak perempuan yang terdengar seperti ingin tenggelam. Zanna langsung membelalakkan matanya dan beranjak dari tempat santainya. Ia berlari mencari asal sumber suara yang di dengarnya. Ia terus berlari ke arah danau dan terlihat memperhatikan danau. "Tolongg!" Teriakan itu sekarang semakin jelas. Ia semakin membelalakkan matanya dan melangkah ke depan mendongak ke danau. Tak di sangka ia melihat seorang anak perempuan terlihat ingin tenggelam dan sekarang kepalanya sudah tenggelam semuanya. Zanna melotot kaget melihatnya. "Ya ampun, ada anak manusia tenggelam? Aku harus membantunya," ucapnya melotot mengerutkan alisnya. Ia pun jongkok melipat rapi kedua tangannya di pahanya dan menunduk. Saat ia mendongak menatap ke depan matanya sudah berubah menjadi mata ular kuning menyala semua badannya juga bersisik kuning dan akhirnya ia mengubah wujudnya menjadi ular dan langsung merayap cepat ke arah danau. **** Agra yang sekarang kebingungan mencari-cari di mana keberadaan Zanna yang tiba-tiba saja menghilang. Dia berjalan seraya terus memperhatikan sekeliling kalau-kalau melihat Zanna. "Di mana ya siluman itu? Kok tiba-tiba hilang bukannya tadi sama aku?" tanyanya heran sendiri menggaruk kepalanya seraya terus mencari Zanna. "Zaan! Zanna!" teriaknya mencoba memanggil. Dia terus berjalan menelusuri taman. **** Terlihat anak perempuan itu sudah lemas pingsan karena tertelan air begitu banyak. Kini Zanna mulai melilit tubuhnya dengan ekor kuning emasnya. Setelah ia lilit ia naikkan anak itu ke atas agar tak terendam air lagi. Zanna lalu mulai menyusuri pinggir danau dengan cepatnya. Namun, saat ia membawa anak itu ada salah seorang pemancing menyadarinya. Betapa terbelalak matanya saat melihat ekor Zanna yang begitu besar itu terlihat sedang melilit seseorang. Dia langsung melompat dan terkaget gemetaran. "U, U.. UL, ULAAAR!!!" teriaknya gagap begitu gemetaran menunjuk Zanna. Zanna masih berenang ke pinggir danau yang berdekatan dengannya. Orang itu terlihat semakin konyol ketakutan. Betapa semakin melototnya dia ketakutan melihat Zanna yang sudah naik ke daratan. Ia terlihat begitu besar dengan kepala yang merak. Pemancing itu ternganga tak bisa bersuara begitu syok karena memang melihat ular cobra yang sangat besar seperti itu. Zanna terlihat menaruh anak perempuan yang tak sadarkan diri itu pelan ke tanah. Kemudian seberkas cahaya putih menyinari anak itu. Sepertinya ia sedang mengobati dan mengeluarkan air dari tubuh anak itu. Pemancing itu semakin geger saja dan terlihat ingin pergi dari sana tetapi tak bisa karena gemetaran. "HAAH, HAAH U, U, U, UU, UULAAAR! HOOO!" teriaknya ketakutan. Zanna akhirnya menyadarinya. Ia langsung berbalik ke arah pemancing itu masih berwujud mengerikannya. Pemancing itu semakin takut dan langsung berpaling ingin berlari terbirit-b***t meski terjatuh lagi karena saking takutnya. Zanna yang terlihat kaget juga langsung kabur dari tempat itu untuk mengubah wujudnya. "WAH WAAH ULAAR! TOLOONG! TOLOONG!! BESAR SEKALI WAAH!!!" teriaknya kalang kabut sampai-sampai topi bucket pancingnya turun menutupi matanya konyol dan membuatnya semakin gelapagapan sendiri dan terjatuh lagi terguling. "WAAH!! GELAP JANGAN! JANGAN MANGSA AKU!!" teriaknya panik sendiri konyol dan setelah tak sengaja berhasil menyingkirkan topi dari matanya. Dia terdiam melototi topinya konyol. "HEH! KURANG AJAR KAU NUTUPIN MATA GUA!" celetuknya marah sendiri menepuk topi itu kesal. Dia lalu langsung melirik takut ke arah Zanna berada tadi dan betapa tak menyangkanya dia bahwa Zanna telah hilang. "Heh?" tanyanya tak percaya melotot lalu mengusap-usap matanya. "Sudah hilang?" tanyanya. "Apa jangan-jangan dia masih di sekitar sini? Waaah kaburr aja dah ah!!" ucapnya menduga-duga takut dan langsung berlari membawa ember dan pancingannya lari terbirit-b***t. Zanna bersembunyi di balik pohon itu dan sudah mengubah wujudnya sangat takut jikalau ada manusia lain melihat dirinya selain Agra. Ia yang mendengar pemancing itu pergi dari tempat itu langsung mengintipnya dan merasa lega. "Huuhhh," ucapnya sangat lega membuang nafasnya. Ia lalu kembali memeriksa anak perempuan yang ia tolong tadi dan akhirnya ada keluarganya berlari menghampirinya begitu syok dan menangis. Zanna terus mengintip di balik pohon dan semak belukar itu. "Astagaa, syukur terimakasihhh kamu di sinii!" teriak wanita itu menangis memeluk anaknya. Terlihat anaknya sudah mulai sadar sekarang. Betapa bahagianya mereka hingga terdiam sesaat sembari tersenyum. Wanita itupun memeluk anaknya sangat haru sembari menangis sejadi-jadinya. Zanna yang melihat semua itu ikut merasakan kebahagiaan dan haru dalam dirinya. Tanpa sadar ia juga menitikkan air matanya. Kini ia tersadar dan mengalihkan pandangannya lalu tersenyum menatap mereka kembali dan menundukkan pandangannya teringat kedua orangtuanya juga. Ia akhirnya beranjak dari tempat itu dan saat ia berbalik betapa kagetnya dirinya Agra sudah menghadangnya. "Iih! Ngagetin aja!" rengek Zanna kesal padanya seraya memukul bahunya. Agra tertawa kecil melihatnya. "Kamu ngapain di sini? Aku dari tadi nyari-nyari kamu tau gak, ayo kita pulang," jawab Agra langsung menarik tangannya. Zanna terlihat kaget mengerutkan alisnya memandangi tangannya yang di tarik Agra. Ia menatap Agra kesal tetapi seakan-akan semakin lama ia terlihat semakin merasa nyaman tangannya di tarik oleh laki-laki manusia tampan itu. Ia lalu terlihat mulai tersenyum pada Agra menundukkan pandangannya malu-malu. Ia lalu mengganti posisi tangannya sendiri melepaskannya dari Agra. Agra terkekeh. Ia menatap Agra lalu malah menggenggam jemari Agra lembut. Agra terdiam menatapi tangannya yang di genggam Zanna. Zanna tersenyum padanya. Agra terlihat salah tingkah sekarang. Zanna memang makhluk yang pandai merayu. Agra lalu tersenyum malu padanya dan mereka kembali melanjutkan langkahnya. **** Wuri sekarang terlihat sudah sembuh total. Ia sekarang terlihat semakin cantik berseri karena sudah membersihkan dirinya bersama Bi Iyem di belakang sungai begitu jernih mengalir di sana. Ia terlihat masih berpakaian sederhana layaknya gadis desa yang paling menawan. Bi Iyem terlihat sedang mengangkat ubi yang ia dapatkan. Wuri tersenyum melihatnya dan langsung meraih tempat yang terbuat dari anyaman itu dan mencoba membantunya. "Biar aku aja," ucap Wuri. Bi Iyem terlihat begitu senang mendengarnya. Wuri sekarang terlihat membawa itu dengan langkah yang terengal lucu. Bi Iyem tertawa kecil melihat tingkahnya. "Kita rebus ya, buat makan siang kita," kata Bi Iyem padanya seraya ikut berjongkok membasuh semua ubi-ubi itu dengan air mengalir yang ada di sana. Wuri mengangguk tersenyum padanya dan ikut mengelus-elus lembut ubi itu agar terpisah dari tanah yang menempel di kulit ubi itu. Sungguh mulus dan indah jemari-jemarinya yang panjang juga lentik itu. Kukunya yang panjang juga begitu indah. Bi Iyem sampai terkekeh karenanya. Ia menatapi wajah cantik Wuri yang terlihat tersenyum menatapi ubi-ubian. "Nak, sebenarnya kamu ini dari mana sih? Bisa punya wajah cantiik seperti ini?" tanya Bi Iyem memujinya menggeleng mengerutkan alisnya. Wuri menatapnya mendengar itu. "Bi, makhluk seperti Bibi lah yang mempunyai kecantikan yang begitu luar biasa. Bukan di luarnya saja, tetapi dari dalam hati Bibi pun aku merasa Bibi jauh lebih cantik," jawab Wuri lembut menatapnya dengan senyuman indahnya. Bi Iyem hanya menyipitkan matanya dan mengangkat kedua alisnya benar-benar tak menyangka ia menemukan orang yang berparas begitu cantik serta hati yang baik seperti Wuri. "Aduh Naak, beruntung sekali Bibi mendapatkan anak seperti dirimu malam itu," jawab Bi Iyem terlihat terharu mengusap-usap bahunya menatap Wuri. Wuri tersenyum lebar lalu mengangkat kembali ubi-ubi yang sudah bersih. "Bi, udah bersih. Ayo kita masak," ucap Wuri seraya berdiri. Bi Iyem akhirnya ikut berdiri tersenyum lebar dan mereka melangkah ke dapur. Wuri yang memang tidak bisa menyalakan kayu bakar itu terlihat hanya memandangi Bi Iyem seraya tersenyum. Ia terus memperhatikan aktivitas yang di lakukan Bi Iyem. Ia terlihat termenung memikirkannya. "Seperti ini kah makhluk yang ada di sini melakukan kehidupannya?" gumamnya bertanya sendiri dalam hatinya. "Inilah yang kita lakukan sebagai manusia. Kita harus bekerja, berusaha agar bisa melakukan apa yang kita inginkan, hmm," kata Bi Iyem padanya. Wuri kini tahu makhluk apa Bi Iyem. Ia terlihat ternganga mendengar hal itu. "Manusia?" tanya mengerutkan alisnya tersenyum. Bi Iyem menengok ke arahnya. "Hahaha iyaa, kita kan manusia toh," jawab Bi Iyem merasa lucu pada dirinya seraya berdiri melaluinya. Wuri terlihat heran lalu ikut melirik ke belakang dan melihat Bi Iyem mengambil garam, dan yang lainnya. "Kenapa, Bibi mengambilnya seperti itu?" tanyanya polos. Bi Iyem melongo melihatnya. "Iyalaah kita harus ambil ke tempatnya Nak," jawab Bi Iyem merasa lucu padanya. Kini Wuri terdiam. "Ternyata manusia memang makhluk yang tidak punya kekuatan apa-apa," gumamnya dalam hati berpikir. Akhirnya ia tahu bahwa manusia memang seperti Bi Iyem. "Dia juga mengira aku sebagai manusia, apa aku memberitahukan padanya bahwa aku bukan manusia? Tapi aku adalah Peri," gumam Wuri masih bingung pada dirinya sendiri. Ia sebenarnya ingin jujur dengan Bi Iyem karena Bi Iyem adalah orang yang baik. Namun, ia masih ragu dan diam saja. Kini air yang merebus ubi telah mendidih. Wuri terkekeh dan menghentikan pikirannya memikirkan semua itu. Ia melihat Bi Iyem mengaduk. Ia lalu langsung berjongkok untuk membantu Bi Iyem. "Biar aku aja," ucap Wuri tersenyum padanya. "Hmm makasih ya Nak, ya udah kalau gitu Bibi mau ke depan dulu. Petik cabe buat sambel biar makin enak. Nanti kamu taroh di wadah itu aja ya kalau sudah masak?" jawab Bi Iyem seraya memberitahunya wadah tempat menaruh semua piring, sendok dan lainnya. Wuri menengok juga ke arahnya dan tersenyum padanya tanda mengerti. "Baik Bi," jawabnya. Kini ia terlihat tidak malu-malu lagi pada Bi Iyem. Bi Iyem tersenyum padanya lalu pergi keluar. Ia terlihat termenung sejenak lalu melihat ke arah ubi begitu panas itu. "Aw!" jeritnya kepanasan saat tangannya mengaduk ubi itu. Ia memandangi ubi itu. Ia lalu mencoba menusuk ubi itu dengan spatula kayu sederhananya dan terlihat ubi sudah lembut. "Sepertinya sudah harus di bangkit," ucapnya. Ia lalu cengengesan melihat sekeliling dan melihat sapu tangan terpampang di sana. Ia tersenyum lalu dengan hanya mengeladahkan tangannya ke arah sapu tangan yang tergantung di jendela dapur. Sapu tangan itu terbang sendiri ke arahnya dan langsung berada di tangannya. Ia tersenyum melihatnya. Tetapi ia merasa kalau satu sapu tangan tak cukup. Ya, itulah salah satu kekuatan yang ia miliki. Ia lalu mengeladahkan tangannya lagi dan menarik satu sapu tangan lagi dari jendela dapur yang lumayan jauh dari ia duduk. Akhirnya kedua tangannya sudah ada sapu tangan. Ia lalu mengangkat panci ubi itu dari sana. Ia terlihat merasa kepanasan sekarang dengan bara yang masih menyala di dapur itu. Ia lalu mulai membuat kekuatan agar mematikan bara yang menyala di sana. Di tangannya terlihat sudah terbuat bola air dan langsung ia arahkan ke bara panas itu dan akhirnya bara itu mati seketika. Ia tersenyum karena kondisi juga kekuatannya pulih seperti sedia kala kembali. Ia terus menatapi kedua tangannya sangat senang. Ia lalu mulai kembali memakai kesaktiannya. Dengan percaya diri ia terlihat menarik wadah itu lagi dan seketika wadah yang ia inginkan terbang menghampirinya cepat dan sudah berada di tangannya lagi. Ia terlihat dengan santainya menyiapkan semua itu. Ia mengerutkan alisnya melihat ubi-ubi yang masih terlihat sangat panas berkukus di air mendidih tadi. Ia lalu mencoba kembali dengan sihirnya ia terlihat mengeladahkan kedua tangannya ke ubi dan terlihat sudah bersinar kelap-kelip lalu ia arahkan ke wadah kosong tadi. Betapa cepatnya ubi-ubi itu melompat satu persatu ke wadah itu. Wuri terlihat tersenyum senang seakan merasa sedang bermain. Tanpa ia sadari Bi Iyem sudah kembali ke hadapannya dan sekarang Bi Iyem ternganga. Kini ia juga ternganga masih tersenyum menatap Bi Iyem.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN