Wuri masih kaget dan takut kalau Bi Iyem melihat semuanya.
"Bibi?" panggilnya mencoba membuyarkan Bi Iyem yang terlihat masih ternganga melihatnya. Ia semakin takut.
"Bi, aku jelasin semuanya aku..."
"Bagus!! Semuanya sudah siap?" potong Bi Iyem yang ternyata hanya kaget karena melihat Wuri telah menyiapkan semuanya. Kini Wuri hanya ternganga sembari melihatnya melewatinya dan mengambil semua ubi-ubi yang sudah siap di wadah itu dan membawanya keluar tersenyum lebar pada Wuri.
Wuri hanya ternganga mengedipkan matanya lalu menarik nafasnya merasa lega pada dirinya sendiri. Ia lalu tersenyum semu menatap Bi Iyem lalu mengikuti Bi Iyem.
Kini mereka terlihat seperti anak dan orangtua yang sangat harmonis. Bi Iyem terlihat sangat bahagia dan bersyukur mendapatkan seorang putri seperti Wuri. Ia memandangi Wuri penuh haru seakan membayangkan kalau anaknya memang benar-benar ada di sampingnya seperti Wuri sekarang. Wuri yang awalnya senyam-senyum sembari menikmati ubi itu kini terkekeh saat melihat wajah Bi Iyem yang terlihat sedih memandanginya. Ia mengangkat sebelah alisnya.
Bi Iyem tersenyum padanya yang melongo melihatnya. Ia lalu meraba pipi Wuri sangat bahagia tersenyum berkaca-kaca memandangi Wuri. Wuri terlihat hanya diam bingung menatap tangannya dan membiarkan tangannya saja meraba-raba lembut wajahnya. Wuri menatapnya.
"Andai kita bisa bersama selamanya seperti ini Nak, pasti akan selalu bahagia diri Bibi ini," ucap Bi Iyem tak sadar menitikkan air matanya. Wuri yang melihat itu seakan ikut sedih. Ia terlihat tak tega pada Bi Iyem. Ia juga sekarang terlihat sangat menyayangi manusia baik hati yang telah merawat serta menolongnya.
Wuri lalu memejamkan mata membalas senyumannya seraya memegangi lembut tangannya dan memandanginya.
"Bi Iyem, Bi Iyem adalah orang yang telah menyelamatkan hidupku. Jadi aku tak akan pernah meninggalkan Bi Iyem di dalam hati Bi Iyem," jawab Wuri tersenyum lembut memandanginya. Membuat Bi Iyem semakin menyayanginya. Wuri lalu melepaskan genggamannya lalu mengambilkan sepotong ubi itu dan menyuapi Bi Iyem lembut. Bi Iyem terlihat sangat senang dan mau menyuap ubi itu dari tangan Wuri. Ia lalu mengusap tangan Wuri penuh kasih sayang sangat terharu. Mereka terlihat bahagia bersama.
.
Wuri menghabiskan waktu berhari-hari setelah sembuh bersama wanita paruh baya baik hati itu. Ia ingin membalas dulu semua kebaikan yang Bi Iyem lakukan padanya. Terlihat kini ia ikut berkebun juga.
"Aku sudah pulih total sekarang. Aku akan balas perbuatannya yang baik kepadaku dari sekarang, dan setelah ini aku akan pergi mencari bola kehidupan itu kembali sebelum Adrienne mencari keberadaanku," gumamnya dalam hati berpikir memakai topi anyaman lebar seraya menengok ke arah Bi Iyem yang terlihat semangat juga berkebun.
Setelah selesai mereka istirahat di sebuah pondok sangat sejuk di tengah kebun.
"Bi Iyem," panggil Wuri.
"Iya Nak?" jawab Bi Iyem. Wuri terdiam sejenak. Sepertinya ia sekarang akan memberitahu tentang dirinya sebenarnya pada Bi Iyem.
"Saatnya aku memberitahunya tentang diriku sebenarnya," gumamnya dalam hati. Ia terlihat kini berdiri di hadapan Bi Iyem.
"Bi, aku benar-benar tak menyangka bisa bertemu orang sebaik dirimu di dunia ini," ucap Wuri. Bi Iyem terlihat tersenyum senang mendengarnya. Sungguh teduh memang wajah serta perlakuan wanita paruh baya ini hingga Wuri saja bisa nyaman di dekatnya.
"Dan karena itu, aku akan mengabulkan semua apa yang di inginkan Bibi," sambungnya tersenyum. Bi Iyem sungguh tak menyangka.
"Nak, kamu tidak perlu membalas semuanya. Cukup kamu di sini bersama Bibi, Bibi bahagia," jawab Bi Iyem. Kini Wuri terdiam. Wanita paruh baya itu ternyata sekarang sudah sangat menyayangi Wuri dan tak ingin Wuri pergi darinya.
"Kita akan panen hari ini kebun buah naga kita hmm," ucap Bi Iyem tersenyum padanya lalu mulai beranjak dari sana.
"Bibi," panggilnya. Bi Iyem terhenti berpaling lagi ke arahnya.
"Bibi.... Mau tau kan sebenarnya aku siapa?" tanya Wuri terbata menatapinya. Bi Iyem hanya tersenyum terkunci menatapnya.
Wuri tersenyum gugup padanya lalu melangkah satu langkah lebih di depan Bi Iyem. Bi Iyem kini hanya melongo bingung. Wuri lalu berbalik lagi menengok ke arahnya. Ia terdiam dan terlihat ragu untuk berkata.
"Apa yang ingin kamu tunjukkan Nak?" tanya Bi Iyem lembut tersenyum tipis padanya memiringkan kepala.
Wuri lalu membalikkan wajahnya lagi dan terlihat mulai serius sekarang.
Ia menarik nafas dan membentangkan kedua telapak tangannya ke depan.
Ia terus menatap serius kebun buah yang sangat luas itu. Bi Iyem kini terheran. Seketika cahaya putih kekuningan yang begitu indah keluar dari kedua tangan Wuri. Bi Iyem yang melihat semua itu membelalakkan matanya seakan melihat hal yang di luar nalar.
Setelah itu seketika semua kebun buah itu juga mengeluarkan cahaya yang persis seperti yang ada di tangan Wuri. Bi Iyem semakin ternganga melihat kebun.
"Alam semesta serta bola kehidupan yang nyata. Bantulah aku untuk memetik dan mengumpulkan semua buah itu ke dalam mobil-mobil yang ada di sana," ucapnya. Seketika cahaya itu semakin membesar dan buah-buahan itu langsung melayang sendiri terpetik dari pohonnya. Begitu banyak buah naga yang melayang di udara sekarang dengan sinar cahaya Wuri. Wuri lalu menatap ke arah mobil-mobil pickup yang terlihat sudah siap untuk mengumpulkan buah-buahan itu. Seketika seluruh buah yang begitu banyak tadi langsung terbang dan jatuh di sana dengan rapinya.
Bi Iyem yang melihat semua itu langsung syok terkejut bukan main.
Wuri kini menurunkan tangannya dan seketika cahaya itu hilang dan tempat itu kembali normal.
"Huh huh, ka-kamu ini... Sebenarnya siapa Nak?" tanya Bi Iyem gagap sekarang takut pada Wuri.
Wuri hanya memalingkan wajahnya ke arah Bi Iyem dengan mengerutkan alisnya sedih.
Ia sekarang menatap Bi Iyem sedih seakan tak tega.
"Maafkan aku Bi Iyem," ucapnya. Bi Iyem kini hanya mengerutkan alisnya bingung menatap Wuri.
"Aku akan berkata ini sejujurnya pada Bi Iyem," kata Wuri.
"Sebenarnya... Aku bukanlah manusia," ucap Wuri.
Kini Bi Iyem hanya membelalakkan matanya.
"Aku adalah seorang Peri. Aku, menjadi Ratu di alamku. Aku terjatuh ke sini karena rivalku Adrienne Peri telah melemparku jauh untuk menjauhkanku dan, Bi Iyem lah yang menyelamatkan aku," kata Wuri berkata padanya sekarang. Bi Iyem membelalakkan matanya lebar sungguh tak percaya dengan hal itu.
"Itu adalah sebagian dari kesaktianku, dan aku akan membalas semua kebaikan yang telah Bi Iyem lakukan padaku," sambungnya meyakinkan Bi Iyem seraya tersenyum lembut.
Bi Iyem kini hanya terdiam melotot menutup mulutnya dengan badan begitu gemetar seluruhnya. Wuri yang melihatnya akhirnya tersadar. Kini ia mencoba menenangkan Bi Iyem.
"Bi Iyem, aku tidak akan melukai Bi Iyem. Karena Bi Iyem lah, manusia yang pertama kali tahu tentangku. Dan karena Bi Iyem lah aku juga tahu apa itu manusia dan bagaimana kebiasaannya," ucap Wuri memegangi tangannya lembut seraya tersenyum tipis padanya.
Bi Iyem kini hanya menatapinya dengan badan yang masih gemetar. Namun, terlihat sekarang ia bisa tersenyum menatap Wuri. Wuri membalas senyumannya ramah.
Wuri lalu kembali mengangkat sebelah telapak tangan mengarah pada semua kebun Bi Iyem itu. Seketika awan-awan terlihat mulai menyatu semua karena perintah Wuri.
"Wahai para awan putih yang baik hati, turunkanlah air hujan untuk kebun Bi Iyem ini. Agar semua menjadi subur dan tidak ada yang mati," ucapnya mendongak ke atas.
Seketika terdengar sedikit gemuruh petir karena awan yang bersatu lalu turunlah hujan gerimis yang begitu indah. Wuri tersenyum lebar menatapnya. Betapa ternganganya Bi Iyem melihat semua kejadian ajaib yang dilihat dengan mata kepalanya sendiri.
Akhirnya semua tanaman berubah yang awalnya ada yang layu kini malah berubah menjadi segar dan terlihat hampir berbuah. Yang awalnya memang segar kini menjadi semakin subur. Bi Iyem sangat terpana melihat semua itu. Kini awan mulai kembali seperti sedia kala dan matahari kembali bersinar cerah menimbulkan pelangi yang sangat indah di atas perkebunan.
Wuri menatap Bi Iyem tersenyum. Bi Iyem terlihat begitu terharu melihatnya.
"Katakan, apa lagi yang kamu inginkan?" tanya Wuri lembut.
"Bibi... Sekarang... Mau pulang," jawab Bi Iyem terbata berkaca-kaca tersenyum menatapnya. Wuri tersenyum. Ia lalu mendekati Bi Iyem dan merangkulnya. Ia lalu mendongak ke atas dan terlihat sinar kuning emas mengelili mereka seketika dan perlahan mereka menghilang. Ternyata Wuri membawanya langsung pulang.
Seketika mereka sudah tiba di depan rumah. Bi Iyem yang heran langsung celangak-celenguk melongo melihat tempat yang sudah berpindah secepat itu.
"Loh? Ini?" tanya Bi Iyem melotot begitu melongo.
"Aku bisa menggunakan teleportasi dari alamku di sini Bi," ucap Wuri menjelaskan. Bi Iyem hanya melongo karenanya.
Wuri yang melihat rumah memprihatinkan Bi Iyem yang merawatnya itu terlihat sedih. Wuri langsung serius menatap rumah itu. Ia terlihat memejamkan matanya dan di tangan kanannya terlihat timbul cahaya bersinar terang yang akan menimbulkan sesuatu. Ternyata ia mengambil tongkat saktinya. Terlihat saat ia membuka mata melirik tongkat itu sangat senang. Bi Iyem hanya ternganga melihatnya. Tongkat sakti itu langsung mengeluarkan cahaya dan menyihir rumah Bi Iyem menjadi semakin bagus, lebih lebar dan kokoh sekarang. Kini dapur Bi Iyem juga terlihat tidak usang lagi. Kamar mandi di belakangnya juga terlihat lebih bagus sekarang.
Betapa syoknya Bi Iyem melihat semua itu. Wuri terlihat puas dengan kekuatannya yang sudah kembali pulih sekarang. Bi Iyem menatapnya sangat kaget dan penuh haru. Bi Iyem langsung memeluknya dan ia terdiam seketika. Bi Iyem menangis dalam sembari memeluknya begitu erat. Wuri terlihat diam dan bingung. Ia lalu dengan ragu membalas pelukan Bi Iyem dan sekarang terlihat ikut tenang dan tersenyum.
Hari itu semua ia lakukan pada Bi Iyem. Ia telah memberi semua yang di inginkan Bi Iyem sampai malam telah tiba.
"Nak, walau kamu bukanlah seorang manusia. Tapi kamu adalah makhluk yang sangat baik, Bibi benar-benar tak menyangka dengan semua keajaiban ini," ucap Bi Iyem sangat terharu tersedu-sedu.
Wuri kini berdiri di hadapannya tersenyum.
"Iya, akan aku pastikan sebentar lagi anak Bibi dan keluarga Bibi akan menjenguk Bibi juga seperti keinginan Bibi," jawab Wuri. Bi Iyem terlihat sangat terharu terus menangis.
"Ohh hm, sepertinya aku harus pergi sekarang," kata Wuri merasa sedih juga tersenyum. Bi Iyem kini hanya membelalakkan matanya terhenti menangis.
Seketika seluruh tubuh Wuri mengeluarkan cahaya putih bersinar dan mengubah pakaiannya menjadi gaun putih dengan selendang putih berhias garis kuning emas di pinggir-pinggir selendang itu bagaikan bidadari dengan hiasan untaian bunga di kepalanya yang begitu indah. Rambut lurus panjang hitam sedikit bergelombangnya terlihat begitu cantik. Betapa ternganganya Bi Iyem melihat wujud aslinya itu.
"Aku menampakkan wujud asli ku ini hanya padamu saja, karena.. kamu memang orang yang sangat baik telah menolongku," ucap Wuri masih bersinar. Sinarnya yang begitu indah menerangi kegelapan malam di sana.
"Tapi, ini adalah wujudku ketika masih belum menjadi seorang Ratu," ucapnya. Bi Iyem semakin mengangkat kedua alisnya ternganga.
"Emm, aku juga akan menampakkan wujudku sekarang padamu," katanya tersenyum.
Kini cahaya putihnya seketika berubah menjadi kekuningan emas dan semakin bersinar. Dalam sekejap gaunnya yang putih biasa tadi kini berubah menjadi gaun kuning emasnya, selendang putihnya juga berubah menjadi seperti sayap di belakang gaunnya memanjang sampai bawah. Mahkotanya kini kembali terlihat seperti Bi Iyem pertama kali menemukannya. Kini ia benar-benar menjadi wujud aslinya yang begitu cantik bersinar. Tongkatnya juga sekarang sudah ia pegang. Betapa ternganga lebarnya Bi Iyem saat melihat dirinya. Bi Iyem mengingat waktu itu gaunnya sobek-sobek dan sekarang benar-benar sempurna. Cahaya Wuri mulai memudar dan kini dirinya terlihat jelas. Wuri lalu tersenyum padanya. Wuri lalu menarik nafasnya dan terlihat ingin menampakkan sesuatu lagi padanya.
Seketika tanpa aba-aba sayap Wuri Wuri bentangkan. Kini sayapnya juga terlihat sudah pulih seperti sedia kala. Betapa lebar dan besarnya sayap putih itu sampai-sampai menutupi cahaya bulan yang membelakanginya. Wuri lalu membuka matanya menatap Bi Iyem malu. Bi Iyem sungguh melotot ternganga tak bisa mengatup bibirnya. Matanya juga melotot tak bisa berkedip melihat itu.
"Bi Iyem, aku sangat berterimakasih banyak padamu. Karena tanpamu, mungkin aku sudah mati," kata Wuri sangat sedih. Ia juga seakan tak tega pada Bi Iyem.
Wuri tersenyum manis padanya. Bi Iyem terlihat terharu padanya menutup mulutnya. Namun, Bi Iyem terllihat melangkah mendekatinya. Wuri membelalakkan matanya.
Dengan tangan gemetar, Bi Iyem mencoba meraih wajahnya yang bersinar begitu cantik jelita itu. Bi Iyem tersenyum ternganga lalu berhasil menyentuh lembut pipinya. Bi Iyem tersenyum memandanginya. Wuri yang melihat itu terdiam haru mengerutkan alisnya. Kini ia balas menggenggam tangan Bi Iyem lembut. Wuri merasakan saja sentuhan terakhir dari Bi Iyem itu.
Ia lalu melepaskan genggaman Bi Iyem dari tangannya.
"Bi Iyem... Terimakasih banyak," ucapnya terus menatap Bi Iyem.
Bi Iyem terlihat menggeleng seakan tak rela ia pergi.
Wuri pun terpaksa. Akhirnya sambil tersenyum ia menyihir ingatan Bi Iyem dari sekarang agar melupakan ingatannya agar dirinya tidak di sebarluaskan oleh Bi Iyem. Ia menyihir Bi Iyem agar menghilangkan semua ingatannya mulai dari awal menemukannya. Cahaya putih silau itu terus keluar dari tongkat sakti Wuri dan seketika menghilang.
Kini Bi Iyem terlihat memegangi kepalanya lalu pingsan tak sadarkan diri.
Wuri terlihat tersenyum padanya tak sadar menitikkan air matanya juga haru tak tega. Akhirnya ia pun mulai mendongak ke atas dan pergi dari tempat itu cepat entah ke mana.