Tak terasa pagi telah menyapa kembali. Bi Iyem yang terlihat baru tersadar dari pingsannya karena tengah malam terkena sihir Wuri itu baru tersadar. Ia lalu bangun memegangi kepalanya dan melongo kebingungan sendiri. Ternyata sebelum pergi Wuri telah menaruhnya di kasur tidurnya dan akhirnya ia memang mengira baru bangun dari tidurnya pagi itu.
"Loh? Udah pagi?" tanyanya heran. Ia memang sudah lupa ingatan.
Ia lalu langsung pergi ke kebun masih menggaruk kepalanya heran dan melakukan aktivitas seperti biasa.
****
Wuri sekarang terlihat kebingungan. Ia lalu turun ke sebuah tempat absurd. Ia merasa aman saja karena wujudnya tak bisa di lihat oleh siapapun.
Ia lalu mulai menyihir tembok itu untuk melacak keberadaan bola kehidupan. Terlihat dinding itu sekarang seperti layar kaca yang menampakkan segalanya. Ia terlihat semakin memperbesar tempat yang di perintahkan Wuri. Namun, seketika layar itu malah blur kembali.
"Ahh kenapa ini, sejak malam tadi. Aku tak bisa melacak keberadaan bola kehidupan. Di mana sekarang dia berada?" tanyanya heran sedikit kesal.
Meski maharaninya tak bisa memberitahukan keberadaan bola kehidupan padanya. Maharani itu terlihat menunjukkan sebuah kota yang begitu ramai padanya. Wuri terlihat mengerutkan alisnya heran menatap tempat itu.
Terlihat begitu ramai manusia-manusia berjalan juga mobil serta motor, sepeda yang memadati jalan raya. Terlihat juga cafe-cafe dan resto yang ramai dan indah.
Wuri terlihat hanya ternganga melongo melihat semuanya dan masih tak mengerti dengan apa yang maharaninya tampilkan.
"Tempat apa ini?" tanyanya heran terus menatap semua itu.
"Di sini, terlihat lebih banyak manusia dari tempat Bi Iyem?" ucapnya terus berpikir.
Ia lalu mencoba sekali lagi untuk memastikan memfokuskan di mana keberadaan bola kehidupan dan mengartikannya. Namun, maharaninya seakan hanya bisa memberitahukannya bahwa bola kehidupan itu hanya ada di sekitar sana.
"Ehh kenapa maharani cuman menampakkan tempat yang begitu besar ini? Huhh, apa jangan-jangan memang benar. Kalau bola kehidupan memang ada di sekitar sini. Tetapi maharani tak bisa melacak keberadaannya yang benar-benar ada di mana," ucapnya terus berpikir.
Akhirnya ia termenung dan berpikir memutuskan untuk pergi ke kota.
"Sepertinya aku memang harus ke sana. Untuk menemukan dan mengambil kembali bola kehidupan itu sebelum Adrienne tersadar dan melacak keberadaanku. Juga sebelum para manusia tahu tentang bola kehidupan kami itu," ujarnya berpikir lalu berbalik lagi ke arah maharaninya itu. Ia lalu menyihir kembali dinding itu seperti sedia kala. Ia lalu menutup matanya.
"Wahai maharani, tunjukkanlah aku tempat yang kau tunjukkan tadi padaku, dan bawalah aku ke sana," perintahnya. Seketika tongkat sihirnya bersinar menyinari seluruh tubuhnya dan membawa dirinya langsung menghilang dari tempat itu.
Seketika ia langsung berada di tengah-tengah kota metropolitan itu. Ia langsung kaget dan melongo melihat sekelilingnya.
Terlihat begitu ramainya orang di sana-sini. Di ujung sana terlihat orang berjalan begitu santai. Klakson dari jalanan juga berbunyi ramai juga di ujung sebelah sana juga ada terlihat orang berkumpul sedang bernyanyi sambil bergitar santai beramai-ramai.
Wuri yang baru melihat suasana seperti itu kini bingung dan terlihat takut sampai ia terkaget melompat melihat ada anak-anak yang memakai sepeda di pinggir jalan dengan lajunya tertawa bersama temannya. Karena ia memang tak bisa dilihat maka dari itu orang tak sadar ada keberadaannya. Ia terlihat syok karena nyaris tertabrak anak tadi sampai terengal. Ia merasa dirinya begitu konyol di sana. Ia lalu menegakkan badannya seraya memegangi tongkat lebih kuat.
Ia lalu mencoba berjalan dari sana. Ia bingung berjalan tanpa arah dan terus memperhatikan sekelilingnya.
"Aku harus bagaimana sekarang? Apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar bingung dan tak mengerti tempat apa ini," tanyanya kebingungan sendiri melongo.
Tak sengaja ia melihat 3 orang wanita lewat bergaya sangat modis dan kece. Terlihat mereka saling tertawa bahagia sembari berjalan santai tanpa menyadari ada Wuri di samping dan mereka lewati.
Wuri memperhatikan mereka dan berpikir tentang penampilannya. Ia terlihat merasa aneh dengan tampilan para manusia tetapi ia merasa tampilan seperti mereka sangatlah bagus dan unik. Tanpa sadar ia tersenyum mengerutkan alisnya memperhatikan itu.
Ia lalu mengangkat kedua alisnya dan menengok tampilannya sendiri sekarang. Betapa herannya ia saat melihat lagi ke arah 3 wanita yang sudah berlalu lumayan jauh darinya itu.
"Apakah penampilan mereka yang aneh, atau diriku yang aneh di mata mereka?" tanyanya sendiri termenung heran begitu polos. Setelah ia terdiam berpikir, akhirnya ia memutuskan untuk meniru saja penampilan dari yang ia lihat tadi. Ia lalu bersembunyi di pojok dinding bangunan.
"Tongkat saktiku, tolong buat diriku menjadi seperti manusia yang aku lihat tadi, agar aku bisa di lihat oleh mereka juga," perintahnya. Seketika tongkat itu menyinari dirinya lagi begitu silau sampai sekarang ia tak kelihatan masih tanpa di sadar para manusia.
Kini akhirnya ia berubah layaknya wanita biasanya. Begitu cantiknya dirinya sekarang. Memakai blazer feminim coklat muda tanpa lengan berdalaman kaos putih dengan rambut panjang sedikit bergelombangnya terurai indah, bercelana panjang layaknya wanita karir dan sepatu ceweknya, juga anting yang panjang anggun menghiasi dirinya. Ia terlihat tersenyum memandangi dirinya sendiri sekarang. Ia terus terlihat tak percaya melihat dirinya seperti itu. Ia semakin tersenyum lebar melihat kedua tangannya yang terlihat juga di hiasi jam tangan cantik.
Dengan polosnya ia juga menggerak-gerakkan badannya merasakan baju yang ia pakai dan merasa lucu.
"Enak juga ya," ucapnya polos sekali tersenyum. Ia mencoba ingin melihat dirinya sendiri sekarang. Ia lalu mengeluarkan sihir dari tangannya dan menjadikannya cermin dan betapa terkejutnya ia saat melihat dirinya yang begitu cantik di cermin itu. Ia membelalakkan mata mengangkat kedua alisnya mengangakan mulutnya tak percaya seakan menyukai semua itu. Kini ia terlihat tersenyum lebar.
Namun, setelah itu. Kini ia merasa bingung lagi.
"Em terus setelah ini. Aku ke mana?" tanyanya heran. Ia lalu memperhatikan sekeliling kebingungan.
"Aku harus memperhatikan para manusia di sini agar aku tahu kebiasaan mereka seperti apa," ucapnya mengerutkan alisnya seraya terus memperhatikan sekelilingnya.
Akhirnya ia berjalan berkeliling sekitar sana tanpa tau arah dan tujuan terlihat begitu bingung tak tau apa-apa. Saat berjalan lumayan jauh, ia melihat sebuah bangunan indah dan begitu tinggi bertuliskan "Hotel". Ia mendongak terkekeh mengerutkan alisnya.
Ia lalu mencoba diam-diam mengikuti salah satu orang yang masuk ke sana karena kepo. Ia terlihat berjinjit diam-diam mengikutinya dari belakang. Setelah masuk ia terlihat melongo kebingungan mendongak melihat sekeliling dalam hotel itu. Ia lalu terkekeh saat melihat para pelayan hotel dan orang itu terlihat bertransaksi. Ia mengerutkan alisnya.
"Ini uangnya," ucap lelaki merangkul seorang wanita itu mesra tersenyum pada pelayan hotel itu seraya mengasih uang. Wuri melihat itu masih bingung dengan apa yang mereka lakukan.
"Terimakasih, ini kamar anda bernomor 89 silahkan mari," jawab pelayanan itu sangat ramah mengasih kuncinya.
Wuri yang sudah melihat semuanya lalu keluar lagi tanpa merasa apa-apa karena memang ia masih tak mengerti.
Setelah keluar dan terdiam. Ia lalu terkekeh lagi saat melihat 2 orang pria sedang membeli makanan dan minum di pinggir jalan itu. Ia mencoba memperhatikannya lagi dan mendekati mereka diam-diam mengintip dari tiang listrik lampu jalanan yang ada di sana.
"Ini uangnya makasih Pak," ucap pria itu menyodorkan uang. Wuri yang melihat persis seperti sama yang di lakukan orang di dalam hotel tadi berpikir. Setelah orang itu pergi ia langsung bersembunyi di tiang itu takut ketahuan. Ia melirik lagi ke arah orang itu bingung lalu berpikir.
"Uang? Apa itu uang? Apa manusia menginginkan apa yang ia inginkan itu harus dengan uang?" tanyanya berpikir keras. Ia lalu terkekeh lagi ketika melihat 2 orang wanita yang baru saja keluar dari butik di dekatnya sana.
"Ehh tadi uang kamu udah aku ganti ya beli ini, jadi kita deal. Makasih ya hehemm," ucapnya pada temannya seraya tersenyum membawa belanjaan mereka.
"Iyaa sama-sama beb," jawabnya tersenyum lalu mereka berjalan.
Wuri yang mendengar itu akhirnya mengerti.
"Ternyata benar, manusia itu melakukan apapun dengan uang," gumamnya dalam hati mengerti seketika. Wuri memang makhluk yang pintar juga seperti Zanna.
Ia lalu beranjak dari sana dan berpikir kembali seraya terus berjalan entah ke mana.
"Jadi, sekarang aku harus mendapatkan uang seperti mereka agar bisa melakukan apapun untuk menemukan kembali bola kehidupan. Tapi, aku harus ke mana?" tanyanya kebingungan.
Namun, saat ia sedang berjalan sendiri. Tiba-tiba ada 2 orang pria bergaya preman mendekatinya. Karena memang ia cantik dan terlihat berjalan sendirian saja.
Wuri langsung kaget melihat mereka.
"Hehe, mau ke mana sendirian begini cantik," ucapnya tersenyum merayu genit. Wuri yang masih heran pada mereka hanya menatap kesal.
"Kalian mau apa?" tanya Wuri menatap mereka. Mereka malah tertawa.
Pria itu mulai memegangi tangan Wuri hingga Wuri bergidik.
"Ehhehe, kami ini. Cuman mau nemenin Mba aja, biar gak sendirian," jawabnya sangat bisa. Wuri yang masih sabar langsung melepaskan tangannya.
"Terimakasih, tidak perlu," jawabnya menatap tajam lalu pergi. Namun, mereka malah mencegat Wuri. Wuri kesal mengerutkan alisnya.
"Ayo dong cantik ikut Abang," paksanya langsung menarik Wuri. Kini Wuri panik.
Mereka terlihat mendekap Wuri kuat dan membawanya ke tempat yang lebih sunyi.
"Lepas!" teriak Wuri panik sekarang.
Kini mereka melepaskan Wuri dan tertawa puas. Wuri terlihat terengal takut sangat kaget melotot ke arah mereka semua.
"Aduhh cantik banget nih Bos! Ahaha," teriaknya puas langsung ingin memperkosa Wuri.
Wuri kini tersadar para manusia itu seperti ingin mencelakainya.
"Kalian mau mencelakai saya?" tanyanya menatap tajam pada mereka.
"Ahahahaa, sikat Bro!" ucapnya sudah melepaskan baju langsung melangkah mendekati Wuri.
Wuri membelalakkan matanya sangat marah sekarang. Seketika kedua tangannya langsung mereka tahan. Wuri panik melirik kedua tangannya. Ia terlihat mencibir kesal menyipitkan matanya menatap mereka.
Saat pria itu mulai ingin menindihnya. Seketika cahaya biru dari kedua tangannya keluar. Mereka terkekeh heran dan tempat itu langsung meledak seketika. Kini para preman itu terpental lumayan keras.
Mereka kesakitan lalu langsung kaget melihat Wuri yang sudah berdiri menatap mereka begitu tajam sangat marah.
"Heh, ka, kamu ini siapa?!" tanya salah satu pria itu ketakutan. Namun, pria yang memang sudah kebelet membuka bajunya itu tak memperdulikannya dan masih ingin memperkosa Wuri. Dia langsung berdiri berlari mendekati Wuri.
"Halahh, sikat aja heh kamu sini!!" teriaknya marah pada Wuri. Wuri kini menatapnya dan langsung mencekik lehernya saat ia sudah dekat dengan Wuri.
Semua temannya yang melihat itu langsung ternganga.
"EEKHH! UHH!" jerit pria itu mencoba melepaskan cekikan Wuri. Wuri menyipitkan matanya sangat marah memandang pria itu. Pria itu langsung mencoba menendangnya tetapi Wuri langsung menghempaskan jauh. Wuri memang makhluk yang kuat yang bisa mengangkat beban begitu berat seperti Zanna.
"SERANG DIA!" teriak pria itu tak terima Bos mereka terlihat tersungkur tak berdaya. Mereka lalu langsung bergerombol menyerang Wuri. Wuri terlihat masih tenang dengan raut wajah yang terlihat geram pada mereka semua.
Saat mereka mulai dekat dengan Wuri tiba-tiba Wuri sudah hilang dari situ hingga mereka terpukul dengan teman mereka sendiri. Saat mereka tersadar mereka langsung bingung ternganga.
Betapa terkejutnya mereka saat berbalik melihat ke atas Wuri sudah kembali ke wujud aslinya terbang membawa tongkat itu. Mereka ternganga sungguh kaget juga terlihat takut panik.
Wuri langsung membuat bola besar dari tongkatnya dan langsung mengarahkan kekuatannya pada mereka dan seketika tempat itu meledak sampai mereka tewas semuanya sekarang.
Wuri kini kembali ke wujud manusianya sangat puas melihat mereka. Ia terlihat terengal begitu geram mengerutkan alisnya menatap mereka yang sudah tak bernyawa itu.
Namun, seketika ia tersadar dengan perbuatannya. Ia kini terlihat panik membelalakkan matanya. Ia terlihat melangkah mundur dan sangat takut sekarang.
Akhirnya ia berlari dari tempat itu agar manusia lain tak tahu bahwa dialah yang telah menewaskan mereka semua.
Ia terlihat lari begitu panik. Saat ia tersadar banyak orang di luar. Ia akhirnya mencoba menenangkan dirinya sendiri agar para manusia tak melihatnya aneh.
Tanpa ia sadari ia sudah berjalan sampai dekat dengan perusahaan Agra.
Ia terlihat ngos-ngosan dan sudah kelelahan akibat takut dan panik tadi.
Ia terlihat keletihan memangku lututnya untuk menahan dirinya. Saat ia kelelahan. Ia melihat orang lagi sedang melambai memanggil angkutan umum.
Orang itu lalu masuk ke angkot. Ia terkekeh melihat angkot yang berjalan begitu cepat di jalan.
"Apa manusia memakai alat itu untuk pergi?" tanyanya.
"Aku harus pergi dari sini," ucapnya merasa masih tak tenang.
Namun, ia merasa bingung sekarang. Ia lalu berhenti.
"Tapi, bagaimana cara manusia agar bisa mendapatkan uang?" tanyanya heran masih bingung.
Karena masih kelelahan akhirnya ia memutuskan untuk menggunakan sihirnya saja.
"Berikan aku uang agar bisa pergi dari tempat ini," ucapnya menutup matanya. Seketika telapak tangannya bersinar putih dan terlihat sekarang ada selembar uang.
Ia terlihat tersenyum dan ternyata uangnya hanya uang goceng. Ia masih mengerutkan alisnya tak tau.
"Apakah ini benar?" tanyanya polos. Ia hanya tersenyum dan langsung berjalan cepat ke pinggir jalan mengikuti orang tadi memanggil angkot yang akan lewat di sana senang.