Kini Wuri sampai di depan perusahaannya Agra. Saat ia turun dari angkot, ia melongo memandang gedung perusahaan yang lebar juga besar itu. Ia terlihat bingung di sana sekarang karena perusahaan Agra memang lebih besar dari bangunan-bangunan yang ia lewati tadi.
Ia mulai melangkah mencoba memberitahu tempat apa itu. Ia yang kelihatan mendongak heran tanpa memperhatikan jalan lagi.
Karena sama sekali tak memperhatikan jalan lagi. Akhirnya ia tertabrak dengan seseorang yang kebetulan lewat sana.
"Ugh!"
Jeritnya nyaris terjatuh tetapi orang itu kini terlihat mendekapnya. Betapa tak menyangkanya ternyata ia malah tertabrak dengan Agra.
Agra langsung menengok kesal ke arahnya. Kini mereka terlihat saling berpandangan sekarang dan seakan seperti sepasang kekasih yang sedang di akhir dansa.
Agra yang tersadar bahwa yang ia tangkap sekarang adalah wanita sangat kaget tak menyangka. Wuri terlihat diam seakan terpana juga merasa bingung dengan semua yang telah terjadi. Ia masih diam menatapi Agra melongo. Agra melotot terkejut memandangnya.
Dia langsung melepaskan dekapannya agar Wuri tak merasa risih padanya.
"Mba, makanya lain kali lihat-lihatlah kalau anda sedang berjalan," ucap Agra merasa sedikit sebal padanya.
Baru kali ini Wuri di ajak bicara oleh manusia. Ia masih heran menatap Agra terheran. Agra yang tersadar akan hal itu semakin kesal dengan dirinya yang seakan hanya melongo saja tak mendengarkannya.
"Mba dengar gak sih?" tanyanya.
Wuri terkekeh menatapnya ikut kesal mengerutkan alisnya.
"Ya," jawabnya singkat lalu langsung pergi meninggalkan Agra.
Betapa melototnya Agra melihat dirinya langsung pergi saja tanpa meminta maaf atau berterimakasih pada dirinya.
"Heh, ngeselin banget tu cewek. Udah nabrak, ditolongin gak bilang maaf atau terimakasih lagi sama gue. Huh!" celetuknya sangat sebal terus menengok ke arah Wuri yang terus aja berlalu.
"Tapi kok, dia masuk ke kantor gue ya? Apa dia karyawan di sini? Tapi, kok gue gak pernah liat kalau dia karyawan di sini?" tanyanya merasa aneh pada Wuri.
Saat dia ingin menyusul Wuri dan ingin menanyakan padanya kenapa dia ke sini tiba-tiba ada seorang client kerja menghampirinya. Alhasil dia gagal mengejar Wuri. Akhirnya dia mengikuti clientnya dan terlihat di suruh menandatangani sebuah berkas.
*
Wuri terlihat masih memperhatikan penasaran di sekitarnya.
Ia terhenti saat mendengar orang berbincang bersama temannya di kursi bersantai di sana seraya meminum minuman di gelas menikmati santainya.
"Aduhh, capek banget ya. Kerjaan lo udah beres gak?" tanyanya pada temannya itu seraya bersender di kursi terlihat malas.
"Belom, capek banget gue juga kerja, huhh gini ya hidup. Kita itu harus kerja, kalo gak. Haha gak bisa belanja," jawabnya menyeringai seraya mengambil minuman itu dan menyeruputnya santai.
Wuri mendengarkan percakapan mereka. Kini ia mendengar apa itu kerja.
"Ooh, jadi. Manusia itu bekerja, agar mendapatkan yang mereka inginkan," gumam Wuri dalam hati mengangguk-angguk mencoba memahami.
Namun, saat ia asyik berpikir tiba-tiba dari belakang ada seseorang bersorak heboh mendorong sebuah troli barang begitu cepat dari belakangnya.
"WOOHO MINGGIR MINGGIR!!" teriaknya sangat senang terus mendorong troli yang terlihat berisi begitu banyak tumpukan map di sana.
Wuri membelalakkan matanya langsung menepi cepat sampai ia terengal saking takut juga kagetnya.
Orang-orang sekitar juga terlihat terkekeh pada wanita yang petakilan itu. Ia sekarang terlihat mulai panik sendiri karena kehilangan keseimbangan dan trolinya nyaris jatuh.
"WOH WOH WOOH!!!" teriaknya mencoba menahan trolinya dan akhirnya malah ia yang tersungkur.
Wuri yang melihatnya hanya melotot mengerutkan alisnya begitu kaget. Semua orang juga terlihat tegang karenanya.
"Huh, huh, huh. Huhh syukurlaah aku sempat menahannya hehe," ucapnya ngos-ngosan mencoba bangkit menahan troli itu.
Ternyata wanita itu adalah Zanna. Ya, ia di suruh Agra membawa semua berkas-berkas itu ke gudang karena sudah tak terpakai lagi. Tetapi karena ia mempunyai tingkah yang agak nakal. Ia malah memainkan troli itu ke tengah ruangan kantor seperti itu.
Zanna memang makhluk yang sedikit pecicilan. Ketimbang Wuri yang lebih dewasa darinya meski Zanna sebenarnya adalah juga seorang Ratuz tetapi karena ia yang memang masih tidak mau memperkuat kekuatannya dan menetap di alamnya. Maka ia sekarang masih belum menjadi seorang Ratu.
Wuri yang melihat kelakuannya hanya menghela nafasnya sangat merasa rese seraya menggeleng kecil.
"Zanna! Makanya kalau bawa troli itu pelan-pelan dong! Untung gak apa-apa?!" ketus salah seorang karyawan perempuan yang mengenali Zanna itu kesal membantunya menahan troli itu agar tak jatuh saat ia bangun.
Wuri yang melihat itu semua hanya terdiam kebingungan.
"Ya maaf, tadi itu refleks gak sengaja," jawabnya seperti tak ada dosa.
Karyawan perempuan itu hanya menggeleng sudah maklum dengan tingkah nakalnya itu dan beranjak dari sana menyambung pekerjaannya.
Zanna terlihat mencoba menarik troli itu lagi tetapi ia sempat terkekeh pada Wuri. Namun, saat ia melihat Wuri, Wuri sudah berpaling dan beranjak dari tempat. Ia mengerutkan alisnya terheran.
"Loh, dia siapa? Perasaan baru liat," ucap Zanna mengerutkan alisnya terus memantau Wuri yang berjalan menjauh membelakangi dirinya itu.
Wuri terus berjalan memasuki perusahaan itu tanpa dosa.
"Aku rasa semua manusia memang suka banyak bicara," ucap Wuri terus berjalan.
Ia terhenti dan bersembunyi di balik dinding ketika melihat salah satu client penting Agra yang berkumis berjas rapi berbadan gemuk itu terlihat berjabat tangan tanda setuju dengan kerjasama mereka pada bawahan Agra.
"Terimakasih, semoga dengan kerjasama ini Pak Agra juga kita semua akan lebih memiliki pasaran dan keuntungan yang lebih luas," ucapnya tersenyum senang seraya melepaskan jabatannya dan duduk kembali.
Wuri semakin berpikir dan ia sekarang mulai ingin mencoba mencari pekerjaan seperti mereka.
"Jadi pekerjaan mereka begitu, aku harus lebih banyak mencari tahu seperti apa kebiasaan mereka sehari-hari. Agar aku juga bertahan di sini dan kembali mendapatkan bola kehidupan," gumamnya dalam hati lalu melirik ke arah mereka lagi.
Setelah itu, akhirnya ia memutuskan untuk keluar saja dari sana karena telah mendapatkan lumayan banyak info.
"Makasih ya," ucap Zanna tersenyum seraya menerima berkas itu dari karyawan dan akan ia serahkan pada Agra.
Namun, ia terkekeh lagi ketika tak sengaja melihat Wuri sudah keluar membuka pintu kaca kantor itu.
"Dia pergi?" tanyanya heran. Karena penasaran ia mencoba untuk diam-diam menguntit Wuri.
"Gue heran dengan tingkah wanita itu. Aneh banget, apa jangan-jangan dia bukan orang yang kerja di sini lagi," gumamnya dalam hati curiga pada Wuri. Entah kenapa ia seakan merasa kalau Wuri adalah orang yang mencurigakan.
Ia lalu ikut keluar dan kepalanya lebih dulu menengok keluar seperti kura-kura memeriksa Wuri.
Saat ia lihat Wuri sudah tak ada ia pun keluar dan mencoba mengejar Wuri yang sudah terlihat berjalan menjauh dari halaman kantor.
Namun, ketika ia ingin mengikuti Wuri lagi. Agra menghalanginya sampai ia terpantul sedikit ke belakang karena kaget.
"Kamu mau ke mana?" tanya Agra terlihat malas menatapnya dengan gaya yang cool memasukkan kedua tangan ke kantong celananya.
Zanna terlihat melotot kaget. Kini ia berdiri tegak menatap Agra masih terkejut. Lalu dengan polosnya ia menaruh kedua tangannya ke belakang seakan tidak punya dosa memasang wajah imut menatap Agra.
Agra membuang nafasnya menatapnya.
"Ayo balik," ucapnya seraya berlalu. Zanna terlihat memanyunkan bibirnya sedikit kesal dengan sikap Agra yang selalu begitu padanya.
****
Sekarang Wuri mencari tempat tinggal yang ingin ia tempati. Karena ia memanglah Peri memiliki kekuatan sihir yang hebat, dengan mudahnya ia mendapatkan uang yang ia inginkan. Akhirnya ia memilih menyewa apartemen yang dekat dengan perusahaannya.
Wuri kini terlihat mencari tahu info apa syarat-syarat masuk bekerja. Ia terlihat begitu fokus dan benar-benar mempelajari semua yang di lakukan para manusia. Waktu yang lumayan lama ketika ia mempelajari dan menguasai semua yang ia bisa turuti kebiasaan manusia itu.
Dan akhirnya tahu semua yang ia perlukan dengan kekuatan juga kecerdikannya.
Kini ia terlihat santai dengan mempersiapkan segala yang ia butuhkan untuk bekerja dengan sihirnya. Begitu mudahnya ia mengadakan segalanya. Akhirnya dengan wajah yang terlihat tidak apa-apa ia mulai melangkah mencari perusahaan yang bisa ia tempati.
Ia memilih melamar menjadi seorang manajer di perusahaan Teh Botol Asri lumayan jauh dari perusahaan real estate Agra.
Begitu mudahnya ia meyakinkan HRD serta Direktur ketika melamar karena Wuri memang memiliki kecerdasan lebih dari manusia dan bisa melakukan apapun yang mereka inginkan dengan sihirnya sehingga dengan begitu mudah ia memasuki perusahaan itu tanpa orang-orang sana sama sekali mencurigainya.
Akhirnya, berkat usahanya terus mencari tahu dan mempelajari semua yang di lakukan manusia. Ia bisa masuk dan mulai bekerja di sana sekarang. Betapa senangnya hatinya mendengar semua itu.
Ia pun sekarang menjadi manajer wanita yang sangat di segani mereka di kantor. Wuri memang lihai dalam menyelesaikan dan memecahkan semua masalah pekerjaannya. Ia memang makhluk yang begitu luar biasa. Bisa di katakan ia adalah saingan Zanna ketika berbaur dengan para manusia. Namun, ia memiliki kepribadian yang lebih tenang dan kalem di banding Zanna.
Namun, baru saja beberapa minggu ia bekerja. Tak di sangka-sangka perusahaannya bekerja sama dengan perusahaannya Agra tanpa Wuri masih belum tahu. Wuri memang masih belum mengenal Agra.
Mereka terlihat mengetuk pintu ruang Wuri sedikit gugup.
"Ehee permisi Bu manajemen, maaf," ucapnya sopan.
Wuri yang dari dalam terlihat sibuk memeriksa berkas mendengarnya.
"Ya masuk," jawabnya seraya masih memegangi dokumen itu.
Mereka pun membuka pintu Wuri dengan sopan. Mereka tersenyum menyapa Wuri dengan ramah seraya membungkukkan badan mereka.
Wuri lalu menengok ke arah mereka membalas senyuman mereka dengan senyuman tipisnya. Ya, mereka adalah bawahan Agra yang di perintahkan Agra untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan Wuri.
"Eeh baik Bu manajemen. Kami, dari perusahaan real estate Pramana group ingin, menyampaikan kalau perusahaan kalian juga perusahaan kami. Akan menjalin kerjasama untuk lebih meluaskan pasaran serta menambah penjualan kita berdua," ucapnya tersenyum.
Wuri yang mendengar itu sebenarnya masih belum paham apa itu kerjasama.
"Kerjasama?" tanya Wuri. Namun, mereka tidak mencurigainya sama sekali dan malah lebih menjelaskan lagi padanya.
"Iya Bu, kerjasama kita ini sudah di setujui atasan Ibu juga Pak Erdian. Jadi, kami hanya menyampaikannya lagi pada Ibu agar Ibu bisa membantu mengurus berkas-berkas penting untuk surat kontrak kita nanti Bu, begitu hehe," jawabnya menjelaskan. Wuri akhirnya yang masih tidak paham itu pura-pura mengangguk seraya tersenyum saja mendengar mereka semua karena ia memang Peri yang tak tahu menahu soal masalah ini. Ia memang terlihat lugu dan polos.
"Ahh baik Bu, terimakasih banyak Bu. Ini kalau boleh kami minta tanda tangan Ibu untuk persetujuan kerjasama kita. Di sini ya Bu," ucapnya dan sekarang mulai menyodorkan berkas itu minta Wuri menandatangani.
Wuri yang semakin tak paham apa itu tanda tangan merasa bingung dan takut sekarang.
"Aduh, apa itu tanda tangan? Kalau aku beritahu mereka pasti mereka tak percaya padaku, aku harus bagaimana sekarang?" tanyanya dalam hati panik juga. Kini ia pasrah dan berpura-pura terus memperhatikan berkas itu seraya tersenyum pada mereka.
"Uhmm boleh. Em apakah tanda tangan kalian juga ada di sini? Untuk persetujuan itu?" tanya Wuri sangat pintar agar mereka tak heran padanya dan mengira ia manusia biasa juga.
Kini kedua pria itu hanya saling bertatapan terlihat bingung. Wuri kini semakin gugup karenanya.
"Aduh apakah aku salah?" gumamnya dalam hati gelisah melotot takut.
Namun, ternyata mereka malah tersenyum pada Wuri.
"Ehhe iya Bu, ini tanda tangan kami, juga Pak Agra," jawabnya seraya memberitahu tanda tangan mereka di berkas itu.
Wuri kini akhirnya tahu apa itu tanda tangan. Ia sekarang hanya memonyongkan bibirnya dan mengangguk tanda mengerti. Kedua pria itu terlihat hanya memaklumi saja melihat dirinya yang sedikit aneh.
"Oh seperti ini," ucapnya. Mereka hanya melongo heran. Wuri tersadar akan hal yang ia katakan dan ia langsung mengalihkan pembicaraan.
"Ohh iya baik-baik, saya, saya akan tanda tangani juga. Hmm," jawabnya berpura-pura masih kalem dan mulai membuat tanda tangannya sendiri.
Akhirnya ia juga mempunyai tanda tangan di bumi. Betapa senangnya ia melihat tanda tangannya sendiri yang terlihat begitu amburadul itu. Namun, meski begitu ia terlihat bangga karena sudah paham dengan yang mereka bicarakan.
"Ini," ucap Wuri tersenyum polos memberikan berkas itu lagi ke mereka.
Mereka yang melihat tanda tangan Wuri seperti coretan yang banyak itu sedikit kaget lalu menatap Wuri melotot. Namun, Wuri terlihat masih tersenyum percaya diri. Hingga akhirnya mereka saling pandang dan memaklumi saja itu terjadi.
"Uh hehe baik Bu manajemen. Terimakasih banyak atas semuanya," ucapnya seraya berdiri bersama teman yang mendampinginya itu.
Wuri hanya tersenyum lebar pada mereka.
"Ya sama-sama," jawabnya tanpa dosa tak berdiri menyalami mereka. Mereka terlihat canggung sekarang dan bingung pada manajemen satu ini.
"Eee ohh iya Bu, kata Pak Agra juga Pak Erdian, kita akan mengadakan pesta meriah untuk meresmikan kerjasama kita. Jadi, tolong Ibu siapkan ya? Semuanya, dan kabarkan pesta ini pada seluruh karyawan," pintanya baru teringat perintah Agra juga atasan Wuri.
Wuri yang tak mengerti sama sekali hanya mengangguk dan tersenyum berpura-pura akan melakukan yang mereka katakan.
Mereka terlihat kewalahan dengan sikap Wuri. Akhirnya mereka tersenyum dan mengulurkan tangan mereka pada Wuri.
"Salam," ucap Wuri malah menyilangkan kedua tangannya seperti di alam perinya.