Episode 18

2022 Kata
Wuri terlihat santai memakai angkutan umum saja pergi berangkat kerja. Kesederhanaannya itu tak memudarkan kecantikannya malah membuat dirinya semakin bersinar saat rambutnya terkena angin jalanan. Saat di tengah jalan, tiba-tiba ia bertemu dengan seorang nenek-nenek yang begitu kasihan ingin menyeberang jalan. Dengan tertatih memegangi tongkat ia berjalan. Ia seakan tak paham. Tanpa ia mengerti ia terlihat mulai melangkah ke depan jalan yang begitu ramai mobil motor melaju. Sudah ada mobil yang mengklakson dirinya begitu tega. Kini ia terlihat panik juga ketakutan. Seluruh tubuhnya gemetar dan betapa mengerikannya sebuah truk tronton terlihat melaju cepat ke arah nenek-nenek itu. Supir itu terlihat sudah tak bisa mengerem truknya dan terlihat panik begitu panjang mengklakson nenek tak berdosa itu. "TIIIIITTTT!!!" Klakson begitu panjang dan truk kini semakin mendekati nenek itu. Terlihat wanita di dekat sana juga sudah berteriak. Wuri melihat nenek itu. Betapa terbelalaknya matanya ketika tersadar benda begitu besar itu terlihat sudah sangat dekat ingin mengenai nenek tua itu. Ia kini terlihat khawatir juga dan langsung melangkah mendekati nenek. Truk begitu dekat dan sudah terlihat sedikit jumping ke depan. Namun, seketika semua terlihat terhenti. Mereka bagaikan patung seketika. Kaki Wuri terlihat melangkah santai. Ternyata ialah yang menyihir waktu menjadi sangat lambat. Ia memandangi nenek tua itu sangat kasihan. Dengan lembut ia menarik tubuh nenek yang terbujur kaku itu ke seberang dengan cepat. Ia sekarang menempatkannya di pinggir jalan yang aman. Ketika ia juga sudah berada di sana. Ia menarik nafasnya memandangi semua yang ada. Sungguh hebat kekuatan sihirnya. Ia tersenyum pada nenek itu dan merasa lega. Ia lalu berbalik santai dan menjentikkan jemarinya. Seketika keadaan kembali normal kembali. Terlihat truk itu kini berhenti sangat absurd. Kini paman truk itu terlihat syok sampai kepalanya terjedot setiran. Namun, ketika dia begitu takut langsung menengok ke depan apakah benar nenek itu telah terlindas. Terlihat di pinggir jalan nenek itu hanya bengong kenapa dirinya sudah ada di seberang dan merasa ada seorang malaikat yang menolongnya. Ia terlihat terharu dan begitu merasa ajaib. Akhirnya ia berjalan kembali dengan tongkatnya tertatih. Wuri juga telah sampai di depan kantornya sekarang. "Selamat pagi Ibu Wuri," sapa Manager pabrik yang bernama Pak Anton itu. "Em iya selamat, pagi," jawab Wuri tersenyum kikuk merasa ragu pada jawabannya. Sepertinya Manager Pabrik mereka itu terlihat naksir dengan Wuri tanpa Wuri mengerti semuanya. "Ibu Wuri sudah makan?" tanyanya perhatian seraya membetulkan kacamatanya malu-malu. "Emm sudah," jawab Wuri dengan polosnya. "Ohh hehe hmm, ya sudah. Baguslah. Hihi," jawabnya malah salah tingkah sendiri. Wuri yang hanya mengangkat sebelah alisnya merasa bingung padanya. Ia pun tersenyum lalu pergi meninggalkannya. Anton terlihat membelalakkan matanya dan menengok ke arah Wuri cengengesan. "Eh tunggu Bu Wuri, Bu Wurii!" panggilnya seraya berlari konyol mencoba menyusul Wuri lagi. **** Agra dan Zanna terlihat senang di meja meeting itu. Karena mereka telah sepakat dan resmi bekerja sama dengan perusahaan tempat Wuri bekerja dan sebentar lagi mereka akan mengadakan pesta yang begitu besar-besaran untuk perayaan peresmian kerjasama mereka. Mereka lalu saling jabat tangan tersenyum dan bubar. Agra dan Zanna sudah berjalan keluar. "Jadi, manusia itu suka pesta?" tanya Zanna polos tersenyum padanya. Agra tersenyum lucu menatapnya. "Iya, karena pesta adalah aktivitas yang sangat menghibur dan menyenangkan. Kita bisa melepas dan melupakan semua rasa lelah kita saat pesta nanti, hmm," kata Agra menjelaskan padanya tersenyum ramah. Zanna yang mendengar hal itu tersenyum. "Berarti, kita emang banyak kesamaan dong. Kami juga suka pesta tapi, pesta kami terlihat mengerikan jika dilihat para manusia, karena di kuil gelap itu hihihi," ucap Zanna meledek alamnya sendiri. Agra yang melihatnya hanya tertawa dengan tingkahnya itu. "Zannaa Zannaa, aku kira siluman itu mengerikan," ucap Agra. Zanna meliriknya, bibirnya mengerucut menahan senyumnya. "Ooh mengerikan ya?" ucapnya terlihat menakuti Agra mendekatinya mengangkat kedua alisnya menatap Agra. "Eeh enggak! Enggak! Belum selesai bicara. Eh ternyata malah asik di ajak temenan, gituuu kann," jawab Agra menahannya tertawa. Zanna terlihat menahan senyumnya. "Bisa aja manusia memuji," ucap Zanna mencandainya menatapnya menggoda. Agra semakin merasa lucu dengannya. "Ya udaah, yuk balik kerja. Entar gak kelar lagi. Bentar yaa," ucapnya tersenyum lalu meninggalkan Zanna. Zanna terlihat sedikit sedih karenanya. Namun, ternyata ia malah tersenyum memandangi Agra yang berlalu di depannya dan sudah semakin menjauh. "Apaa, manusia juga bisa jatuh cinta pada yang berbeda dengannya?" tanya Zanna sendiri melamun tersenyum memandangi Agra. Kini ia terlihat hanyut terus memandangi Agra yang telah berlalu. Akhirnya ia tersadar dan membuyarkan lamunannya sendiri dan langsung ikut menyusul Agra. "AGRAA TUNGGU!" teriaknya tersenyum lebar lalu berlari mengejar Agra. **** Malam pesta pun telah tiba. Terlihat betapa indah hotel bintang 5 itu mempersiap segala tempat juga hiasannya. Para tamu juga terlihat sangat bahagia dan antusias dalam merayakan pesta. Mereka sangat menikmati segala suasana dan bersantai di pinggir 3 kolam renang lebar dan juga indah itu. Selain di kolam ada juga yang di depan halaman yang begitu luas dan hijau itu. Halaman itu sangatlah indah juga berkelas di hiasi tanaman-tanaman hias di pinggir lapangan menempel di pojok bawah dinding-dinding hotel menjulang tinggi itu. Agra terlihat bareng bersama Zanna. Betapa serasinya mereka. Agra dengan memakai jaz abu-abu rapi dengan dasi kupu-kupu. Zanna juga turun di mobil. Betapa menawannya tampilannya terlihat gaun berwarna biru malam sangat indah ia pakai dengan lengan yang bergaya turun di kedua bahunya. Saat ia turun dari mobil, terlihat begitu mulus dan putih kakinya itu. Ia tersenyum begitu manis sampai Agra pun terdiam terpana melihatnya. "Mari tuan Putri," ucap Agra mengulurkan tangannya romantis mencandainya. Zanna terlihat tersenyum lebar merasa lucu padanya. Ia menutupi rasa bahagianya. Ia lalu dengan malu meraih tangan Agra dan menggenggamnya lembut. Ia menatap Agra penuh kebahagiaan. Agra juga tersenyum lebar juga menatapnya. Kini mereka bersanding bersama berjalan memasuki kawasan pesta meriah itu. **** Tak jauh dari mereka datang tadi, ternyata Wuri juga sudah ada di sana. Namun, ia terlihat masih memakai baju kerja. Ia terlihat bingung mengintip dari semak-semak yang ada di sana. "Aduhh, gimana ya?" tanya Wuri masih bengong. Ia lalu mengintip para orang-orang yang lewat di dekatnya. Ia terlihat bersembunyi ketika mereka melewati dekat Wuri. Wuri akhirnya paham dan tahu pakaian seperti apa yang ia akan pakai di sana. "Wahai tongkat sakti. Ubahlah penampilanku menjadi seperti mereka untuk ke pesta ini," ucap Wuri memejamkan matanya mendongak. Terlihat tangannya sekarang bercahaya dan seketika seluruh tubuhnya bercahaya dan penampilannya mulai berubah dari ujung kaki sampai atas kepalanya. Betapa cantik dan manisnya juga ia sekarang. Sihirnya memang tak pernah gagal. Sekarang bajunya telah berubah menjadi baju hitam tanpa lengan yang begitu manis dengan rok mini kuning emas mengkilap indah. Rambut panjang lurus sedikit bergelombangnya menambah semakin membuat dirinya menjadi cantik dan manis dengan anting tindik putih permata mungil yang indah menghiasi dirinya. Ia terlihat juga puas dan tersenyum senang melihat dirinya seperti itu. Akhirnya ia keluar dari persembunyiannya dengan percaya diri. Betapa ternganganya orang-orang yang melihat dirinya lewat. Bukan pria saja yang terpana melihatnya, bahkan wanita pun ikut ternganga seakan kagum melihat dirinya. Terlihat ia tersenyum manis percaya diri melirik semua orang yang melihatnya. Ia lalu terus berjalan ke depan percaya diri mendongakkan dagu indahnya terus tersenyum. **** Pesta terlihat semakin meriah saja. Orang-orang kini terlihat berjoget begitu ramai sembari mengangkat gelas minuman mereka gembira. Termasuk Agra dan Zanna. Mereka terlihat begitu bahagia menikmati pesta. Agra terlihat mengajak Zanna untuk menyeling gelas mereka. Zanna pun paham. "Kling!" Gelas mereka mereka selingkan sangat senang. Zanna tersenyum bahagia. Ia menatap Agra dan terlihat semakin mencintai lelaki tampan mapan itu. "Agra, andai kamu merasakan perasaan nyaman yang ada di dalam diriku untukmu," gumamnya dalam hati merasa begitu sedih. Namun, senyumnya masih terukir memandang wajah Agra yang tak tahu menahu asyik berjoget menikmati musik. Tak di sangka Wuri terlihat bingung dan berada di dekat mereka juga. Ia terlihat melongo memperhatikan sekeliling karena bingung mau apa. Tiba-tiba ada 3 orang lelaki menatapnya dan salah satu lelaki itu memanggilnya karena kecantikannya. "Husst, cantik. Temenin ya?" tanyanya merayu genit. Wuri terkekeh dan menengok mereka mengerutkan alisnya. Mereka langsung mengerucutkan bibirnya menyipitkan mata mengerutkan alisnya begitu terpesona melihat Wuri jelas. Wuri terlihat terdiam menatap mereka. Lelaki itu langsung melangkah melompat mendekati Wuri dan begitu dekat di hadapannya hingga Wuri sedikit melekukkan badannya ke belakang kesal menatapnya. Kedua temannya itu terlihat menepuk bahu mereka satu sama lain terlihat puas melihat temannya yang berhasil mendekati Wuri. "Mau apa kamu," ucap Wuri menatapnya dari bawah kaki sampai wajahnya kesal. "Bagaimana kalau kita dansa," ajaknya sangat genit terus menatap Wuri memiringkan kepalanya manja. Wuri hanya menatapnya heran. "Atau, hehe langsung masuk ke dalam aja cek in bareng saya?" ucapnya seraya mencolek dagu Wuri tersenyum begitu genit mendekati pipi Wuri seakan ingin menciumnya. Wuri langsung menyingkirkan wajahnya risih dan menatapnya sangat kesal. Ia menepis tangannya. Kedua teman lelaki itu terlihat mendorong pipi di dalam mulut mereka dengan lidah seraya mengerucutkan bibir menyipitkan mata tanda suka melihat temannya merayu Wuri. "Maaf, saya tidak bisa," jawab Wuri menatapnya kesal lalu melangkah pergi meninggalkan mereka. Tapi lelaki itu menarik tangannya. Wuri sedikit kaget dan langsung berbalik menatapnya. "Masa kamu gak mau sama saya? Saya punya properti banyak di kota ini, apapun akan saya beri buat kamu," ucapnya sombong terus merayu Wuri. "Saya tidak perduli," jawab Wuri menghempas tangannya melepas genggamannya langsung pergi kembali. Lelaki itu terus mencoba mengejar Wuri tetapi kedua temannya terlihat juga iri padanya dan sekarang menghalanginya untuk mengejar Wuri. "Gue aja!" "Gue aja ah! Sok lo!" "Apaan sih kalian kan gue yang lebih dulu! Gue lebih berduit di banding kalian!" ketusnya tak terima pada kedua temannya. Akhirnya mereka malah bergelut bertiga. Namun, saat pesta terlihat sedang berlangsung semakin ramai. Lampu hias yang berada di atas mereka terlihat mulai bergoyang. Nampaknya entah kenapa sepertinya para pendekor pesta itu kurang teliti dalam menata. Terlihat juga tali kabel besar berjuntai yang menahannya di atas ikut putus sekarang secara tiba-tiba hingga salah satu anak kecil yang tengah berada di sana akhirnya terkena tali kabel itu. "ANAKKUU!!" teriak wanita itu histeris hingga semua orang di sana terdiam dan akhirnya lampu itu jatuh. Kini mereka terlihat mulai heboh dan panik seketika. Zanna yang begitu syok langsung melotot saat melihat Agra yang berada tepat di bawah lampu hias besar mewah itu masih terlihat bingung dan diam di sana melihat apa yang terjadi. Wuri yang terlihat santai kebetulan berada di sana langsung terhenti membelalakkan matanya saat melihat semua orang di sana seketika heboh dan melihat lampu besar itu jatuh dan melihat anak kecil di atas langsung terjatuh juga dari lantai atas karena terkena tali berat itu. "AGRAA!" teriak Zanna. Wuri langsung mengulurkan tangan mengeladahkan telapak tangannya cepat ke arah lampu dan anak kecil yang terlihat terjatuh dari atas itu dengan raut wajah yang kalem biasa saja. Seketika kini tempat itu terhenti seketika. Lampu serta anak kecil di sana terlihat mematung. Semuanya kini menjadi patung. Lampu itu kini tepat berada melayang di tengah-tengah. Wuri telah memperlambat waktu agar semua ia selamatkan. Namun, yang terlihat kini seakan waktu langsung terhenti karenanya dan semua menjadi patung. Wuri terlihat tenang. Dengan santainya ia mulai melangkah ke arah mereka. Zanna juga terlihat ternganga panik dan tangannya juga terlihat mencoba meraih Agra dengan gaya yang terlihat hampir tersungkur juga karena ingin berlari. Agra yang terlihat masih berdiri di sana hanya mendongak ke atas lampu yang ingin mengenainya. Untung saja ada Wuri. Jika tidak kecelakaan itu akan menghancurkan wajahnya karena lampu itu begitu berat dan besar. Tegangan listriknya juga pasti besar karena begitu terang menerangi luar ruangan hotel di sana. Wuri lalu membentangkan sayapnya dan terbang. Ternyata yang lebih dulu ia selamatkan adalah anak kecil laki-laki berumur sekitar 3 tahun yang ingin jatuh dari lantai atas itu. Kini ia menangkap anak kecil itu. Ia memeluk anak kecil itu menatapinya sangat sedih. Ia lalu tersenyum memandanginya lalu menaruhnya di belakang Ibunya yang terlihat menangis histeris berteriak memgulurkan tangannya itu. Ia terlihat juga menatap Ibunya dan kasihan. Kini ia tersenyum pada Ibunya. Ia juga membalikkan arah Ibunya dan sekarang Ibunya mengarah yang lebih aman agar tak berlari dan ikut terjatuh di sana. Ia memeriksa kembali kondisi di atas sana dan setelah ia lihat makhluk di sana sudah aman. Ia turun dan menutup sayapnya. Terlihat di bawahnya yang lebih parah. Ia terlihat sedikit kaget mengerutkan alisnya. Namun, ia terkekeh saat melihat Agra yang tepat berada ingin terkena lampu berbahaya itu. Ia lalu teringat pada Agra saat ia tak sengaja menabraknya. Ia lalu melangkah mendekati Agra santai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN