Wuri malah melewati Agra. Ia mengalihkan posisi orang lain terlebih dahulu dari sana. Para wanita yang ia dahulukan agar tak terkena pecahan dari lampu itu nantinya juga. Laki-laki setelahnya. Dengan santainya ia mengalihkan posisi mereka dan menarik mereka jauh dari tempat itu bergerombol ia taruh di pojok dinding agar aman.
Setelah selesai, ia menengok ke arah Agra. Ia kembali dan langsung mengalihkan orang-orang sebelah sana juga termasuk Zanna.
Ketika semuanya telah ia singkirkan dari tempat akan jatuhnya lampu. Barulah ia terlihat mulai mendekati Agra.
Terlihat ia merasa ada yang berbeda melihat laki-laki manusia itu entah kenapa. Ia terus teringat ketika ia tak sengaja menabraknya kemarin dan Agra mendekapnya lembut seraya menatap matanya.
Ia mulai malu-malu dan agak gugup memeluk Agra. Ia sempat terdiam terus memandangi Agra terheran. Setelahnya ia mendongak ke atas dan langsung beralih tempat ke samping jauh dari lampu ingin jatuh itu. Ia lalu mengedipkan mata lembut dan seketika mereka kembali bergerak.
"PRUANKKK!!!!"
Lampu itu terhempas ke lantai dengan hebatnya dan meledak hingga membuat api kecil seketika.
Semua orang terlihat berteriak. Agra yang baru tersadar langsung membelalakkan matanya. Namun, dia sekarang merasa heran karena tiba-tiba berada di sana melihat lampu itu jatuh ternganga lebar membelalakkan matanya. Kini dia tersadar ada di samping seseorang. Wuri menatapnya kalem seraya terus menjaga dan menatapnya.
Namun, tiba-tiba ada seorang pria berlari dan kini Agra memang benar terpeluk Wuri. Karena badan Agra yang besar itu tersenggol keras oleh pria berlari panik. Zanna yang juga tadi di selamatkan Wuri malah mengarah ke kolam renang dekat sana hingga ia tercebur konyol tak sengaja terdorong Wuri yang ada di dekatnya.
Agra semakin melotot kaget syok mengangakan mulutnya saat tersadar memeluk wanita cantik di depan matanya.
"WAA!"
"BRUSSHHH!"
Zanna malah tercebur saat ia baru tersadar dari sihir Wuri. Sungguh kasihan dirinya.
Wuri hanya diam seakan biasa saja Agra begitu dekat dengannya dan menindih dirinya. Agra langsung mencoba bangun agar Wuri tak kesakitan. Kini mereka terlihat saling pandang memandang. Agra akhirnya tersadar dan teringat bahwa Wuri adalah wanita yang menabraknya kemarin dan langsung pergi meninggalkannya tanpa meminta maaf atau berterimakasih padanya.
Namun, saat itu seakan dendam Agra lenyap padanya. Mereka terlihat terdiam saling menatap terhipnotis satu sama lain di tengah-tengah hebohnya orang jatuhnya lampu tadi.
Dengan tenangnya Wuri terus menahannya menatapinya. Agra terlihat ternganga padanya seakan terpana pada kecantikannya.
Tanpa Agra sadar Zanna terlihat panik di kolam renang sendirian. Ia akhirnya berhasil timbul dan terlihat menarik nafasnya ter engal kaget. Akhirnya ia terdiam ternganga melotot ketika tersadar kolamnya tidak dalam hanya sebatas bawah dadanya. Ia terlihat geram pada dirinya sendiri.
"Gak dalam! Gua udah panik kurang ajar bener," gerutunya kesal dengan nada rendah tertekan seraya menepuk air itu geram sendiri.
Namun, seketika ia terdiam melongo lagi pada dirinya sendiri.
"Loh, gue kan ular. Ngapain takut tenggelam," tanyanya sendiri konyol.
Ia malah lupa pada jati dirinya dan mengira dirinya manusia sekarang. Zanna memang wanita cantik yang absurd. Ia menggaruk kepalanya bingung sendiri.
"Udah deh gua lupain aja. Tapi siapa sih yang dorong gue sampai ke sini? Huhh kurang ajar tu orang!" ketusnya tak terima.
Saat ia merasa sangat kesal karena sekarang tubuhnya basah kuyup semua. Saat ia menghentakkan kaki di kolam itu, tak sengaja ia terkekeh saat melihat Agra di dekap wanita lain. Betapa terbelalaknya matanya saat melihat semua itu.
Terlihat Wuri masih santainya menatap Agra. Agra terlihat benar-benar terhipnotis dirinya sekarang. Agra mengedipkan matanya lembut terus ternganga. Betapa romantisnya mereka. Akhirnya setelah kepala hotel datang barulah Wuri melepaskannya santai dan terlihat Agra sekarang terlihat hilang keseimbangan dan nyaris terjatuh lagi.
Wuri terlihat menatapnya lalu berbalik arah meninggalkannya. Setelah ia pergi dari sana barulah para karyawan serta kepala hotel datang memeriksa tempat yang sudah hancur lebur itu.
Zanna yang panas melihatnya langsung mencoba naik dari kolam renang itu meski dirinya basah kuyup. Akhirnya dengan susah payah ia berhasil naik sampai orang yang berada di sekitar kolam merasa heran padanya melongo.
Terlihat betapa basahnya dirinya berlari kecil dan tak memedulikan lagi badannya yang basah kuyup.
Agra kini tersadar dan menggelengkan kepalanya mencoba memfokuskan matanya untuk melihat seraya memegangi kepalanya.
Dia terkekeh saat melihat Zanna terlihat dengan rambut lepeknya karena basah berlari kecil ke arahnya.
"Zanna?" tanyanya heran. Dia baru tersadar dan teringat pada Zanna.
"Agra!" panggil Zanna dan sekarang ia berada tepat di depan Agra.
"Kamu gak papa Mba?" tanya salah seorang pelayan hotel yang ikut serta memperhatikan para tamu apakah ada yang terluka atau tidak.
"Emm iya, saya gak papa kok, cuman basah aja abis... Kecebur," jawab Zanna kikuk nyengir.
"Huh syukurlah terimakasih Mba," ucapnya sangat lega.
"Tuan Agra? Tuan Agra gak papa kan Tuan?" tanya pria itu sangat khawatir.
"E hm iya gak papa kok Pak," jawab Agra tersenyum menyeringai.
"Eh he iya Tuan syukurlah kalau begitu. Eh Mba, Mas kalau mau berobat ataupun memerlukan apapun silahkan panggil kami Mas, Mba. Kami siap mengobati dan melayani kalian karena kecelakaan teknis dari tempat kami ini," ucap pelayan itu sangat merasa bersalah.
"Baik Pak, terimakasih," jawab Agra. Zanna ikut tersenyum padanya.
Pria itu mengangguk lalu pergi memeriksa kondisi yang lainnya juga yang ada di sana.
Agra terlihat masih bingung termenung. Zanna tersadar dengan hal itu.
"Gra, kamu beneran gak papa kan?" tanya Zanna mengkhawatirkannya. Agra terkekeh.
"Eh mm iya Zan aku, aku baik-baik aja. Loh?" jawab Agra spontan. Zanna tersenyum padanya.
"Zan? Kok kamu, kamu beneran gak papa? Ya ampun kamu basah banget," kata Agra tersadar dengan dirinya yang tercebur di kolam sebelah mereka.
"Hmm iya aku gak papa kok. Kamu tenang, aku bukan duyung. Jadi, aku gak bakal berubah jadi wujud asliku," jawabnya lembut mengangkat kedua alisnya mencandai Agra. Zanna memang wanita yang pandai menghibur.
Agra yang mendengar hal itu langsung menahan tawanya menggelembungkan pipinya.
Kini mereka tertawa bersama di kerumunan para staff keamanan yang sedang sibuk membereskan semua yang berhamburan di sana.
Atasan perusahaan tempat kerja Wuri juga langsung menghampiri Agra terlihat sangat merasa bersalah dan malu.
"Eh Pak Agra! Pak Agra tidak apa-apa?" tanya Pak Erdian sembari melangkah khawatir mendekatinya. Agra dan Zanna kini mengarahkan pandangan serta badan mereka ke arahnya.
"Ehh Pak Erdian iya saya baik-baik saja Pak. Bapak tenang saja," jawab Agra. Erdian mendengar itu sangat lega dan begitu bersyukur. Namun, dia terkekeh saat melihat Zanna yang basah kuyup ikut senyum pada mereka.
"Ehh Mba? Apakah Mba juga baik-baik saja? Seluruh badan Mba basah sekali," kata Erdian mengerutkan alisnya sangat kasihan pada Zanna.
"Oh hm saya juga gak papa kok Pak, saya baik-baik aja," jawab Zanna tersenyum ramah.
"Tapi, Mba begitu basah?" tanya Erdian menatapnya sangat khawatir.
"Saya cuman kecebur aja Pak karena panik kaget menghindari lampu jatuh tadi, yaa gak papa gak sakit kok," jawab Zanna meyakinkannya seraya menatapi bajunya yang basah itu lalu tersenyum pada Erdian.
"Huh, syukurlah kalau kalian selamat semuanya. Saya benar-benar tidak akan menyangka Pak Agra, semua ini terjadi. Saya benar-benar kecewa dan menyesal telah memilih mereka sebagai pendekor pesta kita ini! Padahal, seharusnya pesta ini akan semakin mempererat hubungan perusahaan kita tapi, tapi ini malah..." ucap Erdian merasa sangat kecewa sekaligus malu. Dia lalu tertunduk sembari memijiti dahinya sangat bersalah pada Agra.
Agra hanya menarik nafas lalu tersenyum padanya dan memegangi bahu kirinya itu.
"Pak, yang namanya musibah. Kita tidak ada yang tahu. Yang terjadi biarlah terjadi, kalau kita ada waktu lain kali bisa di lakukan kembali Pak tak apa-apa, yang penting sekarang tidak ada korban jiwa dalam kesalahan teknis ini dan, semua selamat," jawab Agra lembut agar Erdian tak merasa stress karena ini.
Erdian lalu menatapnya sangat sedih. Dia lalu mengangguk pasrah mengerutkan alisnya begitu sedih. Agra tersenyum padanya lalu menjabat tangannya salam pria dan memeluknya menepuk-nepuk belakangnya pelan tanda dia tak merasa kecewa dan Erdian tidak membuatnya kecewa sama sekali.
Zanna beserta teman-temannya yang lain melihat mereka sangat tenang dan bahagia. Mereka tersenyum lebar menatap atasan mereka itu sekarang terlihat akur dan bahagia.
Kini Erdian merasa lebih tenang dan nyaman pada Agra. Mereka lalu melepaskan pelukan mereka dan saling tersenyum.
"Baik Pak Erdian, terimakasih banyak atas semuanya. Saya yakin, kerjasama kita akan berjalan lancar tanpa sangkut pautnya dengan pesta ini karena, pesta ini hanya untuk pembukaan kita," ucap Agra meyakinkannya. Erdian kini terlihat bisa tersenyum lebar kembali.
"Iya Pak Agra, saya benar-benar bangga dan senang bisa bekerjasama sama dengan Bapak. Sekali lagi terimakasih banyak Pak Agra. Kalau gitu saya permisi dulu. Untuk mengurus semua sisa-sisa dari pesta ini agar cepat beres," jawab Erdian sangat senang padanya.
Agra mengangguk tersenyum padanya.
"Baik Pak Agra, Mba Zanna, saya permisi, sekali lagi terimakasih," ucap Erdian mengangguk tersenyum pada mereka.
"Iya Pak mari,"
"Iya Pak,"
Jawab Agra dan juga Zanna ramah. Erdian pun pergi merasa tenang sekarang.
Mereka lalu terlihat sama-sama merenung setelah Erdian pergi dan terlihat melamun menatap Erdian yang sudah semakin berlalu. Zanna akhirnya teringat saat Agra di dekap oleh Wuri tadi. Raut wajahnya langsung melotot tanda kesal melihat itu. Agra tersadar dan sekarang terheran karenanya.
"Kamu kenapa? Kok langsung berubah gitu tampangnya?" tanya Agra menatapnya mengangkat kedua alis menahan senyumnya.
"Tadi, siapa? Kenapa kok dia... Malah dekat-dekat kamu kek gitu?" tanyanya seakan cemburu. Ternyata Zanna juga mempunyai rasa cemburu layaknya wanita manusia yang normal.
Agra melongo mendengarnya seperti marah. Zanna semakin kesal karenanya. Agra lalu tersadar dari lamunannya.
"Ya, aku juga gak tau tiba-tiba dia ada di belakangku saat aku menghindar dari lampu itu, entah ke mana dia," jawab Agra juga bingung dan tak sadar terkena sihir Wuri juga.
Zanna akhirnya merasa seperti ada yang janggal.
"Hmm, ya udah. Tapi, ke mana ya dia tadi? Aneh banget," sahut Zanna pasrah dan melupakan saja hal itu. Karena memang kecelakaan tadi sehingga Agra tak sengaja memeluk seorang wanita tadi.
"Iya Zan, aku pernah juga ketemu sama tu wanita, sebelum di sini," beritahu Agra.
Zanna membelalakkan matanya tak percaya.
"Hah? Beneran? Di mana?" tanya Zanna. Agra berusaha mengingat saat Wuri menabraknya juga menatapnya dulu terdiam seperti tadi dan langsung pergi meninggalkannya.
"Di kantor," jawab Agra.
Zanna membelalakkan matanya. Seketika ia juga teringat dengan Wuri waktu ia menaiki troli barang itu melihatnya.
"Apa jangan-jangan?!..."
Zanna terlihat kaget dan tak menyangka. Agra yang bingung ada apa dengan dirinya pun bertanya.
"Kenapa Zan?" tanya Agra heran.
Zanna melongo mengangkat sebelah alis juga masih ragu dengan pendapatnya.
"Apa jangan-jangan wanita itu yang gue liat waktu itu juga," gumam Zanna dalam hati ikut bertanya.
"Kalau sampai dia beneran yang ketemu mulu sama Agra. Gue gak rela," gumamnya dalam hati seakan tak terima.
"Zan?" panggil Agra membuyarkan lamunannya. Ia mengedipkan matanya cepat menatap Agra.
"Ya, aku juga pernah liat sih wanita aneh masuk ke kantor kita. Tapi, aku gak tau apa wanita itu yang nabrak kamu juga atau bukan," jawab Zanna menjelaskan padanya.
Agra akhirnya penasaran.
"Beneran? Ciri-cirinya gimana, kamu ingat?" tanya Agra.
Zanna terus mencoba mengingatnya.
"Yaa ingat sih, pake blazer gak pake lengan warna coklat. Kurus kayak aku tapi kayaknya lebih tinggi dia dikit deh di banding aku," jawab Zanna mengingat ciri-cirinya.
"Yaa! Yaa!" teriak Agra menunjuknya seakan benar sampai Zanna melotot kaget padanya.
"Hah?" tanya Zanna bingung melongo.
"Bener, emang bener cirinya aku juga ingat kek gitu Zan," jawab Agra.
Kini mereka berdua semakin penasaran dengan orang yang padahal Wuri.
"Yahh, terus tadi kamu tau dia ke mana?" ucap Zanna merasa kecewa menengok ke belakang tau-tau masih ada Wuri.
"Yaa gak tau juga sih tadi dia malah langsung pergi," jawab Agra seraya menggaruk tekuknya.
"Ya udah, kita balik aja yuk. Pestanya udah berhenti juga gara-gara tadi. Gelap nih," ajak Agra sudah merasa bosan di sana karena sudah lumayan gelap dan hanya di terangi lampy seadanya untuk para keamanan membersihkan tempat itu.
Akhirnya mereka pulang saja. Pesta terpaksa di hentikan di tengah acara demi keselamatan yang lain seluruhnya.
****
Ketika Agra sudah sampai rumah, dia terlihat masih teringat saat memandang wajah Wuri di dekapannya di pesta tadi. Wajah cantik itu seakan terus menghantui pikirannya.
Kini dia semakin penasaran dengan sosok Wuri.
"Siapa ya dia sebenarnya? Kenapa dia ada di mana-mana?" tanya Agra berbicara pada dirinya sendiri sembari berjalan mondar-mandir di kamarnya.
"Apa jangan-jangan dia juga bukan manusia kayak Zanna?" tanyanya mengira langsung melotot.
"Gak, gak mungkin. Aku yakin dia bukan siluman. Kalau juga siluman, pasti Zanna mengenalinya, sedangkan ini Zanna saja menyebutnya wanita aneh," katanya terus berpikir berdecak lelah seraya memegangi dahinya lalu duduk di kasur empuk yang lebar miliknya.
Kini Agra menjadi penasaran dengan sosok Wuri.