Episode 20

2096 Kata
Wuri terlihat sendiri di ruangan absurd yang sudah tak di rawat. Ia terlihat mencoba memanggil bola kehidupan. Ia pejamkan mata berkonsentrasi dan membentangkan kedua tangannya. Terlihat keluar cahaya putih begitu terang di tengah-tengah kedua tangannya dan sangat indah. **** Bola kehidupan terlihat masih berada di keranjang usang milik pria pemabuk itu. Karena Wuri mencoba menyalakan kekuatan untuk di lacak keberadaannya. Bola itu seketika bersinar terang. Pria pemabuk itu terlihat habis selesai mandi dan mengusap-usap kasar rambut dengan anduknya sembari berjalan ke teras dan melihat-melihat halaman. Namun, saat dia tak sengaja mencuci mata memandangi halamannya karena sumpek di dalam rumah. Dia terkekeh saat melihat ada sesuatu yang terlihat bersinar di dalam keranjang itu. Dia merasa heran mengerutkan alisnya mengundurkan kepalanya ke belakang sedikit kaget. Dia lalu mencoba hati-hati melangkah mendekati keranjang itu seraya terus menyipitkan matanya merasa heran sekaligus penasaran. **** Wuri terlihat semakin berkonsentrasi untuk mencoba memanggil bola kehidupan itu karena ia sudah merasa lumayan lama di sana tetapi masih belum juga berhasil menemukan bola yang ia cari-cari. Seketika kekuatannya terlihat semakin besar dan bersinar terang sampai tempat di mana ia berada pun menjadi begitu terang. Ia terus berkonsentrasi memejamkan matanya dan mengerutkan alisnya lebih memfokuskan semua kekuatannya agar bisa memanggil bola kehidupan datang padanya. **** Pria itu terlihat membungkuk sembari terus melangkah mendekati keranjang itu sedikit takut mengerutkan kedua alisnya. Saat ia sudah tepat berada di bawah keranjang yang di taruh di atas tangga kayu itu. Dia langsung mencoba menurunkan keranjangnya dan memeriksa apa yang sebenarnya terjadi. Betapa tegang dan ternganganya dia saat melihat keranjang itu malah semakin bersinar sampai-sampai ia menghalangi wajah dengan tangannya dan memalingkannya menyipitkan mata merasa sakit karena sangat silau. Namun, dia terus mencoba berusaha melihatnya dan betapa terbelalaknya dia saat sudah melihat jelas bahwa yang bersinar itu sebenarnya adalah bola plastik bening yang ada di sana. Bola itu menjadi berwarna putih terang sangaf bersinar sedikit berwarna pelangi. Pria itu menjadi begitu bingung dan heran dengan itu. Dia lalu mencoba menyentuh lalu mengangkatnya. Dia memandangi bola itu melongo seperti orang bego. Betapa bersinarnya bola itu mengeluarkan cahayanya karena kontak dengan Wuri. Namun, saat dia terus melongo takjub memandangi bola itu. Wuri yang berada di sana mencoba terus berusaha memanggilnya. Seketika bola itu mengeluarkan cahaya putih begitu silau dan meledakkan pagar yang berada di ujung belakang pria itu. Pria itu langsung melompat kaget terpental dan terlepas dari bola itu. "DUARR!!!" Kini dia melihat gumpalan asap serta api yang sudah membakar pagarnya di ujung sana karena ledakan tadi. Pria itu terlihat kesakitan dan mencoba bangun duduk kembali seraya terus menyipitkan matanya menahan sakit. Saat tersadar betapa melototnya dia panik melihat pagarnya sudah terbakar seperti itu. "WA?!! WAA, AP-APA ITU?!" rengeknya gagap berteriak menunjuk ke arah bekas ledakan tadi dan langsung mundur begitu gemetar ketakutan. Dia langsung melotot takut ke arah bola kehidupan yang terlepas dari tangannya. Bola itu terlihat masih bersinar terang. Kini dia tersadar bahwa bola itu bukan bola biasa. Dia menjadi sangat takut sekarang terus membelalakkan matanya sungguh tak percaya menggeleng cepat seraya terus mengundurkan dirinya gemetar ketakutan. "I-ITU!! HAA, BENDA ANEH! BENDA APA ITU?!! HUHH," teriaknya gagap menunjuk-nunjuk bola itu ketakutan. **** Wuri terlihat sudah kewalahan sekarang. Namun, ia terus berusaha meski ia sudah mulai merasa lelah. Ia terus berusaha memejamkan mata mengerutkan alisnya untuk melacak keberadaan bola kehidupan itu. **** Pria itu terlihat kesal sekarang. Dia langsung bangkit berdiri dan melempari bola kehidupan yang masih bersinar dengan segala macam yang ada di sana. Dia melempar patahan kayu, ranting-ranting, kaleng bekas, bahkan botol minuman keras bekas dia minum sendiri saking takutnya. Kini dia terlihat bergidik sendiri. Karena bola itu memiliki kekuatan supranatural seperti para peri di sana. Bola itu merasa ada kekuatan yang jahat ingin menghancurkan karena pria itu terus saja melempari barang-barang ke arah bolanya. Seketika bola itu kembali bersinar lebih terang dan langsung mengeluarkan cahaya lagi dan langsung mengarahkannya ke dirinya dan betapa kagetnya dia saat kekuatan bola mengenai dirinya. "DUAR!" Dia nyaris terkena ledakan dan sekarang tersungkur keras ke tanah. Pagarnya kembali rusak terbakar hangus karena ledakannya. Dia semakin ketakutan berteriak keras. "WAAA!!! BOM! BOOM!!" teriaknya panik kalang kabut langsung berdiri dan berlari mengambil bola itu ketakutan dan terlihat memeganginya panik seakan memegangi sesuatu yang panas. "Huh huh huh!!" rengeknya mencoba terus memberanikan memegangi bola itu ketakutan untuk membuangnya jauh ke luar rumah. Namun, dia tersadar bahwa di samping-samping juga depan rumahnya ada rumah para tetangganya juga. Dia terlihat ingin menangis. Dia lalu berlari keluar sangat cepat pergi ke lapangan luas yang ada di dekat permukimannya. Dia terlihat puas dan langsung melemparkan bola kehidupan itu ke tempat sampah yang ada di sana. Dia melemparnya malah tak masuk ke bak sampah. Sekarang bola itu terlihat menggelinding di bawah rerumputan hijau yang berada di sekeliling bak sampah di sana. Pria itu sekarang terlihat bahagia dan langsung pergi dari tempat itu sembari bergidik masih ketakutan dengan apa yang dia lihat tadi. Bola kehidupan kembali tak bersinar karena terhempas juga ke tanah begitu keras karena di lempar pria tadi. **** Wuri langsung terpental dan sekarang ia terduduk di sana lumayan keras. "Aww?!" rengeknya kesakitan memejamkan mata mengerutkan alisnya menahan p****t juga belakangnya yang terhempas keras di lantai. Ia langsung membelalakkan matanya saat tersadar telah gagal mencoba melacak keberadaan bola kehidupan. Kini ia merasa sedikit sedih dan melupakan sakitnya. Namun, ia terlihat tak patah semangat. Ia mencoba berdiri lagi seraya memegangi pinggangnya yang encok karena terduduk tadi. Kini ia berhasil berdiri kembali. "Kenapa, kenapa aku merasa bola kehidupan seakan terhempas dan terpental entah ke mana? Uhh?! Kenapa aku selalu gagal mencari keberadaannya di sini?! Mch?!" ucapnya bertanya bingung pada dirinya sendiri berdecak kesal. Namun, tiba-tiba ponsel yang baru saja ia adakan untuk dirinya sendiri karena melihat para rekan kerjanya mempunyai ponsel seperti itu berdering. Wuri terkekeh. Ia lalu mengambil ponselnya dari kantong blazer ungu muda formalnya. Ia menatapi ponsel itu merasa bingung. Ia mencoba mengangkat telponnya mengikuti manusia yang pernah ia lihat. "Ah iya halo ada apa?" tanyanya mengangkat telpon itu. Ia mendengarkan apa yang orang menelponnya bicarakan. Sepertinya ia benar-benar paham dan mengerti layaknya manusia biasa. "Oh iya baik Pak, saya akan segera ke sana. Terimakasih," jawabnya. "Baik," ucapnya lagi lalu mematikan telponnya dan sekarang terlihat mendengus lelah memegangi ponsel itu termenung. "Pak Anton menyuruhku untuk pergi ke hotel Appart, ya sudahlah. Aku sebenarnya tak tau apa itu meeting tapi aku ikuti saja sampai aku menemukan bola kehidupan lagi di sini," katanya menggeleng merasa sudah lelah lalu memasukkan ponselnya kembali ke kantong blazer seraya melangkah pergi dari tempat itu menuju hotel. **** Jauh dari bumi dan keluar dari galaksi Bimasakti. Sebuah planet bersinar putih milik Wuri itu terlihat tenang dan indah. Tetapi saat ke istana singgasana. Terlihat Adrienne juga bermahkota di kepalanya seraya memegangi tongkat hitam saktinya mondar-mandir seakan memikirkan sesuatu. "Adrienne Peri, kenapa kau selalu bolak-balik tidak jelas seperti itu," ucap Kurcaci buruk rupa berpakaian serba hitam juga miliknya yang terlihat bosan melihatnya lalu lalang seperti itu. "DIAM!" bentaknya marah pada Kurcaci yang terlihat petakilan itu. Kurcaci itu hanya bergidik lalu terlihat mencibir menggeleng malas mendengar teriakan Adrienne tadi. Sepertinya karena dia sudah terbiasa dengan hal itu. "Kau tau aku sedang memikirkan apa?" tanya Adrienne melotot kesal padanya. Kurcaci itu hanya terlihat mencibir meliriknya lalu membuang muka malas. "Aku masih kesal di mana Wuri berada sekarang, bola kehidupan itu. Bola kehidupan itu tanpa aku sadar malah sempat Wuri bawa kabur!" kesalnya sangat dendam mengingat hal itu. "Ya itu karena kau bodoh langsung menyingkirkannya tanpa memperhatikan dulu Adrienne Peri," jawab Kurcaci itu menyipitkan matanya seraya mengeladahkan kedua tangannya bosan pada Adrienne. Betapa melototnya Adrienne mendengarnya dan langsung berbalik ke arahnya. "KURANG AJAR!" "PLAK!" Ia menampar Kurcacinya sampai Kurcaci itu terlihat begitu cepat berputar-putar sampai tak terlihat. Kini dia terlihat sempoyongan begitu lucu dan terjatuh hilang kendali. Adrienne kesal menghentakkan tongkatnya. "Lihat saja Wuri, kau pasti akan ku temukan!" geramnya sangat dendam terengal membayangkan Wuri. **** Tanpa Adrienne Peri sadari ternyata para Peri mencoba berusaha keluar dari alam mereka untuk mencari keberadaan Wuri. Namun, saat mereka terus mencoba terbang ternyata Adrienne pintar dan telah melapis atmosfer alam peri dengan kekuatannya agar para Peri tak bisa lari darinya. Terlihat mereka sudah kewalahan dan kesakitan karena sayap-sayap mereka sudah terluka mencoba melawan atmosfer yang di buat Adrienne. "Ugh!" jerit Neri Peri kesakitan seraya memegangi bahunya karena sayapnya yang luka terbakar. "Neri Peri, bertahanlah," jawab Buul Peri langsung mendekatinya khawatir sangat sedih. "Kita memang tidak bisa untuk keluar dari sini," ucap Elodie Peri sangat sedih ingin menangis. Mereka terlihat memandangi Elodie juga sedih dan termenung harus bagaimana. Neri Peri berpikir keras dan ia terlihat menemukan sebuah ide. Ia langsung mencoba bangkit berdiri menahan sakitnya. "Para Peri, kalian tunggu saja di sini dan berhati-hati. Aku akan ke atas menara untuk memperhatikan di mana titik atmosfer ini dan menghancurkannya. Agar kita semua bisa pergi dari sini dan mencari keberadaannya Ratu Peri," ucap Neri Peri serius pada mereka. Mereka terlihat setuju mengangguk mantap. Neri Peri lalu mengangguk dan mendongak ke atas dan seketika menghilang dari sana. Namun, tanpa mereka sadari ternyata Adrienne menemukan mereka berkumpul di sana. Betapa terbelalaknya Adrienne saat melihat mereka semua bergerombol di sana. Adrienne langsung menghampiri cepat mereka. "Kalian mau apa?" tanyanya sinis. Betapa syoknya para Peri melihat dirinya. "Haaa! Lihat Adrienne Peri. Mereka sepertinya terluka, mereka pasti ingin mencoba kaburr!" teriak Kurcacinya itu senang. Betapa terbelalaknya mereka dan terlihat cemas sekarang. Adrienne langsung geram. "Kau jangan sembarangan menuduh Kurca!" bentak Buul Peri geram padanya. "Kalian lah yang jangan semena-mena pada kami! Heh!" jawab Adrienne geram padanya dan langsung menyerangnya dengan bola apinya. Buul Peri langsung menangkap bola api itu dengan rambut panjangnya dan melemparkannya balik ke arah Adrienne. Adrienne melotot dan terlihat panik menundukkan kepalanya seketika belakangnya meledak hebat. Para Peri merasa puas dengan hal itu. Adrienne semakin geram pada mereka. Wajahnya terlihat begitu mengerikan sekarang. "Beraninya kaliaan," geramnya dengan suara yang tertekan mengerikan. Kini para Peri terlihat sedikit ketakutan. Mereka lalu langsung melawan Adrienne dan menyerangnya ramai-ramai dengan tongkat sakti mereka masing-masing. Kini Adrienne terlihat bercahaya tak terlihat karena kekuatan para Peri. Mereka terlihat tersenyum puas melihat semua itu dan mereka sekarang mengira Adrienne akan meledak oleh serangan mereka. "Ahhahahahaa," Mereka langsung melotot saat mendengar tawa cekikikan Adrienne itu. Kini mereka terlihat mulai melemah lantaran kaget. Ternyata Adrienne sangat kuat dan membuat pelindung. Ia tersenyum jahat sekarang pada mereka dan langsung membalikkan serangan mereka semua ke diri mereka. Kini merekalah yang terpental. Mereka sekarang tak berdaya dan terlihat kesakitan. Adrienne terlihat tertawa puas. "Jangan harap kalian bisa menghancurkanku Hehh!!!" geramnya langsung mengarahkan tongkatnya pada mereka semua. Mereka langsung ternganga tegang membelalakkan mata mereka. Seketika mereka semua di sihir Adrienne satu persatu. Kini Buul Peri malah menjadi mainan boneka barbie. Elodie dan Eloise juga di ubahnya menjadi 2 batu alam berwarna pink juga biru seperti warna mereka. Kini mereka semua telah di sihir Adrienne menjadi benda-benda mati dan sudah tak bisa berkutik lagi. Betapa tertawa bahagianya Kurcacinya juga melihat semua itu. Kini Adrienne terlihat bahagia karena sudah berhasil menyihir mereka semua dan tak akan ada lagi yang mampu melawannya. Namun, ia lupa bahwa Neri Peri tak ada di sana dan malah mengira ia sudah di sihirnya juga. Akhirnya ia pergi meninggalkan tempat itu merasa puas dan membiarkan mereka yang sudah menjadi benda mati itu tergeletak berhamburan. **** Zanna dan Agra terlihat tenang terus memasuki hotel itu. Ternyata mereka juga akan mengikuti meeting bersama Wuri. Namun, mereka malah berhenti di lantai dasar dan terlihat berbincang. "Agra, aku duluan ya ke atas. Biar bisa bantuin nyiapin meeting," ucap Zanna tersenyum lembut padanya. "Oke Zan, makasih ya," jawab Agra senang. Zanna tersenyum mengangguk padanya. Agra terlihat tersenyum bahagia juga padanya karena Zanna selalu membantunya. Zanna lalu pergi melangkah ke lift dan memasuki lift meninggalkan Agra sendiri di sana. Ternyata Agra sedang menunggu Erdian dan dia berdiri santai di sana seraya sesekali mendongak keluar melihat-lihat apakah Erdian sudah datang atau belum. Tanpa dia sadari dan dia lihat. Wuri juga terlihat baru sampai dan memasuki hotel itu. Wuri terhenti sejenak mendongak saat satu langkah masuk di pintu hotel itu. Saat ia menyadari bahwa hotel yang ia masuki benar. Ia tersenyum dan melangkah masuk senang. Agra terlihat sudah bosan dan memeriksa jam tangannya. Namun, tiba-tiba ponsel mewahnya berdering yang ternyata dari Erdian. "Oh iya halo Pak, Bapak sudah di mana Pak? Saya menunggu Bapak di lantai dasar," ucap Agra memberitahunya. Dia terus mendengarkan apa yang di katakan Erdian dan terlihat kaget ternganga. "Ohh Bapak sudah di ruang meeting? Ya ampun saya kira belum haha iya-iya Pak saya ke sana, terimakasih," jawabnya tertawa. Dia lalu mematikan telpon. "Halahh gak bilang-bilang ngapain gua planga-plongo gak jelas dari tadi di sini, ah!" gerutunya kesal seraya memasukkan ponselnya kembali ke kantong jaz rapinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN