Wuri terlihat mengerti memasuki lift yang ada di sana. Agra mulai melangkah mendekati lift juga. Wuri terlihat tenang di dalam lift. Saat pintu lift ingin tertutup tiba-tiba Agra juga masuk.
Wuri yang awalnya masih tenang kini melotot melihat ada Agra di sampingnya. Mereka berdua saja di dalam sana.
Agra yang dari tadi tak sadar bahwa yang di sampingnya adalah Wuri terlihat santai. Kini pintu lift sudah tertutup rapat. Wuri terlihat terus membelalakkan matanya terdiam menatap Agra.
Agra yang baru ngeh kalau di sampingnya itu adalah wanita. Betapa terbelalak ternganganya dia saat tersadar dan mengenali bahwa orang yang berada di sampingnya ialah wanita yang menabrak dirinya tanpa meminta maaf juga tiba-tiba terpeluk dengannya saat di pesta.
Mereka tak sengaja saling bertatapan. Wuri langsung membuang pandangannya merasa malu. Ia terlihat terdiam menundukkan pandangannya terus memutar bola matanya seakan tak tenang. Namun, terlihat ia tetap kalem dan tenang.
Agra terlihat masih ternganga heran. Dia seakan merasa Wuri memang sengaja mengikuti dan mengincarnya. Karena dia pernah di tipu juga di porotin seorang model majalah seksi. Wanita model majalah seksi itu terus mendekati Agra berpura-pura perhatian dan ingin bertemu terus dengan dirinya lalu menguras uangnya, setelahnya ia pergi meninggalkan Agra tanpa rasa bersalah juga takut. Agra malah berpikiran dan menuduh Wuri bertujuan seperti itu juga padanya.
Agra sekarang terlihat menyeringai menatapi Wuri yang hanya diam. Wuri merasa heran juga padanya.
"Heh, hey kau," ucap Agra menyeringai meledek menatapi dirinya.
Wuri membalas tatapannya tanpa sepatah kata terlihat heran padanya.
"Huh aku tau, kita sekarang berada di lift yang sama. Sudah ketiga kalinya ya kita ketemu," sambung Agra seraya membuang muka ke depan mendongak mengerutkan alisnya.
Wuri hanya heran merasa dirinya begitu aneh sembari mengerutkan sebelah alisnya diam menatap Agra.
Agra semakin kesal dengan dirinya yang hanya diam dari tadi.
"Aku tau, kamu itu cantik. Kau terlihat seakan menolongku waktu pesta itu hmm? Hahaha, huuhh aku tau aku ini terlalu baik pada orang lain apalagi dengan wanita seperti dirimu. Kenapa, kau mau uangku? Aku ini terlalu naif untuk perempuan. Haha, memang susah ya menjadi terlalu kaya," celoteh Agra merasa sangat kesal.
Wuri semakin heran padanya yang bersikap aneh begitu. Wuri kini menatapnya mengerutkan alis sangat bingung.
Agra membalas tatapannya dan sekarang dia menghadap tepat ke arah Wuri.
"Apa, hah? Kau mau uangku? Ambil, ambill, ambil ini ayo! Ambil aja hah!" ketus Agra sangat kesal padanya seraya memaksanya menyodorkan uang padanya.
Wuri semakin kesal juga padanya dan semakin mengerucutkan alisnya menatap Agra juga tangan Agra yang mendorong-dorong bahunya menyodorkan uang.
"APA! KURANG BANYAK, AMBIL AMBIL AJA KAU JUGA MAU SOK PERHATIAN DAN NAFSU SAMA TUBUHKU? HAH? AYO! LECEHKAN SAJA SEKALIAN POROTIN!" teriaknya mendongak ke arah Wuri.
Wuri hanya diam membuang pandangannya ke depan sangat geram. Ia tak mau mengeluarkan sepatah katapun karena kesal. Wuri mendorong tangannya agar menjauh darinya karena ia terlihat merasa sakit karena dorongan Agra yang kuat kesal padanya.
"APA! POROTIN AMBILIN DOMPET GUE!..."
geram Agra dan pintu lift sudah terbuka. Mereka sudah sampai di atas.
Wuri terlihat menatapnya sangat kesal. Ia terus menatap Agra kesal dan keluar lebih dulu menyenggol Agra. Agra kini ternganga membelalakkan mendongak terus ke arahnya.
"Hu?" ucapnya melongo sendiri di lift itu. Lift itu akhirnya tertutup kembali. Dia langsung membuka kembali lift itu dan keluar cengengesan.
Dia terlihat merasa malu pada dirinya sekarang.
"Ternyata dia gak mau jahatin aku. Tapi kenapa dia ada di dalam bersamaku tadi? Apa gak sengaja terkena bareng?" tanyanya melongo sendiri. Dia mencoba menutup mulutnya kembali mengerutkan alisnya masih tak percaya.
Dia terlihat terus bersikap sok cool membetulkan jas formal rapinya memerengkan lehernya terus menatap ke arah Wuri berlalu dengan perasaan masih kesal bercampur malu yang begitu besar.
Kini dia terlihat tertunduk melotot.
"AAAA!!!" teriaknya konyol dengan wajah menangis berlari langsung ke ruang meeting karena begitu malu pada dirinya sendiri.
****
Saat Agra masuk dengan cengengesan sampai semua orang yang di dalam terdiam menatapnya melongo. Agra terlihat semakin malu.
Namun, betapa terbelalaknya matanya saat melihat Wuri juga ada di dalam. Wuri yang awalnya sudah tenang baru duduk di kursi dan meja meeting sedang memperhatikan berkas langsung membelalakkan matanya juga saat melihat ke arah pintu masuk.
Agra melotot mengerutkan alisnya sangat menyesal sekaligus merasa ingin menangis sejadi-jadinya.
Wuri hanya terdiam menatapnya.
"Agra," panggil Zanna melambaikan tangannya tinggi tersenyum senang.
Wuri terkekeh dan terlihat melirik ke belakangnya. Ia melihat Zanna yang sedang melambai ke arah Agra. Ia langsung membalikkan wajahnya tertunduk merasa malu.
"Adduh! Ternyata dia mau ikut meeting juga?" panik Agra terlihat sudah lemas terus menekuk wajahnya menahan malu luar biasa melotot mengerutkan alisnya terlihat menyenderi pintu konyol.
Zanna yang terlihat heran dengan tingkah mengerutkan alisnya bingung. Namun, ia terkekeh melihat wanita yang ada di depan membelakanginya. Ia terlihat merasa penasaran dengan wanita yang ada di depan membelakanginya itu.
"Siapa dia?" tanya Zanna dalam hati.
"Oh haa Pak Agra mari silahkan!" seru Erdian yang tersadar ada Agra di depan pintu.
Agra kini merasa mati berdiri. Wuri terlihat hanya bingung diam memperhatikan mereka. Ia lalu melihat ke arah Agra kembali.
"Aku harus cool, aku harus jaga image ku demi perusahaan ku huuh! Aku akan lupain wanita aneh itu," gumam Agra dalam hati merasa gelisah gugup konyol menarik nafasnya.
Agra akhirnya berpura-pura tersenyum pada Erdian dan yang lainnya. Dia masuk seraya tersenyum simpul yang terlihat konyol. Dengan gagahnya dia membetulkan jasnya di depan mereka seraya melangkah masuk.
Wuri yang awalnya memeriksa berkas tak menghiraukannya lagi kini menatapnya kembali.
"Ehm! Ya, selamat siang semuanya," sapa Agra tersenyum semangat seraya duduk di tempat yang sudah mereka siapkan.
Mereka tersenyum dan satu persatu menjawab Agra. Zanna yang melihatnya ikut merasa tenang dan tersenyum.
Kini Agra dan Wuri saling berhadapan. Agra terlihat diam-diam melirik ke arah Wuri melotot menundukkan kepalanya konyol. Wuri terlihat tenang saja memeriksa berkas-berkas yang ada di hadapannya. Zanna menyadari hal itu. Ia semakin penasaran dengan sosok wanita yang ada di depannya.
"Siapa ya dia? Kok Agra kayaknya perhatiin dia dari tadi, juga bersikap aneh gitu," gumam Zanna dalam hati curiga.
Saat Agra meliriknya melotot diam-diam. Wuri menatapnya datar. Betapa malunya Agra dan langsung membuang pandangannya menunduk melotot konyol kaget.
Wuri hanya heran dengan manusia seperti dirinya. Wuri terlihat hanya diam memandanginya lalu kembali membaca berkas itu kalem.
Agra terlihat tak ada habisnya melirik wanita itu karena merasa Wuri adalah orang yang begitu aneh.
"Kenapa dia dari tadi gak bicara ya? Apa jangan-jangan dia gak bisa bicara? Bisu kali ya," gumam Agra dalam hati merasa sangat sebal padanya. Entah kenapa Agra terlihat begitu merasa diri Wuri sangat aneh. Mungkin karena dia membela dirinya sendiri yang melakukan hal malu terlalu pede padanya saat di lift tadi.
Akhirnya mereka memulai meeting mereka. Wuri terlihat hanya diam, tenang mendengar apa yang di sampaikan. Agra terlihat terus diam-diam meliriknya merasa kesal.
Zanna juga terlihat ikut mendengarkan mereka.
*
Meeting berjalan lancar. Betapa tak percayanya Agra saat mengetahui Wuri adalah manajer Erdian.
"Terimakasih Pak Agra! Saya harap bisnis kita akan berjalan baik setelah selesai merenov ruangan dan memasarkan produk kami di hotel-hotel serta tempat yang di naungi kalian!" seru Erdian sembari menjabat tangan Agra semangat merasa sangat bahagia dan puas dengan hasil meeting tadi.
"Iya sama-sama Pak Erdian. Saya yakin produk Bapak Erdian akan di sukai para peminat kami juga Pak," jawab Agra tersenyum ramah padanya.
"Ahh hah, iya Agra," jawabnya tersenyum lebar.
Wuri terlihat juga sudah berdiri dan siap keluar. Ia lalu mendekati Erdian hingga Agra terkekeh.
"Em permisi Pak. Saya duluan," pamitnya dengan nada yang rendah.
"Oh iya baik Ibu Manajamen, terimakasih juga atas pendapat Ibu tentang meeting tadi," jawab Erdian.
Wuri hanya tersenyum mengangguk seraya membungkukkan badannya sedikit lalu pergi dengan kalemnya, ia berlalu tepat di samping Agra. Mereka terlihat sama-sama acuh, lalu Agra meliriknya.
Agra ternganga saat mendengar ia pertama kali berbicara.
"Ternyata dia bisa aja bicara," gumam Agra dalam hati.
Saat Wuri keluar, di belakangnya terlihat di susul oleh Zanna yang juga sudah ingin keluar.
"Em Agra, Pak Erdian. Saya pamit keluar duluan ya? Permisi," izin Zanna juga sopan.
"Oh iya baik Bu," jawab Erdian tersenyum padanya.
"Iya Zan, kamu tunggu aku di luar aja ya," perintah Agra. Zanna terdiam sejenak lalu mengangguk tersenyum.
****
Agra sudah kembali ke kantornya. Dia terlihat memijat dahinya mengingat kejadian memalukan yang dia perbuat sendiri saat di lift tadi.
Dia terus mengingat Wuri dan sekarang seakan merasa bersalah pada dirinya.
"Aduh! Kenapa gue malah nuduh dia begitu ya tadi? Haduhh, mana dia cuek diam aneh gitu lagi," gerutunya sangat menyesal pada dirinya sendiri. Namun, tiba-tiba Zanna mengetuk pintu ruangannya.
"Ya masuk," jawabnya seraya mengalihkan posisinya dan mengambil berkas yang ada di mejanya.
Zanna membuka pintu itu sopan. Ia lalu memasuki ruang Agra.
"Ya ada apa Zan?" tanya Agra.
Zanna terlihat sedih sekarang. Ia lalu duduk di depan Agra menatap Agra seakan ada sesuatu yang membuat sangat sedih. Agra menjadi heran pada dirinya.
"Kamu kenapa Zan? Kok mukanya di tekuk gitu," tanya Agra yang seakan mengetahui perasaannya. Zanna membelalakkan matanya sungguh tak percaya dengan kepekaan laki-laki manusia tampan rupawan itu. Zanna akhirnya mau tersenyum tipis saat melihatnya.
"Emm Gra, terimakasih banyak ya. Selama ini, kamu udah tulus nemenin dan bantuin aku ikut ke duniamu ini," jawab Zanna terlihat haru mengingat semua yang Agra lakukan untuknya.
Agra yang mendengarnya langsung tertawa merasa lucu dan menatapnya.
"Zanna, kan aku sudah bilang. Kalau kamu itu teman aku, bahkan jadi sahabat aku sekarang. Lagipula aku benar-benar gak nyangka, kalau makhluk seperti kamu itu mempunyai skill kerja lebih bagus dari manusia," jawab Agra merasa bangga padanya.
Zanna tersenyum senang mendengarnya. Namun, seketika wajahnya kembali terlihat sedih menundukkan pandangannya. Agra kembali terkekeh mengerutkan alisnya dan menghela nafasnya menatap Zanna.
"Terimakasih banyak Gra," jawabnya lirih. Agra tersenyum mengangguk masih heran.
"Gra, aku... Aku mau bilang sama kamu," ucapnya terlihat merasa berst ingin mengatakan hal itu.
"Bilang apa Zan? Masalah kerja kamu?" tanya Agra. Zanna terlihat hanya menatapnya sedih.
"Kenapa Zan? Ada masalah sama pekerjaan kamu? Atau ada yang kamu gak paham?" tanya Agra terus memastikannya.
"Emm bukan Gra. Bukan itu," pungkasnya. Kini Agra terdiam hanya menatapnya mengangkat alisnya sebelah.
"Aku, aku baru mendapatkan kabar dari Sutty... Lewat telepati antar pikiran kami," beritahu Zanna terlihat gugup.
Agra langsung melongo menatapnya. Dia lalu mengerutkan alisnya memoncongkan kepalanya sedikit ke samping merasa penasaran.
"Kabar? Kabar apa?" tanya Agra.
Zanna terlihat sedikit resah karenanya membuat Agra semakin penasaran juga ikut khawatir padanya.
"Katanya... Aku harus balik ke alamku dulu sekarang," jawab Zanna. Agra langsung terdiam mendengar itu. Dia sekarang juga seakan tak ingin Zanna pergi darinya karena dia sudah begitu dekat pada Zanna. Dia juga sudah tau dan mengenali Zanna yang baik selalu menjaganya dan selalu setia berada di sampingnya.
"Kenapa Zan? Kenapa kamu mesti balik? Bukannya kamu udah nyaman kan tinggal di sini?" tanya Agra merasa sedih juga sekarang.
Zanna terlihat juga tak ingin berpisah dari Agra. Agra sekarang sedih dan langsung berdiri di hadapannya seakan protes dalam kesedihannya.
"Maafin aku Gra, kata Sutty. Permata mahanagrana kami pada malam bulan purnama ini akan turun dan.. permata itu hanya akulah yang bisa mengambilnya. Karena, aku adalah Ratu dari Ibu juga Ayahku," jawab Zanna menjelaskan padanya.
Agra langsung membelalakkan matanya mendengar hal yang ajaib itu. Dia seakan tak percaya.
"Permata mahanagrana?" tanya Agra heran. Zanna mengangguk menatapnya.
"Iya, permata itu akan turun setiap 100 tahun sekali dan malam purnama ini adalah malam dia turun, dia akan di turunkan oleh dewa ular kami berkepala delapan. Dia adalah dewa dari segala dewa yang ada di alam kami. Kami sangat menghormatinya. Permata itu memiliki kekuatan yang sangat besar. Maka dari itu, kami memerlukannya agar kekuatan kami semakin kuat," jawab Zanna menjelaskan padanya.
Agra sungguh takjub mendengarnya. Dia langsung berlari mendekati Zanna.
"Zanna, apakah aku boleh ikut untuk melihat keajaiban itu? Para manusia benar-benar tak percaya dengan yang kamu bicarakan?" ucap Agra berharap sangat tergiur sekaligus penasaran. Namun, Zanna malah menaruh telunjuknya kesal ke mulut Agra.
"Huust!" gerutunya memerintahkan Agra agar tak terlalu keras berbicara. Karena hal itu jangan sampai di dengar oleh para manusia yang berniat jahat untuk mengambil permatanya. Agra melotot da terdiam sekarang.
"Ya, ya maaf gak sengaja," jawab Agra mengelas kesal.
"Aku memberitahukan semua ini hanya sama kamu, aku mohon kamu jangan bilang sama siapapun. Karena aku sudah percaya sama kamu Gra," ucap Zanna padanya.
Agra hanya terdiam melongo sungguh tak percaya dengan hal itu. Akhirnya dia mengangguk polos masih ternganga. Zanna tersenyum padanya.