Episode 22

2020 Kata
Zanna telah kembali ke alamnya. Ia kembali ke wujud aslinya. Terlihat ia merayap cepat dari kuil mereka menuju halaman yang luas hanya ada pepohonan di sekelilingnya. Sepertinya di sanalah mereka akan melakukan ritual menunggu permata ular sakti itu datang. Zanna lalu mengubah dirinya menjadi wujud seperti manusia dengan pakaian aslinya. Terlihat sekarang tengkurap dengan kedua tangan di depan ia rapatkan karena baru saja mengubah dirinya dari ular menjadi begitu. Ia menatap tajam ke depan masih dengan posisi seperti tadi. Setelah itu ia lalu bangun dan berdiri tegak. Betapa cantik dan elegannya dirinya. Rambut panjang lurusnya yang terlihat terkena angin semakin membuat kecantikannya tak manusiawi. Kedua anting berjuntai bermotif cantik menghiasi telinganya. Terlihat wajah Zanna sekarang serius. Ia mendongak percaya diri. Zanna memang sedikit berbeda ketika ia menjadi manusia dan saat berubah jadi wujud aslinya. Saat ia menjadi siluman seperti itu. Wajah serta sikapnya menjadi tegas dan arogan. Tidak saat ia bersama Agra, ia menjadi ceria bahkan bertingkah petakilan. Sepertinya Zanna adalah wanita yang juga bisa menyesuaikan keadaan. Tak berapa lama, terlihat di belakangnya ada 2 ekor ular cobra berwarna hitam pekat terlihat mendekatinya. Ular itu sekarang tepat berada di samping kiri kanan Zanna. Zanna terlihat santai saja terus menatap ke depan arogan. Seketika kedua ular itu juga berubah juga menjadi orang. Ternyata mereka adalah Guru Brah dan Sutty. Mereka lalu ikut berdiri tegak di samping Zanna dan tersenyum percaya diri. Sutty terlihat bahagia seraya menatap tajam ke depan. Zanna memang menyadari mereka. Ia semakin mendongakkan dagunya arogan. "Mari kita mulai," ucap Zanna serius. Guru Brah dan Sutty hanya tersenyum menyeringai tanda setuju. **** Agra terlihat bingung sekarang. Entah kenapa dia selalu teringat dengan Zanna. Dia juga begitu tak menyangka kalau Zanna benar-benar bisa bekerja sejauh itu dan berbaur begitu baik dengannya juga dengan orang lain. Dia merasa sangat lucu mengingat hal itu dan tertawa sendiri seraya mengetik di laptop mewahnya. Namun, tiba-tiba seorang karyawan laki-laki berkacamata memasuki ruangannya. "Maaf permisi Tuan," izinnya. Agra terkekeh. "Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Agra melepas laptopnya menatap karyawan laki-lakinya itu. "Ada pesan dari Pak Erdian. Katanya nanti sore akan ada acara di cafe Bougenville, beliau harap Tuan bisa datang ke acaranya," beritahu karyawan itu. "Ohh iya baik, terimakasih infonya. Saya akan ke sana nanti," jawab Agra tersenyum ramah. "Baik terimakasih Tuan saya permisi," jawabnya membungkukkan badan sopan lalu pergi. Agra terdiam lalu membuang nafasnya seraya memijit antara kedua keningnya. "Huh, males banget gue akhir-akhir ini di suruh meeting mulu. Mana gak ada Zanna lagi buat bantuin, huhh," ucapnya sebal lalu berdiri mencoba menenangkan dirinya entah ke mana. * Agra pun menepati janjinya untuk menemui Erdian. Ternyata tanpa di sangka Erdian mengajaknya untuk menghibur diri. Mereka pergi sampai larut malam karena memang wajar. Jika sesama atasan pemilik perusahaan suka berfoya-foya. Kini Agra terlihat masih sedikit pusing karena meminum lumayan banyak minuman keras. Erdian menyuruhnya saja untuk tidur di apartemen milik keluarganya yang ada di dekat sana karena kebetulan keluarganya sedang pergi ke luar negri. Agra terlihat senang dan menerimanya dengan sukacita karena dalam masih kondisi mabuk setengah. Erdian mengantarkan ke depan apartemen. Mereka berpamitan, Erdian pulang dengan mobil mewahnya. Agra terlihat sempoyongan memasuki apartemen itu. Dia terus mencoba menggeleng cepat kepalanya agar tidak terlalu pusing yang sebenarnya malah menambah pusing. Dia menaiki lift. Tanpa dia sadari dan tahu. Ternyata itu adalah apartemen di mana Wuri tinggal untuk mencari bola kehidupan kembali. Wuri terlihat ke supermarket yang ada di dekat apartemennya dan lumayan banyak membawa belanjaan makanan yang ia inginkan. Ia tersenyum senang menatapi belanjaannya. Ia terlihat menyukai aktivitas manusia itu dan memasuki apartemennya santai. Sedangkan Agra terlihat sudah memasuki lift. Dia terlihat nyengir sendiri merasa lucu menekan tombol liftnya. "Wah, ini fantastis hihihii," ucapnya sangat konyol nyengir sendiri karena masih dalam keadaan setengah sadar. Pintu lift pun tertutup. Saat tepat pintu lift tertutup terlihat Wuri terhenti sedikit kesal karena menunggu lift itu terbuka kembali agar ia bisa kembali ke apartemennya. "Huhh, aku kesal untuk menunggu," ucap Wuri lirih seraya menatap lift malas. Agra akhirnya sampai ke atas. Dia terlihat berusaha melihat nomor yang tertera di kunci Erdian berikan meski terlihat wajahnya menahan pusing dari kepalanya. Setelah susah payah menyipitkan mata berkonsentrasi mencoba melihat nomor kunci akhirnya dia berhasil tersadar meski masih terlihat sempoyongan. Dia mulai melangkah lagi mencari ruangan sesuai dengan nomor di kunci itu. Ternyata dia malah berada di apartemen milik Wuri. Dia terlihat merasa kesal. Akhirnya dia mencoba naik kembali menggunakan lift yang ada di sana. Di bawah, Wuri terlihat senang saat melihat pintu lift itu terbuka kembali. Ia lalu masuk dengan raut wajah senang. Agra pun telah menemukan ruang apartemennya. Terlihat betapa bahagianya serta puasnya dia. Dia langsung mencoba membuka pintu itu dengan kasar karena masih dalam keadaan setengah mabuk dan mual. Akhirnya pintu apartemen itu terbuka. Terlihat dia sudah nyaris terjatuh dan langsung berusaha berlari ke arah kamar mandi dan muak di sana. Ternyata, ruang apartemennya tepat berada di atas apartemennya Wuri. Setelah lumayan lama di kamar mandi. Kini akhirnya Agra sudah kurang merasakan mabuknya karena muak lumayan banyak. Dia terlihat lebih baik sekarang meski masih terlihat lemas karena tadi. Dia juga sudah selesai mandi dan memakai anduk dia taruh di lehernya seraya mengusapkan anduk ke rambutnya agar mengurangi basah. Terlihat sungguh indah dan gagahnya badan laki-laki itu. Sixpack yang ada di bagian perutnya begitu jelas. Dadanya begitu bidang serta bahu lebar membuat dirinya memang rupawan. Di tambah penghasilannya yang begitu melimpah sehingga tak salah jika wanita banyak tergila-gila padanya meski dia bukan tipe lelaki yang genit. Karena dia pernah di dekati dan porotin beberapa wanita model juga wanita karir cantik lainnya. Sehingga dia merasa bahwa wanita bukanlah segalanya untuknya dan dia menjadi tipe lelaki yang cuek dan hanya menunggu wanita yang tulus untuk menemaninya bukan memandang hartanya. Agra lalu mengecek handphonenya. Terlihat para client serta keluarga yang mengurusnya karena kedua orangtuanya baru saja meninggal men chatnya untuk terus mengurus pekerjaan. Dia terlihat sangat kesal dan bosan. Dia memang lelaki yang tak terlalu menyukai pekerjaannya. Dia lalu menaruh kasar handphonenya ke kasur. Dia kembali mengusap rambutnya dengan anduk seraya berjalan ke arah lemari. Dia lalu mengambil baju yang ada di sana. Erdian memang menyuruhnya untuk mengambil saja baju sepupunya yang memang kebetulan laki-laki seperti dirinya. **** Wuri begitu tenang sendiri di apartemennya. Ia menyiapkan maknana di meja makan mewahnya dan makan sendiri dengan tenangnya. Terlihat ia menikmati steak ayam katsu yang ia beli di bawah tadi. Ia sekarang memang menyukai makanan yang di makan manusia. Ia terlihat benar-benar menikmati semua itu dan sudah terbiasa. Ia lalu sedikit tersedak dan mencoba mengambil gelas minum yang berada di seberangnya. Dengan santainya ia menarik gelas dengan kekuatannya, gelas itu langsung cepat meleset dan tepat ada di tangannya. Ia lalu meminumnya dengan santai. Ia menghembuskan nafasnya tanda menikmati semuanya. Ia lalu menarik lagi makanan yang berada jauh dekat kasur tidurnya dengan kekuatannya. Seketika cemilan keripik kentang itu langsung terbang meleset tepat ke tangannya. Ia membuka cemilan itu tenang lalu menikmatinya. Ia memang benar-benar makhluk yang sangat bisa melakukan apapun yang ia inginkan tanpa perlu repot-repot berjalan mengambilnya. Setelah selesai makan malam. Ia lalu mulai beranjak ke tempat tidur empuknya yang lebar begitu rapi bersih itu. Ia terlihat tenang. "Aku merasa nyaman dengan semua ini, karena Adrienne aku bisa sampai sini dan menjadi para manusia. Rasanya enak juga ya menjadi manusia. Heh," ucapnya menyeringai sendiri merasa lucu pada dirinya sendiri seraya menarik selimut itu lalu merebahkan tubuhnya santai. "Tapi aku harus secepatnya menemukan kembali bola kehidupan. Para Peri, kalian tenang saja. Aku pasti akan kembali, dengan membawa bola kehidupan ke alam kita," gumamnya dalam hati merasa sedikit sedih teringat semuanya. Namun, ia mencoba untuk tetap menenangkan dirinya dan mulai memejamkan matanya agar kekuatannya selalu pulih dan bisa mencari keberadaan bola kehidupan dengan maksimal. **** Agra terlihat sangat bosan malam itu karena dia tidak berada di rumahnya sendiri. "Haduhh, bete banget sih apartemennya sepupu Erdian. Gak ada apa-apa di sini ah!" gerutunya sangat bosan menengok ke belakang. Namun, dia terkekeh saat melihat ada mikropon menganggur serta salon besar juga televisi lebar terpampang di sana. Kini dia menemukan ide mengangkat kedua alisnya ternganga lebar seraya tersenyum menatap semua yang dia lihat. "Wahhh, ada ruang musik?" tanyanya sangat senang lalu langsung melompat dari kasur berlari kecil mendekati tempat itu. Dia kini akhirnya menemukan hiburan untuk menemaninya malam hari di sana sampai dia merasa ngantuk. "Naahhh gini dong ada aja ternyata hahaa Erdian emang tau yang gue suka hahaa!!!" serunya sangat merasa senang puas mengambil mikropon itu semangat. Akhirnya dia mulai menyalakan televisi lebar itu. Dia terlihat terdiam sejenak memeriksa dalam lemari di samping televisi lebar mewah itu. Betapa terbelalaknya matanya saat melihat album lagu rock kesukaannya juga di miliki sepupu Erdian. Agra terlihat melompat kegirangan dan langsung menyetel musik itu di salon besar. "Woohoo!!! Yeaahh! Gua akan konser ria malam ini! Ah bodo amat di sini kedap udara juga kan kata Erdian hahahahaa!!!" teriaknya begitu semangat seraya memasukkan kaset itu ke dalam DVD mewah milik sepupu Erdian. Dan sekarang lagu rock juga mental itu terdengar begitu nyaring. Membuat Agra semakin bersemangat sangat bahagia. Dia malah belum merasa puas dengan suara keras dari salon besar itu. Dia malah menambah volumenya agar dirinya merasa lebih puas. Kini dia terlihat kegirangan seraya mengangguk-angguk keras layaknya anak mental mendengarkan musik mereka. Betapa kerasnya musik itu. Dia lalu melompat-lompat seraya bernyanyi puas bergaya rock and roll. **** Tanpa dia tahu, Wuri yang memang memiliki pendengaran yang sangat tajam itu langsung ikut mendengar begitu ribut berisiknya bunyi musik rock keras yang di mainkan Agra. Wuri terlihat terus mencoba menenangkan dirinya agar bisa tidur. Kini ia terlihat sedikit terganggu. Ia terus berusaha menutup matanya tenang mengerutkan alisnya. Namun, Agra terlihat semakin membesarkan volume dan bernyanyi semakin kencang. Wuri terlihat semakin gelisah sekarang dengan suara ribut itu. Ia terlihat tak tenang dan membalikkan badannya ke kiri lalu ke kanan terus mencoba tidur. Namun, ia malah semakin terganggu dan tak bisa tidur. **** Agra terlihat semakin bersemangat karena dia memang menyukai musik rock. Dia merasa malam itu adalah malam yang sangat cocok pas untuk menghibur dirinya dari kelelahan mengurus perusahaan besar peninggalan kedua orangtuanya. Dia bernyanyi sekencang-kencangnya sekarang begitu bersemangat dan semakin tinggi melompat begitu bahagia. "It's my life And it's now or never!!!" teriaknya sangat lantang bernyanyi sampai suaranya parau mirip penyanyi rock aslinya. Karena dia laki-laki jadi suaranya memang begitu nyaring bahkan tanpa dia sadar suaranya memang sampai keluar sedikit meski apartemen itu kedap suara. Orang yang lewat di depan apartemennya hanya mendengar sayup-sayup suaranya dan hanya tertawa kecil saja memaklumi tidak terganggu sama sekali. Mereka lewat dengan santainya. **** Betapa terganggunya Wuri mendengar berisiknya Agra. Kini ia terlihat sampai-sampai kesakitan telinga menutupi telinganya kuat dengan bantal. "UGH!" jeritnya kesal kesakitan memejamkan matanya kuat lalu menghempas bantal itu membalikkan tubuhnya berkali-kali ke kiri dan ke kanan. "UGGHH HUH!" ia benar-benar menjerit sekarang tak tahan mendengar betapa nyaringnya konser Agra itu. Ia mendengar semuanya dan benar-benar merasa seperti berada di konser rock yang sangat nyaring. Ia langsung membelalakkan matanya terbangun. **** Agra sangat tidak mengetahui hal itu dan sekarang malah semakin bersemangat dan terus mengulang lagu kesukaannya itu. "YEAHH!!!" teriaknya terus melompat semangat bergaya mental merasa sangat keren. Dia semakin bernyanyi penuh percaya diri dan membayangkan dirinya adalah band rock itu di tonton banyak sekali fans. **** Wuri terlihat begitu tersiksa sekarang sampai-sampai ia menungging di tempat tidurnya seraya menutup kepalanya kuat dengan bantal tebalnya itu mencoba agar tak mendengar begitu berisiknya suara Agra yang begitu fals itu juga musik yang begitu sangat nyaring menyakiti telinganya bahkan sampai dadanya sakit terkena getaran konser Agra. "AWGHH!!!" gerutunya sangat kesal bangun melempar bantal itu sebal. Terlihat rambut panjang indahnya kini awut-awutan. Ia terlihat seperti orang begitu tersiksa. Wuri begitu kesal mencoba memfokuskan pendengaran pada suara begitu nyaring sangat mengganggunya itu. Akhirnya ia tersadar dan mendongak ke atas. Karena dari sanalah ia merasa suara begitu keras sangat ribut itu berasal. Ia menatap ke atas sangat kesal sampai dadanya terengal. "Huh!" geramnya tersengal menatap tajam ke atas lalu langsung turun melempar selimutnya kasar dan melangkah keluar untuk menghampiri Agra dengan raut wajah yang menahan geram. Ia akhirnya benar-benar keluar dari apartemennya. **** Agra terlihat sangat gila sekarang dan terlihat lagunya baru terganti semakin membuatnya begitu semangat untuk menyanyi lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN