Wuri menghampiri ke atas apartemen Agra dengan langkah yang geram.
Betapa berisik sekali saat ia sudah sampai tepat berada di depan pintu Agra. Ia terlihat menjerit menutup kedua telinganya tak tahan.
"Huhh!" kesalnya lalu langsung mengedor kuat pintu Agra.
"Permisi! Permisi!" teriaknya sangat kesal seraya terus mengedor.
"DOR! DOR DOR!!" gedornya keras.
Namun, Agra benar-benar tak mendengarkan itu karena suara musiknya yang begitu menggelegar.
Betapa geramnya Wuri tak di bukakannya pintu. Wuri semakin menutup mata menutup kedua telinganya kuat sangat tersiksa.
Dengan geram menggunakan kekuatan birunya yang refleks keluar dari tangannya karena marah pintu itu langsung terbuka keras dengan sendirinya.
Wuri lalu langsung masuk menengoknya.
"BISAKAH KAU DIAM?!" teriak Wuri melototinya sangat kesal.
Agra akhirnya terkekeh melihat Wuri sudah ada di sampingnya terlihat begitu marah memandangnya.
Agra melongo sebentar melihatnya heran. Betapa tak menyangkanya Wuri ternyata orang yang membuat kebisingan luar biasa begitu mengganggunya itu adalah lelaki yang pernah ia selamatkan dari lampu pesta dan ia tabrak tak sengaja saat pertama kali ke kota. Wuri yang awalnya memasang wajah yang sangat kesal dan marah kini langsung terdiam melongo heran melihatnya.
Agra langsung mematikan salonnya. Dia benar-benar tak menyangka malah ada orang yang mendengar padahal ruangan itu sangat kedap suara. Agra sempat terheran kebingungan mengerutkan alisnya seraya mematikan salon serta televisi.
Wuri seakan benar-benar tak menyangka bahwa lelaki itu lah yang mengganggu tidur malamnya.
Setelah Agra mematikan semuanya. Agra langsung kembali ke tempat dia berdiri tadi menghadap ke arah Wuri seraya melongo mengerutkan alisnya tak mengerti.
"Lo kok, kok protes sih?" tanya Agra kesal padanya.
Wuri yang mendengarnya terlihat kembali kesal pada dirinya.
"Kau tau kau terlalu berisik di malam hari sampai aku tidak bisa untuk tidur!" gerutu Wuri kesal.
Agra ternganga. "Apa? Bukannya ruangan ini di desain kedap suara? Apa kamu benar-benar tak bisa mendengar suara orang bernyanyi yang begitu pelaan seperti ini?" celoteh Agra merasa heran tak terima padanya. Mereka malah berdebat namun Wuri terlihat kalem saja meski ia terlihat begitu kesal.
"Kau bilang pelan katamu?! Pelan? ITU SANGAT MENGGANGGU! SANGAT NYARING DAN MEMBUAT TELINGAKU SAKIT SEKALI SEKARANG?!" tampik Wuri protes.
Agra kini hanya ternganga. Dia sungguh tak menyangka ruangan kedap suaranya malah tak berfungsi pada Wuri.
"Aneh banget, kenapa. Kenapa aku selalu salah? Bukannya kedap suara? Apa ruangan ini benar-benar tak berfungsi? Hah! Desain macam apa ini!" kesal Agra menghentakkan kaki menghempaskan tangannya mendongak ke atas melihat sekeliling ruangan sangat sedih.
Wuri yang melihatnya hanya kebingungan dan masih menahan geramnya.
Agra terlihat heboh gelisah sendiri. Namun, dia terdiam ketika melihat Wuri berdiri di sana kembali.
"Kamu, kenapa kamu bisa membuka pintuku? Hah, kau ini apa kau bukan manusia? Kenapa kamu bisa mendengar suara yang berada di ruang kedap suara seperti ini kenapa kamu bisa membuka pintu ku hah?" gerutu Agra mendongak memandanginya.
Wuri melotot terdiam karenanya. Karena Agra yang begitu banyak cincong. Wuri sekarang semakin pusing ia memejamkan matanya kuat seraya memijit samping dahinya.
"KAU? BISAKAH KAU DIAM! JANGAN MEMAINKAN SUARA BERISIKMU ITU LAGI?! AKU MAU ISTIRAHAT?!" hardik Wuri menunjuk ke arahnya menatap tajam sangat kesal.
Agra terdiam sekarang hanya ternganga heran padanya. Terlihat sekarang Agra seperti anak kecil yang polos baru berbuat kenakalan yang kini terdiam karena di marahi.
Wuri menatapnya tajam terlihat sangat kesal padanya.
"Why?" tanya Agra mengendikkan bahunya sangat tak percaya dengan semuanya.
Wuri lalu berbalik dan mulai melangkah keluar kikuk.
"Kenapa aku selalu salah. Memangnya apa kesalahanku ini selalu saja salah?" tanya Agra mengerutkan alisnya.
Wuri terlihat tak menghiraukannya dan terhenti sejenak. Ia membalikkan wajahnya kembali ke arah Agra yang merasa begitu bingung pada lelaki itu. Agra terlihat benar-benar masih bingung seraya memegangi tekuknya terus berpikir bagaimana bisa Wuri malah mendengar.
Wuri terlihat melotot ke arahnya sedikit merasa bersalah karena Wuri memang berhati lembut aslinya.
Ia lalu keluar meninggalkan Agra dan kembali pergi ke apartemennya.
Agra terlihat membalas melihat ke arahnya seakan tak terima.
"Kok dia bisa? Why?" tanyanya terheran-heran sendiri lalu menghempas tangannya tanda bingung sekaligus kesal pada dirinya sendiri. Akhirnya dia terduduk begitu sebal di sofanya melirik ke samping membayangkan Wuri mendengus kesal.
****
Akhirnya kini Wuri bisa merebahkan dirinya tenang seperti biasa. Ia terlihat bahagia sekarang.
"Syukurlah manusia menyebalkan itu sudah tak lagi berisik," ucapnya merasa lega. Ia membetulkan posisinya berbaring ke arah kanan dan mulai menarik selimutnya. Ia menarik nafasnya mencoba melupakan kejadian barusan. Ia lalu pelan-pelan memejamkan matanya dan mulai tertidur.
****
Tak terasa pagi kembali menyapa dengan cerah. Matahari bersinar dengan tenangnya.
Wuri terlihat baru saja selesai mandi membersihkan dirinya dan sekarang terlihat sudah mulai bersiap ingin ke kantor. Betapa cantik juga kalemnya Ratu Peri itu. Ia tersenyum menatap cermin melihat dirinya sendiri seraya membetulkan blazer coklat muda bagian tangannya. Kini ia sudah benar-benar terlihat siap untuk pergi ke kantor.
****
Begitu juga Agra, dia terlihat baru saja selesai mandi dengan wajah yang terlihat begitu malas untuk ke kantor.
"Hah, males banget aku ke kantor. Apa aku gak masuk aja ya hari ini. Huhh ya sudah aku pulang saja," ucapnya merasa tak bersemangat seraya memakai kemeja putihnya kembali. Dia memutuskan untuk tidak masuk kantor saja hari ini. Karena dia CEO pemilik perusahaannya, jadi dia bisa seenaknya kalau dia tidak ingin masuk. Namun, meski begitu dia masih rajin mengerjakan pekerjaannya di rumah mewahnya dengan laptop kesayangannya. Agra memang termasuk pemimpin yang cerdas dan bertanggung jawab.
"Astaga! Tapi Reyhan kan mau minta tanda tangan aku hari ini, aahh terpaksa sebentar aku ke kantor hah," ucapnya terhenti seketika dan menekuk wajahnya sangat sebal teringat hal itu. Akhirnya dia pergi keluar dengan raut wajah begitu pasrah. Reyhan adalah manager perusahaannya.
****
Wuri ternyata hari ini juga di arahkan ke perusahaan Agra saja untuk mengikuti meeting melakukan launching produk terbaru mereka serta mengurus surat kontrak kerjasama sama perusahaan mereka.
Wuri terlihat sangat berwibawa di depan. Ia sekarang terlihat menjelaskan kepada seluruh client kerja yang ada di ruangan itu yang tengah duduk rapi di meja bundar panjang berkeliling menatapnya di depan layar LCD lebar itu.
"Saya sebagai Management PT. Teh Botol Asri milik Pak Erdian. Hanya menyampaikan hal itu saja. Saya mau, kita membuat cafe yang bertema klasikal namun berkelas. Agar orang yang memasuki cafe kita akan tenang, damai serta sejuk tak terburu-buru menikmati Teh yang di seduh oleh para peracik kita, sehingga akan terjadi kerjasama yang sama-sama saling menguntungkan dengan produk juga tempat milik perusahaan real estate Pramana Group ini," jelas Wuri terlihat berdiri di hadapan mereka semua tegak sangat tenang melirik mereka semua tersenyum.
Para client terlihat sangat setuju dengan apa yang di katakan Wuri. Wuri terlihat senang tersenyum tipis melihat mereka semua. Mereka semua lalu bertepuk tangan tersenyum pada Wuri tanda setuju dengan pendapat Wuri.
Agra yang terlihat baru saja memasuki ruang meeting itu tanpa dosa melihat ke arah Wuri yang berdiri menjelaskan apa saja. Agra mengerutkan alisnya seraya duduk di sana tanpa ada merasa bersalah sedikitpun karena terlambat. Meski Agra terkenal dengan kehebatannya juga dalam memimpin perusahaannya hingga sejauh ini. Tapi dia memang juga kadang merasa semena-mena pada yang lain karena memang dia pemilik perusahaan itu.
Agra duduk tanpa dosa sampai pria berjas berdasi rapi yang ada di samping kanan kirinya terlihat melongo dan sedikit merasa kesal pada dirinya di dalam diam mereka. Mereka terlihat saling bertatapan saat melihat Agra. Agra yang awalnya terus melihat Wuri dengan tajam karena ingat dengan kejadian malam tadi yang membuat dirinya merasa kesal akhirnya terkekeh saat tersadar dengan kedua pria yang ada di sampingnya terlihat merasa sebal pada dirinya. Dia lalu melirik mereka dengan mengerutkan alisnya menatap tajam tanda tak menyukai hal itu juga. Karena dia memang CEO orang yang di atas segalanya dalam perusahaan. Kedua pria itu pun akhirnya menunduk merasa takut dan bersalah pada dirinya dan langsung mengubah posisi duduk mereka tegak ke arah Wuri berpura-pura fokus mendengarkan Wuri lagi.
Agra terlihat mendengus kesal karenanya dan langsung ikut membuang muka ke arah Wuri seraya menatap tajam memijit samping dahinya.
"Ehm maaf Nona Wuri. Apakah pendapat saya, tentang launching produk kita ini akan benar juga di adakan produk yang terbuat dari coffe sehingga orang-orang akan semakin tertarik dan tidak bosan karena bukan ada variasi teh saja, tetapi juga da varian coffe untuk mereka nikmati?" tanya Reyhan sopan padanya seraya tersenyum.
"Ya! Kita juga akan mengadakan varian coffe. Sehingga cafe dari perusahaan real estate Pramana Group ini akan benar-benar hidup dan menjadi sebuah usaha yang membuahkan hasil yang maksimal, kita sudah bekerjasama dengan pemilik kebun kopi terbaik juga yang ada di luar negri juga di kota-kota penghasil kebun kopi terbaik, sehingga biji kopi dari kami juga tak kalah berkualitas dengan daun teh hijau juga hitam milik kami," jawab Wuri sangat tenang menatapnya tersenyum tipis.
Mereka kembali bertepuk tangan mendengar itu sampai ada client pria yang terlihat jatuh cinta bersikap konyol di sana melihatnya salah tingkah. Pria itu nyengir lebar sendiri hingga Agra melihatnya jijik melotot mengerutkan alisnya.
Agra kini benar-benar melihat kecerdasan yang di miliki wanita yang selalu bertemu dan membuat kesal dengannya.
"Pinter juga ya dia," gumam Agra dalam hati menatapnya seakan tak percaya mengerutkan kedua alisnya.
Wuri terlihat juga tak sengaja melihat dirinya hingga Agra mengangkat kedua alisnya tersadar merasa salah tingkah malu. Dia langsung berpura-pura menyilangkan kakinya. Semua orang kini tertuju pada Agra karena Wuri.
"Ahh ya! Ini dia pemimpin Praman Group kita, ya bagaimana Tuan soal pendapat kami semua tadi? Apakah Tuan sudah setuju?" tanya Reyhan mencoba mengalihkan perhatian mereka tersenyum lebar.
Agra kini hanya terdiam melotot memutar bola matanya ke bawah berpikir keras karena sebenarnya dia benar-benar malas untuk mengurus semuanya.
"Aaa umm, yaa! Saya, saya setuju saja setuju sekali hehe bagus-bagus!" jawabnya seraya berpikir melotot sok lalu tersenyum menatap Reyhan juga yang lain berpura-pura paham.
Akhirnya mereka semua terlihat puas dan bahagia, meeting akan segera di tutup karena Agra sudah setuju saja dengan itu.
"Ya, baguslah. Syukurlah kalau anda setuju saja," jawab Wuri. Agra terkekeh padanya membelalakkan mata menatap Wuri seakan merasa Wuri sok akrab padanya.
"Pak Erdian juga setuju saja dengan hal ini karena beliau sudah kemarin membahas ini dengan saya maka dari itu beliau bisa pergi keluar kota sekarang dan tak bisa mengikuti meeting karena ada urusan mendadak yang harus di urus sana. Baik, kalau begitu. Kita tutup saja meeting kita hari ini. Terimakasih untuk semuanya," sambungnya Wuri mendongak menjelaskan di hadapan mereka semua seraya menaruh tangannya yang memegang sebuah berkas ke ujung meja rapat itu. Ia tersenyum manis kalem pada mereka sampai Agra ternganga melihat dirinya saat itu tanpa Agra sadari.
Mereka kembali bersorak sangat bahagia lalu mulai berdiri satu persatu sembari membereskan berkas yang ada di meja mereka. Wuri hanya diam tetap berdiri tegak di hadapan mereka semua. Sekarang hanya Agra yang tertinggal masih duduk melirik mereka semua yang sudah berdiri. Agra lalu mengikuti mereka berdiri lalu menatap ke arah Wuri masih merasa kesal.
"Sok banget sih nih cewek heh," ledeknya dalam hati merasa kesal menatap Wuri.
"Baik, semoga kerjasama kita ini akan berjalan lancar. Terimakasih kalau begitu kami permisi duluan. Mari Bu Wuri, Pak Agra, Reyhan," ucap pria tua berjas rapi kepala meeting dari mereka semua lalu menjabat tangan mereka tersenyum dan keluar dari ruangan lebih dulu. Mereka bergantian menyalami Agra, Wuri, juga Reyhan.
Kini di dalam ruangan yang tertinggal hanyalah Agra, Wuri, juga Reyhan yang terlihat sibuk memeriksa berkasnya kembali.
Wuri yang masih diam itu terlihat bengong dan berpikir. Ia lalu menengok ke berkas yang tergeletak di meja. Ia akhirnya berniat untuk memeriksanya kembali juga.
Namun, Agra yang menyadari dirinya memang orang yang pintar dalam membuat rencana juga pendapat. Tersirat dalam dirinya untuk menyuruh Wuri saja untuk mengurus surat kontrak kerjasama perusahaannya dengan Erdian karena Agra terlihat sangat malas untuk mengurusnya sendiri.
Dengan tatapan tajam melirik ke arag Wuri yang terlihat santai membaca kertas di meja tadi yang sudah terlihat mencari kesempatan itu dia langsung melangkah menghampiri Wuri.
"Hello," sapa Agra seakan meledeknya. Wuri yang tersadar bahwa Agra sudah berada di hadapannya sekarang langsung menatapnya mengalihkan pandangannya dari kertas tadi.
Reyhan yang ikut terkekeh mendengar atasannya memanggil seseorang itu langsung melongo saat melihat Agra mendekati Wuri sangat dekat sekarang.
Wuri hanya diam membisu menatapnya seakan biasa saja. Agra yang melihat responnya seperti itu semakin mengira diri Wuri adalah wanita yang aneh.
"Ee hmm!" deham Agra saat di balas di tatap Wuri berpura-pura batuk.
Wuri hanya diam menatapnya.
"Emm, woww. Saya benar-benar tidak menyangka. Erdian mempunyai Manajer wanita yang hebat sepertimu dan terlihat sekelas dengan Manajer hebat saya," ucap Agra bergaya sok cool memasukkan kedua tangannya ke kantong celananya seraya menatap Wuri.
Reyhan yang mendengar hal itu hanya tersenyum merasa bangga pada dirinya sendiri dan melanjutkan pekerjaannya.
Wuri hanya diam saja mendengar hal itu dan terus menatapnya datar seakan biasa saja.